TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 71. PAKDE DJATI


__ADS_3

“Panggil saja saya pakde Djati….”


“Untung kalian masih hidup dan tidak gila, untung kalian sampai di desa ini dengan selamat tanpa ada yang mengejar kalian” kata orang yang lebih tepat disebut kakek-kakek itu


Pakde Djati, kakek-kakek yang bagian atas kepalanya sudah botak, tetapi rambut kiri kanan, dan belakangnya dibiarkan gondrong, rambut dia sudah memutih.


Wajahnya lonjong dan lancip di bagian dagunya, kelopak mata cekung tetapi tatapan matanya tajam!. Dia hanya memakai kaos putih yang sudah lusuh, sementara bagian bawahnya hanya memakai sarung saja.


Tadi kami diantar oleh penjaga desa yang dipanggil dengan nama Bobby oleh pakde Djati, aku tadi sempat mau tertawa ketika pakde Jati menyapa penjaga desa dengan panggilan Bob.


Kemudian kami memperkenalkan diri, dan ternyata penjaga itu bernama Bobby Zhakar Ria.. nama yang cukup bikin aku merinding. Karena menurutku artinya adalah Bobby yang gembira karena punya zhakar.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kami pakde?” tanya Novi


“Wah kamu ini cantik sekali ya dik. Untung kedua temanmu ini bukan tipe yang suka jahil dengan perempuan secantik kamu”


“Kalian masuk ke desane demit… tapi bukan seperti yang ada di gunung-gunung itu, yang disebut pasar setan. Ini berbeda, memang di daerah ini ada yang namanya desane demit.


“Di desane demit ini selalu mengambil nyawa orang yang masuk ke sana, dan kalaupun orang itu bisa keluar dari sana, dia akan gila, saya tau tentang desa itu kan karena cerita turun temurun”


“Tapi meskipun hanya sebatas cerita turun temurun, tapi kebenarannya harus diakui”


“Tapi satu lagi yang harus kalian waspadai, apabila kalian keluar dalam keadaan selamat, maka  kalian akan diburu hingga kalian meregang nyawa” kata pakde Djati dengan wajah yang serius


Ketika kami sedang bicara dengan serius, tiba-tiba dari dari kamar yang berkelambu muncul dua eh tiga perempuan. Ada yang masih muda, dan ada yang sudah seumuran dengan pakde Jati.

__ADS_1


“Eh dik Novi…kenalkan ini istri istri saya….” kata pakde Djati dengan tersenyum


“Yang paling tua namanya Sumirah, kemudian yang kedua Paitun, yang terakhir yang paling manja ini namanya Elizabeth”


Ketiga perempuan itu memegang tangan pakde Djati dengan mesra, seakan-akan mereka bertiga tidak mau kehilangan orang tua yang bisa aku sebut kakek-kakek.


“Saya dan istri istri saya hidup dengan rukun dan saling mengasihi,... eh kalau dik Novi berminat, istri-istri saya tidak keberatan apabila dik Novi menjadi yang keempat untuk saya hehehe”


Janc*k… wong iki mendem mangan semir…. Guendeng bojone ada tiga kok ya sekarang ngerayu Novi untuk jadi istrinya. Tapi aku lihat wajah Novi tetap tenang, dia gak tertawa atau jijik, Novi tenang agar pakde Jati tidak merasa tersinggung.


“Maaf pakde, saya sudah bertunangan sama pacar saya yang juga hilang di desa demit itu, kami sebenarnya kan bertujuh ada disana pak”


“Hehehe tidak apa-apa dik Novi, nanti apabila dik Novi sudah berubah pikiran, saya akan terima dik Novi meskipun sudah menjadi janda…. Ehek” kata pakde Djati sambil tersenyum malu


“Eh mas Wildan aja yang cerita pak” kata Novi


Aku ceritakan bagaimana kami bisa ada di desa itu, dan apa saja rencana kami sebetulnya di desa itu, aku cerita hingga sekarang kami tinggal bertiga ada disini.


Pakde kayaknya gak kaget dengar ceritaku, dia hanya tersenyum saja ketika aku sebut nama Kimpet…. Mungkin dia tau apa arti dari nama Kimpet itu.


“Yah seperti itu cerita kami pak…” aku menyelesaikan cerita sampai bibirku kering


“Ceritamu itu sama dengan cerita tiga orang beberapa bulan lalu juga datang ke sini, mereka sepertinya adalah teman kalian, tetapi saya lupa nama mereka”


“Apa pak!.... Beberapa bulan lalu!... bagaimana ciri-ciri mereka pak?” tanya GIlank

__ADS_1


“Satu perempuan tomboy dengan potongan cepak, saya sempat tawari juga menjadi istri keempat saya, tetapi katanya dia masih pikir-pikir dulu…”


 “Apa dipikir saya tidak bisa memuaskan perempuan berambut cepak  itu hehehe” kata pakde dengan wajah mesum sambil menciumi lengan ketiga istrinya


“Apa benar mereka bernama Broni, Tifano dan Ivon pakde?” tanya Novi


“Hhmm kayaknya benar namanya itu dik, kalau benar berarti mereka teman kalian” kata pakde sambil menciumi tangan ketiga istrinya yang hanya memakai daster saja tanpa pakaian dalam


“Jadi mereka kesini beberapa bulan lalu? Lalu bagaimana mereka bisa ada disini pak?”


“Mereka bertiga katanya juga bertemu dengan Kimpet, Kimpet pemuda yatim piatu yang rajin bekerja dan baik hati, sayangnya dia sama sekali tidak tertarik dengan perempuan” kata pakde yang masih menciumi telapak tangan ketiga istrinya


“Sekarang begini saja… malam ini hingga pagi kalian tinggal disini saja, besok pagi kalian ikuti saja jalan desa ini, dan untuk teman kalian yang satu lagi, yang hilang karena kembali ke kebun KImpet…. Biarkan saja, apabila dia selamat sampai sini ya akan saya suruh dia pulang”


“Pesan saya, jangan suka menyendiri, jangan suka melamun dan jangan sampai pikiran kalian kosong, tetap waspada, karena kalian belum selamat sampai purnama berikutnya”


“Hidup kalian akan terus diburu oleh yang tidak terima kalian bisa keluar dari sana hidup-hidup”


“Oh iya pak… rumah-rumah yang disana, yang penuh asap itu apa ya pak?” tanya Novi


“Hehehe itu usaha kami warga desa ini, itu pengasapan daging dan ikan. Ikan air tawar yang kami budidayakan di danau yang tidak jauh dari sini, di dalam hutan sana, dan daging buruan dari hutan yang rasanya sangat enak”


“Besok pagi akan saya suruh istri saya memasak produk asap buatan desa kami. Dan setelah sarapan, kalian harus segera pergi dari kawasan hutan ini” kata pakde Djati kemudian masuk ke dalam kamarnya bersama ketiga istrinya


Tinggal kami yang ada disini bersama Bobby  Zhakar Ria, tetapi tidak lama kemudian dia pamit untuk kembali ke pos tempat dia berjaga malam bersama temannya.

__ADS_1


__ADS_2