TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 49


__ADS_3

#TAKDIR CINTA MAYANG#


Part 49


*****"""""******


Rumah keluarga Pratama


Sudah satu jam Mayang menyelimuti dirinya diatas ranjang.


Wangi semerbak dari lilin aroma terapi yang dinyalakan sang mertua mulai memenuhi ruangan itu.


Masih teringat jelas dalam angannya, ketika menikah dengan Radhit dulu, tak ada perayaan dan juga sesuatu yang istimewa. Akan tetapi ikatan cinta yang tulus membuatnya bahagia luar biasa.


Karena hanya Radhit miliknya yang sangat berarti. Bagi Mayang takkan ada yang sanggup menggantikan cinta dan kasih sayang Radhit untuknya.


Dan kini, dalam kamar pengantin yang cantik dan penuh dengan kemewahan ini membuatnya teringat pada kekasih hatinya yang telah pergi jauh meninggalkannya.


"Kak Radhit, andai kau ada disini. Aku wanita paling bahagia dan paling beruntung didunia ini," ucap Mayang lirih.


Mayang memegang dadanya, merasakan rasa sakit itu muncul kembali.


Menohok dadanya, menguak kembali luka yang belum kering itu.


Tangis dan hanya airmata yang terus saja mengalir menemaninya hari ini.


Semua karena pernikahannya dengan Kak Radhif.


"Semoga kau tidak menyalahkanku karena menerima ini semua, Kak.


Bahagiakah dirimu melihatku menderita karena cinta kita yang kini terpisah ruang dan waktu,"


"Harusnya cintaku hanya untukmu, takkan boleh terbagi. Tapi apa dayaku, ini semua demi janin yang aku kandung. Semoga kau disana bisa tenang, doakku selalu untukmu," ucap Mayang setengah berbisik.


Lelah karena menangis, akhirnya Mayang tertidur.


Malam itu Radhif setelah membersihkan diri tidak langsung ke kamar yang ditempati Mayang.


Tetapi tetap berada di kamar tamu.


Sebenarnya Bu Endang sudah merencanakan hal konyol untuk Mayang dan Radhif, sayangnya dia lupa kalau Radhif masih berada di kamar tamu sejak awal datang tadi.


"Oiya Pap, aku lupa kalo Radhif td di kamar tamu.


Pastinya dia malu untuk masuk menemui Mayang di kamar pengantin. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyatukan mereka," ucap sang ibu.


Akhirnya Bu Endang mempunya rencana untuk Radhif.


Sang ibu pun berjalan menuju kamar tamu.


Mengetok pintu kamar itu.


Radhif pun keluar dengan maya sayup, lelah setelah prosesi yang berlangsung di rumah Mayang sejak pagi tadi.


"Kenapa lagi, Mam?" tanya Radhif sambil menguap.


"Loh, kamu Radhif kok tidur di kamar tamu?


Bukannya kamu sudah resmi menikahi Mayang secara agama?


Itu artinya kamu harus tidur di kamar pengantin," protes sang ibunda tercinta.


"Tapi Bu, Radhif --" ucap Radhif terhenti saat sang ibu Menjewer kupingnya dan menariknya keluar dari kamar tamu dan mengajaknya ke kamar pengantin.

__ADS_1


"Ibu apa-apa'an sich. Kenapa harus di paksakan Bu?" tanya Radhif mulai kesal.


Ibu hanya menyuruhmu membawa koper ini masuk. Bukan menyuruhmu melakukan hal yang sulit," balas Bu Dian.


"Bu Dian menarik tas koper Mayang dan kemudian menaruhnya tepat di depan kaki Radhif.


"Ini bawalah masuk, kasian Mayang mencari baju-bajunya."


"Ayo!"


"Tunggu apalagi?" ujarnya dengan penuh semangat.


Dengan setengah hati Radhif melakukan keinginan sang Mama, membawakan tas koper milik Mayang yang tertinggal di bagasi mobil.


"Cekkkkrrreeeekkkk!" suara bunyi pegangan pintu dibuka perlahan.


'Duh, Mamaku ini sungguh terlalu, tega membuatku malu didepan Mayang.


Semoga saja Mayang tidak berfikiran aneh tentang aku,' bisiknya dalam hati.


Langkah kaki Mayang tertahan saat melihat Mayang tidur tertutup selimut hingga dibatas leher.


Entah mengapa dia melakukan hal tersebut.


Apa karena Mayang kurang enak badan?


Apa dia sakit?


Koper yang dibawanya tadi di taruhnya di sisi lemari, kemudian dengan langkah perlahan Radhif berjalan mengendap-endap menuju Mayang yang tertidur.


Tangannya terjulur ingin menyentuh dahi gadis itu.


Namun, sesaat tangan itu berhenti.


'Apa dia sakit? Panas tidak tubuhnya? Tapi bagaimana aku tahu tanpa memegang dahinya?,' muncul pertanyaan dan kekahwatiran terjadi sesuatu kepada Mayang.


'Marah tidak dia bila aku menyentuh dahinya,' batin Radhif.


Akhirnya tangannya mendarat di dahi gadis itu.


'Gak panas kok, biasa. Trus kenapa ni anak make selimut kayak orang kedinginan? Aneh banget sikap Mayang,' gumam Radhif dalam hati.


Mayang merasakan ada sentuhan dingin di kepalanya, seperti tangan seseorang yang meraba dahinya.


Tapi tadi dia hanya sendiri di kamar.


Dengan sembab habis menangis tadi Mayang kemudian membuka matanya.


Betapa kaget Mayang melihat Radhif sudah ada di sebelahnya.


Tangannya masih menyentuh dahi Mayang.


"Kak Radhif kenapa bisa masuk? Bukannya kakak sudah berjanji tak akan menyentuhku tanpa seizinku? Awas kalo Kak Radhif memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," ucap Mayang dengan nada marah.


"Maaf aku hanya ingin mengetahui keadaanmu, apa kau sakit? Kenapa menggunakan selimut seperti orang sakit," balas Radhif sambil memalingkan wajah dan beranjak pergi menuju pintu.


"Kak Radhif, tunggu!"


"Jangan pergi dulu, aku ingin minta tolong kepada Kak Radhif," ucap Mayang memelas.


"Apa yang harus aku tolong?" ucap Radhif lagi.


Setelah menceritakan kejadian tadi saat Bu Dian mengajaknya ke kamar pengantin, ternyata sang ibu mempunyai rencana ***** yang dibuat untuk Mayang dan Radhit.

__ADS_1


'Rencana apa yang Mama buat ini sungguh konyol. Dan semua ini tidak akan bisa berhasil, Mam,' batin Radhif mengingat dia telah berjanji kepada Mayang.


"Yasudah, kalo begitu gantilah dulu bajumu, aku mau turun ke lantai satu," tutur Radhif.


Radhif memalingkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu kamar, akan tetapi keget bukan main Radhif saat itu.


Ternyata pintu kamarnya telah dikunci oleh sang ibunda tercinta.


"Owh astaga, Mam. Apalagi rencana Mama padaku dan Mayang?" pekiknya tertahan.


Mau tidak mau, malam ini Radhif dan Mayang harus tidur sekamar, meskipun sudah sah menikah tapi hati Mayang masih belum siap menerima Kak Radhif.


Pernikahan itu hanya formalitas semata.


"May, pintunya dikunci sama mamaku. Terpaksa malam ini aku tidur bersamamu di kamar ini.


Tapi jangan khawatir aku masih memegang janjiku.


Jadi tolonglah bersikap baiklah dan bersikap wajarlah dihadapanku,


atau aku akan--," ucap Radhif tertahan.


Tangannya menutup mulutnya, mencoba menahan tawa, karena menggoda Mayang.


"Hhhhmmmm, kau sama aja dengan mamamu, Kak," ujar Mayang kesal.


Sambil turun dan melilit tubuhnya dengan selimut.


Ketika hendak mengambil baju di koper, Mayang berjalan sambil memperhatikan Radhif.


Akhirnya tanpa melihat ke depan, dia menabrak meja kecil di samping tempat tidurnya.


Meja itu tadi dipakainya untuk melepas sanggul.


Karena hendak jatuh, Radhif spontan hendak berlalu menahan Mayang.


Akan tetapi karena jarak mereka agak jauh Radhif tak sempat menarik atau menangkap tubuh Mayang.


Hanya selimut yang membungkusnya yang dapat dipegang oleh Radhif, dan tubuh gadis itu tetap terjatuh ke arah berlawanan.


Selimut yang membungkus Mayang kini berada ditangan Radhif.


Dan tubuh Mayang yang mengenakan 'lingrie' itu nampak begitu jelas di depan mata Radhif.


Pemandangan yang jarang bahkan tak pernah dilihatnya secara langsung membuatnya sejenak terpukau.


Nampak Mayang terlihat sangat cantik dan manis malam itu.


Tak dapat dipungkiri, ada desiran aneh dalam hati dan darah Radhif.


'Ya, Allah, kuatkanlah imanku. Bentengi hatiku.


Jangan sampai imanku goyah,' doa Radhif dalam hati sambil menutupi wajahnya dengan selimut yang dipegangnya tadi, mana kala melihat tubuh Mayang sangat menantang dengan 'lingrie' hitam yang sangat minim.


Ternyata ini semua ulah konyol sang ibu yang dengan sengaja ingin menyatukan mereka di malam pertama setelah acara akad nikah antara Radhif dan Mayang.


*****"""""******


*Apakah pernikahan Radhif dan Mayang hanya akan bertahan hingga janin yang dikandung Mayang lahir?


*Masihkah Setyo mengharapkan Mayang setelah tahu pernikahan Mayang dan Radhit hanyalah sebuah kesepakatan?


Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 50. Terimakasih 🙏🤗😍

__ADS_1



__ADS_2