
“Mas.. kita harus kemana mas?”
“Tenang Nov, aku kita diam aja disini untuk sementara ini, hingga kabut itu hilang dengan sendirinya”
“Tapi… tapi kabut itu tidak hilang mas, kabut itu bergerak ke arah kita, dan memaksa kita ke arah tanah lapang yang penuh mayat itu!”
“Eh Nov, kita jelas gak bisa ke tanah lapang itu, karena disana penuh dengan mayat…!”
“Ke sana saja mas.. Ke sendang itu saja!”
“Tapi kan gak boleh ke sana Nov!”
“Sudahlah mas, dari pada kita mati disini… kabut itu ngeri mas, gak ada oksigen di dalam kabut itu!” Novi semakin takut dan siap akan lari ke arah sendang ketika kabut itu tinggal sekitar tiga meter di depan kami
Ketika novi berancang ancang akan lari ke arah sendang, tiba-tiba kabut yang ada di depan kami berangsur angsur menghilang.
Kabut aneh itu memudar dan terus memudar, hingga sekarang hanya menyisakan kabut tipis saja.
Pemandangan desa nampak lagi seperti semula… rumah penduduk yang dihiasi kabut nampak lagi…. Keadaan kembali normal.. Tapi aku dan Novi masih berdiri dan memastikan tidak ada bahaya lagi yang akan mengancam kami berdua.
“Nov.. ayo kita balik ke rumah itu lagi…. Aku khawatir dengan teman kita yang ada disana”
“Bentar mas.. Ada yang aneh disini, jangan bergerak dulu mas….coba berbalik badan mas….” kata Novi dengan suara lirih
Ketika aku berbalik badan ke arah tanah lapang… ternyata di tanah lapang itu masih banyak mayat… mayat-mayat itu masih bergelimpangan..
“Ya Tuhan Nov…!”
“Iya mas….kita masih ada di tempat yang berbeda mas”
“Mas, Novi takut mas”
“Sik tenang Nov.. ingat, kita kan sudah terbiasa lihat mayat, ketika kita berurusan dengan Dimas… dan sekarang kayaknya kita ada di waktu yang berbeda dengan ketika kita bersama teman teman kita Nov”
“Kata orang di pasar… penduduk atau ojek yang ada disana tidak berani masuk ke sini karena takut hilang dan tidak kembali, ya benar, mereka akan hilang karena memasuki gerbang waktu yang kadang terbuka disini…”
“Dan sekarang kita ada di masa beberapa tahun sebelumnya Nov”
“Apa yang harus kita lakukan mas…..?”
“Aku nggak tau Nov… eh apa kita mencoba keluar dari sini saja Nov, siapa tau kita bisa keluar dari desa ini”
__ADS_1
Aku nggak tau apa yang harus aku lakukan, tetapi memang aku dan Novi harus pergi dari tempat ini secepatnya, karena kalau tidak kami akan hilang disini dan tidak akan kembali ke alam kami.
Kugandeng Novi dan aku berjalan menuju ke arah dimana kami datang sebelumnya…
Desa ini masih sangat sepi seperti sebelum sebelumnya, tidak ada satupun manusia yang ada disini.. Kabut masih membayang di depan kami, dan suhu udara semakin dingin, karena hari semakin sore menjelang senja.
“Ayo cepat Nov udah menjelang senja disini, kita harus pergi dari sini secepatnya”
“Tapi mas, disini kok aneh ya mas.. Kenapa cepat sekali sore harinya, padahal tadi kan masih siang mas”
“Udahlah Nov, jangan dipikirkan, yang penting kita harus cepat lari dari sini dan keluar dari desa ini”
Di sini keadaanya berbeda, tiba-tiba saja sekarang sudah sore hari.. Aku dan Novi sedikit berlari menuju ke arah jembatan…
Ketika baru saja belasan meter aku dan Novi berlari, iseng aku melihat rumah yang ada di kiri dan kananku, rumah yang jaraknya berjauhan dan selalu dibatasi oleh pohon yang besar.
Kutoleh ke kanan…..
Seketika aku lemas, jantungku berdebar keras, bulu kudukku meremang, aku tidak bisa bergerak sama sekali!
“Mas.. ayo cepat lari” Kata Novi yang ada di depanku, dia tidak melihat ke arah kanan rumah yang baru dilewatinya.
Aku berusaha berdiri dan menghampiri Novi yang ada sekitar tiga meter di depanku… Sekali kupastikan apa yang membuat aku kaget..
Mayat yang sudah terpotong kepalanya sebatas leher, leher dia terlihat hitam. Dan yang bikin aku takut, posisi mayat itu sedang duduk di kursi kayu di depan rumah.
Keadaan disini memang berkabut dan bukan berarti aku tidak bisa melihat apapun, aku masih bisa melihat apa yang ada di halaman rumah dengan jelas.
Yang menjadi pertanyaan, siapa yang mendudukan mayat itu di sebuah kursi!
“Jangan menoleh ke arah manapun Nov!” tetap lurus ke depan saja!” aku berdiri dan berjalan menuju ke arah Novi yang ada di depanku
Novi paham dengan omonganku, dia tidak menoleh ke manapun, wajah dia melihat ke depan.
Kami berjalan lagi, dengan agak berlari aku terus berjalan menuju ke arah jembatan..
Aku tau di tiap rumah yang aku lalui selalu ada mayat yang sedang duduk di kursi depan rumah… tetap aku sengaja tidak menoleh.
Hingga akhirnya aku dan Novi sudah hampir sampai di jembatan yang memisahkan area desa dengan hutan yang ada di depan kami.
“Mas.. kok gak ada jembatanya sama sekali!”
__ADS_1
“Nov, eh apakah kita bisa lewati sungai itu?”
“Gak bisa mas, sungai nya meluap dan arusnya deras, kita akan mati kalau lewat sungai itu mas!.... Apa yang harus kita lakukan mas, sudah hampir malam ini mas”
“Sik Nov, aku sedang berpikir ini.. Eh senternya Ivon ada sama kamu?”
“Ada mas, tadi Ivon suruh Novi simpen di ransel Novi”
“Kita harus cari rumah untuk berlindung malam ini Nov, besok pagi kita lanjut cari jalan keluar dari sini”
“Tapi mas, kita kan sekarang ada di masa entah mungkin masa lalu mas… terus gimana caranya kita bisa pulang mas!”
“Nggak tau Nov, mikirnya nanti aja , pokoknya malam ini kita harus punya tempat untuk berlindung, karena hari semakin menjelang gelap Nov”
“Kita ke rumah yang paling dekat dengan sungai saja…”
Dalam mimpiku aku pernah ada di sana, tapi semoga saja mimpiku salah.
Tapi untuk saat ini ada yang mengerikan di depan rumah itu… ya, di tiap rumah yang ada disini selalu ada mayat yang sedang duduk di halaman rumahnya.
“Nov. abaikan mayat yang sedang duduk itu.. Kita coba cari tempat yang bisa kita gunakan untuk berlindung hingga besok harinya kita bisa pergi dari sini”
“I..iya mas…. Tapi di depan rumah itu kan ada mayatnya mas, eh di dalam apa gak ada mayatnya mas?”
“Aku ragu Nov, tapi gini aja, kita atur otak kita Nov, ingat mayat adalah benda mati yang tidak bernyawa, sehingga tidak akan berbahaya bagi kita Nov, coba kita atur pemikiran kita seperti itu dulu”
“I..iya mas, mayat adalah benda mati yang tidak akan bisa menyakiti kita mas..”
“Ya sudah, sekarang kita coba masuk ke dalam rumah itu Nov”
Cahaya senter menerangi halaman rumah yang ada di depanku….
Di halaman rumah ada sesosok mayat yang memakai pakaian kemeja lengan panjang dan celana panjang, sedangkan kepala mayat itu lagi-lagi terpotong sebatas lehernya
\===============
Mohon maaf sebelumnya, karena kesibukan saya yang menjadi-jadi hingga dua minggu kedepan, sehingga mengakibatkan saya belum bisa update novel ini secara berkala terus menerus.
Terima kasih
Mbak Bashi
__ADS_1