TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 124. WAHYU, SUKER, DAN HENDRO


__ADS_3

Gila, di depanku ada Broni, Tifano,Bondet dengan nama Wahyu, Suker dan Hendro….apa-apaan ini , dan mereka itu siapa, kenapa mereka tidak mengenal kami sama sekali.


Nanti agak siangan kami akan ke rumah mereka untuk menanyakan tentang bertanam kentang, ini makin gila, atau memang mereka sebenarnya ingat kepada kami hanya saja mereka tidak mau bicara  ketika ada pak Sokran.


Atau jangan-jangan apa yang dikatakan pak Kus untuk tidak melihat mereka itu akan terjadi, dan mereka akan membunuh kami?


Aku semakin bingung, tapi semoga apa yang tadi aku pikirkan tidak akan terjadi dengan kami, ah sudahlah, lebih baik kami jalani saja, kalaupun terjadi sesuatu dengan kami ya sudah mau apa lagi


*****


“Itu rumah ketiga remaja pintar dan giat itu , mereka disini sangat disegani, sehingga apa saja yang mereka minta, penduduk disini selalu akan berusaha memenuhinya” kata pak Sokran dengan masih dengan wajah tersenyumnya


“Nanti kalian datang sendiri saja ke sini ya, sekarang sudah siang kita balik ke rumah dulu saja, istri saya sudah menyiapkan makanan untuk kita semua horeeee” kata pak Sokran yang semakin aneh


Kami saling berpandangan ketika pak Sokran bilang hore, seakan akan dia akan mendapatkan kebahagiaan dengan makanan masakan istrinya, atau  bahkan bisa saja dia akan menyerahkan kami ke tiga orang kawan kami, ah aku nggak bisa mikir lagi.


Kami sudah ada di rumah pak Sokran…..


Nggak tau kapan masaknya, karena dari tadi istri dia kan ikut bersama kami. Di lantai yang dilapisi karpet usang ada beberapa piring dengan lauk yang wah!


Satu nampan penuh dengan daging dengan potongan ukuran jumbo. Kemudian nasi dalam bakul, ada lagi sayuran, semua itu terhidang di depan kami seperti sedang ada pesta.


“Ayo silahkan duduk, kita makan siang enak dulu, setelah itu kalian bisa pergi ke rumah tiga orang yang hebat itu” kata pak Sokran dengan wajah ceria


Aku, Novi, dan Ivon sedang menunggu reaksi pak Kus dulu, kami takut apa yang akan kami makan ini tidak boleh dimakan.


Kulihat pak Kusno biasa saja, dia duduk dan setelah dipersilahkan tuan ruman dia mengambil nasi cukup banyak beserta lauk daging yang lumayan besar.

__ADS_1


Kedua suami istri itu tertawa bahagia melihat pak Kus mengambil masakan entah siapa yang masak.


“Kalian bertiga ayo diambil, jangan  malu-malu gitu dong… “


“Iya pak, tapi tadi kami masih kenyang waktu makan di pinggir telaga pak” kata Novi


“Hussh itu kan cuma makanan pembuka saja, kalian makan lagi biar sehat dan cepat gemuk”


Apa?, biar cepat gemuk?......


Makin aneh saja cara orang ini bicara, tapi ketika aku lihat pak Kus sedang makan dan Ivon juga ternyata lahap juga, akupun ikut makan juga, maklum yang disajikan saat ini menggugah selera.


Empal atau daging goreng ini mengingatkan aku ketika aku ke sini dan disediakan masakan daging yang besar-besar juga, tapi aku lupa waktu itu ada di masa apa.


Tapi kan menurut pak Kus masa ini adalah masa yang paling aman jadi aku gunakan untuk memenuhi perutku dulu.


“Nah sekarang kalian pergi ke rumah tiga remaja pintar itu, mereka tidak pernah pelit ilmu kepada siapa saja, jadi tanyakan saja apa yang kalian perlu tanyakan” lagi-lagi pak Sokran bicara dengan wajah yang tersenyum.


*****


“Apa yang akan kita lakukan di rumah itu pak Kus?”


“Mereka bertiga itu teman kami yang hilang, tapi kayaknya mereka tidak mengingat kami sama sekali” tambah Novi


“Kita lihat saja nanti disana, tergantung keadaan apakah kita bunuh atau gimana” jawab pak Kus


“Dan ingat mereka itu bukan teman kalian, jadi jangan sekali kali bicara tentang apa saja yang menyebabkan kalian akan dekat dengan mereka. Kita ada di tanah mengerikan, dan harus ada yang mati agar kita bisa naik tingkat menuju ke alam selanjutnya”

__ADS_1


Jalan kaki menuju ke rumah tiga orang yang bernama Suker, Hendro dan Wahyu ini membuat aku cemas, karena tubuh mereka bahkan cara mereka bicara adalah sesuai dengan tiga teman kami yang hilang disini.


Di depan sana rumah yang dimaksud sudah terlihat, dan jancuknya mereka bertiga sukir, Wahyu dan Hendro ada di sana juga, mereka di luar sambil bicara dengan beberapa perempuan dan ibu-ibu yang lewat.


“Selamat sore mas Wahyu, mas Suker dan mas Hendro” sapa pak Kus dengan ramah


“Wah ini yang kami tunggu-tunggu, ayo masuk dulu. Eh maaf ibu-ibu dan mbak-mbak, tamu yang kami tunggu sudah datang, untuk masalah anak perempuan ibu-ibu yang mau kami nikahi, nanti akan kita bicarakan lagi, untuk mbak-mbak, nanti malam kami tunggu di sini ya” kata Tifano atau Suker


“Hehehe maaf, itu tadi ibu-ibu yang ingin anaknya kami nikahi, dan yang mbak-mbak itu perawan desa yang ingin kami perawani, tapi kami tolak saja mereka. Yah kami tidak mau menjadi seperti ini hehehe, ayo masuk yuk” kata Wahyu alias Broni.


Rumah mereka ini aneh, di dalam ada tiga kamar dengan pintu kelambu, macam panti pijat kaki lima, tidak ada meja kursi, hanya ada karpet berwarna krem yang kelihatannya masih baru, tapi disana sini ada bercak bercak nggak jelas. Di dalam rumah ini juga bau bayclin atau bau pandan.


“Mari..mari silahkan duduk, seadanya ya hehehe, sekarang boleh dong kenalan lebih dekat lagi dengan mbak-mbak cantik ini. Saya Wahyu” kata Wahyu atau Broni sambil mendekati Novi


Si Hendro alias Bondet mendekati Ivon, pokoknya tingkah kedua hidung belang itu sangat aneh, seakan akan di otak mereka yang ada hanya ******* saja. Sama seperti kehidupan aslinya Broni dan Bondet!


“Katakan, apa yang menyebabkan kalian datang kesini, apakah kalian tertarik dengan cara berkebun kami atau kalian sudah mendengar bahwa kami adalah laki-laki sejati yang digilai penduduk perempuan disini?”


Sekarang keadaan berubah, bondet alias Hendro, Wahyu atau Broni dan TIfano atau Sukir mendekati pak Kus dan Ivon, sedangkan aku dan Novi mereka acuhkan, ketiga remaja yang katanya pintar itu sedang melakukan tanya jawab dengan pak Kus dan Ivon saja.


“Eh mas siapa namanya eh Wildan ya hehehe, nama kok WIldan, apa orang tuamu nggak punya koleksi nama yang bagus hehehe, eh sini mas hihihi mas Wildan, saya akan tunjukan sesuatu kepada kamu” kata Suker atau Tifano


“Mbak Novi juga yuk kita ke belakang, akan saya tunjukan hasil bumi yang sudah kami modifikasi, itu biarkan saja mereka berempat sedang diskusi juga” ajak Tifano atau Suker


“Eh pak Kus, kami diajak ke belakang sama mas Suker”


“Iya sana mas Wildan, tapi hati-hati, dan ingat apa pesan saya”

__ADS_1


__ADS_2