
Mayat yang digantung itu belum lama mati, belum keluar bau busuknya. Yang ada disini adalah bau anyir darah dan bau daging yang terbelah dari bagian perutnya.
Aku sebenarnya mual dan takut, tapi aku anggap ini hanya sebagai permainan saja, sehingga aku sedikit tidak terganggu dengan mayat yang tergantung terbalik ini.
“Mas, kepala mayat ini dimana?” bisik Novi
“Nggak tau Nov, dan aku nggak mau tau dimana kepala mayat ini, permainan ini semakin menyeramkan Nov”
“Coba di kamar sebelah mas, siapa tau di kamar sebelah ada sesuatu lagi”
“Kamu ini psikopat atau apa sih Nov, kok kamu sekarang mau carik mayat lagi?”
“Nggak papa kan mas, namanya juga penasaran, apa saja yang disuguhkan pemilik permainan ini agar kita merasa ketakutan mas hihihihi”
“Ya nggak gitu juga Nov, maksudku ngapain juga kita perlu tau siapa lagi yang mati, dari kemarin kita sudah banyak berhubungan dengan mayat dan sejenisnya disini”
“Ya sudah, ayo kita ke sebelah, siapa tau di sebelah ada yang sesuai dengan pikiranmu Nov”
Gorden aku tutup lagi, terus terang aku malas ke kamar sebelah, karena pasti akan menemukan sesuatu yang aneh lagi. Kubukan gorden kamar sebelah….
Bau busuk, tapi bukan bau bangkai, lebih ke bau busuk mirip dengan bau kotoran dari binatang langsung menyeruak ke hidungku.
Aku nyalakan korek api yang tadi kubawa,
Masyaallah, di dalam sini ada beberapa ember plastik, dan di dalam ember itu terdapat jeroan atau organ dalam, dan di lantai kamar berserakan kotoran atau tai, kayaknya kotoran itu berasal dari usus besar yang ada di dalam ember.
Ada tiga ember yang masing-masing berisi usus besar dan usus kecil yang ukuranya panjang, kemudian ember berikutnya berisi paru, jantung dan sejenisnya, dan yang ketiga ini mengerikan, berisi kepala manusia yang sudah terbelah, otak kepala itu disisihkan di sebuah talenan dari kayu.
“Ayo kita pergi dari sini Nov, perutku mual sekali”
“Mas, bukanya ini hanya permainan, tapi kenapa di depan kita ada mayat dengan kondisi seperti ini mas?”
“Sudah tidak usah dipikir lagi Nov, kita pergi dari sini aja, ini sudah keterlaluan untuk sebuah permainan Nov”
__ADS_1
“Apa yang ada di dalam otak orang yang menjagal manusia itu, kenapa sampai dia memisahkan jeroan manusia dan memisahkan organ tubuh manusia itu di beberapa ember”
“Hehehehe mungkin dia punya usaha jualan kuliner soto daging Nov, hanya saja tidak menggunakan daging sapi atau kambing, melainkan daging manusia hehehe”
“Kita sekarang mau kemana mas?”
“Nggak tau Nov, kita coba melintasi hutan saja, siapa tau di hutan itu ada jalan keluar dari sini”
“Jangan mas, kita coba seperti yang mas bilang, kita ke telaga atau ke lapangan yang ada tumpukan batunya itu”
“Nggak usah Nov, kita lari ke hutan saja, aku rasa kita akan mati kayak gitu apabila kita tidak cepat pergi dari sini”
“Teman kita yang lainya gimana mas, apa kita tidak cari mereka?”
“Gak usah Nov, kita cari selamat sendiri-sendiri saja.
Aku dan Novi sudah ada di luar rumah pak Dikan, ketika kami hendak jalan menuju ke tujuan kami yaitu tempat yang dilarang dan katanya keramat itu.
Tapi itu kan perkiraanku saja, kalau disana ada sesuatu, atau tempat yang bisa kita gunakan untuk melarikan diri dari sini, aku kan hanya menebak saja.
Tapi si Novi sudah terlanjur percaya dengan apa yang aku katakan bahwa ini semua adalah hanya permainan saja, dan pasti ada sebuah tempat dimana sesuatu atau orang itu mengontrol permainan ini.
Kami berdua masih ada di depan rumah pak Dikan, dan aku belum berani untuk menjelajahi desa ini, aku masih terlalu takut untuk berjalan di sekitar sini mengingat ada sebuah mayat yang terpotong dan terbelah.
“Ayo kita jalan mas, percuma juga kan kita ada disini, kita kan juga tidak tau kita akan ke arah mana dan menuju ke mana”
“Jadi ya ayo kita ke lapangan dan ke telaga disana saja mas, siapa tau ada suatu petunjuk yang bisa kita gunakan untuk pergi dari sini”
“Ya sudah Nov, ayo kita jalan saja dari pada disini mengerikan disini”
Aku putuskan untuk jalan menuju ke entah kemana, pokoknya sekarang tujuan kami ke lapangan dan ke telaga, nanti setelah dari sana kita tidak tau mau ke mana, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya
Aku gak mau ke rumah yang ada di belakang rumah pak Dikan, tempat kami menginap ketika sampai disini sebelumnya, karena pasti disana juga ada pemandangan yang mengerikan, apalagi di kamar mandi yang letaknya ada di belakang itu.
__ADS_1
Desa ini sangat sepi, tidak ada seorangpun selain aku dan Novi saja, tidak ada suara apapun disekitar sini, hanya ada kabut tipis yang selalu melayang.
Setelah beberapa belas meter kami jalan, jauh di depan kami mungkin sekitar tiga puluh meter sudah terlihat lapangan yang di tengahnya ada tumpukan batu.
Tapi kali ini dari kejauhan aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya…..
“Nov…..yang di kejauhan itu apa, yang ada di sekitar lapangan itu?”
“Gak jelas mas, soalnya disini banyak kabut… tapi yang jelas Novi lihat sesuatu yang mirip dengan tiang tiang mas. Ada beberapa tiang disana mas”
“Eh kamu liat ada seseorang disana nggal?”
“Nggak ada siapa-siapa disana mas, apa mas Wildan melihat ada orang di lapangan itu mas?”
“Kayaknya tadi aku sempat lihat Nov, cuma karena terhalang kabut akibatnya aku gak bisa melihat dengan jelas Nov”
“Kita jadi ke sana atau tidak mas?”
“Ayo kita ke sana saja Nov…. aku kok penasaran dengan masa yang ini hehehe”
“Tapi kita jangan jalan di tengah Nov, kita agak melipir saja, siapa tau ada yang bahaya disana, jadi kita bisa sedikit aman”
Meskipun aku tidak bisa melihat dengan jelas, tetapi aku merasa yang ada di depanku itu berbahaya dan harus kami hindari. Tetapi tidak tau gimana perasaan keingintahuanku membuntu otakku.
Aku merasa aku harus ke sana dan lihat apa yang ada disana.
Kami terus jalan menuju ke arah lapangan, dan ternyata dari tempatku berdiri disana tidak ada seorangpun seperti yang tadi aku sempat lihat, mungkin mataku salah lihat tadi itu.
Hanya saja…
“Stop Nov….. itu tiang-tiang itu, itu tiang untuk menggantung.. Dan ada sesuatu yang tergantung di bawahnya Nov..”
Novi tidak menjawab apa yang aku katakan, tetapi dia berusaha melihat sesuatu yang ada di bawah tiang tiang itu. Perasaanku jadi gak enak.
__ADS_1
Jangan-jangan yang ada di bawah tiang itu bukan seperti yang aku pikirkan!