
#TAKDIR CINTA MAYANG#
PART 50
*******"""""*******
"Auuuuwwwwhhh...!"
"Perutku sakit!" ucap Mayang dengan suara tertahan, sembari memegang tangannya.
Ternyata cukup kuat Mayang jatuh ke lantai tadi.
Hal itu membuat perutnya tiba-tiba kram.
"Kau tidak apa-apa, Dek?" tanya Radhif mencoba melepaskan selimut yang menutupi wajahnya.
"Aku baik-baik saja. Hanya perutku terasa nyeri karena jatuh tadi," ujar Mayang dengan suara lirih menahan sakit.
"Jangan berdiri!"
Tetaplah disana, aku akan menolongmu!" ucap Radhit mencoba membuka selimut yang menutupi wajahnya dan melangkah ke arah Mayang.
Namun....
"Stop...!"
"Jangan kesini atau aku akan berteriak!" ujar Mayang.
Dengan kesal Radhif membuka selimut yang menutupi wajahnya tadi dan melemparnya ke arah Mayang.
Setelah melemparnya Radhif berjalan ke arah tempat tidur.
Direbahkannya tubuhnya keatas kasur yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar merah itu dan mulai memejam matanya.
"Selamat Malam Nyonya Mayang Pratama, selamat menikmati malammu.
Cari tempat yang nyaman untuk tidur, karena malam ini aku tak ingin berbagi kasur empuk ini denganmu," ucapnya sambil berbaring menguasai tempat tidur yang seharusnya sangat luas untuk mereka berdua.
Tanpa menggubris omongan Radhif tadi,
Mayang kemudian pergi ke dalam kamar mandi untuk mengganti lingrie yang dipakainya.
Namun sial, ternyata isi koper itu isinya bukanlah baju milik Mayang, melainkan baju milik Radhif yang akan dibawanya esok hari ketika akan kembali ke tempat tugasnya bersama Mas Gilang.
'Apa Radhif sengaja mempermainkanku dan sengaja mencari kesempatan atas diriku?' batin Mayang dengan penuh amarah.
Akhirnya dengan kesal Mayang mengambil setelan baju olahraga milik Radhif dan menggunakannya.
'Sepertinya ini lebih nyaman untukku ketimbang harus mengenakan 'lingrie'. Aku tak mau Radhif mengambil keuntungan atas diriku.
Setidaknya hanya malam ini aku bersamanya, esok hari Kak Radhif akan berangkat kembali ke tempat tugasnya bersama Mas Gilang,' batin Mayang mencoba menghibur dirinya.
Ada sebuah sofabed yang tak jauh dari sana.
Mayang membukanya dan merebahkan dirinya disana.
Malam ini hujan membasahi bumi, guntur dan kilatan petir membuat suasana sedikit mencekam baginya.
Radhif melirik ke pojok kamar, dilihatnya Mayang sedang menata sofabed untuk tidur.
Ada rasa bersalah dalam hatinya.
Namun rasa itu ditepisnya ketika Mayang menolak bantuannya tadi.
'Dasar cewek tomboi yang keras kepala, masih saja dia bersikap dingin dan kaku terhadapku, padahal niatku tulus. Aku takut terjadi apa-apa kepadanya dan juga bayi dalam kandungannya itu,' timpal Radhif dalam hati.
Malam itu udara terasa dingin, dan AC dalam kamar itu membuat Mayang menggigil kedinginan.
Mayang ingin mematikan AC kamar itu, akan tetapi remot AC berada di meja samping tempat tidur dimana Kak Radhif ada disana.
Rasa kantuk yang menyerangnya membuat dirinya tertidur meskipun tubuhnya kedinginan.
Training milik Radhif tidak juga bisa menghangatkannya.
Tapi Mayang mengabaikannya dengan meringkuk dan merubah posisi tidurnya seperti bentuk pistol, agar tubuhnya terasa lebih hangat.
Tak berapa lama akhirnya Mayang tertidur pulas.
Berbeda dengan Mayang, sejak tadi Radhif tak bisa tidur.
Sejak tadi dia hanya pura-pura tidur, memperhatikan Mayang.
Dengan perlahan Radhif turun dari kasur, mengangkat tubuh gadis itu dan membaringkannya di kasur, serta menyelimutinya dengan selimut yang tadi dibuangnya ke lantai.
Radhif duduk disamping Mayang, memandangnya dari dekat sambil memuji kebesaran Allah atas ciptaannya yang begitu sempurna.
'Seandainya aku bukan saudara kandung Radhit, seandainya wajah ini tak mirip dengan Radhif.
Pastinya Mayang tidak sedingin ini sikapnya kepadaku,' batin Radhif sambil menyibak rambut Mayang yang menutupi pipinya.
Tiba-tiba saja Mayang mengigau, memanggil nama Radhit dalam tidurnya.
Membuat Radhif kaget mencoba memundurkan wajahnya yang sedari tadi hanya berjarak lima sentimeter dari wajah istrinya itu.
"Kak Radhit!"
"Jangan pergi!"
__ADS_1
"Jangan pernah tinggalkan aku!" ucap Mayang dalam tidurnya.
Mayang terus saja mengigau, tak sadar tangannya memeluk Radhif yang berada disampinya, mendekapnya dan terus saja memanggil nama Radhit dengan suara terisak.
Entah apa yang Radhif lakukan, bukannya meninggalkan Mayang atau menyadarkannya, ia malah membisikan sesuatu kepada Mayang.
Itu Radhif lakukan agar Mayang bisa lebih tenang dan tidak mengigau lagi.
"Tenanglah sayang! Aku takkan pergi, aku akan selalu ada untukmu itu janjiku,' ucap Radhif.
Pelukan Mayang semakin kuat, melingkar di leher Radhif, entah terbius oleh wajah manis Mayang atau rasa cintanya pada gadis itu Radhif tak melewatkan kesempatan itu.
Di belainya pipi Mayang dan diciumnya bibir Mayang yang lembut dan merekah merah.
Namun.....
"Plak...plak!"
"Bruk!"
Mayang menampar wajah Radhif hingga dua kali tamparan dan mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
Sambil berdiri Mayang berteriak kepada Radhif menumpahkan rasa kesal yang ada dalam hatinya.
"Kak Radhif apa yang sudah kau lakukan?"
"Bukankah kau sudah berjanji kepadaku takkan pernah menyentuhku? Seharusnya aku tidak mempercayaimu," pekik Mayang kepada Radhif.
"Aku benci kepadamu!" ucapnya lagi sambil berlari ke arah kamar mandi.
Mayang masuk ke dalamnya menutup pintu dengan kasar, menahan rasa sedih, kecewa dan marah pada Kak Radhif.
Radhif hanya tertunduk menahan sakit hati dan kecewa karena gadis yanh dinikahinya masih saja bersikap dingin dan acuh kepadanya.
Meskipun dirinya begitu tulus menerimanya dan berusahan membuatnya mencintainya.
Namun Radhif sadar jika itu semua salahnya karena sudah mencium Mayang tanpa ijin darinya.
Memanfaatkan kesempatan saat Mayang yang terbuai dalam alam bawah sadarnya ketika memikirkan Radhit.
"Mengapa Mayang masih saja belum bisa mengikhlaskan kepergian Radhit, apakah benar-benar tak ada tempat untukku dihatimu, Dek?
Sedalam itukah cintamu untuk Radhit?
Betapa beruntungnya Radhit ada yang mencintainya hingga tak bisa menerima cinta lain meskipun cinta itu tulus untuknya,' batin Radhif yang merasa mulai putus asah.
Rashif berjalan menuju kamar mandi, mengetuk pintu kamar mandi dan berkata, "Maafkan aku Mayang! Aku khilaf, seharusnya aku tidak melakukannya tadi. Keluarlah dan hukumlah aku sepuas yang kau mau."
Tak jua ada suara dari dalam sana, hanya isak tangis yang terdengar.
Telah membuat Mayang menjadi seperti itu.
Meskipun ia tahu hal yang dilakukannya tadi bukanlah hal yang salah, karena mereka sudah sah dimata Tuhan, hubungan mereka sudah bukan lagi haram dimata agama.
Namun semua itu tidak harus terjadi, karena Mayang belum membuka hatinya untuk Radhif.
Dimata Mayang pernikahan ini hanya formalitas demi janin yang dikandungnya dan demi menjauhkan omongan negatif tentang statusnya yang hamil tanpa suami dimata masyarakat.
Padahal dalam hati Radhif bukanlah seperti itu, sebab cintanya tulus.
Dia mencintai Mayang sejak pertama kali melihat foto Mayang yang ada di ponsel sahabatnya Gilang.
Hanya saja saat Radhit dan keluarganya berkunjung ke tempat dinasnya saat itu Radhif tau kalau saudaranya itu menyukai gadis manis dan cantik yang merupakan adik dari sahabatnya. Gadis itu tak lain adalah Mayang Trihapsari.
Adik Gilang ini terbayar berkuliah di salah satu kampus negeri yang sama dengan adik kembarnya Radhit.
Kilas balik Radhif yang menyukai Mayang saat melihatnya pertama kali di ponsel Gilang.
"Lang, bisa aku pinjam ponselmu?" tanya Radhif kepada sahabatnya itu.
"Tumben mijem ponselku? Emang kemana ponselmu, Dhif?"
"Apa kau berikan kepada gadis SMA yang sekarang jalan denganmu?" ledek Gilang.
"Ah, bisa saja kau Lang. Ponselku kehabisan pulsa. Semalam aku lupa meminta Radhit mengisinya, lagi pula ini tanggal tua, belum gajian kita, Lang. Dompetku kering," ucap Radhif.
"Hahahaha....rupanya dirimu juga merasakan efek tanggal tua ya, Dif," tawa Gilang mendengar alasan sahabatnya itu.
Sebenarnya Gilang tau itu hanya gurauan Radhif saja, tidak mungkin baginya kehabisan pulsa dan uang.
"Udah buruan ambil tu ponsel, kalo lama bisa berubah fikiranku nanti," tambah Gilang sambil tersenyum dan berlalu ke kamar mandi.
"Kodenya apa, Bro?" teriak Radhif dari luar kamar mandi.
"111189!" teriak Gilang membalas pertanyaan Radhif tadi.
"What????"
"Angka apa ini? Ini bukan tanggal ulang tahun Gilang," tanya Radhif dalam hati.
Ternyata benar password ponsel Gilang adalah angka 111189.
Setelah menelpon adiknya Radhif untuk memberitahukan kabar kenaikan pangkatnya, dia mematikan panggilan tersebut.
Timbul fikiran iseng membuka ponsel Gilang dan melihat isi galeri miliknya.
Dan....
__ADS_1
"Wow....ada foto gadis cantik dan manis dengan menggunakan celan loreng pendek dengan atasan kaos hitam.
Rambutnya sebahu persis seperti seorang kowad.
Sungguh mempesona.
Foto itu bukan hanya satu tapi banyak.
Foto itu bagai mempunyai daya pikat, membuatnya terpesona.
'Apa ini kekasih Gilang? Tapi setahuku cewek gilang seorang bidan,' batin Radhif.
Tiba-tiba suara Gilang mengagetkannya.
Membuat ponsel yang dipegangnya hampir terjatuh.
"Woi...lagi ngapen tu?" ucap Gilang dari belakang.
"Kayak maling ketangkap basah aja dirimu, Dhif," ledek Gilang lagi.
"Hahahaha...bisa aja kau Lang. Oiya, cewekmu kowad ya? Tu ada fotonya di galeri ponsel," ucap Radhif lagi.
"Cewek Kowad?"
"Yang bener aja kamu, Dhif," ucap Gilang bingung.
"Nah, trus itu foto siapa?" tanya Radhif penuh selidik.
Gilang hanya tertawa, sambil berlalu meninggalkan Radhif yang penasaran.
Setiap hari Radhif terus saja menanyakannya, rasa penasaran dan rasa kagumnya membuatnya tidak bisa tenang.
Selalu saja bertanya tentang gadis difoto itu kepada Gilang.
"Siapa dia, Lang?" suatu saat ketika mereka duduk berdua.
"Yaela, itu lagi yang kau tanyakan, Dhif," balas Gilang.
"Aku hanya penasaran siapa dia,"
"Jangan takut, aku takkan merebutnya darimu," tambah Radhif mencoba meyakinkan Gilang agar mau memberitahunya.
"Dia cewekku satu-satunya, namanya Mayang Trihapsari, Dhif,"
"Sedari kecil dia bercita-cita menjadi seorang kowad, tapi papaku tidak mengijinkannya, dia kini berkuliah di kampus negeri, di Kota Surabaya," tutur Gilang.
"Owh...adikmu," timpal Radhif dengan mulut membulat mirip ikan mas koki.
"Aku kira--" suara Radhif terhenti saat terompet apel berbunyi.
Dari situlah Radhif mengenal Mayang, meskipun saat itu dia belum mengenal Mayang secara langsung, namun hatinya sudah duluan terpikat olehnya.
Namun, harapan untuk mengenal Mayang musnah, ketika mendiang adiknya lebih dahulu menceritakkan kepadanya tentang Mayang, saat mereka bertemu.
"Mayang!"
"Keluarlah"
"Maafkan aku," ucap Radhif lagi.
"Hukumlah aku, pukullah aku, tapi jangan menangis dan mengurung diri seperti ini. Aku tidak mau kau dan janin di dalam kandunganmu kenapa-napa,"
"Aku sudah berjanji kepada Gilang dan juga kedua orang tuaku," tambah Radhif dengan suara yang lirih.
Tak ada jawaban, hanya keheningan. Kini tak ada lagi suara isak tangis.
Didalam sana Mayang masih saja terdiam, mengingat apa yang terjadi tadi.
Sebenarnya itu bukan kesalahan Kak Radhif, toh mereka sudah sah menjadi suami-istri, akan tetapi hati Mayang masih belum siap.
Dan belum bisa menerima Kak Radhif seutuhnya.
Dalam fikiran Mayang, dia dan Kak Radhif melakukan penikahan ini karena kesepakatan, hanya bersandiwara belaka.
Bukan karena cinta, sebab cintanya masih untuk mendiang Kak Radhit.
'Ya, Allah, ampunilah aku.
Hambamu ini tak tahu harus berbuat apa.
Tunjukkanlah aku jalan yang harus aku tempuh.
Jangan biarkan hambamu ini terombang-ambing dalam lautan cinta yang semu," jerit batin Mayang.
*****"""""******
*Apa dengan kembalinya Radhif ketempat tugasnya sehari setelah akad nikah mereka akan membuat sikap dingin dan kaku pada diri Mayang berubah?
*Apakah Mayang mulai merasakan benih-benih cinta untuk Radhif?
*Dan apakah Setyo masih berusaha menemukan Mayang serta mencari tahu semua kebenaran yang terjadi, yang telah disembunyikan dari diri Setyo?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 51. Terimakasih๐๐ค๐
__ADS_1