TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 112. SEMBUNYI!


__ADS_3

 “Pak Kus, itu teman kami Gilank”


“Ingat apa yang saya katakan, jangan percaya dengan apapun yang ada disini, semua yang ada disini muncul karena inign mengganggu kalian” bisik pak Kus


“Sekarang ambil batu yang ada disana itu, kamu mas WIldan ambil batu yang lebih besar, kita harus pecahkan kepalanya


Anehnya di tangan pak Kus sudah ada sebilah parang, aku nggak tau kapan dia mendapatkan parang itu, aku juga nggak lihat dia membawa parang dari tadi.


Aku tidak sempat memberi tahu Novi dan Ivon, karena kedua temanku itu sedang mencari batu besar yang akan digunakan untuk membunuh Gilank.


Kulihat Gilank sedang menguburkan mayat yang terakhir, dia nampak kelelahan dan tubuhnya seolah tidak seimbang seperti orang mabuk.


“Dia sudah lemah anak-anak, sekarang kita bisa habisi dia, ingat siapapun yang kita temui dialah yang harus kita habisi” bisik pak Kus


Orang yang mirip dengan Gilank menoleh ke arah kami, ketika kena sinar bulan, wajah dia terlihat sangat lelah, dia hanya berdiri sambil berpegangan pada cangkul agar tidak jatuh.


“Eh Wildan… Novi….Ivon, kalian ngapain disini” kata orang yang mirip Gilank dengan suara sangat lemah


“Kalian segera pergi menjauh dari sini, eh kamu siapa orang tua..!”


“DIAM KAMU IBLIS… SEKARANG RASAKAN PEMBALASAN KAMI”pak Kus teriak sambil mendorong Gilank hingga orang yang mirip dengan Gilank jatuh berguling guling


Pak Kus memburunya dan menduduki Gilang yang tersungkur, kemudian dengan parangnya dia menyembelih orang yang mirip Gilang dengan sadisnya.


Tidak ada erangan dan teriakan dari mulut sosok yang mirip Gilank, hanya suara seperti nafas yang terputus saja yang terdengar jelas.


Parang itu sangat tajam sehingga dalam hitungan detik kepala dan tubuh sosok yang mirip Gilank itu sudah terlepas


“Mas WIldan cepat batu besarnya, pukul ke kepalanya hingga pecah, saya akan belah perutnya dulu untuk mengambil jantungnya yang masih berdetak!” suruh pak Kus.

__ADS_1


Aku jelas ketakutan, apalagi sosok yang disembelih Pak Kus ini wajahnya mirip sekali dengan Gilank, sehingga aku agak gimana gitu untuk memukulkan batu besar ke kepalanya


“Cepat jangan menunggu lama, karena otak dia akan mengirimkan sinyal minta tolong ke sosok yang lainnya!” bentak pak Kus


“Pak Kus pecahkan saja kepala dia pake parang pak Kus!” kata Ivon


“Nggak boleh mbak, parang ini tidak boleh terkena pecahan otak!, cepat hantam kepalanya pakek batu yang tadi saya suruh ambil itu.. Cepat!”


Entah siapa yang harus aku percaya, misal itu benar teman kami si GIlank, dia pun juga sudah mati, jadi apa salahnya aku pukulkan batu besar ini ke kepalanya yang sudah terpisah dari tubuhnya,


Berkali kali kuhantamkan batu besar ini ke kepala sosok yang mirip dengan Gilank


*****


“Kalian jangan ragu. Yang kita temui ini bukan teman kalian, ingat yang kita temui ini bukan teman kalian!”


“Tindakan kalian tadi sangat berbahaya, dia pasti sekarang sudah mengirim sinyal untuk meminta bantuan kepada yang lainnya”


“Saya minta maaf pak, kami ragu karena sosok itu mirip sekali dengan teman kami yang hilang disini”


“Sudah-sudah, yang penting otak sudah hancur, dan kalian lihat tadi ketika saya belah tubuhnya, apa kalian lihat ada jeroan dari tubuhnya ini yang masih fresh?”


“Tidak kan, ini sejenis zombie, tapi bukan zombie, karena bisa meniru bentuk tubuh teman kalian, tapi bagian dalam tubuhnya sudah membusuk, kalian lihat tadi kan!” bentak pak Kus


“Iya pak, kami minta maaf, kami tidak akan mengulangi lagi pak” kata Novi


“Sekarang apa yang akan kita lakukan pak Kus?”


“Semua sudah terlambat sepertinya anak-anak, kita masuk ke rumah itu saja, disana saya bikin semacam bunker, bisa muat untuk tiga orang, nanti disini pasti akan dipenuhi oleh sosok macam temanmu ini”

__ADS_1


“Ayo kita ke rumah itu saja dulu!”


Kami masuk ke rumah yang dekat dengan aliran sungai, ternyata di dalam rumah ini di pojokan ruang tamu, di bawah tumpukan tembikar yang sebagian besar sudah pecah ada semacam pintu masuk dari kayu.


Setelah menendang tembikar-tembikar agar tidak menghalangi pintu masuk itu pak Kus membuka tingkap atau pintu yang mengarah ke bawah tanah, ke semacam bunker.


“Kalian masuk dulu” tapi baik aku dan lainya tidak ada yang berani masuk ke dalam lubang itu


“Cepat masuk, di dalam tidak ada apa-apanya, kalau kalian mau mati mengenaskan yang nggak papa ada disini di luar sini, cepat masuk ke dalam”


“Bentar pak saya mau nyalakan senter pak”


“Mas WIldan di dalam sudah ada obor yang bisa kita gunakan, kalian tidak usah bingung di dalam gelap atau gimana…pokoknya kita bisa aman dan menunggu hingga sosok yang mirip dengan yang ada di luar itu pergi seluruhnya”


Dengan penerangan senter kecil milik Novi aku turun terlebih dahulu dengan menapak pada anak tangga yang terpasang di dinding lorong menurun ke dalam bunker bawah tanah.


Kemudian disusul oleh Novi dan Ivon. aku nggak tau apa yang sedang dilakukan pak Kus di atas sana, tapi kayaknya dia sedang menyamarkan pintu masuk bunker, dia tidak ingin ada yang masuk ke lubang ini.


Pak Kus menyusul masuk dengan menutup pintu bunker setelah selesai dengan apa yang dia lakukan di atas.


“Terangi saya ke sini, saya akan nyalakan lampu minyak, agar tidak terlalu gelap disini”


Keadaan di dalam sudah terang, dan yang mengerikan kami mendengar suara-suara seperti orang jalan di atas kami, banyak sekali suara langkah kaki yang berjalan di atas kami.


Suara langkah kaki yang menginjak pecahan pecahan tembikar yang ada di atas.


“Sampai kapan kita ada disini pak?”


“Sampai tidak ada langkah kaki di atas sana, sengaja memang tadi saya sebarkan pecahan pecahan gerabah atau tembikar agar terinjak dan menimbulkan suara di atas, jadi kita bisa tau apakah mereka itu masih ada di atas atau tidak!”

__ADS_1


__ADS_2