
Dingin… super dingin dengan angin yang berhembus agak kencang ketika kabut itu mulai menyelimuti kami.
Kabut yang sangat tebal, aku bahkan tidak bisa melihat wajah teman yang ada di sampingku, semua berwarna putih keabu-abuan.
Terpaan kabut dengan hembusan angin ini sangat dingin, jari jariku yang memegang Novi dan Broni seperti kaku, rasa sakit dan ngilu di sendi dan jari mulai terasa..
Suara erangan teman-temanku yang kesakitan dan kedinginan saling bersahutan …
Arrrgghhh kabut ini benar-benar menyiksa kami…
Kabut ini kini juga membawa angin yang entah gimana membuat aku seperti sedang melayang, untungnya aku masih memegang tangan Novi dan tangan Tifano.
Beberapa saat kemudian aku mencium bau agak busuk..busuk seperti bau bangkai.. Tapi hanya sesaat saja.
Sepertinya kabut ini berbeda dengan ketika kami ada di dalam mobil, karena sama sekali tidak terdengar suara aneh semacam gumaman… hanya kabut biasa saja..
Kabut biasa yang sangat tebal, sangat dingin dan agak bau busuk seperti bau bangkai.
Aneh sekali di dalam kabut aku bisa mencium bau busuk.. Tapi itu semua itu tidak aku pedulikan, bahkan dingin yang menyebabkan tulang ngilu pun tidak aku pedulikan.
Sekarang tidak ada suara dari teman-temanku yang tadi kesakitan, semua fokus pada pegangan tangan teman yang ada di sebelahnya… bahkan aku bisa merasakan pegangan tangan Tifano dan Novi yang semakin erat.
Untungnya kabut ini tidak lama…. Mungkin hanya sekitar lima menit saja…
Perlahan lahan kabut mengerikan ini hilang…. Hilang dan semua menjadi terang.
Aku melihat sekeliling… memang masih ada kabut tipis seperti biasanya, tapi tidak sedingin tadi, tetapi yang mengagetkan tentu saja…
“Lho mana Gilank rek!” kata Broni.
“Waduh gawat…. Bukanya tadi waktu kabut itu datang dia masih ada dibawah kita rek?” kata Broni panik
”Mas Wildan..lebih baik kita ke pak Sapudi saja..!” kata Novi
“Sik Nov, aku rasa kita harus cari Gilank di sekitar sini dulu”
“Gini…kalau ada yang mau buang air besar, buang air dulu, karena nanti mungkin urusan kita akan menyita waktu untuk buang air besar rek” kata Tifano yang kemudian menuju ke ******
“Bener mas Tifano..kita gantian dulu buang airnya” ujar Novi
“Ya sana.. Yang mau ke ****** silahkan, aku sama Bondet mau cari Gilang di sepanjang sungai ini dulu”
“Kalau gitu aku saja yang ke rumah pak Sapudi” kata Broni
__ADS_1
“Jangan pergi sendiri sendiri… kita harus bersama sama mas Bron… masalah teman kita hilang mungkin tadi Gilank panik dan mencari tempat yang aman” kata Ivon menenangkan kami
“Tapi jangan-jangan dia tenggelam Wil?”
“Sungai bagian ini tidak dalam mas Bron, yang dalam itu yang bagian sana itu” tunjuk Ivon pada bagian sungai yang saat pertama kali kami kesini pada malam hari itu
“Aku sama Bondet mau menyusuri pinggiran sungai sepanjang dari tempat Gilank hilang hingga ketika kita datang saja dulu. Kalau kalian yang mau buang air besar lakukan sekarang, agar nanti tidak bikin masalah lagi”
“Von…. aku sama Wildan cari Gilank dulu” kata Bondet
Aku dan bondet kembali ke arah jembatan bambu yang menghubungkan desa dengan hutan tempat mobil yang disewa Broni terjebak pohon..
Pinggir sungai ini begitu licin sehingga aku dan Bondet harus ekstra hati hati dalam melangkah.
“Ndet… disana kan tempat kita datang, tapi nggak ada Gilank disana Ndet”
“Keadaan disini tenang dan sepi, tidak ada suara apapun selain kecipak air yang mengenai bebatuan di pinggir Ndet”
“Iya Will… aku takut ada apa-apa sama Gilank Wil”
“Sik Ndet tenang sik… kita maksimal sampai sini saja dulu Ndet, aku nggak berani ke arah sana … di depan sana sungainya berebelok dan kita gak bisa dolihat teman-teman kita…”
“Kita balik saja WIl…. aku kok merinding di pinggir sungai iki c*k” kata Bondet
“Iyo Ndet, kita balik ae,,,,setelah ini kita ke rumah pak Sapudi, kita tanyakan tentang apa yang tejadi apabila kita ada di dalam kabut yang tadi itu”
Gilank tidak ada di sepanjang aliran sungai hingga di aliran yang paling dalam… pun di sekitar sungai tempat tadi dia jatuh pun tadi aku tidak lihat bekas kaki Gilank yang terpeleset karena licin.
Di ujung sungai sana.. Bagian ke arah hilir itu berbelok tajam, dan banyak pohon bambu yang besar. Terus terang aja aku gak berani ke sana hihihi.
Ada yang benar-benar aneh disini dan tidak bisa dinalar tapi apa yang aneh itu yang aku belum tau.
Aku dan Bondet sudah dekat dengan posisi teman teman, posisi ketika Gilank hilang, disana mereka sedang menunggu kabar dari kami.
Ketika yang lainnya sedang memperhatikan sungai, tetapi tidak dengan Ivon yang sedang memperhatikan dinding batu dan tanah liat di sebelah kiri kami.
“Eh coba kalian lihat dinding tanah itu mas… eh ada yang aneh.. Coba lihat yang disana itu” tunjuk Ivon pada sebuah kain putih kumal yang keluar menyembul dari dinding tanah liat yang ada di sebelah jalan setapak ketika aku dan Bondet sudah datang
“Eh mas Bondet, mas Wildan…., coba lihat di atas itu apa mas” kata Ivon
“Sik Von… eh apa itu… jangan sampai pikiranku sama dengan pikiranmu” kata Bondet
“I..iya mas… ayo kita pergi dari sini saja” kata Ivon
__ADS_1
“Sebentar Von, Tifano masih ada di dalam ******, kalau kamu takut, jangan dilihat Von”
“Iya mas WIl… Ivon cuma merasa aneh saja mas…”
Aku juga memperhatikan kain kumal yang menyembul di dinding tanah liat yang dikepras untuk jalan setapak sebelah sungai ini.
Aku tau untuk membuat jalan setapak pinggir sungai itu harus mengepras tebing tanah yang ada di sebelah kiri kami. Karena kalau tidak maka penduduk disini akan kesulitan menuju ke pinggir sungai, karena sungai itu letaknya di dasar, sedangkan desa tempat pak Sapudi itu tinggal itu ada di atas.
Jangan sampai yang muncul di dinding tanah liat itu adalah kain pocong yang tidak terkubur dengan benar, sehingga sebagian kain itu keluar dari dinding tanah.
Jangan sampai yang ada di atas itu adalah kuburan…
“Woooi Tif,, ayo cepetan… ngisingnya rek”:
“Sik Wil… sabar sik” jawab Tifano
“Bron… aku rasa kita akan dapat masalah disini… kita gak bisa pulang tanpa Gilank… kita harus temukan Gilank Bron”
“Iya iya WIl.. ini aku sik mikir apa yang harus kita lakukan c*k
“Kita harus tenang Bron… harus bisa berpikir jernih dan berusaha mencari jalan keluar menemukan Gilank”
Novi yang berpenampilan sangar hanya diam sambil menahan dingin…
Tidak lama kemudian Tifano keluar dari ****** yang terbuat dari kayu yang dipotong dan dipaku seadanya.
Kami berenam kembali ke arah jembatan,... dingin dan kabut tipis masih menyelimuti jalan setapak yang kami lalui…
“Awas Bron… depan jembatan itu jalannya licin dan naik..” kata Tifano yang ada di belakangku
Broni tidak menjawab peringatan Tifano, karena memang peringatan seperti itu tidak perlu dijawab.
Perlahan-lahan kami jalan pelan menanjak ke arah desa tempat pak Sapudi…
Berenam kami sudah ada di jalan yang di kiri dan kanan ada rumah.. Meskipun jarak antar rumah itu lebar dan dibatasi oleh pekarangan yang luas dan pohon besar, tapi suasana disini sangat sepi.. Sama sekali aku tidak merasakan adanya kehidupan.
Sama seperti tadi ketika kami pergi dari sini menuju ke jamban… tiap rumah yang ada disini tertutup rapat… baik itu pintu maupun jendela
Tentu saja hal sangat aneh sebagai sebuah desa… paling tidak ada satu dua orang yang sedang jalan atau sedang apa gitu.
“Eh rek.. Kalian merasa ada yang aneh nggak sama desa ini selain kabut yang selalu menggantung meskipun kabut itu hanya tipis saja”
“Apa mas Wil?” tanya Novi
__ADS_1
“Rumah disini, semua tertutup dan seolah tidak ada penghuninya sama sekali”
“Kan memang dari semalam gitu mas Wil, tidak ada yang membuka pintu rumahnya, tapi menurut Novi sih ada orangnya mas, mungkin mereka sedang tidur, buktinya obor yang ada di pagar semuanya sudah pada mati mas” kata Novi