
Aku masih bingung karena peniru sosok yang mirip Gilank itu bisa sama persis, dan memang benar, bagian dalam tubuhnya itu sudah membusuk.
Suara-suara seperti orang yang sedang berjalan di atas kami sudah hilang, keadaan kembali sunyi sepi seperti semula. Pak Kus mendongakan kepala untuk meyakinkan pendengaran dia tentang sesuatu yang diatas itu.
“Setelah ini kita akan masuk ke dimensi lain, biasanya begitu. Tetapi kalau kita masih ada di tempat yang sama, artinya masih ada yang harus kita bunuh”
“Pak Kus Novi agak bingung nih pak, seumpama kita masuk ke dimensi lain, rumah ini nggak ada dong pak, trs gimana kita bisa sembunyi kalau ada apa-apa pak?”
“Rumah ini masih ada, bunker ini masih ada, tapi nanti ada yang berbeda dengan yang sebelumnya kalian lihat disini tadi, mudah-mudahan nanti sudah berubah keadaanya. Kalian tunggu, saya mau lihat keadaan di luar sana”
Setelah pak Kus merasa yakin, dia naik ke atas. Perlahan dia buka pintu bunker, dia mengintip beberapa saat hingga keadaan benar-benar aman.
“Di luar sudah aman, saya akan keluar duluan, kalian nyusul saya setelah itu”
Pak Kus sudah naik ke atas ruang tamu rumah, kemudian aku suruh Novi, kemudian Ivon, dan aku terakhir yang naik.
Kami sudah ada di ruang tamu rumah, suasana tidak berbeda, malah sama aja, serpihan tembikar dan gerabah berantakan gak karuan.
“Sekarang gimana pak, apakah sudah masuk ke dimensi lain?” tanya Ivon
“Sepertinya kita masih disini mbak Ivon, saya juga bingung, apakah masih ada yang harus kita lawan malam ini”
“Kalian tunggu disini, saya mau lihat keadaan di luar sana, sepertinya kita harus ke tengah desa juga”
Pintu rumah terbuka lebar dari ketika kami masuk ke bunker, pak Kus keluar rumah untuk melihat ada yang ada luar sana.
Tidak lama kemudian pak kus sudah masuk lagi ke dalam rumah…
“Sepi tidak ada apapun di luar, dan keadaan disini masih sama dengan tadi yang artinya kita belum masuk ke dimensi lain!”
“Berarti kita harus jalan menuju ke arah tengah, dan mencari sosok yang ada disana, kita akan bunuh lagi sosok itu hingga kita berpindah ke dimensi berikutnya”
__ADS_1
“Ini kayak semacam game ya pak” sahut Novi
“Yah mungkin juga mbak Novi… ayo kita pergi dari sini sekarang saja”
Benar yang dikatakan pak Kus, jalan di depan rumah masih sama dengan ketika tadi sebelum terjadi hal yang mengerikan, dan mayat sosok yang menyerupai Gilank itu sudah tidak ada!
“Tidak usah heran anak-anak, mayat yang tadi sudah menguburkan dirinya di sekitar sini, dia akan membawa kepalanya yang pecah dan organ tunggal, eh salah, organ dalam tubuhnya dan semua itu dia kuburkan sendiri”
“Terdengar anehkan, nanti kalian akan lihat sendiri yang terjadi dengan sosok yang sudah kita bunuh, dan apa yang dia lakukan setelah kita bunuh”
“Tapi setelah dibunuh apa dia nggak akan menyerang lagi pak, artinya dia nggak bisa mati dong pak?”
“Pengalaman saya, setelah kita hancurkan otaknya dan bagian dalam tubuhnya dia tidak akan menyerang lagi, dan bubuk *** *** di dalam tanah!”
Kami berjalan menuju ke arah tengah desa, desa kecil ini mirip sekali dengan yang aku datangi ketika itu dengan temanku, tapi keadaan disini jauh berbeda, lebih tidak terawat, banyak tanaman liar dan ilalang. Dan yang jelas, rumah penduduk lebih sedikit dari pada sebelumnya.
“Kalian pasti masih ingat di depan sana ada semacam lapangan kan?”
Aku masih ingat jalan ini, dan lapangan yang dikatakan pak Kus itu, tetapi waktu itu aku dan Novi nggak lihat hal-hal yang aneh, aku cuma lihat orang yang digantung disana saja.
Semakin dekat dengan lapangan yang dikatakan pak Kus, jantungku semakin deg deg an, aku belum bisa membayangkan yang namanya kuburan massal itu bagaimana.
“Kalau nanti kalian sudah melihat apa yang ada disana, dan ada yang memanggil kalian, jangan sekali kali menoleh atau mencari sumber suara yang memanggil kalian”
“Nah ini sudah hampir dekat dengan lapangan itu, bau tak sedap dari bangkai yang ada disana mulai tercium dari sini” kata pak Kus
Benar yang dikatakan pak Kus, bau bangkai mulai menyengat, bau busuk dari sesuatu yang busuk, tapi kok aneh ya, padahal sepanjang jalan yang kita lalui ini dibawahnya ada bangkai mayat juga, tetapi kenapa baunya baru mulai disini.
“Di depan sana sudah yang kalian sebut sebagai lapangan, tapi kenyataan yang ada tidak sesuai dengan yang kalian tau, nanti kalau sudah dekat nyalakan sentermu mas Wildan”
Semakin kami dekat dengan yang disebut sebagai lapangan, bau busuk dari bangkai yang ada disana semakin tajam. Beberapa kali aku lihat si Novi sempat akan muntah, begitu juga si Ivon.
__ADS_1
Sekarang jarak kami mungkin sekitar lebih dari sepuluh meter, pak Kus menghentikan langkahnya.
“Itu disana, kalian mau lebih dekat atau hanya disini saja?” tanya pak Kus
“Lebih dekat sedikit nggak papa pak, senter saya disini belum bisa melihat apa yang ada disana”
“Ayo lebih dekat, tapi saya tidak menyarankan terlalu dekat, saya takut ada apa-apa disana. Saya kira maju beberapa langkah tidak masalah sih”
Kami jalan lebih dekat ladi dengan lapangan yang keadaanya gelap, tapi sinar bulan masih memberikan sedikit sinar di sekeliling kami.
“Nyalakan sentermu mas Wildan…”
Senter aku nyalakan kemudian cahayanya kuarahkan ke tempat yang kusebut lapangan itu.
“ASTAGA!” pekik Novi kemudian memalingkan wajahnya
“Ya itu adalah lautan mayat yang sebagian sudah berupa cairan lengket dari cairan yang keluar dari tubuh manusia” kata pak Kus
Aku tidak bisa mempercayai penglihatanku, di tempat yang kusebut lapangan itu ternyata adalah tumpukan mayat, yang sebagian sudah membusuk dan meleleh bercampur dengan cairan yang berasal dari lambung.
Tulang belulang berserakan bercampur dengan daging manusia dan cairan lengket yang baunya luar biasa busuknya. Tapi anehnya aku tidak melihat pakaian, semua mayat yang membusuk itu tidak menggunakan pakaian sama sekali!
“Ayo kita pergi dari sini, ada baiknya periksa ke telaga yang tidak jauh dari sini, siapa tau yang kita cari ada disana”
Ketika kami akan melanjutkan perjalan aku samar-samar mendengar panggilan seseorang dari kejauhan.
“Mas Wildan, dengar nggak ada yang manggil?” kata Ivon
“Iya aku dengar Von, jauh dan agak nggak jelas, tapi aku yakin itu suara Gilank, suara itu dari belakang kita”
“Mas salah, suara itu dari depan” sahut Novi
__ADS_1
“Nggak Nov, saya dengarnya dari samping kiri!” sahut Ivon