TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 80. HAMPIR SAJA NOV


__ADS_3

“Eh lebih baik kita pergi dari sini saja, cari tempat yang enak untuk istirahat dan nunggu pagi hari mungkin ada bus yang akan datang ke sini”


Kami pergi dari tempat yang tadi dihuni sesuatu yang bagiku mengerikan. Kami pindah ke bagian yang terang karena sinar lampu penerangan terminal.


Kami sekarang ada di sekitar pos jaga yang biasanya ditempati petugas terminal untuk mengatur bus yang datang dan akan pergi dari sini.


Di bawah sini cukup bersih untuk kami duduki…. Sebenarnya ada bangku yang biasanya digunakan para calon penumpang yang menunggu bus, hanya saja posisi bangku itu di tempat yang sinar lampunya kurang.


Kami memang putuskan untuk mencari tempat yang terang saja.


“Jam berapa Wil?”


“Setengah tiga Lank, sebentar lagi pagi lah, kenapa kok kamu tanya Jam Lank?”


“Nggak papa Wil. tadi mungkin aku kebanyakan makan… perutku saiki mules c*k”


“Waduh Lank, situasi ngene kok kamu mau mencret c*k!”


“Kenapa mas Gilank, mau buang air besar ta mas?” potong Novi


“Iya Nov….eeeghhh”


“Aku tak cari toilet dulu Wil….” kata Gilank


“Kamu tau gak dimana toilet disini Lank?”


“Yo gak eruh Wil. kalian tunggu disini saja, aku mau cari toilet dulu rek”


“Nggak usah Lank, itu ada tas kresek, pakek tas kresek itu saja dulu”


“Mbahmu ngetril c*k…. Nggilani lah Wil… wis ah,  kalian tunggu saja disini, aku mau cari tempat buat ngebom”


Gilank memang gitu, gak bisa dikasih tau, dia kalau ada maunya ya harus keturutan, dia pergi begitu saja ke arah gelap-gelap. Sekarang tinggal aku dan Novi saya yang ada disini.


Sudah lebih dari lima belas menit Gilank belum juga balik.


“Mas Wil, mas Gilank gimana itu mas?”


“Iya Nov, aku juga khawatir dengan keadaan Gilank. Gimana menurutmu Nov?”


“Gimana kalau kita susul dia mas. Kita cari dimana toiletnya”


“Ya ke arah sana Nov, ke arah yang Gilank tadi jalan itu, mungkin disana ada toiletnya”


“Eh tas Novi dibawa apa nggak mas?”

__ADS_1


“Bawa aja Nov, tasmu isinya barang-barang penting gitu”


Aku dan Novi jalan menuju ke arah yang Gilank tadi jalan, kami menuju ke tempat yang gelap di area terminal ini.  Aneh juga terminal ini, sepi sekali, kayak terminal yang tidak beroperasi.


Tapi di sekitar sini banyak toko dan depot makanan yang masih dalam keadaan tutup. Jadi kesimpulanku, terminal ini masih beroperasi.


Masak sih ojek tadi kirim kita ke terminal yang sudah tidak beroperasi lagi, kan ya gak mungkin lah


Perlahan kami jalan ke arah area yang gelap, disini hampir tidak ada lampu penerangan. Paling juga ada cahaya dari pantulan lampu yang berasal dari terminal saja.


“Itu mas. Ada panah yang mengarah ke toilet.. Ke arah kanan mas”


“Iya Nov, kita ke sana saja”


Aku ikuti tanda petunjuk yang mengarahkan ke toilet, ternyata tidak jauh tempatnya.


Bau pesing mulai tercium di hidung kami, bau khas toilet terminal yang biasanya tidak terawat.


“Itu mas, terus dimana mas Gilanknya mas?”


“Eh kamu jangan masuk Nov, ini kan toilet untuk pria, itu kan ada tulisanya pria”


“Mas Wildan ini lupa ya, Novi kan cowek mas hihihi, bisa jadi cowok mas hehe”


“Ya udah ayo kita masuk ke dalam, aku juga agak takut masuk ke toilet yang gelap ini Nov”


Kudorong pintu kupu-kupu atau pintu koboi itu, suara deritan engsel pintu membuat aku kaget.


Aku dan novi masuk ke ruangan toilet yang bisa dikatakan jorok, karena bau pesing ***** eh sangat menyengat, yah khas toilet umum yang tidak terawat.


“Mas Wil. pintu toilet ini tertutup semua… apa mas Gilank ada di salah satunya mas?”


“Aneh Nov, kalau gelap gini, apa bisa Gilank ngising disini?”


“LAAANK…. GILAAAANK..AYO CEPAT NGISINGNYA!”


“Gak ada jawaban mas, toilet ini kosong!. Mas gilank nggak ada disini mas”


“LAAAANK… JANGAN MAIN MAIN REK… AYO CEPAT KELUAR DARI WC C*K”


“Kan mas… gak ada jawaban, berarti kan tidak ada orang sama sekali disini”


“Lha terus dimana Gilank Nov?”


“Ayo kita keluar dari sini saja, perasaanku gak enak Nov. eh kamu jalan di belakangku saja Nov”

__ADS_1


Gelap… memang!


Area toilet terminal bus ini memang tidak ada penerangannya. Tapi dari baunya, toilet ini masih beroperasi, bau pesing ini menandakan toilet ini kerap digunakan tanpa disiram!.


Aku buka pintu toilet yang menggunakan pegas, sehingga apabila dibuka dia bisa nutup sendiri, ketika aku tarik pintu itu terbuka, kemudian aku tahan agar Novi dahulu yang melewati pintu itu….


Ketika Novi mulai melewati pintu, nggak tau tiba-tiba tanganku terlepas dari daun pintu koboi berpegas itu. Dan dengan keras pintu itu bergerak akan menghantam bagian belakang Novi.


Reflek aku dorong Novi hingga tersungkur di depan toilet!,


Tetapi tiba-tiba pintu itu kemudian balik menghantam aku yang belum melewati daun pintu itu.


Pintu yang berbalik itu menghantam bagian depanku, aku terdorong dan  jatuh ke dalam ruangan toilet….!


AAARGHHHH ANJEEENG!


Aku jatuh terduduk di dalam ruangan toilet…


“MAS WILDAN…!”


“ARRGHH ADUUH… SAKIT SEKALI PANTHATKU NOV!”


“KAMU JANGAN MASUK KESINI NOV, TUNGGU AKU DI LUAR SAJA, AKU YANG AKAN KELUAR!”


Aku berdiri dari posisiku, sambil aku pegang panthatku yang sakit aku keluar dari ruangan toilet dengan hati-hati.


Aku nggak mau ada kejadian pintu yang membanting dengan sendirinya lagi… aku tau tadi itu bukan sewajarnya. Karena tidak ada pegas pintu yang bisa membanting atau menghantam dengan begitu kerasnya.


Jelas nggak masuk akal, pintu berpegas itu bisa balik menghantam aku, itu sungguh tidak masuk akal.


“Mas Wildan.. Terima kasih sudah selamatkan Novi, mas WIldan nggak papa mas?”


“Ayo kita pergi dari sini sebelum ada  apa-apa dengan kita Nov”


Aku rangkul Novi dan berjalan cepat menuju ke tempat awal kami. Dan ternyata disana sudah ada Gilank yang sedang duduk sendirian.


Baju Novi kotor karena dia terjerembab di sekitar area toilet, sedangkan bajuku bau pesing, karena tadi aku terjatuh di dalam ruangan toilet.


“Kalian dari mana saja rek?” tanya Gilank dengan santai


“Ya cari kamu ke toilet Lank, memangnya kamu boker dimana c*k?”


“Tadi aku gak jadi ke toilet rek, uuuugh bau toiletnya ngeri sekali, jadi aku tadi ngising di pojokan tempat parkirnya bus. Untung disana ada ember isi air yang biasanya digunakan untuk mengisi airnya bus, jadi aku sekalian bisa cebok hihihi”


“Kalian kenapa kok koyoke kesakitan gitu rek?”

__ADS_1


“Ya ini gara-gara cari kamu!”


__ADS_2