
Aku tau yang aku lakukan semalam itu mengerikan….. Kenapa harus aku yang diganggu oleh lelembut disini, kok bukan Broni atau yang lainnya saja.
Tapi pagi ini ada yang agak aneh dengan pak Dikan, dia kayaknya sudah tau apa yang terjadi dengan aku, tapi biarlah, yang penting aku selamat dan tidak kurang apapun…
Siang ini aku nurut saja dengan Broni, kubiarkan saja Broni melakukan apa yang dia suka…. Aku lebih baik diam dulu untuk beberapa saat, karena semalam aku sempat membuat kacau disini.
“Kita ke rumah yang disana saja dulu rek.. Yang dekat dengan lapangan itu aja dulu” ajak Broni
Rumah yang ditunjuk oleh Broni ini pintu depannya dalam terbuka, yang artinya di dalam rumah ini pasti ada pemilik rumahnya. Yah siang ini Broni mungkin akan bertamu dan mengajak ngobrol pemilik rumah..
Aku menoleh ke sekeliling rumah ini…. Sepi seperti biasa, dan kabut tipis tetap ada di sekitar sini, yah sebuah desa di dataran tinggi yang tidak pernah lepas dari kabut sama sekali.
Aku merasa aneh ketika melihat ke tengah lapangan, dimana di tengah lapangan itu ada tumpukan batu yang kata pak Dikan merupakan tempat yang dikeramatkan penduduk disini selain mata air yang disebut sendang ningrum itu
Siang hari berkabut ini aku melihat sangat samar bayangan orang yang sedang duduk di atas batu batu itu. Aku nggak tau itu perempuan atau laki-laki, aku nggak tau itu manusia beneran atau nggak, tapi kubiarkan saja bayangan itu disana, aku gak mau beritahu kepada teman-temanku.
Seperti biasa Broni masuk ke halaman rumah yang ada dia tuju….
Aku dan lainnya masih ada di depan rumah, kami akan masuk mengikuti Broni apabila pemilik rumah sudah keluar dari dalam rumah.
Beberapa kali Broni mengetuk pintu rumah, tetapi tidak ada sahutan sama sekali…
Rumah itu kayaknya kosong….
“Von, Nov… sini sebentar, bantu aku memanggil pemilik rumah… kalau yang manggil kalian mungkin pemilik rumah akan keluar” kata Broni di depan pintu rumah yang terbuka.
Aku sudah mengalihkan pandanganku dari tumpukan batu yang aneh tadi… aku fokus ke rumah penduduk yang nampaknya kosong ini
Novi dan Ivon sudah masuk ke pekarangan rumah, dan bersama Broni mereka berdua mengetuk pintu serta mengucapkan salam kepada penghuni rumah.
“Wil… rumah ini kosong kayaknya…sambil nunggu Broni, aku mau liat-liat di sekitar sini dulu Wil hehehe” kata Gilank
“Heh.. jangan macam-macam Lank, katanya kamu kepingin segera keluar dari desa ini Lank!”
__ADS_1
“Hihihihi… itu kan kata orang-orang pasar Wil… tapi setelah ada disini, rasanya kok aku betah hihihi, apalagi tiap hari disuguhi empal goreng yang berlemak hehehe” kata Gilank yang kemudian berjalan menuju ke arah lapangan.
“Arep nangdi Lank (mau ke mana Lang)?” tanya Bondet
“Cuma liat-liat batu yang ada di tengah itu ae, aku penasaran kok di lapangan volley ini ada tumpukan batu, apa lapangan kecil ini gak pernah dipakai untuk kegiatan olahraga” kata Gilank tanpa menoleh ke arahku dan Bondet
“Lank. sssttt gak usah macem-macem c*k!”
“Tenang ae Wil… namaku GIlank yang lebih setan daripada setan… gak ada yang berani sama aku heheheh” jawab Gilank kemudian berjalan ke arah tanah kosong yang memang lebih mirip dengan lapangan itu
“Wil.. aku temani Gilank ya, biar di gak aneh-aneh” kata Bondet kemudian menyusul GIlank yang meuju ke arah lapangan yang dikeramatkan penduduk disini.
“Tif.. kamu disini aja, gak usah ikut mereka….” aku tau TIfano sebetulnya ingin jalan bersama GIlank dan Bondet…
Kualihkan pandanganku ke rumah dimana Broni, Novi dan Ivon sedang memanggil pemilik rumahnya. Teapi memang rumah itu kosong, tidak ada seorangpun yang menyahut atau keluar dari rumah ini.
Tiba-tiba gerimis datang…. Yang awalnya hanya gerimis saja, tidak lama kemudian berganti menjadi hujan yang lumayan lebat…
“Rek… rumah ini kosong….kita berteduh di dalam rumah ini ae rek!” teriak Broni
“Gak usah banyak omong Wil….!” jawab Broni dari depan rumah
“Tif, Gilank dan Bondet dimana?”
“Mbuh Wil.. tadi kan mereka ke sana” tunjuk Tifano sambil menutup kepalanya yang basah dengan kedua telapan tangannya
“Jancok… bikin masalah ae Gilank dan Bondet itu. Gini ae, kamu ke Broni sana, aku mau cari Gilank sama Bondet dulu”
Tifano lari menuju ke rumah yang pintunya terbuka itu, sementara itu Novi, Ivon dan Broni sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, Tifano kemudian menyusul mereka bertiga.
Tinggal aku yang diluar dengan guyuran air hujan yang makin deras dari pada sebelumnya…
Kulihat sekeliling rumah hingga ke tempat keramat… kabut makin tebal, jelas gak mungkin bagi aku untuk mencari keberadaan Bondet dan GIlank…
__ADS_1
Mereka pasti sedang berteduh..
Lebih baik masuk ke dalam rumah kosong ini saja daripada kehujanan basah kuyup.
“Mana Bondet dan Gilank Wil?” tanya Broni
“Gak tau, tadi sebelum hujan katanya GIlank kepingin jalan-jalan dulu, kemudian Bondet menyusul Gilank… sekarang mereka tidak ada di depan sana Bron”
“Ndeh matamu wil!... kamu kan tau nek tempat itu keramat… opo kamu gak ngomong sama Gilank dan Bondet C*k! Kata Broni dengan nada marah
“Wis.. gak usah mbok cari!... mereka wis tuek tuek, pasti mereka bisa jaga diri… sekarang cari sesuatu yang berguna di sini ae!”
Broni sekarang sudah mulai main perintah… cara bicara dia sudah seperti bos.
Aku tau aku salah dengan melakukan tindakan yang aneh di kamar mandi rumah, tetapi tindakan yang aku lakukan itu kan bukan kehendak aku sendiri… tapi ya sudahlah, memang aku salah dan pantas untuk dibentak bentak.
Rumah ini kosong… berdebu dan berlantai tanah liat yang sudah mengeras….rasanya agak aneh.
Tidak ada perabot sama sekali.. Hanya ada sebuah tungku masak di ujung ruangan, di sebelah tungku masak itu ada tumpukan beberapa alat masak dan kayu bakar.
Bagian atas rumah ini tidak berplafon.. Langsung genting dan di sela sela genting dan dinding kayu rumah ada celah yang mengakibatkan cahaya matahari dari luar bisa menerangi bagian dalam rumah.
Rumah ini hanya memiliki satu kamar saja..
“Wil masuk ke kamar itu, siapa tau di dalam sana ada tikar yang bisa digunakan untuk alas duduk” kata Broni yang lebih mirip dengan perintah Broni
Tanpa menjawab aku langsung masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah kiri dari pintu masuk.
Kubuka gorden kusam yang memisahkan antara kamar dengan ruang tamu yang merangkap dapur ini.
Disini sangat gelap, tapi samar samar aku bisa melihat sesuatu yang menumpuk sangat tinggi…
Aku mulai merinding ketika masuk kamar yang gelap… bulu kudukku pun mulai berdiri ketika melihat sesuatu yang menggunung di dalam kamar ini.
__ADS_1
Janc*k… ini gunungan pakaian bekas!
Kenapa kok gini… kenapa semua mulai mirip dengan mimpiku!