
...****"""""*****...
...Dalam mobil...
...(Perjalanan pulang kerumah keluarga Pratama)...
Mayang berjalan ke arah gerbang depan jalan masuk menuju kost tempatnya tinggal sewaktu kuliah.
Di lihatnya mobil keluarga Kak Radhif di tepian jalan.
Nampak Pak Ujang yang sedang merokok sambil bersandar di pinggiran pintu mobil.
"Udah lama nyampe sini, Pak?" tanyaku sambil melirik jam tanganku.
Mendengar suaraku, Pak Ujang pun menghentikan aktivitasnya tadi. Membuang puntung rokok yang sudah hampir habis. Membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
Aku pun melakukan hal yang sama, masuk ke mobil yang siap melaju kembali ke kediaman keluarga Pratama.
"Tadi Pak Ujang lama nungguin saya?" tanyaku lagi.
Tetap fokus melaksanakan pekerjaannya mengemudi, Pak Ujang membalas pertanyaanku, "Belum lama kok, Non. Baru aja sampe sekitar 10 menit."
Kuraih ponsel di dalam 'handbag' hitam yang aku bawa tadi, mengeluarkan ponsel itu dari sana.
Aku lupa kalau pengaturan ponselku dalam 'mode silent'.
Kubuka layar ponselku setelah masukan kode pin yang hanya aku yang tahu.
"Apa ini?"
Nampak di layar ponselku dua puluh kali panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan yang tertera di kotak pesan.
'Telepon dan pesan dari siapakah ini?
Apa dari Mas Gilang atau Kak Radhif?
Tapi mengapa? Bukan kah tadi aku sudah meninggalkan pesan untuknya?
Lagi pula aku ke kampus hanya sekedar melepas kangen kepada sahabat-sahabatku.
Tak ada yang aneh dengan apa yang aku lakukan,' gerutuku dalam hati.
"Maaf Non, tadi Den Radhif telepon ke ponsel saya, katanya lain kali Non Mayang gak boleh keluar rumah tanpa izin dari Den Radhif dan hanya boleh saya yang mengantarkan," ucap Pak Ujang kepadaku.
"Hmmmmm....gitu ya?"sahutku sambil berdehem sesaat kemudian lanjut pandangaku mengarah ke ponsel dalam genggamanku, mencoba menelisik membuka isi pesan pada kotak pesan.
Ternyata panggilan tak terjawab itu dari Kak Radhif.
Dua puluh lima kali panggilan yang masuk.
Sebanyak itu dia mencoba menelponku?
Apa ini urusan yang sangat penting?
Karena penasaran aku Segera membuka kotak pesan pada ponselku.
Pesan pertama dan seterusnya isinya sama semua.
Dan isinya membuatku terkejut. Tak pernah aku melihat Kak Radhif semarah itu.
Bahkan berkata kasar pun tak pernah.
Tapi kali ini isi pesannya membuatku benar-benar sangat kaget.
['Jangan pernah meninggalkan rumah tanpa seizinku! Jika kau masih menghargaiku sebagai suamimu, dengarkan apa yang aku ucapkan.
Dan ingat jangan pernah bertemu dengan siapapun, bahkan ketiga sahabatmu sampai tiba waktu yang tepat!'] isi pesan dari Kak Radhif untukku.
Apa maksud pesan ini?
Apa aku harus tetap diam di rumah tanpa bisa bertemu siapapun?
Teganya Kak Radhif membatasi diriku seperti ini.
Jika aku tahu setelah menikah dengannya malah membuat hidupku terkekang bagai di penjara lebih baik aku memilih menolak menikah dengannya sejak awal.
'Untuk apa Kak Radhif melakukan ini semua?
Justru perlakuannya seperti ini yang akan membuatku semakin menjauh dan menutup hatiku untuk dirinya,' jerit batinku dalam hati.
"Non!" panggil Pak Ujang.
Sejenak aku terdiam dan menghapus butiran bening di sudut mataku.
"Iya, Pak Ujang?" balasku.
"Jangan sedih, Non!" serunya.
"Niat Den Radhif baik kok , Non," tambahnya.
__ADS_1
Sepertinya, Pak Ujang tahu keresahan hatiku.
Sehingga berusaha menghibur dan membesarkan hatiku.
"Den Radhif itu orangnya baik kok, Non. Cuma lebih tegas bila di bandingkan dengan Den Radhit," ucap Pak Ujang.
"Kalo mendiang Den Radhit orangnya sedikit kalem dan pendiam, sedangkan Den Radhif itu sedikit terbuka namun tegas," jelas Pak Ujang padaku.
"Gitu ya, Pak Ujang?"
"Pak Ujang udah berapa lama kerja sama keluarga mereka?" tanyaku penuh selidik.
Sambil melirik ke arah kaca spion, Pak Ujang berkata, "Sejak Den Radhif SMP, Non. Saat itu bapak dan ibu memutuskan berhenti bekerja dari sebuah bank milik BUMN dan merintis kembali pabrik tekstil milik almarhum kakeknya Den Radhif," cerita Pak Ujang tentang keluarga Pratama.
Tanpa aku ketahui bahwa kakek buyutnya Kak Radhif seorang pejuang dan Ayah dari Kak Radhif atau kakeknya merupakan pensiunan TNI AD, keluarga mereka memang memiliki usaha batik yang lumayan laris.
Sehingga kedua orang tuanya lebih memilih meneruskan usaha keluarga, di bandingkan bekerja atau menjadi karyawan swasta.
Sesampainya di rumah, aku membersihkan diri kemudian merebahkan diri di atas kasur.
Ku lirik ponselku.
Haruskah aku membalas pesan dari Kak Radhif atau membiarkannya.
Seolah-olah aku tak pernah menerima pesan darinya?
'Dilema....
Sepertinya ity yang aku rasakan kali ini,' ucapku dalam hati.
Dan akhirnya aku putuskan untuk mengirimkan sebuah pesan singkat.
['Aku akan menuruti semua perintahmu, tetapi jangan pernah melarangku menemui ketiga sahabatku!'] isi pesanku pada Kak Radhif.
Aku menanti balasan dari Kak Radhif, tapi sepertinya dia sedang sibuk.
Sampai siang pun tak ada balasan darinya.
Hingga sebuah sebuah pesan masuk.
Akan tetapi, pesan itu berasal dari Ika sahabatku.
['May, ada banyak hal yang ingin kami bertiga sampaikan, sebenarnya tadi kami bertiga berharap bisa menemuimu.] isi pesan dari nomor Ika.
Karena penasaran dengan pesan terakhir yang Ika kirimkan, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Ika.
Ternyata ketiganya sedang berada bersama di kost siang itu, tepatnya mereka telah pulang ke rumah setelah jam perkuliahan telah berakhir.
Aku meninggalkan ponselku dalam keadaan 'mode silent' di atas meja rias.
Adzan telah berkumandang, waktunya untuk sholat duhur.
Sebab subuh tadi aku melewatkannya.
Dua puluh menit berlalu aku telah menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim yg taat.
Dalam sholatku aku berdzikir dan berdoa memohon tuntunan serta penguatan.
Berharap permasalahan yang ada akan segera berakhir.
Jujur, hati dan jiwaku begitu lelah.
Ingin rasanya aku mati saja, mengikuti kepergian Kak Radhit.
Harapan hidupku musnah saat melihatnya terbujur kaku dan meninggalkanku seorang diri.
Hingga....
Saat mengetahui ada sebuah kehidupan dalam diriku, keinginan untuk hidup muncul kembali, demi buah cintaku dengan mendiang Kak Radhit.
Fikiranku menerawang, mengingat kesepakatanku dengan Kak Radhif.
Dan bila tiba saatnya aku akan berpisah dari Kak Radhif, aku akan mencoba untuk tetap optimis dalam menjalani hidupku.
Meski tanpa Kak Radhif aku akan tetap berjuang dan melanjutkan hidup demi masa depan aku dan juga anakku.
"Tok...tok...tok....!"
"Sudah selesai sholat, Non?"
"Ayok makan siang dulu. Nanti Non Mayang sakit lagi kalo tidak makan."
"Ini Bibi buatin sop iga dan perkedel kentang kesukaan, Non Mayang," suara Bi Inah memecahkan kesunyian.
Sambil menatap Bi Inah, aku bangkit dari posisi dudukku.
Membereskan mukenaku dan berjalan mengikuti Bi Inah menuju dapur yang berada di lantai bawah.
"Bibi tahu dari mana ini menu favoritku?"
__ADS_1
"Oiya, Bibi dan Pak Ujang sudah makan?" tanyaku.
"Dari Den Radhif. Bibi sama Pak Ujang belum makan, Non," balasnya.
Aku pun mengambil piring sambil berkata, "Yasudah, kalo gitu makan sama-sama saja ya, temani Mayang makan, Bi." Sambil menyerahkan piring kepada Bi Inah.
"Jangan lupa nanti panggilkan Pak Ujang buat makan siang juga ya, Bi!" seruku.
"Baik, Non," balas Bi Inah.
Selera makanku sedikit berkurang, entah karena terkena 'moorning sick' pada fase kehamilan ini, atau karena pesan yang aku terima tadi dari Kak Radhif.
Hanya beberapa sendok makan nasi yang masuk.
"Bibi tahu tempat jualan manisan mangga di sekitar sini?" tanyaku lagi?
Sepertinya manisan mangga atau kedondong akan terasa enak di mulutku.
Berbeda bila memakan menu masakan pada umumnya.
Entahlah mungkin juga karena bawaan bayi.
Setelah makan siang selesai, Pak Ujang dan Bi Inah mencari penjual manisan buah yang tak jauh dari kompleks perumahan.
Dengan susah payah, Bi Inah dan Pak Ujang berhasil membelikan aku sekantong manisan mangga dan kedondong.
Bahagianya aku melihat hasil kerja kedua orang kepercayaan keluarga Pratama.
Mereka sangat rajin, ulet dan jujur.
Meskipun sudah tak muda lagi.
Tetapi semangat bekerja yang mereka miliki patut di acungi jempot.
Inilah yang membuat kedua orang tua Kak Radhif memilih mempertahankannya di banding mencari pekerja yang baru dan lebih muda.
Melihat manisan mangga dan kedondong yang di bawa keduanya, langsung saja gairah hidupku seakan pulih kembali.
Seperti orang kelaparan yang menyantap nasi padang, aku menghabiskan seluruh bawaan Pak Ujang dan Bi Inah tadi.
Sebungkus penuh ludes dalam sekejap.
"Non, pelan-pelan makan manisannya. Jangan di habisin semua!" ucap Bi Inah yang menelan ludah saat melihatku memakan semua manisan mangga dan kedondong tersebut.
"Enak, Bi," balasku sambil menikmati manisan dengan bumbu garam dan cabe yang menjadi ciri khasnya.
"Jangan-jangan non Mayang udah isi ya?"
"Tokcer banget Den Radhif, gak sia-sia Pak Ujang bawain jamu dari keluarga yang ada di Madura, khasiatnya memang mujarab," kilah Pak Ujang mencoba mencairkan suasana dengan gurauannya.
Terlihat Bi Inah ikut tertawa mendengarnya.
"Pak Ujang ngomong apa sich, Mayang gak ngerti," protesku sambil mengernyitkan kedua alisku.
Tak berselang lama suara telepon rumah pun berdering.
"Krrrriiiinnngg....kriiiinnnggg,krrrriiinnng!"
"Wa'alaikumsalam, dengan keluarga Pratama di sini. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ada, Den," ucap Bibi.
"Iya, Den, akan Bibi sampaikan," tambahnya lagi, kemudian menutup telepon.
Aku hanya menatapnya, kemudian melanjutkan menikmati manisan manggaku lagi.
Ketika Bibi berjalan menghampiri, aku pun menanyakannya karena penasaran siapa yang menelpon.
"Siapa yang telepon, Bi?" tanyaku.
"Den Radhif, Non," ucapnya.
"Den Radhif bilang, ponsel Non Mayang kok di telepon tidak di angkat.
Makanya langsung telepon kerumah.
Katanya ada hal penting yang mau di sampaikan," timpal Bi Inah sambil berlalu membereskan makanan yang di meja makan.
'Apa lagi yang mau di bahas Kak Radhif?
Bukannya aku sudah berjanji tidak akan kemana-mana lagi bila tak ada izin darinya?
Apa lagi yang harus di bahas?' fikirku.
🍁🍁🍁🍁
*Apa yang ingin Radhif bicarakan kepada Mayang?
*Apa Mayang masih menyimpan rasa pada Setyo?
__ADS_1
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 55. Terimakasih 🙏🤗😍