
Suasana kembali normal lagi setelah Gilank bilang soal guyonan (bercanda) tentang empal Brewok. Sekarang pak Sapudi melihat ke arah kami semua, sepertinya dia sedang mempelajari wajah kami.
“Heh kamu… “ kata pak Sapudi kepada Broni
“Siapa yang menunjukan disini ada desa?” pertanyaan dari pak Sapudi yang diulang lagi….
“Saya tidak tau pak, saya hanya bertemu orang itu di daerah B ketika kami sedang tersesat dan di sebuah warung kopi” jawab Broni
“Coba kamu ceritakan kepada saya ciri orang itu dan bagaimana kamu bisa bertemu dengan orang itu, dan tolong jujur saja dengan saya, jangan ada yang ditutup tutupi” kata pak Sapudi
“Jadi waktu itu saya dan teman saya habis menghadiri pertemuan di kota P. waktu itu saya dan teman saya tinggal di sekretariat partai di kota S” Broni memulai ceritanya
“Perjalanan pulang malam hari yang disertai Gerimis, apalagi ditambah keadaan kami berdua yang agak mabuk mengakibatkan kami tersesat pak”
“Sebenarnya jalan dari kota P ke kota S itu kan lurus saja sampai.. Tapi entah bagaimana ketika di alas roban kami tidak tahu awalnya gimana, kami tiba-tiba sudah ada di antara pohon-pohon di hutan”
“Dalam keadaan setengah sadar kami bertemu dengan seorang pemuda yang entah itu benar-benar pemuda atau bukan, pokoknya dia bilang kalau mau selamat ikuti saya dan jangan mabuk apabila di perjalanan”
“Cuma sebentar, kemudian kami sudah ada di jalan besar yang mengarah ke kota S… tetapi karena keadaan kami yang saat itu mabuk, maka saya putuskan berhenti di sebuah warung sate yang pada waktu itu masih buka…”
“Nah ketika kami sedang makan, ada pemuda yang datang dan memesan sate juga. Saya nggak begitu menanggapi pemuda itu, hanya saja dia sempat bertanya”
“Habis dari acara partai ya mas?... saya jawab iya mas.. Di kota P, dan sedang perjalanan pulang ke kota S”
“Karena waktu itu saya mendapat tugas dari atasan saya untuk mencari desa pelosok untuk diadakan yah sekedar penyuluhan eh … eh kampanye terselubung pak hehehe, maka saya tanya ke pemuda itu, apakah di sekitar sini ada desa yang letaknya di pelosok”
“Kemudian pemuda itu bilang ada.. Dan dia menjelaskan kepada saya cara menuju ke desa itu… dan akhirnya kami bisa sampai disini” kata Broni menyelesaikan ceritanya.
Kopi delapan gelas sudah muncul di hadapan kami… kemudian pak Sapudi menyuruh kami untuk meminum kopi itu… dari raut wajah pak Sapudi nampaknya ada sedikit perubahan setelah Broni selesai bercerita.
“Mas Broni… pertama saya akan bilang bahwa kalian sangat-sangat tersesat” kata pak Sapudi setelah menyeruput kopi panas bikinan istrinya
__ADS_1
“Desa ini tanpa nama, dan letaknya ada di lembah Mayit. Penduduk disini tidak lebih dari lima belas jiwa…kami hidup dari berladang dan berkebun” kata pak Sapudi
“Kalian jauh dari rute yang diceritakan orang yang bertemu dengan kamu mas Broni” sambung pak Sapudi
“Kedua kalian tidak perlu mengadakan kampanye disini.. Karena desa ini tidak memerlukan bantuan dari manapun, kami disini sudah hidup dengan damai dan bersyukur kepada Tuhan dan alam bahwa kami bisa bahagia dalam kesederhanaan”
“Ketiga… kalian harus pergi dari sini sebelum kabut datang… sebelum kabut itu menerpa kalian di jalan“ kata pak Sapudi
“Sekarang nikmati makanan seadanya bikinan istri saya ini, dan kemudian pikirkan cara untuk segera pergi dari sini” kata pak Sapudi dengan wajah serius
Empal goreng beserta gajihnya (lemak)sudah terhidang di depan kami, tidak ada nasi putih, yang ada hanya umbi umbian dan daging goreng yang porsinya besar-besar.
“Silahkan dimakan, gajih itu berguna di hawa dingin seperti ini, eh kebetulan tadi istri saya mendapat daging agak banyak, sehingga bisa disajikan untuk kalian”
Tidak ada yang menjawab omongan pak Sapudi, karena kami sibuk dengan makanan kami. Aku yang pada dasarnya tidak suka makan daging sapi atau sejenisnya, apalagi Gajih jelas hanya sedikit mengambil daging yang disajikan istri pak Sapudi.
Begitu juga dengan Ivon dan Novi yang hanya mengambil sedikit saja. Berbeda dengan Gilank yang memenuhi mulutnya dengan daging yang disediakan istri pak Sapudi…..Broni juga sama seperti Gilank, mereka berdua sepertinya kelaparan.
Berlemak… tidak keras, agak rontok seperti daging yang dipresto, dan sedikit ada bau apeknya… mungkin daging binatang liar yang ada di hutan ini.
“Pak Maaf.. saya mau buang air besar.. Dimanakah letak kamar mandinya pak?” tanya Gilank tiba-tiba setelah menghabiskan beberapa potong daging dan lemak yang ukuranya besar
“Maaf kami disini mandi dan buang air di sungai… jadi apabila mas..eh mas atau mbaknya.. Eh masnya mau buang air. Sekarang saja ke sungai sebelum kabut datang” jawab pak Sapudi
Entah kenapa dari tadi pak sapudi selalu bicara tentang kabut yang akan datang dengan wajah agak tersenyum. Apakah hanya aku saja yang merasa bahwa dia sedikit tersenyum atau teman-temanku juga melihat.
“Di sebelah sisi mana tempat untuk buang air dan untuk mandi pak…?” tanya Gilank yang wajahnya sedang menahan taik yang akan keluar dari pantatnya
“Kalian melewati jembatan dengan barongan bambu kan… sebelum jembatan ke arah kiri, ada jalan setapak, nanti disana kalian akan lihat tempat untuk mandi dan untuk buang air besar” jawab pak Sapudi
Dia berkata sambil tersenyum lagi… sepertinya ada yang disembunyikan dari wajahnya, tetapi senyum itu tidak terlihat sama sekali, dan sekarang dia menunjukan tempat dimana kami bisa melakukan aktifitas pagi.
__ADS_1
Tapi terung terang, aku tidak akan mandi apabila ada disini, hawa disini sangat dingin, mungkin untuk buang air besar pun aku akan berpikir dua kali apabila harus menyentuh air sungai yang dingin.
“Kalau kalian akan ke sana cepat, jangan sampai keduluan kabut yang tidak bisa ditebak kapan datangnya itu”
Orang ini mengusir kami atau ada sesuatu tentang kabut yang akan datang…
Atau coba aku terangkan bahwa semalam pukul dua belas an kami sudah bertemu dengan kabut itu, apakah dia akan berkata lain setelah aku ceritakan tentang kabut yang datang itu?
“Pak Sapudi, kemarin malam ketika kami sampai di hutan sana, ketika mobil kami tidak bisa bergerak karena terhimpit pohon, sebenarnya kami sudah terpapar kabut”
“Kabut itu tebal dan berlangsung hanya sekitar eh berapa Von, berapa menit kabut itu munculnya?”
“Lima menit mas Wil” jawab Ivon
“Benar pak…kabut itu sempat menerobos mobil kami selama lima menitan… apakah itu kabut yang bapak maksud?”
Wajah pak Sapudi berubah…. Dia tidak tersenyum seperti sebelumnya, dia kini diam dan keliatan sedang berpikir.
Apakah benar kabut yang itu yang dimaksud oleh pak Sapudi…. Karena dia hanya diam saja
Tapi hanya sebentar, karena berikutnya dia kemudian tersenyum kembali.
“Bukan….bukan kabut itu yang saya maksud… di lembah Mayit ini ada sebuah kabut yang pekat dan berwarna abu-abu, kalau datang kabut itu penduduk disini masuk ke dalam rumah, karena kabut sangat dingin dan menyesatkan”
“Makanya saya suruh kalian untuk segera pergi dari sini sebelum tersesat dalam kabut yang kadang juga membawa angin kencang”
“Oh iya pak, kenapa lembah ini disebut lembah mayit?” tanya Broni tiba-tiba sambil masih mengunyah daging goreng yang ukuranya besar
“Itu hanya sebutan dari penduduk disini, karena kami sering menemukan mayat tergeletak di hutan sebelum sungai.. Mungkin korban pembunuhan atau apa, saya kurang tau”
“Tetapi tiap penduduk disini menemukan mayat di hutan, mereka segera menguburkan di sana di belakang rumah yang kalian tempati itu” Jawab pak Sapudi
__ADS_1
“Pokoknya kami disini sering mendapat mayat yang entah dari mana datangnya, dan kami kuburkan di desa ini”