
...Pengorbanan Setyo...
------Rumah saki M, Kota Malang-----
Pandangan mata Radhif menerawang menembus pekatnya malam, udara dingin menusuk tulang menambah pilu hatinya kala itu. Tak sampai hati dirinya menyampaikan keadaan Mayang kepada kedua orang tua dan juga sahabatnya Gilang. Entah apa yang akan terjadi bila mereka sampai tahu. Radhif tak bisa membayangkan rasa kecewa dari kedua belah pihak. Kecewa pada dirinya yang tak bisa menjaga sang istri dengan baik.
Sedari sore dia belum beranjak dari tempat itu menunggu, menunggu Mayang yang masih dalam keadaan kritis akibat kehilangan banyak darah. Beruntung masih tersisa satu kantong darah ketika Mayang dibawa keruang IGD. jika tidak, keadaan Mayang akan semakin parah bahkan bisa saja nyawanya melayang. Meskipun demikian Radhif harus segera mencarikan cadangan darah untuk Mayang, karena satu kantong darah belum cukup untuk memulihkan keadaanya saat ini.
Bingung dan cemas nampak dari raut wajahya, kepanikan melanda dirinya. Bahkan dia sampai lupa kapan dia mengisi perutnya, yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana caranya agar Mayang bisa segera pulih dan kembali kerumah bersamanya. Bukan hanya nyawa wanita yang dicintainya akan tetapi hal utama adalah menyelamatkan bayi dalam kandungan Mayang. Dia ingin agar keduanya selamat atau baik-baik saja dan bisa melewati masa kritis.
'Ya, Allah, jagalah keduanya. Jangan ambil mereka dariku. Karena hanya mereka yang aku miliki. Aku tak bisa hidup tanpa keduanya. Aku pasrahkan semua ini kepada-Mu. Jangan ambil mereka dengan cara seperti ini, ya, Allah. Aku belum siap menerima semua ini,' doa Radhif dalam hati. Ratapan seorang suami yang begitu mencintai Mayang dan bayi yang dikandung dalam rahimnya.
Dalam lamunannya Radhif mendengar langkah seseorang berjalan menuju ke arahnya. Dengan penuh kecemasan Radhif memalingkan wajahnya ke sumber suara.
Nampak Heru dan Dwi berjalan terburu-buru mendekatinya.
"Assalamu'alaikum!" ucap keduanya.
"Izin, Bang. Kami sudah menemukan 2 orang yang bisa dijadikan pendonor untuk istri Bang Radhif," tambah Heru seraya mengambil posisi duduk di sebelah Radhif.
Wajah Radhif yang lesu mendadak menyunggingkan senyum meskipun sedari siang belum sebutir nasi pun mengisi perutnya, hanya sebotol air mineral yang menemaninya sepanjang hari ini.
"Katakan kepadaku, siapa yang akan mendonorkan darah kepada Mayang istriku? Aku ingin menemui mereka dan mengucapkan terimakasih," ucap Radhif kepada kedua orang yang berada di depannya.
"Mereka sekarang sedang melakukan pemeriksaan di ruang medis sebelum menuju ke bagian PMI untuk melakukan transfusi darah," balas Heru menjelaskan.
"Abang bisa menemui mereka setelah selesai. Biarlah Bang Radhif fokus menjaga Mbak Mayang saja dulu, jangan fikir yang lainnya. Serahkan semuanya kepada kami berdua," ujar Heru mencoba menenangkan abang lettengnya itu.
Sebenarnya jauh dilubuk hati Heru tersimpan sebuah rahasia yang tak diketahui oleh Radhif. Sebuah rahasia yang tentunya akan membuat Radhif berang bila mengetahui semua itu.
Ya, pendonor yang sementara ini sedang di periksa di ruang medis yang jauh dari ruang IGD. Diantara keduanya terdapat sosok Setyo yang pagi tadi sempat bersitegang dengan Radhif. Sebenarnya Heru tak ingin menyembunyikan hal ini, akan tetapi tak ada lagi pendonor dengan golongan darah sama dengan istri abang lettengnya tersebut.
Sudah setengah hari dia habiskan mencari golongan darah AB ke beberapa tempat, namun hasilnya nihil. Karena golongan darah AB sedikit langka, jarang ada yang memiliki golongan darah AB.
__ADS_1
Begitu pula di batalyon, hanya dua orang yang bergolongan AB. Di antaranya adalah Setyo.
Flash back
Batalyon X, Kota Malang
Mendengar berita yang disampaikan tersebut, Setyo segera menghubungi Danton Heru untuk menginformasikan bahwa dirinya rela mendonorkan darahnya bagi Mayang. Jangankan darah, nyawa sekalipun akan dia berikan untuk menyelamatkan nyawa Mayang dari kritis.
Mendengar hal tersebut Heru sempat berfikir dua kali untuk menerima tawaran Setyo, akan tetapi dia dan Bagas hanya menemukan satu orang pendonor. Jika hanya satu pendonor tidak akan cukup cadangan darah bagi istri seniornya itu.
Maka dengan berat hati Heru menerima tawaran anggotanya itu untuk mendonorkan darahnya.
Namun, Setyo harus mengikuti syarat dan peraturan yang diberikan kepadanya.
tanpa perintah dan izin darinya Setyo tidak diperbolehkan berkeliaran di area rumah sakit tempat Radhif berada.
Agar tak menimbulkan kecurigaan dan menimbulkan masalah baru.
karena seharusnya Bagas dan Setyo yang menjadi pendonor bagi Mayang. Dengan menyamarkan satu anggota, Heru berharap dapat menghindari selisih faham diantar Radhif dan Setyo, sebab yang di temui Radhif nantinya bukanlah Setyo melainkan anggota yang menyamar sebagai pendonor. Padahal, sebenarnya hanya Bagas dan Setyo yang murni di ambil darahnya untuk Mayang. Dimas hanya menggantikan posisi Setyo, bilamana Radhif ingin menemui mereka nantinya.
Setelah mendengar instruksi dari sang danton muda itu, akhirnya mereka berangkat ke rumah sakit tempat Mayang di rawat inap. Bersama Dwi yang mengendarai mobil akhirnya keempatnya melaju menuju tempat tersebut.
Flash back off
Hari sudah hampir maghrib, dokter yang memeriksa Mayang kembali menghampiri Radhif. Ketiganya kemudian berdiri dari posisi duduknya.
Radhif maju dan menghampiri sang dokter, "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"
"Apa semua baik-baik saja? Apa bayi dalam kandungan istri saya bisa diselamatkan, Dok?" berbondong-bondong pertanyaan dilontarkan oleh Radhif karena mencemaskan keadaan Mayang yang sejak tadi masih belum bisa ditemuinya.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Bapak bantu dengan doa, ya?" ucap sang dokter dengan tulus.
"Apa sudah ada pendonor untuk Bu Mayang?"
__ADS_1
"Tolong secepatanya ya, karena kami harus melakukan operasi," jelas sang dokter.
"Saya mohon setelah ini, Pak Radhif ke ruangan saya, ada yang mau saya rundingkan," ucap dokter berumur separuh baya yang menangani Mayang sejak kedatangannya tadi siang di rumah sakit tersebut.
"Tapi, Dok. Apa separah itu hingga harus melakukan operasi?" ucapan itu terlontar dari mulut Radhif begitu saja.
Tersirat kembali kecemasan dan kepanikan pada wajah tampannya. Harapan yang tadinya muncul pun sirna mendengar penuturan sang dokter akan keadaan istrinya.
"Akan saya jelaskan nanti diruangan saya, tolong Pak Radhif segera mengambil kantong darah yang digunakan," jelasnya lagi seraya melangkah meninggalkan mereka bertiga.
Radhif terduduk lesu menatap kepergian sang dokter. Dalam benaknya mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Mayang.
Mengapa semua ini terjadi di saat seperti ini? Di saat keduanya mulai merajut asah demi masa depan cinta mereka.
Seharusnya semua ini tidak terjadi.
Andai saja dirinya tak bertemu dengan Setyo pagi tadi, semua kekacauan dan musibah ini tidak pernah terjadi.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Kini, Mayang dan bayi tak berdosa itu yang menanggung keegoisan kedua pria yang mencintainya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
*Bagaimana keadaan Mayang? Apa semua akan baik-baik saja setelah Mayang menerima darah dari pendonor dan melakukan operasi?
Nantikan kelanjutannya hanya di "TCM" Part 82. Terima Kasih 🙏😍😘
Jangan lupa like, Vote, tips dan komen yang membangun semangat Author. Terima kasih selalu setia membaca hasil karya Cikgu Maya 🙏🤗😍
#Gambar hanya sebagai ilustrasi semata
__ADS_1