
Kabut menghalangi pandanganku terhadap orang yang sedang memancing dan memotong motong ikan untuk dimasak, desa ini sepi tidak ada seorangpun yang ada disini, tetapi kini aku melihat satu orang yang sedang memancing.
Kemungkinan besar orang yang sedang memancing itu adalah pemilik atau bagian teknisi untuk hiburan yang mengerikan.
Aku yakin teman-temanku sekarang sedang tertawa… mereka pasti sedang menertawakan aku dan Novi yang hingga sekarang belum juga bisa memecahkan teka teki yang ada disini.
Tapi tidak lama lagi, alias sebentar lagi, aku dan Novi akan memaksa orang itu untuk menyelesaikan permainan dan membawa kami keluar dari sini.
Aku di depan mengendap endap untuk menangkap orang yang semakin dekat dengan kami, kami memang ada di semak belukar samping orang itu, dia pasti kaget ketika kami datang dengan tiba-tiba.
Aku kasih tanda Novi untuk tetap berdiri di sini, karena aku akan mengagetkan orang yang masih memotong-motong ikan yang ada di pinggir telaga.
Aku tinggal dua meter di belakang orang itu, dia sedang duduk dan sibuk memotong-motong sesuatu yang ada didepannya.
Bau amis… tapi bukan bau amis ikan yang tercium….
Bau amis dan bau tidak sedap seperti bau sesuatu yang busuk atau bisa juga bau taik.
perlahan -lahan aku berjalan di belakang orang itu, dan…
“BADALAAAAAA…… kena kamu sekarang hahahahah!” aku pegang dengan erat pundak orang itu, dan dia tidak melawan sama sekali
“Katakan dimana kameranya.. Kamu pasti yang mengurusi area mengerikan ini kan hahahah!.. Ayo katakan jangan cuma diam saja!”
“DI MANA TEMAN TEMANKU!... CEPAT JAWAB!”
Aku masih memegang bagian belakang orang ini, dia memunggungi aku, sehingga aku belum bisa melihat wajahnya sama sekali.
Orang yang sedang dalam peganganku ini hanya diam saja, dia sama sekali tidak berkata apapun selain memunggungiku saja.
Dia tidak melawan, tidak ada reaksi kata-kata sama sekali, dia hanya diam saja ketika aku semakin erat memegang punggungnya.
Kemudian perlahan-lahan aku balik tubuhnya agar aku bisa melihat wajahnya.
__ADS_1
“Astaga jamu Kimpet!” aku sangat hapal dengan wajah Kimpet yang ketika aku bersama Sokran dan istrinya bertemu dengannya
“Iya saya kimpet, kamu siapa dan berasal dari mana” kata Kimpet sambil tersenyum aneh
“TIDAK USAH SOK BAIK PET… AKU TAU KAMU ADALAH ORANG DIBALIK MASALAH INI” aku sudah tidak tahan untuk bicara keras kepada Kimpet
“Hehehe kamu bilang apa… sik sebentar, saya mau bersihkan dan motong-motong jeroan ini, soalnya sudah ditunggu pembeli. Nanti saja bicaranya, atau kamu mau bantu saya bersihkan dan motong-motong jeroan ini?” kata Kimpet kemudian duduk dan melanjutkan pekerjaanya
Aku gak bisa ngomong apa-apa, ternyata yang sedang dipotong adalah jeroan…. Tapi aku nggak tau itu jeroan apa, hanya saja baunya sangat gak enak…
Aku panggil Novi agar datang ke sini, dan melihat hal yang aneh ini.
“Mas… kok manggil Novi, apa keadaan aman saja?”
“Aman nov, dia lho malah gak melawan sama sekali, malah dia melanjutkan motong-motong jeroan, yang tadi aku lihat ada usus, jantung, dan paru-paru”
“Lha dia itu apa yang melakukan yang kita alami ini semua?”
“Nggak tau Nov, dia belum bicara apa-apa, dia bilang kalau dia sedang sibuk, karena jeroan itu sudah ditunggu pembeli”
“Ini pisau besar, tolong potong menjadi kecil kecil usus yang sudah saya bersihkan” kata KImpet dengan santainya
Aku tidak menjawab omongan dia… jelas aku gak berani memegang benda menjijikan itu. Otakku sempat berkata benda mengerikan dan menjijikan itu berasal dari manusia yang digantung terbalik di lapangan.
“Kalau nggak mau bantu saya ya tidak papa, kalian mau tanya apa, saya jawab sambil kerja nggak papa kan” kata Kimpet lagi sambil mengambil gobang yang dia tadi berikan kepadaku
“Benar namamu Kimpet?” aku mulai dengan pertanyaan yang sederhana, aku agak ragu apabila dia Kimpet, karena dia tidak menggunakan celana tiga perempatnya GIlank
“Hahaha nama saya Johan, hanya saja orang-orang itu memanggil saya dengan sebutan Kimpet, dan sekarang yang menyebut saya Kimpet sudah mati semua karena tertular penyakit aneh” kata Kimpet yang sama sekali tidak menoleh ke arah kami berdua
Aku semakin bingung, berati Sokran dan istrinya sudah mati, tapi kenapa keadaan disini berbeda dengan pohon-pohon yang tidak seberapa besar dengan ketika aku bersama Sokran.
“Pet… kamu gak usah permainkan kami, ayo katakan kami sedang ada dimana, dan kenapa kami ada disini, dan siapa yang permainkan kami!”
__ADS_1
“Hehehe, kalian ada di desa yang ditinggalkan, cuma ada saya dan Pokijan yang ada disini, Pokijan sedang antar pesanan daging sepuluh kilo, sedangkan saya ya kalian lihat sendiri apa yang sedang saya lakukan hehehe” jawab Kimpet tanpa melihat ke arahku sama sekali
“Kenapa kamu bunuh orang Pet!.. Kamu ini sebenarnya bangsa apa!” aku makin bingung untuk menanyakan apa kepada Kimpet
“Ah kalian ini … saya tidak membunuh, itu pesanan saja, saya cuma bertugas menjaga jagal pesanan saja. Saya bukan orang jahat, tugas saya hanya memotong motong sesuai dengan pesanan saja…” kata Kimpet dengan santai
“Ada sendiri orang yang mencari bahan dan membunuhnya, setelah mati orang itu membawa ke sini dan saya yang menggantung di lapangan itu”
“Usus ini…perintah dari pemesan harus bersih dari lemak, kan sulit bagian dalam usus ini penuh dengan lemak kan… dari tadi saya bersihkan usus manusia ini belum selesai selesai hingga kamu datang ke sini pak”
Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi, aku bingung campur takut, aku ada di mana dan sedang berhadapan dengan siapa, tiba-tiba kepalaku menjadi pusing sekali… apalagi melihat sebegitu banyaknya organ tubuh manusia yang masih belum dibersihkan oleh Kimpet.
“Pet, mayat itu berasal dari mana saja”
“Saya nggak tau pak, pokoknya orang orang itu datang kesini dan menyuruh saya untuk memotong-motong sesuai dengan pesanan”
“Pet, barang pesanan itu nanti mau dijadikan apa?”
“Hahahah saya nggak tau pak… bisa saja dibuat soto atau rawon, atau bisa saja dibuat bakso, enak kok, masalah kalian belum pernah makan”
“Nanti selesai saya kerjakan ini, saya bakarkan daging yang paling empuk dan paling enak, agar kalian tau betapa enaknya daging ini”
Kimpet melanjutkan memotong motong usus dan jeroan lainya, tiba-tiba dari tengah telaga aku bisa lihat kabut tebal, kabut yang seperti sebelum sebelumnya.
Kabut itu datang dengan cepat menuju ke arah kami, anehnya si Kimpet sama sekali tidak peduli dengan datangnya kabut aneh itu. Dia masih memotong motong jeroan dengan santainya.
“Mas…. itu kabut lagi…”
“Iya Nov, aku juga tau, tapi mau gimana lagi kita pasti akan kena kabut itu.. Coba lihat Kimpet, dia tidak peduli dengan kabut yang akan datang itu”
“Seolah dia tau bahwa akan ada sesuatu yang datang kesini dan dia tidak peduli dengan hal ini Nov”
“Heh Kimpet…itu ada kabut datang, kamu tau gak itu kabut apa?”
__ADS_1
“Hah biar aja ada kabut, memangnya kalian takut dengan kabut itu?” kata Kimpet yang masih serius memotong motong jeroan dengan santainya.
Bingung dan tidak paham… itu yang ada di dalam kepalaku, aku sama sekali nggak tau kenapa dia tidak takut dengan kabut yang datang itu, dia seolah sudah biasa dengan kabut itu.