
“Halah kalian semua mau enaknya saja, bantu aku berdiri aja masak gak mau Wil…” kilah Broni sambil berusaha berdiri dari posisinya.
“Jangan banyak bicara dulu Bron, sekarang kamu lihat apa yang ada di tanah yang tadi kamu injak itu”
“Iya..iyaaaa pasti ada tai kan!... makanya baunya busuk sekali tanah yang aku injak tadi itu, makanya gak ada yang mau nolong aku kan c*k!”
Tapi Broni sengaja tidak melihat ke arahku, dia hanya berusaha membersihkan tubuhnya yang penuh dengan kotoran dan daun ketika dia terjatuh tadi.
Setelah dia membersihkan tubuhnya dia kemudian berjalan pelan ke arah ku tanpa melihat ke tempat dimana dia jatuh tadi…
Asyu kok!.... Broni gak mau menengok sedikit ke arah lubang kecil dimana dia tadi terperosok, dipikirnya kami ini sedang mengada ada dengan mengerjai dia yang sedang terperosok tadi.
“Kalian semua tunggu saja disini, biar aku yang menuju ke rumah-rumah yang ada di sekitar sini, aku yakin di salah satu rumah disini pasti ada penghuninya” kata Broni sambil berjalan menuju ke arah salah satu rumah.
“Terserah kamu Bron, biar kamu tau sendiri apa yang kamu hadapi, kami tunggu kamu disini saja”
“Mas Wildan… apa tidak sebaiknya mas Broni diantar ke sana?” tanya Novi yang masih terlihat gagah namun feminim
“Gak usah Nov, biarin aja, kita tunggu saja dia disini… biar dia tau apa yang sedang terjadi disini”
Aku sebenarnya gak tega juga membiarkan Broni sendiran menuju ke rumah kosong yang ada di depan itu, tapi mau gimana lagi, aku sudah jengkel dengan Broni… biarkan saja dia yang berpikir sendiri.
Aku dan empat teman yang lainya menunggu Broni di depan rumah pak Sapudi… sementara itu kabut masih mengambang di sekitar sini, dan jarak pandang kami mungkin hanya sekitar sepuluh hingga lima belas meter saja.
Aku sengaja tidak mau mengikuti Broni yang saat ini mulai ditelan kabut untuk menuju ke rumah tetangga dari pak Sapudi.
“C*k Wil…. Broni bisa hilang sendirian di tengah kabut c*k” kata Bondet
“Biarkan saja Ndet, dia kan tadi melarang kita untuk mengikuti dia kan… jadi biarkan saja, lagian rumah sebelah kan masih terlihat dari sini meskipun agak tertutup kabut”
Dari tempat kami berdiri, aku masih bisa melihat bayangan Broni yang masuk ke pekarangan rumah tetangga pak Sapudi yang letaknya mungkin sekitar lima belas hingga dua puluh meter dari rumah pak Sapudi.
Tidak ada yang berubah di sekitar sini, suhu udara masih dingin dan kabut masih mengambang, suasana sepi masih terasa di sekelilingku.
Memang secara visual aku melihat sangat sepi, tetapi entah gimana aku merasa banyak… iya aku merasa banyak di sekitar sini.
Yang aku maksud dengan banyak itu belum bisa aku katakan banyak apa, tetapi pokoknya aku merasa banyak sekali di sekitarku dan teman-temanku.
“REK….KESINIO REK!.” teriak Broni dari arah depan
“Eh Wil.. kita ke sana saja” kata TIfano
__ADS_1
“Mas Tif, apa mas TIf bisa lihat dimana posisi mas Broni berada?” kata Ivon
“Nggak Von, tapi palingan ya di rumah kosong yang dia datangi tadi itu kan?”
“Itu kan perkiraan mas Tif saja, sekarang rumah kosong itu ada di sebelah mana mas… di depan kita agak serong ke kanan kan mas Tif?”
“Iya Von.. terus kenapa?”
“Tadi mas Tif dengar suara ajakan ke sana itu dari sebelah mana?”
“Dari depan sebelah kiri” potong Bondet tiba-tiba
“Benar Ndet… makanya aku masih diam saja disini, dan tetap perhatikan rumah yang tadi didatangi Broni”
“Jangan WIl…lebih baik kita datangi saja rumah itu.. Siapa tau Broni butuh kita disana Wil” kata Bondet yang pikirannya masih waras.
Aku setuju dengan ide Bondet, kami akhirnya menuju ke rumah yang tadi di datangi Broni…..
Aku berjalan di depan teman-temanku, tapi aku tidak asal jalan, aku selalu melihat keadaan tanah di sekitar aku jalan, kalau sekitarnya agak tidak padat segera saja aku berpindah ke bagian yang lebih padat.
Perlahan lahan kami jalan dan akhirnya kami sampai di depan rumah yang didatangi Broni tadi..
“Mas Wil… dimana mas Broni….?” tanya Novi
“Mungkin dia ada di dalam sana Nov… hmm gimana kita masuk atau panggil saja Broni agar keluar dari rumah itu?”
“Panggil saja mas Wildan, Ivon rasa rumah itu kosong deh mas…” potong Ivon yang ada di dibelakangku bersama Bondet
Di dalam pekarangan rumah yang tadi didatangi Broni, tidak ada suara langkah kaki sama sekali, bahkan sudah sekitar dua hingga tiga menit kami menunggu di depan rumah, tetapi belum juga ada penampakan teman kami Broni.
“Bron… ayo keluar Bron…. “
“BRON… JANGAN MAIN-MAIN REK!... AYO KELUAR DARI RUMAH ITU!”
Tidak ada sahutan atas teriakanku… rumah yang berdinding kayu itu tetap membisu dengan pintu yang terbuka. Perasaanku mulai nggak enak… Broni tidak ada disana!
“Mas Wil… yang kita datangi ini rumah kosong mas, tetapi tadi teriakan ma Broni tu kan ada di depan sebelah kiri mas, dan itu artinya mas Broni ada di sana” tunjuk Ivon pada area berkabut di sebelah kiri depan kami
“Tapi dia tadi kan masuk ke rumah ini Von, masak iya sih dia sudah pindah ke arah sana Von?”
“Yah mau gimana lagi mas Wil, karena teriakan itu berasal dari sana, bukan dari rumah ini mas” jawab Ivon
__ADS_1
“Sebentar Wil… jangan sampai kita tersesat, ingat kita hanya bisa melihat sejauh mungkin sepuluh meter di depan kita saja, dan jarak tiap rumah yang ada di sini mungkin lebih dari lima belas meter”
“Iya benar juga apa yang kamu katakan TIf, tapi tadi Broni ke rumah ini, hanya saja teriakan dia tadi ada di sana kan” tunjuku pada area yang berkabut.
“Eh sentermu tadi masih dibawa Broni ya Von?”
“Iya mas Wil…. tadi kan dipinjam mas Broni untuk ke rumah ini”
Aku ragu untuk melangkah mendekati rumah yang pintunya terbuka itu… sementara itu entah hanya perasaanku atau gimana, kabut disini makin tebal, bertambah tebal dari pada sebelumnya.
Apakah hanya perasaanku saja yang mengatakan kabut ini bertambah tebal atau teman-temanku juga merasakanya juga?
“Wil… hati-hati, kabut disini bertambah tebal lho” kata Tifano
“Iya Tif… tapi ita harus cari Broni dulu….”
Tidak ada suara sama sekali diantara kami berlima, aku harus tetap waspada dengan apa yang ada disekitar sini.
“Heh rek…. Kalian ngapain ada di rumah itu!” teriak suara Broni
Kutoleh ke arah asal suara Broni… tapi tidak ada wujud Broni di sekitar kami… karena kabut yang semakin bertambah tebal daripada sebelumnya.
“Di belakang kita mas… suara itu berasal dari belakang kita. Tapi tidak ada mas Broni sama sekali mas” kata Novi kebingungan
“Iya Nov, tadi aku juga merasa seperti itu, aku merasa Broni datang dari belakang kita”
Tetapi tidak dengan Ivon, dia tidak menoleh ke arah belakang, tetapi dia menoleh ke arah kiri dari posisi kami berada. Dia tetap menoleh ke arah kiri….
Aku akhirnya penasaran juga dengan yang dilakukan Ivon, aku pun menoleh ke arah kiri…
“Itu disana ada bayangan manusia yang sedang berdiri mas Wil” kata Ivon dengan suara pelan
“Iya Von… tapi bayangan manusia yang tertutup kabut itu kayaknya tidak bergerak sama sekali Von”
“Itu yang dari tadi Ivon perhatikan Mas…. kalau itu mas Broni, seharusnya dia berjalan menuju ke sini kan mas Wil” kata Ivon
Suara Broni ada di berbagai arah, tergantung dari telinga kami yang mendengarnya…
Tadi aku dan Tifano mendengar suara itu dari belakang kami, tetapi tidak dengan Ivon yang mendengar suara itu berasal dari sebelah kiri.
Dan di sebelah kiri juga ada banyangan manusia yang tertutup dengan kabut, dan kemungkinan besar itu adalah Broni, tetapi kenapa dia tidak bergerak sama sekali, hanya diam saja seperti patung.
__ADS_1