TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 69. BUKAN TERSESAT


__ADS_3

“Kalau ke kebunnya Kimpet, harus ke sana dan melalui semak belukar yang kayak gitu jelas kita gak mungkin ke sana, dan jalan setapaknya juga sudah hilang kan”


“Terus maksudmu gimana Wil?” tanya Gilank


“Ya gak usah balik ke sana, tetap cari jalan keluar dari sini. Kalian ingat kata Kimpet, kita ini dalam bahaya, sewaktu waktu ada yang akan membunuh kita”


“Lank, kalau menurutku kita balik ke kebun Kimpet aja, aku rasane aman disana dari pada cari jalan pulang yang gak jelas mau ke mana” potong Bondet


“Nov, kamu ikut aku aja ke tempat Kimpet yang tadi” ajak Bondet


“Hehehe ya jelas nggak lah mas Ndet, Novi jauh lebih percaya sama mas WIldan daripada sama kamu mas…. Kami sudah sering mengalami hal yang mengerikan sebelumnya hehehe”


“Karepmu Nov, Lank kamu gimana?” tanya Bondet yang agak emosi karena jawaban Novi


“Aku tetap cari jalan keluar dari sini… kalau kamu mau balik ke tempat Kimpet ya sana. Mumpung masih belum seberapa jauh” jawab Gilank


“Iya, aku lebih baik balik ke tempat Kimpet sambil nunggu teman kita yang lain, kalau kalaian bertiga mau cari jalan keluar dari sini ya silahkan saja…. Nov, kamu yakin gak mau ikut bersama aku ke tempat Kimpet?”


“Nggak mas, Novi tetap bersama mas Wildan dan mas GIlank”


Bondet ternyata orang yang lebih menekankan rasa gengsi daripada akal sehat, dia akhirnya pergi kembali ke tempat Kimpet daripada ikut bersama kami mencari jalan keluar dari sini.


Aku gak yakin kalau dia akan selamat sampai di tempat Kimpet, karena kayaknya hutan ini berusaha membuat kami tersesat, hutan ini tidak rela apabila kami pergi dari  area lembah mayit…. Atau jangan-jangan hutan ini masih ada hubunganya dengan lembah mayit?


Bondet sudah berjalan kembali memasuki semak belukar menuju ke tempat Kimpet, orang yang keras kepala dan dungu, tapi biarlah, aku juga nggak nyaman ada dia, karena selalu mendekati Novi.


“Kita jalan ke mana ini sekarang Lank?”


“Gini mas Wildan, dari tadi kita kan tidak punya petunjuk mas, tetapi Novi dari ketika meninggalkan kebun Kimpet hingga kita ada disini selalu memperhatikan langit mas, dari tadi kita berjalan dari arah timur ke barat, karena sekarang matahari ada di sana” tunjuk Novi


“Benar juga kamu Nov, kita memang perlu kompas kalau caranya kayak gini”

__ADS_1


“Heheheh benar juga mas Wildan, Novi lupa kalau novi punya kompas, mas Wildan tidak dari tadi tanya kompasnya heheheh”


Novi mengeluarkan benda seperti tempat bedak …dari dalam tasnya, aku heran juga kok bisa dia menyimpan kompas segala.


“Kompas ini adalah ide dari Ivon mas, dia itu super perfect, apa saja dia bawa, termasuk kompas ini mas heheheh”


“Coba sini liat kompas itu menuju ke arah mana, kalau memang dari tadi kita ke arah barat ya sudah kita terus saja ke arah barat”


Novi membuka kompat kecil yang ukurannya seperti tempat bedak, ternyata tebakan Novi benar, kita mengarah ke arah barat.


Jadi akhirnya kami teruskan jalan ke arah barat, meskipun aku nggak tau kemana sebenarnya jalan setapak yang dikatakan Kimpet itu berada.


“Ayo kita ke sana rek, semoga jalan itu benar, soalnya hari semakin sore rek, aku takut kalau nanti kita ada di hutan ketika malam hari”


“Ya nek memang terpaksa gimana Wil, kita kalau terpaksa ada di hutan ya sudah kan. Yang penting ayo jalan terus rek” ujar Gilank


Ketika beberapa puluh meter kami jalan, terus terang kami jalan harus menembus semak belukar, tapi ada yang aneh, ada semacam petunjuk kemana kami harus jalan, bukan asal jalan ke arah barat saja.


Semak belukar disini memang rimbun, tetapi ada sebagian yang tidak seberapa rimbun, dan itu membentuk semacam jalan yang akan kami lewati.


“Mas, dari tadi kita lewat semak belukar yang berbeda dari pada di sisi kiri dan kanannya, apakan benar ini jalan yang harus kita lewati mas” tanya Novi


“Nggak tau Nov, tapi perasaanku ini adalah jalan yang bisa kita lewati daripada kita harus menerjang semak belukar yang rimbun itu. Gimana pendapatmu Lank?”


“Iya Wil, jalan yang kita lewati ini yang terbaik, dan mungkin dulunya jalan ini adalah jalan setapak, tapi mbuh karena kita akan dibunuh atau disesatkan, mungkin tiba-tiba tumbuh semak belukar mirip Yembut yang berusaha menghalangi kita”


“Cuma nggak tau kenapa kok tinggi dan lebat semak itu tidak sama dengan yang ada di kiri kanan kita “ jawab Gilank


“Ya wis, ayo cepat kita jalan, sudah keburu sore ini rek… aku nggak mau bermalam di tengah hutan tanpa ada persiapan sama sekali rek”


Kami lanjutkan perjalanan menuju ke arah yang kami tidak tau, pokoknya jalan saja mengikuti arah semacam petunjuk pada semak belukar yang ada di depan kami.

__ADS_1


Hari semakin sore, matahari semakin condong ke depan kami, karena kami sekarang jalan ke arah barat, tetapi sampai sekarang kami belum menemukan pemukiman penduduk.


Tapi tiba-tiba secara samar aku mencium bau asap seperti asap yang keluar dari kayu bakar, yang artinya dekat-dekat sini ada orang yang sedang membakar kayu bakar.


“Ayo jalan agak cepat rek, aku rasa di depan kita itu ada semacam pemukiman”


“Kamu tau dari mana kalau di depan kita ada pemukiman Wil?” tanya Gilank


“Ini.. kalian apa nggak mencium bau asap?.. Ini bau asap dari kayu bakar. Yang artinya di dekat sini ada yang sedang membakar kayu bakar untuk memasak atau sekedar untuk menghangatkan diri”


“Hmm iya mas, Novi juga mencium ada bau asap dari kayu bakar… ayo cepat kita lari ke arah sana terus saja mas”


Aku yakin kalau kami akan menemukan pemukiman, agar kami punya tempat untuk berteduh dan meminta makan. Kami terus bergerak lebih cepat ke arah barat.


Bau asap ini semakin jelas di sekitar sini, yang artinya kami semakin dekat dengan pemukiman atau semakin dekat dengan orang yang sedang membakar kayu bakar


Hari semakin gelap, aku lupa dimana aku taruh senter Novi, perasaanku senter itu ketinggalan di rumah tempat Sokran, tapi nggak tau lagi.


“Mas Wil, pakai senter Novi ini mas… mas Wildan kan yang mencari jalan di depan” kata Novi


“Lho bukanya senter itu ketinggalan di rumah Sokran?”


“Udah Novi ambil mas, karena suatu saat kita pasti memerlukan senter ini” jawab Novi


Dengan menggunakan penerangan senter akhirnya aku bisa mencari jalan lebih cepat, karena saat ini sudah semakin gelap dan semakin dingin daripada sebelumnya.


Bau asap ini semakin jelas, dan aku mulai merasa pedih di mataku….


Semak belukar semakin berkurang ketinggianya, dan akhirnya kami ada di sebuah padang dataran dengan rumput yang setinggi mata kaki.


Tidak jauh dari  tempat kami berdiri ada beberapa rumah yang dari atapnya aku lihat mengeluarkan asap.. Asap kayu bakar.

__ADS_1


“Kita selama mas” kata Novi


“Belum Nov, sebelum kita tahu siapa yang ada di dalam rumah-rumah itu”


__ADS_2