
Rumah yang cukup hangat meskipun mengerikan, tapi aku nggak peduli, yang penting ada tempat untuk menghindari hawa dingin yang ada diluar sana.
Apalagi obor yang tadi ada diluar kami bawa masuk selain untuk penerangan, kami gunakan juga untuk menyalakan beberapa kayu bakar yang ada di dalam tungku masak, kayu bakar yang sudah benar-benar kering, sehingga asap tidak terlalu banyak di dalam rumah ini.
Dan meskipun ada sedikit asap yang keluar dari api yang ada di perapian, aku dan temanku masih bisa tidur dengan nyenyak.
*****
“Apa yang kalian lakukan di lembah mayit ini?” tanya pak Sapudi sambil berdiri di ambang pintu
“Eh kami dari kota S pak, sedang dalam upaya mencari desa membutuhkan bantuan” jawab Broni
“Tidak.. Kami tidak butuh bantuan siapapun…” potong pak Sapudi dengan mata tajam
Pagi sekali ketika kami masih tidur tadi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah, ketika aku buka ternyata yang datang adalah pak Sapudi seorang diri.
Matahari sudah masuk melalui sela-sela kayu dan atap rumah yang tidak rapat, tungku apipun sudah padam.
Ketika pak Sapudi masuk rumah, di sekitar depan rumah meskipun sudah ada sinar matahari tapi keadaanya masih penuh kabut dan udaranya sangat dingin, udara dingin pun masuk ke dalam rumah…
Bagi kami yang penduduk dari kota pesisir pantai, dengan udara sangat dingin ini tentu saja membuat kami kaget dan terbangun dengan cepat.
“Bron… katakan yang sebenarnya apa yang menjadi tujuanmu itu!” bisik Tifano
“Apa mas.. Apa yang membuat kalian datang ke lembah mayit ini?” kata pak Sapudi sekali lagi
“Begini pak… kami dari kota S sedang akan melakukan sedikit masukan kepada desa-desa untuk eh……”
“Untuk apa!” kata pak Sapudi
“Kamu itu laki-laki. Kalau bicara yang tegas!” tegur pak Sapudi
“Saya dari sebuah partai yang sedang mencari tempat yang bisa kami gunakan untuk mencari suara bagi partai pak” jawab Broni dengan tegas
“Tentu saja dengan timbal balik bagi desa ini nanti pak” tambah Broni
“Hmmm partai…” gumam pak Sapudi
“Tanpa partai kami disini masih bisa hidup damai dan tenang, tidak ada yang membuat kami susah….” kata pak Sapudi
“Lalu bagaimana kalian bisa masuk ke desa ini?”
“Lewat jalan biasa pak, lewat daerah B pak…”
“Bukan itu… bagaimana kamu bisa tau disini ada desa, siapa yang memberitahu kamu disini ada sebuah desa?”
Broni menceritakan bagaimana kami bisa sampai ke desa ini, mulai dia mampir ke sebuah warung dan diberi informasi oleh orang yang ada di warung untuk datang ke desa yang dia maksud, Hingga kami datang kesini dengan membawa sejumlah atribut partai yang akan dipasang.
“Tidak!.. Tidak ada yang boleh melakukan apapun disini atas nama sebuah kepentingan, kecuali kamu kesini dengan niat yang baik untuk melakukan pekerjaan untuk kebaikan dan sejenisnya” kata pak Sapudi sambil tersenyum
Senyum orang itu agak aneh sih kalau menurutku, karena yang bisa aku lihat senyum dia itu senyum yang menyembunyikan sesuatu..
__ADS_1
Tapi ya sudahlah….kita sudah terlanjur ada di desa orang, ya terpaksa kita ikuti saja apa yang orang itu maui.
“Ya sudah pak… karena kami sudah terlanjur ada disini, maka kami akan melakukan kegiatan sosial semampu dan sebisa kami” kata Bondet
“Baiklah.. Sekarang ayo ke rumah saya. Hanya sekedar ngopi dan ada rebusan sederhana, sekalian kita sarapan, kebetulan istri saya masak agak banyak hehehe” kata pak Sapudi
“Pakai jaket kalian.. Pagi ini akan terasa sangat dingin disini…” kata pak Sapudi kemudian keluar dari rumah
Rumah pak Sapudi yang kami tempati ini hanya mempunyai tiga ruangan saja, satu ruang tamu yang campur dengan dapur, karena ada alat memasak dan tungku bakarnya… meskipun tungku bakar itu sudah agak rusak pinggir pinggirnya.
Kemudian ada dua buah kamar kecil, masing-masing dengan tempat tidur dengan kasur kapok yang sudah tipis. Di salah satu kamar ada sebuah lemari dengan kaca yang berukuran lebar dan berbentuk oval.
Lantai rumah ini berasal dari tanah yang dipadatkan hingga menyerupai plester, tapi karena dinginnya kami harus tetap gunakan alas kaki meskipun ada di dalam rumah.
Sedangkan di pojok ruang tamu ada tiga gulung tikar lusuh yang sudah kami gulung, dimana semalam tikar itu kami gunakan untuk tidur di kamar depan yang tidak ada lemari kacanya.
Untuk kamar belakang ditempati Novi dan Ivon saja.
Hanya itu saja yang ada di rumah ini, lalu bagaimana dengan kamar mandi dan tempat untuk buang air besar…?
“Eh Nov… dimana tempat pup dan pip nya?” tanya Ivon yang bingung dengan keadaan rumah ini
“Nanti saja kita tanyakan ke pak Sapudi Von, aku juga bingung gimana mereka bisa bertahan tanpa ada kamar mandi dan tempat untuk buang air besar” jawab Novi
Di depan rumah… di pagi hari yang sangat dingin, lagi-lagi masih ada kabut meskipun untuk saat ini sudah mulai tipis… tapi kabut itu tetap saja mengambang… seakan akan tidak pernah tidak tidak ada kabut di daerah ini.
Matahari sudah bersinar terang, tapi kabut dingin itu masih ada di sekitar rumah yang kami tinggali ini.
“Ayo kita ke rumah pak Sapudi rek…dia menunggu kita lho” kata Broni
“Hehehe semoga masih ingat Wil… kan dekat disini hehehe.” jawab Broni
“Ku kira kamu sudah lupa Bron… kan yang ada di otakmu cuma sifat penjilat dan mencari keuntungan untuk dirimu dan partaimu saja”
“Yo nggaklah Wil… masak aku koyok gitu sih…” jawab Broni
“Mas Wil…badan kita bau asap semua ya hihihi, kayak bau ikan panggangan saja mas” potong Novi
“Ya jelas Nov, kita kan semalam di sebuah ruangan yang berasap, tapi untungya asapnya itu gak tebal dan mengarah ke atas, dan keluar melalui sela sela atap kayu”
Kami semua sudah ada di depan rumah…
pekarangan rumah ini luas juga, dan yang pasti ada pohon besar di sisi kiri atau kanan, aku tidak tau pohon apa ini, dan pohon ini kuat tumbuh di daerah yang sedingin ini.
Dan sekali lagi aku merasa aneh dengan tanah yang ada di sekitar rumah ini, tanah yang tidak padat, tapi gak semua tanah disini gak padat, ada juga tanah yang padat, tapi selama aku melangkah tanah ini agak melesak ke dalam.
Kayak ada rongga di bawah tanah yang aku injak… kayak ada sesuatu yang dipendam di bawah tanah, tetapi cara menguburnya asal asalan saja.
Melangkah keluar dari pekarangan rumah ini rasanya bagaikan melangkah masuk ke dalam kulkas…Gimana nggak.. Tiap kaki melangkah, pasti udara dingin akan terasa hingga ke tubuh kami.
Keadaan pagi ini tidak ada bedanya dengan malam kemarin, sama saja tetap dingin, hanya saja bedanya ada sinar matahari yang mengakibatkan adanya perubahan suhu udara meskipun sedikit.
__ADS_1
Gilank yang tidak bawa jaketpun akhirnya menggunakan jaket milik Bondet, sedangkan Bondet menggunakan jaket milik Ivon.. jaket Ivon baunya wangi ngatjengkan kalau kata Bondet hehehe.
Aku heran dengan penduduk disini, bagaimana mereka kuat dengan keadaan yang sangat dingin ini, tapi mungkin siang nanti keadaan tidak akan sedingin ini.
“Mas… kenapa nama tempat ini hurur banget ya,..... Lembah mayit hihihi” tanya Novi
“Hehehe lembah mayit… iya sih Nov ngeri juga kalau kita pikir pikir”
“Nanti kita tanyakan ke pak Sapudi saja mas… siapa tau nama lembah Mayit itu ada artinya”
Udara dingin menerpa wajah kami, pagi yang sangat dingin, mungkin hampir sama dengan apabila wajah kita kena hembusan angin dari freezer kulkas.
Tapi sumpah dinginnya gak karuan disini mungkin karena letak kita ada di atas, dan dikelilingi hutan pegunungan.
Rumah pak Sapudi itu sebenarnya tidak jauh, hanya karena kalau ke sana itu harus kena udara dingin, mengakibatkan kami agak gimana gitu, apalagi ditambah kabut tipis yang tidak pernah hilang dari pandanganku.
Sebenarnya aku kepingin mandi dan buang air besar, tapi bingung juga dimana kami harus mandi, dan aku gak bisa bayangkan air yang ada disini, gimana dinginnya.
*****
Di rumah pak Sapudi….
Rumah yang tidak beda dengan yang kami tempati ….hanya ada ruang tamu yang gabung dengan alat masak dan tungku yang baranya sedang dalam keadaan nyala, sehingga dalam rumah pak Sapudi ini lebih hangat udaranya.
Tikar sudah digelar, di tengah tikar ada berbagai macam umbi umbian dan pisang yang direbus.
Kami duduk di atas tikar mengelilingi makanan rebusan yang asapnya mengepul.
Istri dia kayaknya sedang masak, karena aku mencium bau daging goreng yang menggugah selera.. Ya bau yang mirip dengan ketika kita sedang menggoreng empal.. Ada bau gajihnya (lemak) dan bau daging gorennya.
“Semua minum kopi kan…. Tunggu airnya sedang direbus istri saya” kata pak Sapudi
“Kita makan rebusan dulu saja ya, nanti setelah istri saya selesai masak kita bisa makan yang lebih enak”
“Partai apa yang membawa kalian sampai ke sini? Tanya pak Sapudi sambil mengunyah singkong rebus
“Partai Damai Indonesia Persatuan pak…” jawab Broni
“Hmm saya tidak tau nama-nama partai, yang jelas kami disini tidak pernah terjamah oleh siapapun, apalagi oleh pemerintahan….” jawab pak Supadi
“Lengan kalian penuh tato… kalian ini preman kok mau saja ikut partai?” tanyanya lagi dengan tersenyum
“Heheheh tato itu seni pak… bukan preman, tapi sayangnya yang ikut partai hanya Broni saja pak” jawab Tifano sambil menunjuk Broni
Pak Sapudi ini sebenarnya baik, dia menjamu kami dengan kayak, tetapi tetap saja aku merasa ada aneh dengan orang ini, ada yang aku kurang bisa pahami.
“Pak…. bapak kok repot-repot menjamu kita sih pak?” tanya Broni
“Hehehe ya ndak papakan, saya sangat jarang lho kedatangan tamu seperti ini, apalagi tamunya rombongan”
“Eh pak Supadi.. Eh pak Supadi, istri bapak masak empal brewok ya? hihihi” kata Gilank mulai lancang
__ADS_1
“Apa…. apa maksudmu dengan empal Brewok?” kata pak Supadi agak tinggi
“Eh nggak pak… guyonan pak, maksud saya empal goreng pak” ralat Gilank yang sempat membuat aku tegang karena perkataan Gilank tadi