
Hujan masih deras, angin masih bertiup kencang yang mengakibatkan suhu udara makin, kabut tebal bergerak cepat mengikuti hembusan angin yang kencang. Tidak ada Tifano, tidak ada suara minta tolong…..
Aku hanya tertunduk di bawah guyuran hujan.. Aku gak berani bergerak sama sekali karena dahan dan ranting pohon pohon besar yang ada di tiap pekarangan rumah bergerak dengan liar…
Ketika dalam keadaan seperti ini aku baru ingat kepada Tuhan, dan satu-satunya pertolongan hanya dari Tuhan saja.
“Ya Allah… tolonglah hambamu ini ya Allah”
Kabut pekat berangsur angsur menipis dan akhirnya hilang terbawa angin kencang…. Tetapi hujan dan angin kencang masih berlangsung….
Aku tidak menoleh ke belakang, aku langsung lari menuju ke rumah… aku sudah tidak peduli lagi dengan Tifano, pokoknya selamatkan diri dahulu!
Dingin menggigil tidak aku rasakan lagi, pokoknya lari menuju ke rumah.
Kubuka pintu rumah yang tertutup rapat, udara hangat dari perapian menyambutku….
Dalam keadaan basah kuyup langsung aku menuju ke tungku api.
“Mas Tifano mana mas WIldan” tanya Novi yang sedang duduk di lantai rumah yang sudah di lapisi pakaian bekas
“Nggak tau N..Nov… k…keadaan m..men…menjadi kacau.. Bbbrrrr” aku menggigil kedinginan
“Lepas pakaian mu dulu mas.. Ini Novi sudah siapkan pakaian buat mas WIldan”
Novi ternyata sudah menyiapkan semuanya… mulai pakaian bekas yang akan kami gunakan pelapis lantai tanah, dan kemudian pakaian yang akan aku gunakan….
“Nggak usah Nov, kan aku ada pakaian di dalam tas ranselku.. Aku pakai pakaianku saja daripada pakaian yang ada di kamar itu”
Novi masih duduk di lantai yang beralaskan pakaian bekas, dia hanya diam dan melihat aku yang sedang kedinginan tanpa ada pertanyaan lebih lanjut tentang Tifano.
Kuambil air minum hangat yang memang sebelumnya sudah aku dan Tifano buat ketika aku dan Tifano datang kesini sebelumnya.
“Kenapa kamu diam saja Nov? Nggak tanya ada apa dan gimana Tifano hilang?”
“Nggak mas WIl…paling juga sama aja dengan yang lainnya”
“Kamu masih kedinginan Nov, disini kan hawanya lebih hangat dari pada di luar sana?”
“Nggak mas, udah hangat kok mas”
Ada yang aneh sama Novi, dia menjawab semua pertanyaanku dengan biasa, tidak berekspresi, beda dengan Novi yang biasanya aku temui penuh dengan semangat dan penuh perhatian dan berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menjamah atau melakukan suatu tindakan.
“Wajah kami masih pucat kayak kedinginan gitu Nov”
__ADS_1
“Nggak papa mas.. Lebih baik mas Wildan istirahat tidur dulu, besok usahakan bisa pergi dari sini mencari pertolongan, karena teman-teman mas Wildan pasti membutuhkan pertolongan”
“Apa… kamu bilang apa Nov?” kuperhatikan Novi yang dua meter di depanku dengan lebih detail
“Kamu tadi bilang apa Nov, temanku butuh pertolongan? Memangnya mereka sekarang ada di mana semua?”
“Novi nggak tau mas, pokoknya besok mas WIldan segera cari jalan keluar dari desa ini, dari pada mas Wildan terjebak disini dan tidak bisa keluar untuk selamanya”
Kata-kata Novi sangat mengerikan, seakan akan ada sesuatu yang dalam dan hitam yang terjadi disini, seolah aku adalah satu satunya orang yang bisa menolong teman-temanku… lha terus Novi yang sudah berjambang dan berjenggot itu ngapain?
Cara bicoro dia juga agak aneh, tidak seperti biasanya…. Tapi ah sudahlah, aku sudah mulai ngantuk setelah makan singkong bakar.
Kulihat jam tangan Ivon yang ada di pergelangan tanganku.. Hmm ada kompasnya, lumayan bisa digunakan untuk penunjuk arah mata angin.
Kulirik Novi.. dia masih ada di sebelahku, wajah dia dan mata dia tidak pernah lepas dari aku, tapi bukan wajah yang selalu ngatjeng seperti Novi selama ini. Wajah dia lebih ke tanpa ekspresi dan tenang… dah itu saja.
Kulihat jam tanganku… ternyata baru puku delapan malam…
Di luar suara hujan masih bergemuruh disertai oleh suara hembusn angin, untungnya rumah ini didesain sedemikian rupa, sehingga aman dari sapuan angin kencang.
Hanya saja beberapa kali angin masuk melalui atas rumah yang berlubang.
Aku ngantuk…..
BRAK.. BRAK..BRAK..BRAK..BRAK……..
Aku terbangun ketika kudengar suara brak berulang kali….
Kutoleh kanan kiri…gelap….. Novi tidak ada di sebelahku.. Sedangkan api tungku kompor sudah tidak nyala, hanya tinggal bara nya saya yang masih nyala memerah.
“Nov… kamu di mana?”
BRAK.. BRAK..BRAK..BRAK..BRAK……..
Suara brak brak itu masih terdengar, dan kelihatannya suara itu berasal dari kamar tempat tumpukan pakaian dan rambut.
Aku masih terdiam duduk di tengah ruangan rumah yang suhu udaranya semakin dingin, dan agak mengerikan daripada sebelum aku tidur, karena api yang ada di tungku itu sudah mati…
“Nov.. kamu diman Nov, jangan main-main donk!”
Tidak ada sahutan dari Novi..udara semakin dingin karena ternyata angin di luar rumah masih bertiup kencang.
Aku mengambil beberapa ranting dan dahan yang banyak menumpuk di pojokan dalam rumah… segera kumasukan ranting kering dan dahan pohon kering ke dalam tungku api.
__ADS_1
Udara hangat keluar dari tungku pembakaran, dan cahaya api dari tungku itu menerangi keadaan ruang tamu rumah ini lagi
“Kamu dimana Nov.. ayo jangan main -main”
Tidak ada suara sahutan dari Novi… suara brak-brak itu masih terdengar kencang…itu pasti suara jendela kamar yang terbuka karena terkena angin kencang diluar.
Aku berdiri dan menuju ke arah kamar yang berisi tumpukan pakaian bekas.. Sebenarnya aku takut juga untuk ke sana, karena keadaan disana gelap gulita.
“Disana kan masih ada beberapa obor… aku gunakan saja salah satu dari obor itu”
“Lumayan.. Bisa untuk nerangi kamar yang mengerikan hehehe”
“C*k.. masih tengah malam ini asyuuu!” jam tanganku menunjukan pukul 23.50
Pintu kamar yang hanya berupa kelambu yang sudah usang aku sampirkan ke samping… dengan obor di tangan aku masuk ke kamar yang gelap…
“C*k.. ternyata bener… jendela kamar ini terbuka… hmm apa Novi pergi dari rumah in melalui jendela ini ya?”
Aku injak injak saja pakaian dan potongan rambut yang teronggok di tengah kamar untuk menutup jendela yang terbuka karena angin kencang dari luar.
Krek…. Krek… suara yang muncul ketika aku menginjak tumpukan pakaian yang ada di dalam kamar.
“Suara apa lagi itu… hadeeeehh, kenapa ada suara aneh di tumpukan pakaian bekas ini c*k”
Segera aku raih daun jendela yang keadaanya terbuka karena terpaan angin kencang…… dan ternyata hujan masih saja turun meskipun tidak sederas tadi…
Kabut.. Kabut itu datang lagi, kabut pekat yang terbawa angin itu datang lagi, dan sebagian masuk kelalui jendela yang terbuka ini.
“Sik sik… tadi aku sempat lihat ada bayangan manusia di tengah kabut, tapi bayangan itu tidak sendirian, yang tadi aku sempat lihat ada beberapa bayangan yang sedang berjalan ke arah desa”
“Tapi sekarang bayangan itu sudah tidak ada… sudah hilang!”
Kenapa tiap ada kabut pekat, selalu ada bayangan yang mengikutiknya… apakah aku harus mengikuti bayangan itu untuk mencapai dimana temanku berada.
Yang ada hanya kabut yang sangat pekat saja.. Dan kabut itu lambat laun hilang, kemudian berganti dengan kabut tipis yang selalu ada di desa ini
Apa tadi Novi keluar lewat jendela, tapi ngapain juga dia keluar, dan tujuannya ke mana?
Setelah aku tutup daun jendela, aku kembali lagi ke tengah rumah yang hawanya mulai hangat lagi, aku duduk sendirian sambil memperhatikan seluruh ruangan yang ada di depanku.
Api obor sudah aku matikan, penerangan satu-satunya sekarang berasal dari tungku masak, tidak ada yang aneh di sekitar rumah ini, semua masih seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah sama sekali kecuali Novi yang tiba-tiba hilang.
Rasa kantuk sudah mulai hilang, aku penasaran dengan suara krek, ketika ku injak itu… suara seperti sesuatu yang rapuh tapi keras….
__ADS_1