
... *******"""""*******...
...Rumah keluarga Pratama...
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Malam pun berganti subuh, terdengar adzan subuh berkumandang.
Memberi tanda bahwa sebentar lagi sang fajar akan muncul menggantikan sang dewi malam.
Suara adzan itu yang menyadarkan Mayang dari tidurnya.
Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemas, karena semalam tidak tidur dengan baik, ditambah lagi semalaman Mayang menangis hingga tertidur sambil bersandar di pintu kamar mandi.
Mayang kemudian mengambil wudhu dan perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi menuju kamar untuk sholat.
Kamar tampak sepi, dilihatnya lagi Kak Radhif sudah tak ada disana.
"Entah kemana Kak Radhif, pastinya semalaman dia tidur dengan nyenyak setelah membuatku kesal dengan ulahnya," gerutu Mayang.
Dan tiba-tiba suara seseorang terdengar sangat dekat tepat dibelakangnya.
"Kamu mencariku?" ucap Kak Radhit lembut.
Saking kagetnya, suara Mayang sedikit terbata saat menjawab pertanyaan Kak Rhadif, "Ee...eng...enggak kok, geer banget sich, Kak." ucap Mayang sambil memakai mukena.
"Bohong, tuh tadi clingak-clingkuk aku lihat dari balik pintu. Kamu nyariin aku kan, jujur itu sakit ya, Dek?" ujar Radhif lagi.
"Aku bilang enggak kok, baperan banget sich, Kak," balasku ketus sambil membenahi letak sajadahku.
Ternyata tadi Kak Radhif membawakan koper milikku ke kamar dan menaruh sajadah serta muken baru yang sengaja mamanya belikan untukku.
"Kamu gak mau di imamin sama aku, Dek?" tanyanya dengan tatapan hangat dan menggetarkan hati.
Aku terdiam, tertunduk tanpa berani menatap mata itu lagi.
Sepertinya aku terbakar dalam lautan api.
Aku takut terbakar hangus oleh cahaya yang terpancar dari sorot mata Kak Radhif.
"Baiklah kalau kau tak mau, akan akan sholat di musholah saja.
Biar kamu bisa khusuk tanpa gangguanku," ujar Kak Radhif berlalu.
Hatiku ingin berkata 'iya' kepadanya, tapi lidahku kelu, harusnya aku menahannya untuk sholat bersamaku.
Karena dia sekarang adalah imam untukku dan juga calon anakku.
Tapi terlambat, Kak Radhif telah pergi meninggalkanku sendiri dalam kamar itu.
Dengan berjuta rasa yang tak menentu.
Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan hati ini, membuang semua rasa sesak yang menghimpit dadaku.
'Maafkan aku Kak Radhif, bukan maksudku menolakmu lagi. Biarkanlah aku menata hati ini dahulu.
Aku masih belum bisa menerima cinta lain selain cinta mendiang Kak Radhit,' ucapku dalam hati.
Kurapikan sajadah dan mukena, menata kembali setiap sudut dan sisi kamar agar rapih kembali.
Ternyata Kak Radhif sudah membuatkanku dua potong roti bakar dan segelas susu, nampaknya itu susu hamil yang dibelikan olehnya ketika perjalanan kerumah kemarin.
Aku masih enggan menyentuh sarapan itu.
Kepalaku terasa sangat berat, tapi aku harus membantu mama mertuaku.
Aku gak mau membebani mama dari Kak Radhif.
Bagaimanapun juga aku sudah berada di rumah ini, jadi apapun kerjaan yang ada, aku harus membantu mengerjakannya.
__ADS_1
Ketika mencoba bangkit dari tempat tidur kepalaku tiba-tiba pusing.
Pandanganku kabur.
Namun aku masih saja memaksakan untuk berdiri dan melangkah ke arah pintu.
"Auch, kepalaku. Tiba-tiba badanku oleng dan --"
"Mayang!" panggil seseorang yang aku kenal nada suaranya.
"Kak Radhit, kau kah itu kak?" ucapku antara sadar atau tidak.
Aku melihat Kak Radhit menggunakan baju koko putih.
Wajahnya bersih memancarkan bercahaya.
Berjalan kearahku, duduk disamping tempat tidurku. Membelai rambutku, mengecup keningku dan mengelus perutku.
Sesaat setelahnya dia tersenyum manis, memandangku dengan tatapan lembut dan teduh.
Sorot matanya nampak begitu damai, membuat hatiku tenang ketika memandangnya.
Dengan lembut Kak Radhit membelai pipiku dan berkata, "Relakanlah aku sayang, ikhlaskanlah kepergianku.
Biarkanlah aku pergi dalam kedamaian.
Aku bahagia disana, bila dirimu pun bahagia dengan kehidupanmu yang baru."
"Tapi Kak, aku--" belum sempat aku membalas perkataanya tadi.
"Ikhlaskanlah aku, jagalah anak kita. Dan terimalah Radhif, Mayang. Dia begitu tulus mencintaimu," ucap Kak Radhit lagi.
"Selamat tinggal sayang, kini waktunya aku akan pergi.
Jaga dirimu dan anak kita, kelak bila dia telah dewasa dia akan menjadi pendaki yang tangguh," suara itu terdengar lagi di telingaku.
Sayup-sayup aku mendengar suara orang gaduh, aroma minyak kayu putih menyeruak memenuhi rongga penciumanku.
"Mayang, bangun, Nak!" ucap suara wanita yang tak lain adalah Bu Dian ibu dari Kak Radhif dan Kak Radhit.
Sambil menepuk-nepuk pipiku dan mengoleskan minyak kayu putih pada keningku dan juga perutku.
Mencoba membuatku sadar dari tidurku.
Ternyata tadi aku pingsan dan terjatuh tepat di depan pintu masuk kamar.
Beruntung Kak Radhif menemukanku dan mengangkatku ke tempat tidur.
Dan ketika aku sadar ternyata training yang aku pakai tadi malam sudah berganti dengan piyama tidur berbentuk daster lengan pendek bergambar karakter boneka pooh kesukaanku.
Mencoba mengingat kembali kejadian tadi pagi, namun kepalaku masih saja sakit dan terasa berat.
'Ya, Allah kuatkanlah aku. Demi anakku, demi janin yang aku kandung.
Jangan biarkan aku jatuh sakit, aku telah berjanji akan menjaga buat cintaku dengan Kak Radhit,' batinku lirih.
Setelah meminum obat yang diberikan dokter Rian, keadaanku sedikit membaik. Hanya saja masih terbaring lemah di tempat tidur.
Hanya Bi Inah sang asisten rumah tangga keluarga Pratama yang sudah mengabdi lama di keluarga ini yang menjagaku.
"Bi, tadi siapa yang menggantikan bajuku?" tanyaku pada sang art.
"Saya, Non. Tapi Aden membantu saya tadi," ucapnya polos.
"Deg!" ada sesuatu yang terjadi pada hatiku, namun aku tak tau itu apa.
"Dibantu Kak Radhif?" tanyaku lagi.
"Iya, Non. Bapak yang bantu ngambilin baju," balasnya sambil memijat-mijat kakiku.
__ADS_1
"Non, udah baikan? Nanti Malam Den Radhif berangkat sama Mas Gilang, kakaknya Non Mayang," ucapnya penuh perhatian.
"Mereka jadi berangkat, Bi?" tanyaku penuh selidik.
"Iya, jadi Non. Tadi bibi udah beres2 bawaannya Den Radhif," ucapnya mantap.
"Owh...yaudah Bi. Mayang lapar bi pengen makan ice cream. Bisa bibi belikan? tanyaku penuh harap.
"Tapi Non Mayang belum sarapan loh dari pagi, makan roti sama minum susu yang di buatin Den Radhif ya. Nanti bibi hangatin lagi," timpal sang bibi menawarkan.
Aku teringat roti bakar buatan Kak Radhif pagi tadi. Pasti dengan susah payah dia telah membuatkannya untukku.
Seharusnya aku memakannya. Tapi karena rasa egoku dan rasa kesal membuatku enggan menyantapnya.
"Baiklah Bi, sarapan roti buatan Kak Radhif aja. Sama susu yang dibuatkan tadi pagi," kataku pada Bi Inah.
"Susunya bibi masukan kulkas kok Non, pasti enak kalo diminum dingin. Cocok dengan cuaca hari ini yang panas, Non," seru Bi Inah sambil berjalan menuju lantai bawah untuk membawakan sarapan yang tertunda.
"Mmmm...enak juga roti buatan Kak Radhif ya, Bi, " timpalku seraya memasukan potongan terakhir ke dalam mulutku dan meminum susu dingin rasa coklat yang sudah dibuatkan Kak Radhif pagi tadi untukku.
Setelah memakannya, Bi Inah pun membawa piring dan gelas yang kotor kembali ke dapur.
Sepertinya Kak Radhif tahu dari Bi Inah kalo aku telah menghabiskan sarapan yang dibuatnya tersebut.
"Sudah habis sarapannya?" tanya Kak Radhif pura-pura tidak tau.
Aku tak menjawabnya, hanya terdiam sambil membaca sebuah novel kesukaanku.
Novel berjudul 'kisah lembah hijau' karya Mbak Bunga Rosania Indah BTP. Bagiku ceritanya sangat menginspirasi.
Membuatku mengkhayal dan berangan-angan selayaknya aku adalah tokoh di dalamnya.
Pokoknya ceritanya membuatku jadi baperan.
"Sepertinya aku ngomong sama tembok, bahkan tembok pun masih bisa berbunyi," ucapnya kesal.
Aku tetap tak bergeming, tetap memandang buku yang aku pegang tanpa menoleh atau melihat ke arah Kak Radhif.
"Nanti malam aku akan berangkat bersama Gilang dan ibumu.
Jaga dirimu baik-baik disini. Mama dan juga Bi Inah akan menjagamu.
Kalau mamaku sibuk, masih ada Bi Inah dan Pak Ujang yang akan membantumu," ucapnya lagi.
Aku tetap tak menghiraukannya, hanya fokus dengan buku yang aku baca.
"Aku akan pergi, mungkin dalam waktu yang lama, semoga saja kita bisa bertemu lagi," tambahnya lagi, kemudian berlalu pergi meninggalkanku dalam keheningan.
Membiarkanku larut dalam aktivitasku.
Walaupun aku tahu, semua yang aku lakukan hanyalah pelarian semata.
Mencoba berlari dari semua kenyataan yang ada.
Mencoba mengingkari semua yang telah terjadi.
Meskipun seperti membohongi diri sendiri.
*******"""""""*******
*Apa yang dilakukan Mayang selama Radhif pergi?
*Apakah Mayang mulai menyimpan benih-benih cinta untuk Radhif?
*Dan bagaimana dengan keadaan Setyo setelah semua kebenaran tentang Mayang terungkap?
Nantikan kisah selanjutnya hanya ada di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 52. Terimakasih 🙏🤗😍
Yuk para Readers, silahkan memberi komentar, like, vote dan tip.
__ADS_1
Agar aouthor makin semangat menulis kisah ini, terimakasih 🙏😊