
“MAAAAAAS!.....”
“ARGHHH ADUUUH….”
“Pintu.. Pintu itu tiba-tiba menutup sendiri aaarrghh aduuh punggungku Nov!”
Gila!...aduuh perasaan tadi pintu itu sudah aku tutup dengan benar, tapi..ah kenapa pintu itu tiba-tiba menghantam punggungku..
Aduuh… tapi aku benar-benar nggak nyadar kalau kita dalam bahaya, aku pikir segalanya baik baik saja disini, dan hanya ada gangguan yang tidak berbahaya saja.
“Ayo mas… Novi papah, kita duduk dan istirahat di lorong ini dulu saja mas..eh Novi mau cari bantuan dulu mas”
“Nggak usah cari bantuan Nov, disini saja, buka saja syampakmu eh ponselmu, dan suruh jemput si Yance ke sini”
Sialan… punggungku sakit sekali… tadi waktu kena pukul aku sempat nggak bisa bernafas sejenak, tetapi sekarang untungnya udah bisa bernafas dengan baik.
Novi sedang mengambil ponsel dari tas kecilnya, dia tidak mengambil tablet.
Beberapa kali Novi mengutak atik ponselnya… kayaknya ada sesuatu yang terjadi dengan ponsel itu.
“Kenapa Nov?”
“Mas… disini kok nggak ada sinyal ya, aneh sekali mas, padahal kita kan dekat dengan jendela lorong mas”
“Sudah Nov, gak usah hubungi temanmu, kita memang sedang dikerjai oleh sesuatu, tadi untungnya pintu itu agak sulit dibuka di ditutup, karena engselnya berkarat”
“Coba kalau engselnya gak berkarat, mungkin tubuhku sudah remuk Nov. pintu itu terbuat dari plat besi yang kuat hehehe”
“Mas… pintu lift itu dari tadi terbuka.. Eh apa sedang nunggu kita naik ke dalam lift itu?”
“Jangan kesana Nov, aku nggak mau kena masalah lagi, lebih baik kita nekat turun lewat tangga darurat saja, aku rasa lebih aman dari pada menggunakan lift”
“Tapi nanti pintu itu menghantam mas Wildan lagi…”
“Mudah-mudahan nggak Nov, kita harus hati-hati”
__ADS_1
Aku masih duduk di selasar hotel yang gelap, karena lampu lorong selasar ini mati, cahaya hanya berasal dari pintu lift yang masih terbuka lebar saja.
Novi di sebelahku sedang mengutak atik ponselnya mencari sinyal agar bisa menghubungi temannya yang katanya sedang menunggu di bawah.
Aku sedang memikirkan apa yang harus aku lakukan, tapi tiba-tiba pintu lift itu menutup….
Ketika pintu lift menutup tiba-tiba lampu yang ada di selasar hotel ini nyala semua… selasar atau lorong hotel ini terang!
“Mas… kenapa kok gini mas?”
“Udah Nov, biarkan apapun yang mereka akan lakukan kepada kita, aku dan kamu pasti bisa bertahan. Ingat pak Tejo dia bisa menyelesaikan urusan ghaib ini Nov”
“Tapi kan istri pak Tejo meninggal mas”
“Iya, itu karena dia sebelumnya tidak tau bagaimana serangan dari lembah mayit itu Nov”
“Keadaan disini sudah terang benderang mas, sekarang apa yang akan kita lakukan, apa kita turun lewat tangga darurat lagi mas?”
“Bentar Nov, kita tunggu dulu, aku rasa sebentar lagi ada orang yang naik ke lantai ini… nanti kita minta tolong untuk diantar hingga ke lantai dasar”
Dengan keadaan lorong disini yang sudah terang benderang, aku yakin sebentar lagi akan ada orang yang akan menuju ke lantai empat ini..
“Mas, kayaknya ada orang yang akan datang ke lantai ini”
“Iya Nov, benar dugaan ku kan, lampu ini nyala karena akan ada orang yang datang ke sini”
Pintu lift terbuka setelah suara bel yang khas apabila lift itu sampai di salah satu lantai hotel. Ternyata yang keluar dari lift adalah orang dewasa dan anak-anak. Kayaknya mereka adalah keluarga yang sedang menginap di hotel ini.
Aku dan Novi berdiri dan memperhatikan keluarga itu menuju ke kamar nomor berapa…
Dua anak kecil berlarian bersama ibunya, sedangkan orang tua yang bisa dibilang bapaknya sedang ngobrol dengan orang yang lebih dewasa dari pada dua anak kecil yang sedang bersama ibunya itu.
Ternyata mereka tidak ke arah kami, rombongan keluarga itu menuju ke arah kanan dari posisi lift, ke arah sebaliknya dari arah kami.
“Mas, cepat minta tolong orang itu untuk mengantar kita turun ke bawah mas”
__ADS_1
“Gimana caranya Nov, bahkan aku sendiri nggak tau harus minta tolong gimana kepada orang itu”
“Kita datangi saja kamarnya dan minta tolong diantar ke bawah karena mas Wildan takut menggunakan lift”
Aku setuju dengan omongan Novi, segera kami berdua mendatangi kamar rombongan keluarga yang baru saja datang itu.
Aku ketuk beberapa kali pintu kamar, dan alhamdulillah dibuka.
“Ya ada apa pak?” tanya kepala keluarga itu dengan curiga setelah melihat pakaian yang aku kenakan
“Maaf pak, saya minta tolong… bisakan bapak mengantar kami berdua menggunakan lift. Eh saya phobia ruangan sempit” aku mencari alasan yang paling cocok
“Kalian berdua dari kamar berapa?” tanyanya lagi dengan tatapan curiga
“Kami dari lantai lima pak. Tadi kami menggunakan tangga darurat untuk turun, tetapi karena kondisi tangga darurat yang sep dan gelapi, jadi kami putuskan turun di lantai empat saja..”
“Eh ini kunci kamar kami di lantai lima pak” kata Novi sambil menunjukan kunci berupa card pada bapak-bapak yang masih saja curiga kepada kami
“Ya sudah, kalian diantar anak saya saja…. Dro..Hendro, tolong antar mas dan mbak ini sampai bawah nak” teriak bapak itu pada remaja yang ternyata anak mereka
Seorang remaja yang bernama Hendro itu mendapat penjelasan dari bapaknya tentang kondisiku yang takut dengan alasan phobia dengan ruangan kecil macam lift itu.
“Ayo mas mbak, saya antar turun. Kalian berdua ini kalau takut lift kenapa kok kamarnya ada di lantai lima, kok nggak di lantai bawah saja” tanya Hendro yang berjalan di depan kami menuju lift
“Iya mas, soalnya kata petugas yang di bawah itu, semua lantai sudah penuh, tinggal menyisakan yang ada di lantai lima saja”
Pintu lift terbuka, kami bertiga masuk ke dalam ruangan lift…
Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang terjadi dengan kami bertiga hingga kami sudah ada di lantai dasar hotel…
Yance teman Novi sedang menunggu dengan wajah kesal di sofa ruang tunggu depan meja resepsionis.
“Kalian berdua ini lama sekali…aku wa dan aku telpon tapi ponsel kamu mati Nov ” kata Yance sambil berdiri
Hehehe kalau ngamuk macam ini Yance udah gak keliatan melambainya, dia sudah full lakik heheh…
__ADS_1
“Eh tau nggak Yan.. di atas sana gak ada sinyal tauk.. Dari tadi Novi Juga berusaha telpon dan wa kamu.. Nih buktinya ada berapa kali Novi telpon kamu Yan”
“Tuh ada sinyalnya Nov.. eh iya ya.. Kamu udah telpon lima kali ke aku… tapi sama Nov nih liat ponsel aku Nov, berapa kali aku telpon kamu.. Ah udahlaaaaah, kita seneng seneng aja yuuuuuuk”