TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# Part 18


__ADS_3

****Kampus,


06 September 2004***


Tiga hari berlalu, kesehatanku berangsur pulih, kini saatnya aku mengejar ketinggalanku.


Mendatangi dosen-dosenku, agar aku bisa meminta ujian susulan.


Semoga semuanya berjalan mulus seperti harapanku.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, bak gayung bersambut, keinginanku pun terwujud.


6 mata kuliah yang harus aku selesaikan sudah aku ajukan kepada masing-masing dosen.


Dengan berbekal surat keterangan dari dokter dan niat yang kuat usahaku berhasil.


2 hari ke depan aku akan mengikuti UTS susulan yang di berikan oleh dosen, terhitung mulai hari ini.


Selama sakit aku sudah mempersiapkan diri, meskipun tidak ke kampus aku tetap belajar materi yang di ujikan.


Semua ini tak lepas dari bantuan kedua sahabatku Ika dan Restu.


Bersyukur aku mempunyai sahabat seperti mereka.


Dan menurut kabar yang aku dengar dari Ika dan Restu, pendakian calon anggota HIMAPALA sebagai perkenalan terhadap alam di undur karena seminggu ini masih UTS dan juga kak Radhit harus memberikan UTS untuk mata kuliah pak Dwiarno.


Bukan hanya kelas kami tapi juga kelas lainnya.


Ada rasa kecewa mengingat hal itu.


Seharusnya aku tidak sakit, dengan begitu aku bisa mendaftar sebagai calon anggota baru HIMAPALA tepat hari ketiga atau hari terakhir pendaftaran.

__ADS_1


Tapi yasudahlah...., mungkin ini sudah suratan takdir.


Bila memang kami di takdirkan bersama, pasti ada jalan untuk kami berdua.


Aku sudah pasrah.


Apapun itu akan aku terima.


Walaupun sakit rasanya, mungkin lebih baik sakit sekarang sebelum semuanya lebih jauh lagi, batinku.


********


Waktupun berlalu, UTS dan tugas telah kami selesaikan.


Kini saatnya memulai materi baru.


Masih stengah perjalanan lagi kami siswa baru angkatan 2004 akan naik tingkat setelah UAS maka kami akan naik ke tingkat dua semester genap.


Seakan-akan baru kemarin kami menginjakkan kaki di kampus ini.


Tiba-tiba aku teringat Alm. Ayah, tak terasa air mataku menetes, seandainya beliau masih ada, bahagianya Ayah melihat ini semua.


Semoga aku bisa mewujudkan keinginan Ayah menjadi wanita mandiri dan pekerja keras, agar dapat mengangkat harkat dan martabat serta membanggakan keluarga.


"Hai...." sapa Dion kala itu aku baru sadar sedari tadi fikiranku menerawang jauh, sehingga tak tahu kalo Dion sudah lama berada di sampingku.


"Udah kelar UTSmu, May? Tanya Dion lagi.


"Nilaimu sudah keluar?" Bertubi-tubi pertanyaan terlontar dari mulutnya, belum sempat aku menjawab semua pertanyaannya dia kemudian menyodorkan amplop putih kepadaku yang di keluarkann dari dalam tas ranselnya.


"Ini untukmu, bukalah....!" Ujar Dion lagi, sembari mengambil posisi duduk di sampingku.

__ADS_1


"Apa ini Dion?"


"Dari siapa amplop ini?" Tanyaku heran sambil membolak-balik mencari nama sang pengirim.


"Buka saja....!"


"Maka maka akan kau temukan jawabannya." Kali ini Dion hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya, membuatku semakin penasaran.


Dengan cepat aku membuka sisi amplop tadi menggunakan gunting yang kebetulan aku bawa di dalam tempat pensilku, kemudian mengeluarkan isinya.


Betapa terkejutnya aku melihay isi amplop itu.


Seakan tak percaya dengan apa yang aku lihat.


Didalamnya terdapat sepucuk surat dan juga sebuah foto.


Ada rasa sedih namun juga rasa lega karena apa yang aku fikirkan selama ini terjawab sudah.


Dia baik-baik saja disana, semoga tetap sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT "SDA".


Kau tetap sahabat terindahku.


Semoga suatu saat nanti kita dapat berjumpa kembali.


*Apakah isi surat yang di berikan Dion kepada Mayang?


*Masih ingatkah Mayang apa arti inisial "SDA" setelah waktu bergulir untuk beberapa lama?


*Dan apa sebenarnya yang terjadi kepada Dia yang mengirimkan pesan untuk Mayang?


Nantikan kelanjutannya pada kisah Mayang yang berikutnya. Trimakasih 🙏😍😘

__ADS_1


__ADS_2