
...Firasat seorang Ibu...
---Kediaman Bu Endang, Kota M Papua---
Pagi itu cuaca mendung pekat menyelimuti langit. Entah mengapa kegelisan menyelimuti wanita berumur 50 tahun itu.
Sejak malam hatinya dan fikirannya tak tenang, akan tetapi ia tak tahu apa yang membuatnya merasa cemas.
Gilang baru saja menghubunginya, dia menyampaikan kalo Radhif sedang cuti untuk menemui Mayang.
Dan menurut Gilang anaknya, Mayang serta Radhif menantunya saat ini sedang berlibur ke Kota Malang.
Semua itu bertujuan agar Mayang bisa melupakan kenangan pahit yang menimpanya dan menghapus trauma akan musibah yang merenggut Radhit dari sisinya.
Flash back
Ketika Gilang menghubungi Bu Endang kemarin
["Apa adikmu baik-baik saja? Sudah kau tanyakan kabarnya? Ibu sangat khawatir, Lang!" ucap sang ibu dengan nada penuh kecemasan.]
["Esok pagi mereka akan kembali ke Surabaya, Bu. Doakan perjalan mereka selamat sampai tujuan. Mayang saat ini telah hamil, Bu. Usia kandungannya sudah hampir sebulan," ucap Gilang menjelaskan.]
["Apa benar itu, Lang? Adikmu tengah mengandung?" ucap sang ibu dengan nada kaget sekaligus bahagia.]
["Iya, Bu. Radhif yang menyampaikan hal ini. Gilang juga baru tahu setelah kemarin sempat Radhif menghubungiku saat akan berangkat ke Malang.]
__ADS_1
["Alhamdulilah, Lang. Semoga adikmu menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohma, sehat selalu hingga lahiran nanti.
Ibu udah pengen punya cucu. Trus kamu kapan nikahnya?" Bu Endang balik bertanya pada anak lelakinya itu.]
["Insya'allah, Bu. Doakan Gilang semoga bisa menyusul melepas lajang. Jangan lupa masih ada anak lelaki Ibu yang masih ngejomlo dan sekarang masih terikat ikatan dinas," balas Gilang pada sang ibu.]
["Iya, Ibu ingat kok, Lang. Adikmu yang satunya itu susah sekali kalo di nasehati. selalu saja mengalihkan pembicaraan. Mungkin karena masih ada ikatan dinas, makanya selalu saja menghindar kalo Ibu tanya. Sekali-kali kamu hubungi adikmu Galih. Suruh dia menjenguk Mayang kalo dia tidak sibuk. Lagi pula kan dia bertugas di Pacitan. Pastinya lebih mudah dia untuk menemui Mayang, " ujar Bu Endang pada Gilang.]
["Iya, Bu. Akan Gilang sampaikan pada Galih," balas Gilang.]
Flash back off
Setelah perbincangan di telepon dengan Gilang tersebut sesaat hati Bu Endang sedikit terobati. Dia bahagia mendengar Mayang dalam kondisi baik-baik saja.
Namun, sejak tengah malam hingga pagi ini hatinya merasa cemas. Entah mengapa dia terus saja memikirkan anak gadisnya yang hanya semata wayang itu. Wajah Mayang terus saja terbayang-bayang sejak sholat Malam hingga subuh tadi Bu Endang berdoa memohon keselamatan dan kesehatan untuk Mayang. Tak lupa pula ia berdoa untuk kedua putranya yang kini sedang berdinas melaksanakan tugas mereka demi janji suci mereka kepada NKRI.
Rumah sakit M, Kota Malang
Setelah mendengarkan pernyataan sang dokter. Radhif mendadak semakin cemas. Rasa lapar yang tadinya mulai dirasakannya dalam sekejap hilang tak dirasakannya lagi.
Hanya rasa sedih, kesal dan penyesalan menyeruak memenuhi dadanya, membuatnya seakan-akan tak memiliki kekuatan untuk menghadapi semua ini.
Hancur rasa hatinya melihat Mayang terbaring lemah tanpa daya.
Kondisinya semakin kritis, secepatnya dia harus mengantarkan darah hasil donor tadi, agar Mayang segera bisa di operasi.
__ADS_1
Awalnya Radhif sangat khawatir mendengar Mayang harus di operasi, tapi apa mau dikata, semua ini demi kebaikan Mayang. Walaupun Radhif sendiri belum tahu apa alasan dokter melakukan operasi.
'Kuatkan Mayang, ya, Allah. Semoga dia bisa melewati masa kritis ini dan bisa pulih kembali. Jangan ambil dia dariku ya, Allah. Hamba sangat mencintainya, izinkan kami kembali bersama lagi, hamba tak ingin kehilangan orang yang hamba cintai untuk kedua kalinya,' Radhif berdoa dalam hatinya memohon kepada Allah. Meluapkan semua keluh kesahnya tanpa terlewatkan satu hal pun.
Dia sangat mengkhawatirkan Mayang sampai-sampai tak menghiraukan kondisi tubuhnya.
"Tunggulah aku sholat sebentar di musholah tak jauh dari sini, barulah kita ke PMI untuk mengambil kantong darah yang akan digunakan untuk istriku," ucapnya pada Heru dan Dwi adik lettengnya itu.
"Siap, Bang!"
"Dwi akan mengeceknya, Abang pergilah sholat. Aku akan 'stand by' di sini sampai Bang Radhif kembali," balas Heru.
"Baiklah, aku pergi sebentar. Jika dokter atau perawat yang datang mencariku, sampaikan seperti itu ya, Her!" ucapnya lagi seraya melipat ujung celana jeans yanh dikenakannya sebelum pergi menuju musholah yang tak jauh dari ruangan tersebut.
Tanpa di komando Dwi pun berjalan meninggalkan Heru setelah Radhif pergi.
Namun, sebelum pergi Heru sempat membisikan sesuatu kepada Dwi agar mengatur segala sesuatunya seperti yang sudah mereka rencanakan.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
*Apa yang di rencanakan Heru dan Dwi di belakang Radhif? Apa darah para pendonor cocok bagi Mayang? Apa yang menyebabkan Mayang harus di operasi?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TCM" part 83. Terimakasih 🙏😊
Jangan lupa like, Vote, tips dan komen yang membangun semangat Author. Terima kasih selalu setia membaca hasil karya Cikgu Maya 🙏🤗😍
__ADS_1
#Gambar hanya sebagai ilustrasi semata