TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#Takdir Cinta Mayang# Part 34


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*


Perlahan Kak Radhif duduk disampingku, memandangku sambil membelai rambutku.


Sesekali nampak diwajahnya guratan kesedian melihat keadaan Mayang.


'Betapa berat ujian yang harus kau lalui May. Seandainya saja Radhit masih hidup pastinya dia akan bahagia mendengarkan kabar ini,' batin Radhif sambil terus menatap wajah Mayang yang tertidur lelap dibawah pengaruh obat.


Dengan hati-hati Radhif mengambil bingkai foto yang dipegang Mayang, agar tidak membuat Mayang terjaga dari tidurnya.


Ditatapnya foto mendiang sang adik dan menaruhnya dimeja yang berada disebelah tempat tidur Mayang.


Radhit berfikir pastinya Mayang akan mencarinya jika terbangun nanti, sehingga menaruhnya tepat disebelah Mayang.


'Apakah Mayang tau jika dirinya sedang mengandung? Apa karena hal ini membuat jiwanya makin terguncang?


Kehilangan kekasih sekaligus calon ayah bagi bayi yang di kandungnya?' batin Radhif sembari memegang jari jemari Mayang yang masih lelap dalam tidurnya.


"Aku harus memberitahukan ini pada Ayah dan Ibu, bagaimanapun juga ini tanggung jawab keluargaku," gumam Radhif perlahan.


Radhif merogoh ponsel yang ada di saku celananya, hendak mengabarkanya kepada kedua orang tuanya.


Akan tetapi hal itu di urungkannya melihat Mayang yang bergerak bagaikan orang yang kesurupan sambil menyerukan nama Radhit.


"Kak Radhit....! Kembali kak!" teriak Mayang di alam bawah sadarnya.


Nampak kedua matanya bergerak-gerak, kedua sudut matanya mengalir cairan bening membasahi bantal.


"Jangan tinggalkan Mayang kak!" ucapku lagi dalam alam bawa sadarku.


Radhif yang melihat hal tersebut makin terenyuh hatinya.


Sakit rasanya melihat keadaan Mayang yang semakin lemah tak berdaya.


Ia khawatir akan terjadi hal buruk pada Mayang dan juga calon anak dari mendiang adiknya.


Anak itu adalah amanah, meskipun seharusnya Mayang dan Radhit tidak seharusnya melakukan hal tersebut sebelum mereka menikah.


Tapi anak itu tidak berdosa, dia adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada Mayang.


Takdir memang tidak memihak kepadanya, karena sebelum lahir sang Ayah di rengut darinya.


Pergi meninggalkannya tanpa bisa melihatnya lahir dan tumbuh dewasa.


'Ya Allah semoga anak ini kelak menjadi sosok yang penuh kasih sayang dan tangguh seperti mendiang Radhit' batin Radhif.


Dan akhirnya Radhif terkejut oleh teriakan Mayang yang begitu kuat,


Tubuhnya menggigil seperti orang yang terkena 'hipotermia' (kedinginan karena udara yang ekstrim).


Bibir Mayang terlihat membiru, wajahnya pucat pasi.


Kedua bola matanya bergerak tak menentu.


Sambil terus memanggil-manggil nama Radhit.


Dengan sigap Radhif memencet bel yang terhubung ke ruang perawat, berharap bantuan segera datang.


Tak berselang lama muncul sang perawat dengan membawa senampan obat dan perlengakapan medis.

__ADS_1


Berjalan terhuyung-huyung karena terburu-buru menuju ruangan tempat Mayang di rawat.


"Gimana keadaan pasien suster?" tanya Radhif sesaat sang perawat selesai memberikan suntikan obat di botol dan selang infus.


"Keadaan pasien semakin memburuk, karena kurangnya asupan makanan yang masuk ke tubuhnya," ujarnya sembari merapikan peralatan dan obat yg dibawanya tadi.


"Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Radhif lagi.


"Semoga saja Pak, jika sampai malam ini pasien tidak bangun akan berdampat buruk bagi istri Bapak terutama bagi calon bayi yang dikandungnya," ujar sang perawat dengan raut wajah serius.


'Ya Allah sadarkanlah Mayang, jangan biarkan dia dalam keadaan seperti ini, kasihanilah bayi tak berdosa yang dikandungnya,' doa Radhif dalam hati.


Dalam alam bawah sadarnya Mayang merasa berada di puncak Gunung Semeru.


Hanya menggunakan baju tipis tanpa menggunakan alas kaki.


Tubuhnya menggigil kedinginan, bibirnya biru dan wajahnya pucat pasi.


Mayang berjalan perlahan menuruni puncak mengejar bayangan Radhit yang bergerak menuruni bukit.


"Kak Radhit...! Jangan pergi!" panggil Mayang setengah berteriak.


Kakinya penuh darah tertusuk bebatuan tajam yang dipijaknya.


"Kak Radhit! Bawalah aku ikut bersamamu, jangan biarkan aku sendirian seperti ini," tangis Mayang.


Sambil terus berjalan Mayang mendekar kedua tangannya, mencoba menghalau udara dingin yang menggigit tulang, menahan rasa sakit di kedua kakinya.


Menyusuri tebing curam.


Udara yang dingin dan gelap membuatnya tak bisa melihat apa-apa.


Hingga sebuah tangan meraihnya dan memeluknya.


Wangi bunga kasturi memenuhi rongga dada dan indera penciumannya.


Dekapan hangat yang selama ini dirindukannya, kini didapatkannya kembali.


Dekapan milik kekasih hati Radhitya Putra Pratama.


"Jangan kesana Mayang!" ucap suara itu lembut.


Tangan itu membalik tubuh dingin Mayang dan memeluknya erat.


Terdengar bisikan lembut ditelinga Mayang, "Pulanglah sayang, jangan biarkan dirimu seperti ini, aku akan sangat sedih melihatmu jika terus saja larut dalam kesedihan akan kepergianku," tutur Radhit sambil membelai lembut rambut Mayang.


"Tapi aku tak bisa hidup tanpamu Kak," ucap Mayang semakin mendekap erat tubuh Radhit.


Radhit mencium kening Mayang dan berbisik, "Pulanglah demi buah cinta kita, jangan biarkan dia pergi. Jagalah dia untukku, demi cinta kita, berjanjilah Mayang," ucapnya sambil mendekapku mencoba menghangatkan tubuhku yang semakin menggigil kedinginan.


"Tapi aku--," belum sempat Mayang melanjutkan ucapannya, bibir Radhit mendarat lembut di bibir tipisnya.


Seakan memberikan salam perpisahan untuk terakhir kalinya.


Sesaat kemudian Mayang merasa tubuhnya tak lagi merasakan dingin. Rasa dingin itu berganti dengan perasaan hangat dan bahagia bertemu dengan kekasih hati yang dirindukannya.


"Pulanglah sayang, jagalah dia untukku, dia adalah jiwaku yang bersemayam dalam dirimu," ucap Radhit lagi.


"Aku akan selalu ada, meskipun kini kita berbeda ruang dan waktu," tambahnya lagi.

__ADS_1


Seketika itu juga tubuhku seperti kembali bugar tak sedikit pun terasa lemah dan sakit.


Dekapan hangat Radhit menguatkanku.


Apa yang dibilang Kak Radhit itu benar? Apa aku sedang mengandung benihnya?


Buah cintaku dan Radhit.


Tak satu pun yang tau dari keluarga kami, kecuali ketiga sahabatku dan Mas Davin, bahwa aku dan Kak Radhit telah melangsungkan akad nikah sehari sesudah acara wisudanya.


Semua itu Kak Radhit lakukan agar aku tetap menjadi miliknya meskipun dia jauh dariku, aku akan tetap menantinya sampai cita-citanya tercapai.


Memang salah tapi semua itu kami lakukan atas dasar cinta.


Dan kini semua itu berujung kehadiran buah cinta kami yang sedang aku kandung.


Bahagia didalam kesedihan, itu yang aku rasakan.


Bahagia atas kehadiran benih cinta Kak Radhit, sedih karena aku harus kehilangan Kak Radhit yang seharusnya menjadi Ayah bagi janinku.


Sayup telingaku mendengar suara seseorang yang sedang bercakap-cakap.


Kucoba menggerakkan tanganku, berusaha membuka mataku yang telah lama terpejam.


"Suster!" panggil suara itu, jelas itu suara Kak Radhif.


Langkah kaki sang perawat pun terhenti, kembali mendekati tempat tidur dimana Mayang terbaring


"Pasien sudah membaik, sungguh aneh, jarang hal ini tejadi, sangat cepat perubahannya," ucap sang perawat tersebut bingung.


"Jangan lupa berikan pasien makanan yang ringan, sesaat setelah siuman ya Pak. Untuk sementara hindari makan yang keras," ujarnya pada Kak Radhif.


Sang perawat pun melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, kembali menjalankan tugasnya.


Kak Radhit mengambil minyak kayu putih dan mngoleskannya dihidung Mayang sambil berkata, "Kamu sudah sadar Dek? Apa yang kamu rasakan?" tanya Radhif pada Mayang.


Sambil mengusap mata dan wajahnya menggunakan tangan kanan Mayang menjawabnya, "Kepalaku terasa berat Kak, aku lapar tapi mulutku masih terasa pahit," tutur Mayang.


Radhif berjalan menuju meja yang berada di pojok dekat dengan sebuah sofa yang digunakannya untuk tidur bergantian dengan Gilang bila menjaga Mayang.


Radhif mengambil bubur ayam yang belikan Ika tadi pagi, kemudian membawanya dan duduk disebelah Mayang.


"Kau harus makan, jangan biarkan tubuhmu tersiksa karena rasa sedihmu kehilangan Radhit," ujar Kak Radhif setengah berteriak.


"Kalau kamu memang benar sayang pada Radhit dan janin yang kamu kandung, kamu harus bisa mengikhlaskan kepergian Radhit," ucapnya lagi.


Sungguh terkejut aku mendengar ucapan Kak Radhif barusan.


Tapi aku hanya diam sambil terisak, bibirku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.


Hanya bisa membatin, berharap Kak Radhit tidak mengatakannya kepada Mas Gilang dan keluargaku.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


*Apa yang akan dilakukan Radhif setelah mengetahui semua rahasia yang di sembunyikan Mayang dan mendiang Radhit?


*Sanggupkan Radhif menyembunyikan hal ini dari Gilang dan ibundanya?


Nantikan kisah selanjutnya hanya ada di "Takdir Cinta Mayang" part 35, trimakasih 🙏🤗😍

__ADS_1



__ADS_2