
Malam ini aku habiskan waktu hanya bersama Novi…
Untungnya Novi sudah mencukur bresok dan kumisnya, dia ternyata menyimpan alat cukur di dalam tas ranselnya hehehe, dasar bantji ada ada aja kelakuannya.
“Nov, kalau kamu mau tidur, tidur aja Nov”
“Di lantai tanah liat gini… gak bisa mas.. Tanahnya agak lembab dan dingin”
“Eh gini aja Nov, coba kamu lihat di kamar yang itu, pasti disana ada sesuatu yang bisa digunakan untuk alas tempat kita istirahat Nov”
“Yakin mas… yakin di dalam ada alas untuk disini?”
“Iya Nov, coba aja kamu ke sana… nih pakai senter ini Nov”
“Ah gak berani mas.. Sama mas WIldan ajaaaa” kata Novi kemudian merangkul tanganku dan menempelkan buwah dahdahnya yang tanpa Bheha ke pundakku
“Heheheh kalok kamu udah berubah gini aku gak keberatan kamu kayak gini Nov hihihih”
Aku tau di dalam kamar itu ada tumpukan pakaian, tapi aku suruh aja Novi untuk masuk ke dalam… aku malas apabila semua yang aku lihat sesuai dengan mimpiku!
Tapi gimana lagi… yang namanya kenyataan ya harus dilalui, dan apa yang barusan aku katakan kepada Novi tentang alas yang ada di kamar itu tentu saja merupakan kenyataan yang harus dihadapi.
“Ayo wis.. Aku antar ke sana”
Novi masih menggandeng tanganku dengan manja… kali ini adalah Novi yang dulu, Novi yang aku kenal sebagai wariya yang sangat mirip dengan perempuan.
Nyala api di tungku sebenarnya sudah cukup terang untuk menerangi ruangan ini, tetapi tidak untuk yang ada di dalam kamar, karena pasti nya kamar itu akan gelap sekali.
Gorden kamar yang terbuat dari kain lusuh aku sibakan, kemudian cahaya senter aku arahkan ke dalam kamar.
Ternyata benar c*k… ada tumpukan pakaian di dalam kamar ini… asyu!.. Bener bener asyu! Semua sama dengan yang ada di dalam mimpiku c*k.
“Tuh kan Nov, ada pakaian bekas juga disini hehehe.. Sana ambil beberapa yang bisa digunakan untuk alas disini”
“Aneh mas… sebenarnya kita ada dimana mas?”
“Sudahlah, gak usah dipikir, karena kalau kamu pikir, gak akan mampu”
“Otak kita ini terbatas, sedangkan alam semesta dan alam ghaib itu tidak terbatas”
__ADS_1
“Anggap saja sekarang kita sedang bermimpi Nov, anggap saja kita berdua sedang mimpi jadi gak usah takut dan nikmati dan jalani saja keadaan ini Nov”
“Iya mas… kita berdua sedang bermimpi… Novi juga bermimpi jadi perempuan yang sedang melayani suaminya ya mas”
“C*k Nov… gak usah aneh-aneh, malam ini aku gak akan tidur Nov, kita gak atau apa yang akan terjadi nanti malam ini Nov”
Novi mengambil beberapa pakaian yang masih bisa dibilang layak, kemudian dia tata di ruang tamu rumah sedemikian rupa, sehingga kita tidak terlalu kedinginan ketika duduk di atas lantai rumah yang hanya tanah liat yang dipadatkan.
Kami berdua duduk di ruang tamu bersandarkan pada dinding kayu menghadap ke arah tungku yang apinya masih nyala.
Hingga beberapa menit tidak ada pembicaraan sama sekali…Novi mungkin sedang memikirkan teman lainya yang entah sekarang ada dimana.
Kami memang saat ini terpisah menjadi tiga bagian… aku bersama Novi, Gilang bersama Bondet, kemudian Broni bersama Ivon dan Tifano.
Aku gak tau apakah mereka ada di masa yang sama atau tidak, bisa tiga kelompok ini ada di masa yang berbeda beda.
“Mas, teman kita ada dimana ya?”
“Aku gak tau Nov, gak usah tanya ada dimana, kita ada di masa apa saja aku masih gak paham. Ingat kita terpisah menjadi tiga kelompok Nov”
“Iya mas, benar juga… kita gak tau mana masa yang benar, tapi yang pasti aku dan mas WIldan ada di masa yang mengerikan mas”
Malam semakin larut, Novi sudah tertidur. Dia tertidur dengan nyenyak di sebelahku.
Keadaan di luar rumah masih hujan, meskipun hanya hujan gerimis saja, terus terang aku gak peduli apakah hujan atau kabut atau apalah, yang penting aku ada tempat untuk berteduh malam ini.
Sudah dua jam Novi tidur, Sedangkan aku… aku sama sekali tidak bisa tidur, saat ini masih tiga puluh menit menjelang tengah malam.
Ketika aku sedang melamun sambil memperhatikan nyala api yang ada di tungku, tiba-tiba aku mendengar suara, suara seperti sesuatu yang ramai,
Eh bukan.. Suara langkah kaki orang yang sedang berjalan ramai-ramai.
Aku berusaha mendengarkan dengan lebih detail lagi….
Dan memang benar, suara itu adalah suara langkah kaki yang sedang berjalan secara ramai ramai.
“Nov.. bangun Nov….” bisik ku
“Iya mas.. Dari tadi Novi juga udah bangun.. Novi kira mas Wildan tidur” jawab Novi sambil berbisik juga
__ADS_1
“Kamu dengar suara itu Nov?”
“Iya mas… suara orang yang sedang jalan dari arah jembatan menuju kemari mas”
“Bukan kemari Nov, sepertinya menuju ke tengah desa… mereka akan melewati rumah yang kita diami ini “
“Mas Wildan mau ngintip nggak?”
“Iya Nov, aku kepingin ngintip, tapi aku gak berani”
“Anggap aja kita sedang bermimpi mas… ayo kita lihat mas, Novi udah penasaran dengan yang ada di luar itu”
Suara orang yang sedang berjalan ramai ramai itu semakin dekat dengan posisi rumah yang kami tinggali.
Aku dan Novi sudah siap di depan pintu, kami penasaran dengan suara ramai yang ada di luar, apakah itu suara langkah kaki penduduk asli disini yang datang atau apa..
Aku tarik slot pintu yang terbuat dari kayu… kemudian kubuka sedikit daun pintu untuk melihat apa yang ada di luar sana.
Pertama yang aku lihat adalah kabut, kabut tebal berwarna putih di luar rumah, kabut putih itu anehnya tidak masuk ke sela sela pintu yang aku buka….
Kubuka lebih lebar lagi daun pintu rumah…gelap dan hanya ada kabut tebal. Tapi ternyata kabut tebal itu hanya ada di halaman dan di di jalan…
Saking tebalnya kabut sehingga keadaan di depan rumah tidak kelihatan sama sekali. Hanya gelap dan putih karena kabut saja.
Aku belum bisa melihat apa yang ada di tengah jalan karena tebalnya kabut yang ada di halaman dan jalan.
“Mas… hanya gelap dan ada kabut saja di sana”
“Nggak Nov, di tengah kabut itu ada sesuatu, kita saat ini belum bisa melihat apa yang ada di sana Nov, kita tunggu hingga kabut ini agak terbuka sedikit”
Suara langkah kaki yang berjalan ramai ramai itu saat ini melewati rumah yang aku tinggali..
Sayangnya keadaan disini sangat gelap ditambah dengan kabut putih pekat yang menyelimti halaman rumah dan jalan yang ada di depan rumah.
Tetapi ada yang ganjil…
Mayat tanpa kepala yang duduk di kursi depan rumah sudah tidak ada di tempatnya!
“N..Nov c..coba lihat Kursi itu kosong m..mayat tanpa kepalanya gak ada!”
__ADS_1