TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 55. PANEN HASIL KEBUN YANG LUAR BIASA


__ADS_3

Akhirnya saya bisa menulis novel ini, meskipun kondisi saya masih belum bisa maksimal ketika harus duduk di kursi untuk menghadap komputer.


paling tidak saya masih bisa update cerita ini...


silahkan dinikmati


\===========================


Tidak ada  yang nampak mencurigakan, desa ini seperti desa-desa pada umumnya dengan penduduk yang hilir mudik di depan jalan rumah pak Sokran.


wajah -wajah orang yang sedang berjalan di depan rumah pak Sokranpun tidak terlihat berbabaya sama sekali, lalu apa yang membuat pak Sokran tadi sempat menutup dan mengunci pintu rumah dengan palang kayu.


Novi ada di sebelahku, dia masih takut dan heran dengan pak Sokran dan istrinya, dia masih belum percaya bahwa pak Sokran adalah mayat yang duduk di kursi depan rumah yang kami tinggali ini.


“Ini desa kami nak Wildan dan nak Novi, desa ini namanya desa  lembah Ningrum. Penduduk disini bercocok tanam di sekitar lereng lembah..” kata pak Sokran dengan ramah dan wajah yang aku tidak bisa menebak sama sekali


“Ayo kita jalan-jalan, kebetulan pagi ini penduduk disini sedang panen singkong, dan kentang, dan bisasanya akan dikirim ke pasar yang ada di kota sana” tunjuk pak Sokran ke arah jembatan dan sungai.


Keadaan desa ini berbeda… sik bentar, ada  yang berbeda dengan ketika kami sebelumnya disini. Keadaan disini tidak terlalu dingin dan tidak ada kabut!


Desa ini sama sekali tidak berkabut, matahari jam sepuluh pagi bersinar dengan terang, hingga suhu udara yang dingin itu tersamarkan oleh sinar matahari yang bisa dikatakan menyengat ini.


Satu lagi yang tidak masuk akal… pak Sapudi…! Kata pak Sokran tadi, pak Sapudi sudah lama meninggal!


Lalu kalau sudah lama meninggal saat ini aku ada di masa apa, dan teman-temanku juga sedang ada di mana… dulu ketka bermasalah dengan Dimas, aku dan teman-teman pernah masuk ke mesin waktu, tetapi gak kayak gini juga.


Pak Sokran bersama istrinya berjalan menuju ke depan rumah, kemudian dia menyapa beberapa tetangga yang sedang jalan menuju ke arah tengah desa.


“Ayo nak Wildan, saya akan perlihatkan keadaan desa disini, sekalian saya akan tunjukan obyek wisata disini, siapa tau nak WIldan dan nak Novi kapan-kapan mau berkunjung ke sini lagi” ajak pak Sokran dengan ramah


Aku tidak menjawab ajakannya, tetapi aku bejalan menuju ke luar rumah. Tetapi Novi menahan tanganku, dia  hanya diam di ambang pintu.


“Jangan mas… jangan ikuti dia” kata Novi sambil masih memenggang pergelangan tanganku

__ADS_1


“Memangnya ada apa Nov?”


“Novi gak percaya dengan mayat mas….” kata Novi yang semakin erat memegang tanganku


“Nov… ingat, apa yang kita lihat dan kita alami ini adalah sebuah mimpi Nov, dan semua tidak nyata. Atau bisa saja kita ada di sebuah perjalanan waktu… jadi tenang saja, kita lalui bersama sama saja Nov”


Sebenarnya aku takut sekali, tapi aku harus merubah mindsetku, bahwa apa yang sekarang aku lihat ini tidaklah nyata, kita ada di sebuah mimpi yang bisa saja akan berubah sewaktu waktu, dan sekarang kita ada di sebuah mimpi yang lebih baik dari pada sebelumnya.


Kugandenga tangan Novi dan melangkah mendekati pak Sokran yang bersama dengan istrinya sedang bicara sambil tertawa-tawa dengan orang yang barusan lewat rumah ini.


“Nah…. pak Samijan… ini tamu kami dari kota…. “ kata pak Sokran memperkenalkan kami dengan orang yang diajak bicara


“Hehehe semoga kerasan disini mas dan mbak…. Monggo Kran, saya mau ke kebun dulu” kata orang yang bernama Samijan itu.


“Samijan adalah orang kaya disini nak Wildan dan nak Novi, dia memiliki banyak kebun kentang dan singkong…..”


“Tetapi dia tidak mau menjual hasil kebunnya kepada orang kota, dia lebih senang menjual kepada penduduk disini dengan harga yang rendah, agar penduduk yang tidak mempunyai kebun bisa menjual ke kota”


“Yah dia memang suka beramal” kata pak Sokran sambil tersenyum


“Ya jelaslah nak Wildan, mosok harus menyeberang sungai hehehe kan bahayalah, penduduk disini menjual hanya di depan sana, nanti ada banyak pedagang atau tengkulak yang menunggu disana” jawab pak Sokran


“Boleh kami ke sana pak, saya kepingin melihat mereka berdagang?”


“Nanti saja, biasanya siang hari atau sore hari setelah semua terkumpul, baru pedagang dan tengkulak dari kota akan datang dan membeli hasil kebun kami”


Memang benar apa yang dikatakan  pak Sokran,  beberapa kali aku melihat penduduk yang mendorong gerobak dengan gerobak yang penuh dengan hasil panen.


Gerobak yang penuh dengan hasil panen itu berjalan menuju ke arah jembatan… memang benar apa yang dikatakan pak Sokran ini.


“Ayo kita jalan-jalan nak, nanti ditengah desa kita sarapan makanan khas disini. Makanan yang tidak akan kalian temui di  tempat asal kalian”


Pak Sokran dan istrtinya berjalan mendahului kami…

__ADS_1


Novi hanya diam dan memeggang pergelangan tanganku dengan erat, mata Novi melihat kiri kanan, kayaknya berusaha mencari clue atau petunjuk tentang sesuatu yang ada disini.


Aku sih menikmati saja, mumpung ada panas matahari dan tidak ada kabut sama sekali.


Aku gandeng Novi dan  berjalan mengikuti pak Sokran dan istrinya yang ada di depan kami.. Mereka menyapa tiap orang yang berjalan berlawanan arah menuju ke sungai.


Kemudian pak Sokran dan istrinya berhenti dan menoleh ke arah kami.


“Ayo nak Wildan dan nak Novi, nanti keburu  habis makanan yang ada di warung yang kita akan tuju” kata pak Sokran dengan wajah yang masih tersnyum


“Iya pak…” jawabku tanpa menoleh ke Novi untuk mendapatka persetujuan Novi


Kini kami berjalan sejajar bersama pak Sokran dan istrinya… kami  berjalan lurus ke pertigaan desa.. Aku tau kita nanti akan belok ke arah kiri, sedangkan kalau lurus ke depan itu adalah rumah pak Sapudi atau pak Dikan… entah mana yang benar.


Ternyara benar kami belok ke arah kiri, dari sini banyak juga kami bertemu penduduk yang berjalan kaki sambil membawa  hasil kebunnya ke seberang sungai.


Tetapi yang aneh, tidak ada yang berjalan dari arah rumah pak Dikan atau pak Sapudi, tidak ada penduduk yang berjalan dari sana menuju ke arah sungai untuk menjual hasil kebun mereka.


“Eh pak Sokran.. Yang arah terus itu kemana, kok jalan itu sepi tidak ada penduduk yang berjalan dari sana ke arah sungai?”


“Ya jelas gak ada mas.. Disana itu kuburan tua hehehe, gak ada penduduk disini yang berani ke sana kecuali hari-hari terntentu ketika memang ada waktu untuk melakukan pembersihan mayat dan kuburan”


Aku tersontak mendengar penjelasan dari pak Sokran…. Disana adalah kuburan! Bukan ruman pak Sapudi atau pak Dikan, dan ada waktu-waktu tertentu untuk memberihkan mayat dan kuburan yang ada disana!


Tiba-tiba Novi mencengkeram lenganku sambil melihat seseorang yang sedang memikul hasil kebun…


Novi berusaha memberitahu sesuatu tentang orang yang dia lihat kepadaku, tetapi dia tidak berani mengatakan kepadaku, mungkin dia takut apabila terdengar pak Sokran..


Kulihat orang yang barusan melewati kami, siapa tau ada sesuatu yang janggal.. Kuperhatikan dengan seksama orang yang sedang memakaih topi terbalik dengan kaos yang lusuh dan celana tiga perempat yang juga sudah kumal.


Kulihat dengan detail…..


Astaga celana tiga perempat!

__ADS_1


Celana yang biasanya dikenakan Gilank!


__ADS_2