
Kami naik bus kecil yang menuju ke arah terminal, tadi juga ibu pemilik warung itu bilang kalau bus yang kami naiki ini tujuannya ke arah terminal besar.
Bus kecil atau micro bus ini penuh, aku dapat posisi duduk di dekat pintu keluar yang di depan, sedangkan Novi ada di sebelahku, Gilank ada di belakang, soalnya di depan dia gak dapat tempat duduk.
Heheheh tadi aku sempat tanya kepada Gilank…. Kenapa tadi kok dia celingukan dan kayak ketakutan gitu.
Awalnya dia diem aja, tetapi setelah aku paksa, dia hanya menunjuk ke arah ibu-ibu pemilik warung di pojokan yang marah sambil muntah-muntah.
Memangnya ada apa Lank, dia jawab… aku tadi ngising disana Willl. Mencret sisan!.
Bus kecil yang sejenis dengan hey tayo ini mulai meninggalkan terminal menuju ke terminal besar sebagai tujuan akhir dari perjalanan bus.
Selama perjalanan bus ini menaikan dan menurunkan penumpang, perjalanan menuju ke terminal ternyata jauh juga, dan supir bus ini gila juga…
Supir bus ini menyetir bus dengan kecepatan tinggi, miring kiri dan kanan, salip, serobot, hingga makan marka jalan sebelah kanan juga dilakukan.
“Mas WIl, pegangan yang erat”
“Iya Nov, ngeri juga bus ini, bisa miring-miring gini kalau mendahului kendaran yang ada di depannya”
“Mas Wil, mas Gilank ada dimana mas?”
“Tadi sih dia ke bagian belakang Nov, tidak tau lagi dia sekarang duduk dimana”
Duh, kayaknya ada yang gak beres dengan bus ini, ndak tau kenapa perasaanku dari setelah ngobrol dengan pak Tejo bisa merasakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi.
Atau aku terlalu hati-hati sehingga aku memikirkan segala yang ada di sekitar sini?”
Aku pegangan pada list jendela bus, tapi percuma juga lis jendela bus ini tidak begitu kuat menahan tubuhku apabila ada sesuatu yang terjadi.
Tapi ternyata hingga bus masuk terminal besar, tidak ada yang terjadi dengan kami sama sekali.
Berarti itu hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan menyikapi keadaan disini.
Perjalanan dari terminal desa hingga ke terminal besar ini sekitar satu jam tiga puluh menit. Sekarang kami ada di sebuah terminal besar, dan setelah itu kami harus mencari bus yang menuju ke kota kami.
“Mas Gilank mana mas Wil?”
“Waduh nggak tau, kayaknya dia tadi sudah keluar kok….”
__ADS_1
Kami ada di pinggir terminal bus, yang saat ini keadaanya sedang ramai. Ramai dengan bus besar yang seliweran masuk dan keluar terminal.
Aku dan Novi celingukan mencari Gilank….
“Mas Wil…. itu mas Gilank, dia ada di tengah jalan! … tengah jalan tempat bus keluar dari terminal dengan kecepatan tinggi!”
“WOOOI LAAANK!”
“Dia gak dengar mas…..apa yang dilakukan mas Gilank disana, diantara seliweran bus yang berangkat ke luar terminal”
“Ada yang ndak beres ini Nov, kamu tunggu dulu disini, aku mau ke sana!”
Setengah berlari aku menuju ke arah Gilank yang saat ini seperti orang yang kebingungan, dia menoleh ke kiri kanan, dia tidak memperhatikan bus yang melaju dan membunyikan klakson yang begitu keras!
Aku rasa ada yang sedang mempengaruhi jalan pikiran Gilank, sehingga dia menjadi tuli dan buta dengan keadaan sekeliling.
Gilank ada di depanku sekitar sepuluh meter lagi, aku terus teriak kepada Gilank agar dia segera minggir dari sana, tetapi dia sama sekali tidak mendengar teriakanku, mungkin teriakanku kalah dengan suara deru mesin dan klakson bus yang terus berbunyi.
Tetapi ada yang aneh…..
Aku berhenti berlari…
Gilank tidak ada di depanku!... tidak ada GIlank atau siapapun..
Sekarang aku yang sedang dalam bahaya! Aku berada di tengah jalan terminal yang padat dengan bus besar yang datang dan pergi.
Suara teriakan petugas melalui pengeras suara terus meneriakan aku agar pergi dari sini. Sekarang aku baru menyadari bahwa aku telah terperdaya oleh sesuatu.
Di kejauhan Novi berteriak ndak jelas sama sekali, dan sekarang Gilank sedang ada bersama Novi, mereka berdua memberi aba-aba agar aku minggir dari tengah jalan segera.
Mereka berdua bersama satu petugas terminal yang meneriaki aku agar segera pergi dari sini.
*****
“Apa yang ada di pikiranmu mas, kamu bisa mati disana!” kata petugas itu ketika aku sudah ada di pinggir terminal
“Saya tidak tau pak, tadi saya cari teman saya ini, dan kemudian saya lihat teman saya ada di sana, makanya saya datangi teman saya disana”
“Temanmu dari tadi ada di sini, bersama mbak ini!” kata petugas itu kemudian pergi dari depan kami bertiga
__ADS_1
Aku hampir celaka, aku hampir mati, bagaimana aku begitu bodohnya tidak berpikir cepat bahwa itu tidak mungkin Gilank.
“Mas Wil, dari tadi Novi dan mas Gilank teriak-teriak apa mas Wildan nggak dengar?”
“Sebentar Nov, tadi yang terjadi dengan aku bagaimana?”
“Tadi ketika mas GIlank datang ke sini, tiba-tiba mas Wildan pergi ke sana, Novi nggak tau kenapa dan apa alasanya mas WIldan tiba-tiba ada di tengah jalan itu!”
“Bukannya tadi kamu juga bilang kalau Gilank ada disana Nov?”
“Nggak lah mas, dari tadi juga mas Gilank ada disini kok, mas Wildan aja yang tiba-tiba pergi berlari ke tengah jalan”
Aku duduk di kursi terminal… nggak tau apa yang barusan aku lakukan..
Apakah sebegitu hebatnya para setan yang ada di lembah mayit untuk membunuh kami, dan sekarang yang menjadi incaran adalah aku, bukan Novi atau bukan juga GIlank.
Tapi yang penting aku masih selamat, dan benar kata pak Tejo, kita harus lebih peka untuk merasakan apa yang ada di sekitar kita.
Kita harus bisa merasakan sesuatu yang menyesatkan kita, tadi sebenarnya aku sudah curiga, kenapa kok bisa-bisanya GIlank ada di tengah jalan, harusnya akal sehatku bekerja dan mengatakan bahwa itu hanya ilusi saja.
“Ayo Nov Wil, itu bus yang ke arah S, kita naik bus itu saja”
Sebuah bus ekonomi ac yang sudah mulai penuh sedang siap untuk berangkat, tapi aku masih trauma dengan keadaanku barusan, jadi ketika GIlank bilang bahwa itu adalah bus yang akan kita naiki, aku agak gimana gitu.
“Yakin kita mau naik yang itu?”
“Iya Wil” sahut Gilank
“jangan … cari bus lain aja, aku nggak mau naik yang itu”
“Kenapa mas Wil?”
“Nggak papa Nov, kita cari bus lain aja, atau nunggu yang akan datang lagi aja”
Aku hanya diam saja, karena memang nggak ada alasan yang realistis tentang kenapa aku nggak mau naik bus itu. Tidak tau pokoknya aku merasa jangan naik bus itu.
Atau bukan naik bus itu, tapi eh…
Sebentar, karena dari ketika kita ada di pasar.. Kejadian demi kejadian selalu diawali oleh Gilank. Atau apakah adanya penolakan dari diriku dikarenakan hal yang berkaitan dengan Gilank?
__ADS_1
Aku harus lebih bisa menimbangi apa yang ada di dalam perasaanku, dan kemudian harus aku hubungkan dengan akal sehatku, sehingga aku bisa memahami apa yang akan aku lakukan.