
Cahaya senter menerangi ke sana kemari…. Tapi tidak ada tanda-tanda adanya pak Sapudi dan istrinya. Keadaan di dalam rumah ini gelap dan lembab.
Rumah pak Sapudi kosong, tidak ada orang di dalam, bahkan tungku perapian yang terbuat dari tanah liat itu kering, tidak ada api atau bekas apinya, rumah ini kelihatan sudah lama tidak dihuni.
Aku semakin yakin kita dalam situasi yang mengerikan. Tapi tidak dengan Broni… dia tetap menyuruhku untuk masuk ke dalam.
Aku akhirnya menemani Broni masuk ke dalam rumah setelah dia merengek rengek dengan kebingungan minta ditemani ke dalam rumah pak Sapudi.
“Gimana Bron, rumah ini kosong kan… terus siapa tadi yang kita temui disini?” aku dan Broni sudah ada di dalam ruang tamu rumah pak Sapudi
“Sik Wil… nanti kita coba ketuk rumah yang lainnya, siapa tau rumah yang lainya ada penghuninya” kata Broni membesarkan hati
“Gimana rek, pak Sapudi ada ta?” tanya Bondet yang datang mendekati rumah pak Sapudi
“Gak ada Ndet, bahkan rumah ini kosong, kayaknya sudah lama kosong”
“Jadi gimana Wil, apa kita tetap ada disini atau gimana, atau kita cari bala bantuan kemudian kita ke sini lagi untuk mencari Gilank?”
“Sik Ndet… tanya ke Broni si panitia ae Ndet”
“Haduuuuhhh..kenapa kita masuk ke masalah ngeri lagi reeek, apa kurang cukup sama Vila putih ae?” keluh Tifano
“Selalu idenya Broni… vila putih juga karena Broni, sekarang kita ada di desa yang aneh juga karena Broni” lanjut Tifano
“Sabar mas Tif…. kita cari jalan keluarnya dulu saja, kalau menurut Novi kita harus cari bantuan dulu, kemudian kita balik ke sini lagi” kata Novi
“Atau kita ketuk pintu tetangga pak Sapudi, siapa tau di salah satu rumah-rumah yang banyak ini ada penghuninya mas” kata Novi
“Jangan pergi dari sini Nov… wistalah santai ae… kita akan selamat dan menemukan Gilank, kita ketuk rumah yang lainnya, pasti desa ini ada penduduknya lah rek santai ae” kata Broni lagi
Aku gak yakin ide Broni itu bagus…
Ivon masih diam di sebelah Bondet yang kayaknya sedang berpikir tentang apa yang akan dilakukan disini, Sesekali aku lirik Ivon, kayaknya dia sedang memperhatikan tanah yang ada di sekitar rumah pak Sapudi.
Ivon perempuan yang cerdas, dia memperhatikan terus yang ada di sekitar rumah pak Sapudi.
__ADS_1
Aku dekati Ivon yang kemudian melihat ke arahku, kayaknya ada sesuatu yang akan dikatakan kepadaku.. Tapi dia masih diam, dia belum mau bicara kepadaku.
“Ayo rek…kita ke rumah yang ada di depan sana, aku yakin pasti ada penduduknya” kata Broni yang berjalan agak sedikit berlari
“Mas Wil” sapa Ivon
“Mas Wildan merasa nggak di bawah kita ini, eh tanah di bawah yang kita injak ini ada sesuatunya?”
“Eh aku gak tau Von…”
“Ya sudah mas….” kata Ivon kemudian pindah ke samping Bondet lagi
Aku, Tifano, Novi, Ivon, dan bondet masih diam di depan rumah pak Sapudi.
Broni sudah beberapa meter di depan kami, dia berjalan agak cepat, tiba-tiba dia terperosok lagi di sebuah tanah yang amblas ke bawah.
“Tolong rek… aduuuhh kakiku koyoke kesleyo maneh iki” rintih Broni yang terjatuh karena tanah yang diinjak amblas beberapa belas centimeter
Broni terperosok lagi…. Aku mulai merasa aneh dengan tiap jengkal tanah yang ada disini, tanah yang dibawahnya ada sesuatu yang menyebabkan tanah di permukaan ini tidak padat.
“Tif, kamu tolong Broni… tapi hati-hati melangkah, tanah disini gak stabil soale”
Tifano jalan dengan santainya, sementara itu Broni masih terduduk di sebelah lubang yang baru saja dia injak, kaki kirinya ada di dalam lubang sedangkan kaki kanannya ada di atas lubang.
Sebenarnya manja juga di Broni, seharusnya dia bisa saja berdiri dan menghampiri kami, tetapi yang dia lakukan hanya diam dan terduduk sambil melihat ke arah kami dengan tatapan yang sengaja dibuat memelas.
“Mas Wil.. coba lihat wajah Broni… hehehe selalu begitu dari dulu, kalau orang tidak tau pasti akan langsung membantu mas Broni hihihi, untuk Novi tidak tertipu dengan wajah mas Broni yang pura pura memelas.
“Iya Nov.,, dah biarin saja Broni itu… huuuffhh semakin siang suhu udara disini semakin dingin ya Nov, apa kamu juga merasakan perubahan suhu ini ?”
“Iya mas Wil, Novi juga merasakan adanya perubahan suhu udara disini mas”
Tifano sudah dekat dengan posisi Broni… kemudian dia mengulurkan tangan kanannya kepada Broni yang masih terduduk dengan kaki kanan ada di dalam lubang itu.
Aku nggak tau bagaimana yang terjadi, tetapi ketika Tifano mengulurkan tangannya kepada Broni untuk membantu Broni berdiri, tiba-tiba Tifano mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Tanpa berteriak, tanpa bersuara, Tifano mengurungkan membantu Broni dan dia mundur beberapa langkah perlahan lahan menuju ke arah kami dengan mata yang terus memandang ke arah Broni…eh bukan ke arah Broni, tetapi ke arah lubang itu.
Setelah dia rasa aman, Tiffany berbalik arah dan menuju ke tempat kami dengan sedikit berlari…
“Tiiiifff. janc*k… kamu malah ninggal aku c*k!” teriak Broni
Tetapi Tifani tidak memperdulikan teriakan Broni, dia melangkah dengan cepat menuju ke arah aku dan teman-taman yang lainnya.
“Onok opo Tif? (ada apa Tif?)”
“Wil… a.. Ada sesuatu yang mengerikan di dalam lubang tempat Broni terperosok….” kata Tifano dengan wajah yang pucat
“Tenang dulu Tif.. ada apa disana?”
“Anu Wil… di tempat Broni terperosok itu ada tengkorak…. Meskipun sebagian tertutup tanah, tetapi aku yakin sekali apabila yang aku lihat itu adalah benar-benar sebuah tengkorak manusia” jawab Tifano dengan suara bergetar
“Broni itu memang sumber masalah WIl…. kita harus gimana Wil?” tanya Tifano
“Sik tenang dulu Tif…. yang penting bantu Broni dulu, nanti kita pikir bersama sama”
Bondet yang ada di sebelah Ivon hanya diam saja, kelihatannya dia sedang ketakutan setelah tau apa yang dilihat oleh Tifano barusan.
Sebenarnya aku juga takut, tetapi apa yang bisa diperbuat di sini selain harus tetap berkumpul dan berpikiran waras… ingat kita ada di daerah yang kita sama sekali tidak tau, dan agar kita bisa pergi dari sini, kita harus berpikiran waras dan tidak sembrono.
“Kamu tunggu sini saja Tif, biar aku yang menolong Broni”
“Wil.. kamu yakin mau ke sana?” tanya Bondet
“Jelas yakin Ndet, kita kan harus tetap bersatu dan jangan sampai terpisahkan, karena aku belum tau apa yang sedang kita alami disini”
Aku berjalan ke arah Broni yang masih terduduk di pinggir lubang yang mengerikan, ketika aku sudah ada di sebelah Broni, kulihat di dalam lubang itu.
Janc*k… ternyata benar apa yang dikatakan Tifano, ada sebuah benda putih berbentuk bulat dan sebagian masih terkubur di dalam tanah.
Dan sayangnya Broni tidak melihat benda yang sangat menyerupai tengkorak manusia itu.
__ADS_1
“Wil… bantu aku berdiri dong heheheh” kata Broni dengan cenngengesan
“Nggak usah tertawa gitu Bron… kamu bisa berdiri sendiri kok, kamu hanya mencari perhatian kami saja. Ayo berdiri sendiri Bron, sebelum yang ada di tanah itu akan membuat kamu ketakutan”