
πRumah Sakit M, Malangπ
(Suasana didalam ruang VVIP Mawar no 5)
Sejenak Radhif menaruh ponsel dalam genggamannya diatas meja dekat sofa tempatnya duduk.
Sofa itu agak jauh dari ranjang tempat Mayang tidur.
Tepatnya disebelah pintu masuk.
Sengaja Radhit menjauh agar saat menerima telepon atau pesan dering ponselnya tidak mengganggu Mayang.
Baru saja gadis itu tertidur, setelah meminum obat yang diberikannya tadi.
"Tok...tok...tok" bunyi suara pintu diketuk.
"Selamat siang!" terdengar suara seseorang memberi salam dari balik pintu.
Tak berselang lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Radhif.
Pesan itu berasal dari adik letengnya, bahwa seseorang akan datang untuk mengantarkan berkas cuti kepada Radhif.
Karena takut suara ketukan itu akan membangukankan Mayang, Radhif tidak membalas salam yang di ucapkan pemilik suara dari balik pintu.
"Assalamualaikum!" suara itu terdengar lagi.
Radhif bukannya berjalan ke arah pintu, malah melangkah kearah Mayang.
Khawatir bila gadis itu terbangun.
Nampak Mayang bergerak sehingga selimutnya tidak pada posisi awal saat Radhif meninggalkannya tadi.
Radhif berjalan mendekat dan memperbaiki selimut tersebut.
Sesaat Radhif menatap dan membelai rambut Mayang.
'Aku hampir lupa, ada seseorang yang menungguku dibalik pintu,' gumamnya pelan.
Radhif membalikkan tubuhnya dan berjalan perlahan menuju pintu.
"Kreekkk....!" suara pintu dibuka sangat perlahan.
Namun tak nampak orang yang disebutkan Danton Heru dalam pesan singkatnya.
Karena saat membuka pintu yang terlihat hanya Gilang dan seorang wanita paruh baya bersamanya.
'Ini pasti Ibu dari Gilang dan Mayang,' batin Radhif.
Kemudian Radhif maju selangkah dan mengulurkan tangan untuk mencium tangan sang Ibu dari Gilang dan Mayang tersebut.
"Mari masuk Bu," ucap Radhif.
"Dimana Mayang Nak?" tanya sang Ibu.
"Mayang sedang tidur Bu, tadi saya sudah memberinya bubur dan obat, sekarang Dia sedang beristirahat," tambah Radhif.
__ADS_1
Sang Ibu pun melangkah masuk terlebih dahulu meninggalkan Radhif dab Gilang yang berdiri didepan pintu masuk kamar.
"Oiya Lang, apa kau melihat seseorang didepan pintu kamar ini?" tanya Radhif.
Sambil memperlihatkan sebuah amplob coklat besar Gilang menjawab, "Iya tadi ada seseorang yang diperintahkan oleh Heru mengantarkan berkas cuti kita."
"Sepertinya dia lama menunggumu membukakan pintu.
Sempat dia berbalik hendak pergi, tapi aku bertemu dengannya tepat sebelum dia meninggalkan kamar ini," tambah Gilang.
"Syukurlah Lang, aku tadi khawatir kalo Mayang terbangun, jadi aku mengeceknya terlebih dahulu sebelum membukakan pintu," ujar Radhif tanpa sadar iya menyampaikan hal tersebut pada Gilang.
"Trimakasih sudah menjaga adikku dengan baik Dhif, Kau memang sahabat terbaikku," balas Gilang.
Sesaat hati Radhif terenyuh dengan ucapan Gilang.
'Apa yang akan terjadi bila Gilang dan keluarganya tahu tentang kehamilan Mayang.
Bagaimana dengan masa depan Mayang dan calon bayinya?
Aku harus menyampaikan ini kepada kedua orang tuaku,' batin Radhif.
Radhif sudah berfikir dengan matang apa yang harus dilakukannya.
Sehingga saat itu juga Radhif berpamitan untuk pulang kerumah.
Sebenarnya ini berat untuknya tapi apa boleh buat semua ini demi kebaikan Mayang dan nama baik mendiang adiknya juga keluarga mereka.
Sehingga Radhif merahasiakan hal tersebut.
Jika tidak pastilah rahasia ini bisa terbongkar,' gumam Radhif dalam hati.
π Kantin rumah sakit π
(Suasana dikantin rumah sakit)
"Setyo...!" panggil Dokter Rian sambil melambaikan tangan dari dalam kantin.
Nampak oleh Setyo seseorang pria berkacamata dengan setelan celana jeans dan juga kemeja biru menggunakan jas putih melambai padanya.
"Hai......!" balas Setyo melambai seraya menuju kearah meja tersebut.
Sesampainya Setyo disana, Dokter Rian bersalaman dan mempersilahkan Setyo.
Ternyata Dokter Rian masih mengingat menu kesukaan Setyo, yaitu soto ayam dan es jeruk.
Meskipun lama mereka tak berjumpa tapi mereka adalah saudara sepupu yang tumbuh bersama sejak kecil.
Kemana-mana selalu bersama, bahkan sekolah pun mereka selalu sekelas.
Mereka berdua merupakan juara kelas dan idola di sekolah.
Hal ini karena tak hanya pandai, mereka berdua memiliki paras yang rupawan dan juga body yang atletis.
Selain basket keduanya mengikuti ekstrakurikuler pencak silat saat duduk di sekolah lanjutan pertama hingga lulus sekolah lanjutan tingkat atas.
__ADS_1
"Gimana kabarmu?" tanya Dokter Rian pada Setyo.
Sambil tersenyum sang danru muda itupun menjawab, "Alhamdulilah baik, meskipun jomblo aku bahagia."
"Hahahaha....biasa aja kamu Yo," balas Rian.
"Kamu ngapaen kesini?" tanya Rian lagi sambil menyeruput es teh miliknya.
"Aku diperintah atasanku untuk mengantarkan berkas kepada senior atasanku yang berada di rumah sakit ini," tutur Setyo ringan.
Terjadi obrolan yang cukup seru antara mereka , sambil mengobrol mereka menyatap hidangan yang sudah dipesan oleh Rian.
Hingga suara dering ponsel Dokter Rianpun berbunyi.
"Kamu gak keberatan aku mengangkat telepon dulu kan Yo?" tanya Rian.
"Silahkan, Ian. Ini kan wilayah kekuasaanmu. Aku hanya tamu disini," gurau Setyo.
Setelah menerima telepon, Rian bergegas menghabiskan sisa makanannya dan menegak habis minumannya.
Rian kemudian berpamitan hendak kembali menjalankan tugas.
"Aku harus kembali, pasien di kamar VVIP Mawar nomor 5 membutuhkanku, sepertinya ada yang tidak beres dengannya.
Keadaannya kembali memburuk," ucapnya pada Setyo sembari berjalan tergesa-gesa.
"Tunggu, Ian...!" tahan Setyo disaat Rian akan berjalan meninggalkan kantin.
"Itu kamar yang aku tuju tadi, sebenarnya ada apa dengan pasien dikamar itu?" tanya Setyo penuh selidik.
Rian berhenti berkata, "Ada seorang gadis yang katanya sempat pingsan saat mendaki akibat syok. Konon kabarnya aku dengar dari para perawat semua itu terjadi karena sang kekasih atau tunangannya meninggal dunia karena insiden di Gunung Semeru."
"Owh begono...tragis banget ya Ian, kasian tu cewek. Tolong obatin dan jagain baik-baik cewek itu, kali aja dia jodohmu," ledek Setyo.
"Huuussssttt....ngawur kamu Yo!" ujar Dokter Rian.
"Tapi benar sich Yo, tu cewek manis gak bosan-bosan aku memandang wajahnya," tambah Rian lagi.
"Nah...benar apa kataku," protes Setyo membenarkan ucapannya.
"Sudah ah, ngobrol sama kamu lama-lama otakku ikutan mikir yang gak jelas," ucap Rian sambil berlalu, khawatir bila terjadi sesuatu kepada pasiennya.
'Dasar Rian gak berubah aja kalo liaht cewek manis dan cantik, bawaannya pasti baper,' gumam Setyo dalam hati.
Secepat kilat Setyo melangkah menuju parkiran dan meninggalkan rumah sakit menuju kantornya.
Dengan tujuan ingin melaporkan kepada sang atasan bahwa tugasnya telah selesai.
\*\*\*\*\*\*\*
*Apakah Setyo akan mengetahui apa yang sebenarnya yang terjadi pada Mayang?
*Apa upaya Radhif untuk menyelamatkan nama baik Mayang dan juga mendiang sang adik?
Nantikan kelanjutannya hanya ada di "Takdir Cinta Mayang" part 37. Trimakasih ππ€π
__ADS_1