
...----Desa Wirotaman, Malang-----...
Udara pagi cukup menggigit, membuat dokter tampan itu kembali meringkuk di atas dipan bambu beralaskan kasur tipis milik pemilik rumah. Tubuhnya terbungkus kain sarung yang sempat digunakannya untuk sholat tadi.
Rasanya enggan beranjak dari sana. Sepertinya mengarungi alam mimpi lebih nikmat. Akan tetapi pria tampan tersebut mengurungkan niatnya. Dalam fikirannya hanya terlintas bayang-bayang Mayang yang sedang membutuhkan pertolongannya. Iya, pagi ini dirinya dan juga pak RT serta beberapa warga harus mencari jejak keberadaan Mayang yang telah di culik beberapa hari sebelumnya. Jika dirinya terlambat bertindak, ia khawatir akan terjadi hal buruk kepada Mayang.
"Nak Bima, ayo bangun. Di minum dulu wedang jahe buatan Ibu, biar badannya hangat. Jangan lupa makan singkong rebusnya juga, biar ada tenaganya sebelum melakukan pencarian," ucap Bu RT dengan ramah.
Dengan cepat Dokter Bima bangkit dari dipan bambu tempatnya berbaring. Tangannya kemudian menyambar wedang jahe buatan Ibu RT, tak berapa lama sebuah singkong telah masuk kedalam mulutnya.
Ternyata singkong rebus suguhan pemilik rumah masih panas. Keluar suara desisan dari mulus sang dokter tampan itu karena kepanasan. Hal tersebut membuat Bu RT tertawa menyaksikan tingkah lucu Dokter Bima.
"Ayo, Nak. kita berangkat sekarang. Semakin cepat maka akan semakin baik. Kita antipasi bila terjadi hal-hal tang tidak diinginkan," ucap Pak Tugimin.
Tak berapa lama dua orang pemuda datang krumah pak Tugimin. Selaku RT pak Tugimin memang di kenal sebagai orang yang tega dan disiplin. Oleh karena itu, para warga yang datang kerumah Pak Tuginin sesuai dengan waktu yang telah di sepakati.
"Apa semua sudah berkumpul? Jika sudah maka lebih baik kita berangkat setelah sarapan! seru Pak Tugimin kepada pemuda yang merupakan warga desa Wirotaman.
"Nggeh, sampun, Pak," ucap pemuda yang di tanya oleh Pak Tugimin.
["Iya, sudah, Pak," ucap pemuda yang di tanya oleh Pak Tugimin.]
"Baiklah, Nak Bima. Kita berangkat sekarang. Namun, sebelum kita berangkat, terlebih dahulu kita berdoa. Saya akan memimpin doa," ujar Pak Tugimin.
"Baik, Pak," balas Dokter Bima singkat.
Pak Tugimin, Dokter Bima dan kelima pemuda warga Wirotaman tersebut berdiri di depan teras rumah ketua RT tersebut. Hening sejenak, memanjatkan doa dalam hati masing-masing.
"Doa selesai!" seru Pak Tugimin.
"Semoga pencarian hari ini membawa hasil dan Mbak Mayang bisa ditemukan," ucap Pak Tugimin.
__ADS_1
"Aamiin!" seru yang lainnya serempak.
Sekelompok pria dewasa tersebut kemudian berpamitan kepada Bu Tugimin. Lalu pergi menggunakan mobil 'pickup' milik Pak Tugimin yang biasanya digunakan untuk mengangkut hewan ternak untuk di jual ke kota.
Bu Tugimin memperhatikan kepergian mereka dengan perasaan khawatir dan was-was. Dalam hati dia berdoa semoga suami dan para warga berhasil membantu Dokter Bima dalam menemukan Mayang yang merupakan pasien dari dokter tampan tersebut.
'Semoga mereka berhasil menemukan, Mbak Mayang. Kasihan sekali nasib gadis itu. Sudah kehilangan suami dan juga calon anaknya, sekarang malah di culik," batin Bu Tugimin sedih. Dirinya sebagai wanita seperti merasakan kepedihan yang dirasakan Mayang.
'Andaikan anakku masih hidup, pastilah sudah sebesar Mayang. Sayangnya, Allah lebih sayang kepadanya sehingga mengambilnya lebih cepat sebelum dia tumbuh dewasa,' ucap Bu Tugimin dalam hati.
Fikirannya pun menerawang. Mengingat kembali masa-masa ketika anaknya yang bernama Retno masih berusia lima bulan.
Flashback on
Kala itu, Bu Tugimin memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan lincah. Setelah tiga tahun menikah, akhirnya Pak dan Ibu Tugimin memiliki seorang anak. Bayi mereka lahir dengan normal. Bayi itu tumbuh dengan sehat dan pintar. Akan tetapi suatu ketika, tanpa mereka sadari suatu malam bayi kecil itu terus saja menangis. Ternyata Retno kecil sedang demam. Karena sudah tengah malam, Bu Tugimin hanya memberikan Retno kecil minyak kelapa di camour dengan bawang merah. Menurut kepercayaan, racikan tersebut mampu menurunkan panas pada penderita demam.
Semalaman pasangan suami istri itu tidak tidur karena keadaan bayi mereka yang sedang sakit. Berusaha dengan keras, agar Retno kecil bisa turun demamnya. Pasangan suami istri itu berharap pagi segera tiba, sehingga Retno kecil bisa di bawa ke puskesmas. Desa mereka sangat terpencil kala itu, hidup mereka pas-pasan. Di tambah lagi jarak puskesmas dari rumah mereka sangat jauh.
Pilu rasa hati, ingin rasanya kedua orang tua itu menjerit, menolak ketetapan Allah. Akan tetapi mereka berusaha tegar dan tawakal atas takdir yang sudah digariskan untuk anak sematawayannya tersebut.
Hingga kini Bu Tugimin dan suaminya masih belum diberi kepercayaan lagi oleh Allah, mungkin karena trauma yang mereka alami. Namun, semua itu mereka jalani dengan sabar dan ikhlas. Mencoba mengerti apa yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta kepada keduanya.
Flashback off
...--Villa tempat Mayang di sekap--...
Dalam diam, Mayang meratapi nasibnya. Kesedihan semakin menyeruak, membuat rongga dadanya merasakan sakit yang teramat sangat. Bagaikan terhimpit batu besar. Hanya doa yang bisa dia panjatkan, berharap seseorang menemukannya dan menolongnya.
POV MAYANG
Begitu banyak orang di sekelilingku, tapi mengapa diri ini merasa sendiri dan kesepian???
__ADS_1
Begitu banyak cerita yang terdengar, tetapi mengapa ceritaku seperti tenggelam di dalam kehampaan???
Kemana lagi harus ku mencari,
dimanakah sang pelipur lara yang sejati,
dalam diam ku mencoba merenungi takdir,
sesaat ku tersadar, segala ujian yang terjadi, membuatku semakin kuat dan tangguh.
Meskipun terkadang kerapuhan ini terselubung di dalam kesunyian dan gelapnya malam,
semoga asah yang tersisa menjadi kisah yang indah di akhir ceritaku.
Ingin rasanya aku memutar kembali setiap detik, setiap menit, setiap jam dan hari-hari yang telah aku lewati. Berharap kenangan itu bisa terulang kembali. Agar aku bisa mengungkapkan dan mengatakan bahwa "aku benar-benar mencintaimu". Namun, kin kau telah pergi untuk selamanya, hanya tersisa bayang-bayang semu yang akan terus menyiksaku bila berada didekatnya. Apa yang harus aku lakukan? Harusakah aku menjauh darinya? Haruskah aku melepaskan beban ini untuk bisa melupakan senua kenangan dan impian yang pernah kurajut bersamamu? Dimana takdir bersembunyi? Mengapa teganya takdir mempermainkan hati yang semakin hari semakin rapuh ini? Adakah secercah kebahagiaan akan hadir dalam hidupku? Tapi mengapa kebahagiaan itu terasa hambar kurasakan, ketika berdiri di persimpangan, serasa semua hanyalah kekosongan tanpa ada seorang pun yang akan memegang tangan ini.
POV Mayang off
...-----------Bersambung-------------...
*Apakah Dokter Bima berhasil menemukan Mayang?
*Apa sebenarnya motif di balik penculikan Mayang?
*Siapakah sebenarnya Karla dan adiknya, hingga teganya menculik Mayang yang sedang sakit?
*Apakah Radhif menemukan jejak Dokter Bima dan Mayang?
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 127 Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.