
“Bau sekali disini mas?”
“Ssst jangan berisik Nov, aku rasa aku dengar suara langkah kaki yang ada di dalam rumah”
“Mas Mba… di samping kiri ujung vila ini ada jalan gang kecil yang menuju ke belakang, ada baiknya kita ke sana saja, karena biasanya pintu belakang tidak pernah terkunci”
“Ya sudah pak, eh biar saya dan Novi saja yang didepan”
Gang kecil samping rumah yang biasanya digunakan untuk akses pembantu keluar masuk atau membuang sampah ini gelap sekali.
Penerangan hanya ada di lampu jalan saja, sedangkan di sekitar vila sama sekali tidak ada lampu, di bagian dalam juga aku tidak melihat adanya cahaya sama sekali.
Apa yang terjadi dengan si Ivon…. Dan kalau benar apa yang dikatakan tetangga depan itu, berarti keadaan Ivon sangat mengkhawatirkan
“Ssstt… saya mendengar suara perempuan di dalam mas” kata pak Kus
“Iya pak… eh tapi itu suara merintih kesakitan ya pak.. Eh rintihan kesakitan atau keenakan itu pak?”
“Hush jangan gitu mas, keadaan kayak gini kalian kok sempat-sempatnya mikir rintihan keenakan…ingat kalian ini belum selesai, kalian ini baru mulai”
“Iya pak, maaaf”
Bagian belakan rumah atau vila ini tidak besar, dan bagian bawahnya berupa paving yang ditata rapi, beda dengan halaman depan yang sebagian ditumbuhi rumput liar.
Bagian belakang ini penuh dengan sampah.. Aku tidak begitu jelas sampah apa, tetapi tiap aku melangkah selalu menginjak tas kresek dan bungkus makanan
Bagian belakang ini sama saja.. Bau!
Bukan bau bangkai atau sejenisnya, tetapi bau sampah dan mungkin juga bau kotoran manusia yang sudah mengering.
“Itu ada pintu belakang yang menuju ke dalam rumah, bagaimana mas dan mbak. Apa kalian mau masuk ke dalam sana?”
“Saya yakin di dalam sana itu pasti lebih bau lagi daripada disini mbak mas”
“Iya pak Kusno. Kami harus tetap masuk ke sana pak”
“Ya sudah silahkan mas mbak duluan saja, tapi sebelum masuk ke dalam ada baiknya pintu itu kita buka lebar dulu, agar bau yang ada di dalam keluar sebagian”
Sampai disini aku masih mendengar suara perempuan, kadang suara itu seperti suara rintihan, tetapi kemudian berubah menjadi seperti suara bentakan yang tertahan.
Kadang berubah menjadi suara seperti orang yang sedang fu fu fu yang sudah mencapai kenikmatan dari ejhakulasi.
“Biar aku saja yang buka pintu itu Nov…”
Daun pintu belakang rumah atau vila ini aku dekati, kemudian dengan perlahan handle pintu yang kayaknya sudah rusak itu aku gerakan ke bawah, kemudian aku tarik daun pintu yang terbuat dari kayu murahan ini.
__ADS_1
“Uuaagh bau sekali!”
Bau busuk dari sampah atau pembusukan sisa makanan keluar dari dalam rumah… aku mundur beberapa langkah untuk menghindari bau yang menyengat alat pernafasanku.
Bagian dalam rumah ini sangat gelap, dan perkiraanku sampah di dalam rumah pasti lebih banyak dari pada yang ada di bagian halaman belakang rumah.
“Bau sekali di dalam sana mas”
“Iya Nov, perkiraanku sampahnya lebih banyak dari pada yang ada di luar sini, gimana kita jadi masuk atau hanya di luar siani saja?”
“Ya masuk mas, dari tadi Novi denger suara si Ivon. kayaknya bener apa kata bapak yang di depan tadi mas, Ivon kemungkinan sudah gila”
“Huss, nggak boleh bilang gitu mbak, lebih baik kita masuk dan lihat apa yang terjadi di dalam, perkiraan saya teman kalian berdua ada di bagian atas sana”
Paling depan aku, kemudian Novi, dan yang belakang pak Kusno… kami mulai masuk ke bagian belakang vila yang kemungkinan besar adalah dapur dan ruang makan.
Memang sangat gelap, tapi karena dari jendela depan masih masuk sedikit cahaya lampu penerangan jalan, keadaan disini tidak terlalu gelap.
Aku masih bisa lihat meja makan yang penuh dengan sampah plastik dan kertas pembungkus makanan, begitu juga dengan lantai rumah ini, penuh dengan sampai juga…
“Dengarkan mas” bisik Novi
“Suara itu berasal dari atas sana Nov”
Di pojokan ruang tamu yang juga penuh dengan sampai ada sebuah tangga yang menuju ke atas, tangga itu menempel pada dinding ruangan.
Suara Ivon memang terdengar jelas disini…
Suara orang yang tidak waras, kadang merintih kesakitan, merintih keenakan, kemudian suara itu berubah menjadi suara isak tangis.
“Mas, apa nggak sebaiknya Novi panggil nama Ivon dulu mas?”
“Jangan dulu Nov, apa kamu yakin kalau Ivon akan mengenali suaramu?”
Aku tidak mau ambil resiko dengan Novi yang ingin memanggil Ivon, karena untuk saat ini kami belum tau keadaan Ivon yang sebenarnya…
Bisa jadi dia mengalami gangguan jiwa yang sifatnya pemarah, sehingga akan menyerang siapa saja yang mendekatinya.
Kami naik tangga dengan sangat pelan, suara langkah kaki kami usahakan sepelan mungkin.
Suara isak tangis dan suara tertawa itu semakin jelas dari pertengahan tangga… dan menurutku posisi Ivon tidak jauh dari tangga rumah ini.
“Nov.. di dekat tangga atas itu menurutku ada Ivon” bisiku kepada Novi
“Jadi mungkin mulai disini kamu coba panggil Ivon”
__ADS_1
Novi mengangguk pelan, dia sebenarnya juga ragu dan takut dengan keadaan rumah Ivon, dan keaadan Ivon yang sudah tidak waras.
“Ivooon, kamu dimana Von, ini aku Novi Von”
Suara tertawa dan rintihan itu berhenti… suasana sekarang menjadi hening, tidak terdengar suara Ivon yang tadi lagi.
“Ivon… ini aku Novi , kamu ada di mana, aku mau bicara sama kamu Von”
“Aku sama mas Wildan dan pak Kusno orang yang pernah selamat dari lembah mayit itu” Novi masih berusaha bicara dengan Ivon dengan suara pelan dan lembut
Aku dan pak Kusno sudah siap apabila orang yang ada di atas itu akan menyerang kami… karena yang namanya orang dengan gangguan jiwa itu ada yang sifatnya suka menyerang orang.
“Ivooon ini aku Novi, kita harus bicara, Novi nggak tau siapa lagi yang selamat dari sana, tetapi kita harus bicara Von”
Belum ada jawaban dari Ivon, kami bertiga pun hanya sampai di tengah anak tangga yang menuju ke atas, aku nggak mau ambil resiko apabila Ivon itu sudah benar-benar tidak waras.
“Ivon, kalau kamu masih menganggap Novi spesial buat kamu, tolong jawab Novi Von. kita harus menyelesaikan masalah ini atau akan ada korban lagi”
Kini aku mendengar suara sesuatu yang bergeser, kemungkinan tubuh Ivon yang sedang merubah posisi sehingga menimbulkan suara seperti sesuatu yang bergeser.
“Awas, yang diatas mulai ada pergerakan” bisikku
Setelah suara yang bergesek tadi, kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan pelan.
“Ivooon, jawab omongan Novi dong… kami bertiga ke sini setelah Novi dan mas WIldan bisa keluar dari lembah itu, dan kita akan mengalami sesuatu yang mengerikan apabila kita tidak menyelesaikan apa yang kita sudah mulai Von”
Novi tetap berusaha mengajak bicara Ivon yang sudah mulai ada reaksi dengan adanya suara langkah kaki dari atas.
“Siap-siap lari turun ke bawah mbak mas” bisik pak Kusno yang ada di belakangku
“Baik pak”
Suara langkah kaki yang sangat lambat dan pelan itu masih bisa tertangkap telingaku, dan menurutku suara itu sekarang sedang berjalan menuju ke arah tangga.
“Ivooon, jawab omongan Novi dong.. Kamu pasti masih ingat Novi kan” kata Novi terus menerus
“Nov, kalau sudah tidak ada respon, lebih baik kita mundur pelan-pelan, takutnya yang di atas itu akan menyerang kita”
“Nggak mas, Novi yakin Ivon dengar omongan Novi, dan dia paham dengan omongan Novi mas” bisik Novi
Suara langkah kaki tidak terdengar lagi, suasana menjadi sangat sunyi, yang aku dengar hanya deru nafas ku saja. Perasaanku orang yang ada di atas itu sudah dekat dengan tangga yang menuju ke bawah….
“N..Nov..Novi, k..kamu No..Novi?”
Suara serak dan lemah terdengar dari lantai atas rumah….
__ADS_1