TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG Part 91


__ADS_3

------Kamar VIP mawar, no 86------


Tepat pukul 07.00 wib tiga orang perawat datang ke kamar VIP tempat Mayang di rawat. Dua diantaranya pria yang nantinya akan membantu memindahkan Mayang ke ruang operasi. Terlihat dari benda yang merupakan tempat tidur besi dengan empat buah roda pada bagian bawah yang mereka dorong tadi. Sedangkan seorang lagi suster yang membantu kedua perawat tersebut membawakan box putih dengan penutup berwarna biru serta pakaian bersih yang akan dikenakan oleh pasien bedah. Sebenarnya Radhif telah meminta tolong Heru untuk mencarikan dua buah kantong darah lagi sebagai cadangan bila Mayang memerlukannya. Radhif khawatir saat operasi Mayang mengalami pendarahan dan memerlukan darah.


Radhif mengikuti ketiganya hingga sampai di ruang operasi. Di ruang operasi ternyata sudah ada Dokter Bima dan salah seorang perawat wanita lainnya. Dokter Bima kemudian menginstruksikan kedua perawat tadi mengganti pakaian Mayang sebelum operasin di lakukan. Entah mengapa rasa ada sesuatu yang menggelitik Radhif melihat Dokter Bima memasuki ruang operasi. Akan tetapi semua itu Radhif tepis dengan memikirkan hal postif setelah operasi berlangsung Mayang akan segera pulih kembali.


Tiba-tiba dering ponsel Radhif berbunyi. Dirogohnya saku celananya dan mengambil benda pipih dari dalam saku tersebut. Di sana tertera nama Heru. Dengan cepat Radhif mengangkat telepon yang masuk.


['Assalamualaikum, Heru kamu dimana?' tanya Radhif pada pria yg menelponnya.]


['Izin, Bang. Mobil kami mogok. Karena masih pagi belum ada bengkel yang buka kami kembali lagi ke batalyon. Setelah membawa mobil ke bengkel, saya dan Dwi akan menyusul, Bang." seru Heru di seberang sana.]


['Lekaslah kemari karena ada hal penting yang harus aku bahas dengan kalian!!!' ujar Radhif dengan nada tinggi.]


['Siap, Bang!' balas Heru singkat kemudian menyudahi pembicaraan di telepon.]


Radhif sebenarnya sedang menahan amarahnya, dia kecewa kedua adik lettengnya itu tidak jujur kepadanya. Dia tak tahu apa yang sebenarnya kedua orang tersebut fikirkan, sehingga menerima Setyo untuk mendonorkan darahnya padahal mereka tahu bahwa dirinya sangat membenci Setyo. Bukan hanya karena kejadian waktu itu tetapi karena Setyo bersikeras mengejar cinta Mayang yang telah resmi menjadi istrinya. Meskipun secara keseluruhan mereka belum bisa dibilang sepasang suami istri yang normal seperti pasangan suami istri lainnya. terlebih lagi Radhif belum pernah menyentuh Mayang sejak mereka resmi menikah.


Ada sisi egois Radhif ketika mengetahui kebenaran yang telah disembunyikan oleh Heru dan Dwi adik lettenya tersebut. Membuat rasa benci pada sosok Setyo semakin menjadi.


'Mayang tidak boleh tahu kalau Setyo telah mendonorkan darah untuknya. Jika Mayang tahu maka rasa simpati akan kembali muncul dalam dirinya. Ini tidaklah baik untuk hubungan kami,' umpat Radhif dalam hati. Kini hatinya telah diracuni oleh perasaan kesal dan cemburu.


Sejenak Radhif larut dalam fikiran yang terbalut emosi dan kekesalan. Sehingga tanpa dirinya sadari perawat yang membantu Dokter Bima memanggilnya. Karena beberapa kali di panggil tak ada respon dari Radhif maka perawat tersebut menghampirinya.

__ADS_1


Sambil menepuk pundak Radhif perawat itu pun berkata, " Maaf, Pak Radhif apa Anda mau berdoa dulu untuk istri Anda sebelum kami melakukan operasi?"


"Jika Anda ingin mendoakan istri Anda, Kami memberi waktu sepuluh menit sebelum kami memulai operasi," ucapnya lagi sembari mempersilahkan Radhif untuk mengikutinya ke ruang operasi.


"Baik, Sus. Terima kasih. Saya akan masuk dan mendoakan Mayang istri saya," ucapnya kemudian bergegas pergi ke ruang bedah.


Sesampainya disana, Radhif kemudian menggenggam tangan kiri Mayang karena tangan kanannya terpasang selang infus. Memandang lekat wajah Mayang dan membelai kepala Mayang yang telah mengenakan penutup kepala.


'Hamba berserah kepada-Mu, ya, Allah. Lindungilah wanita yang aku cintai melewati masa-masa krisisnya berjuang melawan maut. Kuatkanlah dia agar bisa kembali bersama kami yang selalu menantinya. Hamba berharap Mayang bisa kembali pulih. Dengarkanlah doa hamba-Mu ini wahai Engkau Sang Khalik,' doa Radhif dalam hati.


Dengan perasaan bercampur aduk yang kini sedang berkecamuk dalam sanubarinya. Radhif menciumi tangan dan juga ujung kepala Mayang sebelum akhirnya dia melangkah pergi meninggalkan Mayang seorang diri di dalam ruang tersebut. Perawat kemudian mempersihkannya duduk di ruang depan dan memanggil Dokter Bima dan juga tim yang menemani Dokter Bima melakukan tugasnya.


Radhif hanya bisa duduk dan menunggu. Berharap operasi Mayang berjalan lancar dan baik-baik saja. Dalam hatinya dipenuhi rasa kawatir yang begitu besar apalagi kondisi Mayang semakin memburuk. Kali ini bagi Radhif waktu berjalan begitu lama. Tiga puluh menit sudah Mayang berada di ruang bedah menjalani operasi.


'Sepertinya mendengarkan ayat-ayat suci Alquran akan membuatku lebih tenang. Semoga Allah mendengarkan doaku. Kuatkanlah dirimu Mayang. Bangunlah dan kembalilah kepadaku. Jangan tinggalkan aku dan biarkan rasa cintaku ini membunuhku,' ucapnya dalam hati.


Radhif teringat pesan lama yang pernah dikirimkan mendiang Radhit saat dirinya resah ketika harus melaksanakan tugasnya sebagai abdi negara yang harus berpisah dari orang tua dan keluarga.


Seuntai kata yang dulu pernah di tuliskan Radhit dalam sebuah pesan singkat yang di simpannya selalu pada aplikasi notes ponselnya. Isi pesan itu adalah


Luangkanlah diri bersujud


Di sepertiga malam memohon ridho Sang Ilahi,

__ADS_1


Rendahkanlah diri kepadanya dengan meneteskan buliran bening dari tubuhmu yang fana,


Insya'Allah secercah cahaya akan muncul dan memberimu kekuatan dikala ketenangan dan harapan tak lagi kau dapatkan.


Seuntai kalimat itu membuatnya merasa rindu pada kedua orang tua dan juga mendiang Radhit. Kini Radhif dapat merasakan makna dari tiap kata yang ditulisakan Radhit untuknya. Bahwa manusia adalah fana. Tanpa campur tangan Ilahi, manusia tak berarti apa-apa. Kekuatan dan ketenangan hanya ada bila kita selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Apapun kondisi kita, bahagia maupun sedih harus selalu bersandar kepada Allah Sang Pencipta.


'Terima kasih, Radhit. Pesanmu akan selalu aku ingat. Aku berharap kau pun bahagia disana, jika kau mencintai Mayang bantulah dia melewati semua ini. Jangan biarkan dia pergi jauh meninggalkan kami yang mencintainya. Mohonlah kepada Allah agar memberi Mayang satu kesempatan lagi, biarkanlah dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirinya rasakan,' gumam Radhif dalam hatinya.


Waktu berlalu tak terasa sudah hampir satu jam lebih lebih Mayang berada di ruang operasi. Ada rasa was-was yang mengelanyut dalam hati dan fikirannya karena satu jam lebih baginya bukanlah waktu yang singkat. Akan tetapi Radhit tetap sabar menunggu. Dirinya tetap setia menanti hingga dokter selesai melakukan operasi di ruang bedah. Sambil menunggu Mayang Radhif selalu memanjatkan doa dan dzikir tak henti-hentinya kehadirat Sang Pencipta. Memohon kepada Allah agar operasi Mayang berjalan lancar dan keadaan Mayang baik-baik saja.


...------Bersambung--------...


*Apa yang akan terjadi pada Setyo setelah Radhif mengetahui semuanya?


*Apa yang Radhif akan memberi hukuman kepada Heru dan Dwi atas semua kebohongan mereka yang menyembunyikan kebenaran bahwa Setyo telah mendonorkan darahnya kepada Mayang?


*Apa kecurigaan Dokter Bima terjawab setelah menemukan tanda di tubuh Mayang?


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 92. Terima Kasih🙏😊


Terima kasih sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan beruba komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.

__ADS_1


__ADS_2