TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 23


__ADS_3

*********


Perjalanan pun semakin menanjak dan berkelok-kelok.


Menguras tenaga serta energi, langkah kaki kami terus saja bergerak mengikuti irama waktu.


Hingga pada pagi hari kami tiba di puncak gunung Semeru.


Menaklukan rasa lelah dan letih, berganti kebahagiaan dan rasa syukur atas kebesaran Sang Pencipta.


Sesampainya kami di puncak Mahameru, aku dan juga teman-teman yang lain, mengeluarkan bekal minum dan memakan perbekalan BAMA yang ada.


Saat itu aku lupa akan keberadaan kak Radhit.


Entah kemana kak Radhit akupun tak tahu.


Hingga saat matahari mulai nampak, barulah aku sadar bahwa semenjak sampai diatas puncak Mahameru.


Kak Radhit dan juga beberapa senior sedang membuat tiang untuk bendera Merah Putih lambang NKRI dan bendera lambang HIMAPALA kampus kami.


Di bawahnya aku lihat ada sebuah saputangan.


Saputangan itu sepertinya tak asing lagi bagiku.


Saat OSPEK dulu kak Radhit pernah memberikan saputangan itu kepadaku.


Sepertinya itu bukan kebetulan kalo saputangan itu mirip.


Dengan rasa penasaran yang menderu-deru jiwaku, aku mengajak Niar mendekati tiang bendera tersebut.


Terlihat beberapa anggota baru dan juga senior berkerumun mencoba mengabadikan momen kala itu, tepat di dekat tiang bendera yang sudah di dirikan oleh kak Radhit dan temannya menggunakan kayu seadannya yang mereka temui di bawah sebelum naik ke puncak Mahameru.


"Niar..., ayo ikut aku!" ajakku sembari menarik tangannya.


Dengan wajah bingung Niar mengikuti langkahku, "Bentar donk....,jangan di tarik-tarik gini!"


Aku tak mempedulikan ocehan Niar, kakiku semakin cepat melangkah.


"Aku kamu tarik-tarik kayak anak kecil yang habis nyolong duit emaknya aje." gerutu Niar sambil memasukan potongan terakhir biskuit kedalam mulutnya.


Sambil memasang wajah judes aku memelototin Niar," Bawel amat sich, tinggal jalan doank kok. Makan mulu yang di fikirn kamu Niar."


Sesampainya di bawah tiang itu, aku mencoba mendekati dan meraih saputangan itu.


Dan betapa terkejutnya aku, ternyata di saputangan itu tertulis dengan jelas menggunakan huruf kapital, ( IN MEMORIES RADHITYA 💘 MAYANG, SEMERU, 17-08-04 ).


Ternyata ini yang di maksud kak Radhit, tanda cinta yang akan dia tunjukan untukku.


Ada rasa yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata.

__ADS_1


Entah mengapa, perasaan ini terasa begitu kuat.


Tapi masih ada sedikit rasa ragu pula yang tersimpan dalam sudut hatiku.


Kurasakan ada seseorang yang menyentuh tanganku, hangat sentuhan itu, menjalar hingga membuat getaran dalam hati dan jiwaku.


Genggaman tangan itu terasa begitu kuat dan hangat, terdengar suara khasnya yang berbisik di telingaku "maukah kau menjadi milikku, jika ini memang takdir jadilah yang pertama dan terakhir untukku."


Suara itu meruntuhkan tembok pertahananku, semua keraguan yang ada hilang seketika.


Berganti rasa bahagia yang tak pernah bisa aku bayangkan.


Hanya bisa terdiam, tertunduk menatap butiran pasir.


Sudut mataku mengalir bulir bening, menggambarkan begitu bahagianya hati ini.


Semoga alam semesta menjadi saksi akan ketulusan cintanya, cinta kami berdua.


Bias cahaya mentari pagi menyelimuti puncak Mahameru, memancarkan kehangatan, sepeti cinta Radhit yang menghangatkan hati Mayang.


"Kok diam aja May!" ucap Niar membuyarkan lamunanku.


"Jawab donk...." tambahnya lagi.


"Terima apa gak?" terdengar suara mas Davin dan beberapa senior yang berada di samping Niar.


Aku menatap kak Radhit yang masih menggenggam erat tanganku yang terbungkus sarung tangan rajut yang aku pakai sebagai penghalau dinginnya udara puncak Mahameru.


Mencoba memberi jawaban melalui pandangan mataku.


"Bacalah isi hatiku Kak, kau akan tahu betapa aku mencintaimu, walaupun aku tak tahu sampai dimana takdir cinta ini membawa kita." ucapku dalam hati sambil menatap matanya, mencoba mengungkapkan perasaanku lewat suara hatiku.


Secepat kilat kak Radhit menarikku dalam dekapannya, sambil mencium mesra keningku dia berkata," aku tahu arti tatapan itu May, jangan pernah kau sembunyikan perasaan itu.


Jujurlah pada hatimu bahwa kaupun sangat mencintaiku.


Biarlah mereka dan juga alam semesta yang begitu indah ini menjadi saksi cinta kita.


Semoga Allah dan takdir akan menyatukan kita."


Pagi ini diatas puncak Mahameru, kami menyatukan hati dan jiwa kami.


Dalam langkah dan doa, memohon sang Ilahi merestui dan meridhoi cinta tulus kami berdua.


In memories Radhithya Putra Pratama dan Mayang Trihapsari.


************


Tersadar aku dari lamunanku,

__ADS_1


Mengingat kenangan indah dan kenangan manis sewaktu memulai kisah cintaku dan kak Radhit.


Hingga saat ini, takdir masih menyatukan kami, dalam sebuah ikatan cinta, sebuah cincin tersemat indah di jari manisku.


Tanda ikatan cinta antara aku dan kak Radhit.


Kami berjanji akan selalu setia saling menunggu.


Menunggu hingga benar-benar siap untuk di persatukan dalam mahligai pernikahan.


Sudah terbayangkan angan-angan membina sebuah keluarga.


Mempunyai keluarga kecil yang bahagia.


Dengan dua orang anak yang lucu dan menggemaskan.


Semua itu tertunda karena kak Radhit memutuskan untuk mengikuti sekolah perwira atau AKMIL, mengikuti jejak sang Kakak yang lebih duluan setelah menyelesaikan jenjang D3 kala itu sebelum mengikuti pendidikan AKMIL.


Minggu depan menuju keberangkatannya kak Radhit masih saja menyempatkan dirinya untuk mendaki gunung.


Menggeluti hoby yang menurutnya sangatlah menarik, apalagi disaat-saat jenuh seperti ketika kuliah dulu.


Hari ini saat pertama kalinya dia kembali dari Magelang ke kota Surabaya, setelah mengurus segala sesuatunya dia dan juga senior HIMAPALA sahabatnya memutuskan untuk kembali mendaki, kak Radhit ingin mengajak sahabatnya untuk kembali mencoba menaklukkan puncak Mahameru seperti beberapa tahun silam.


Tapi kali ini aku tidak bisa mendampinginya.


Ada rasa khawatir, rasa takut.


Entah mengapa hati merasakan begitu takut melepasnya.


Sudah lebih dari 3 hari belum juga ada kabarnya dari kak Radhit.


Biasanya hanya 2 atau 3 hari perjalanan pendakian.


Dan hari ini tepat hari ketiga mereka menuju puncak Mahameru.


Kenapa sudah lebih dari 4 hari belum juga kembali.


Apa yang sebenarnya terjadi.


Semakin aku memikirkannya, semaki galau rasa hatikku.


Dalam hatikku aku berdoa, semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kak Radhit.


Membawanya kembali dalam pelukkanku.


****************


*Mengapa Mayang begitu khawatir dan gelisah disaat Radhit dan teman-temannya mendaki gunung Semeru?

__ADS_1


*Apa yang sebenarnya terjadi pada Radhit dan teman-temannya?


Nantikan kisah selanjutnya salam "Akhir kisah cinta sang pendaki" part 24. Trimakasih 🙏🤗😍😘


__ADS_2