
Pak Dikan keluar dari rumah, kemudian Broni buru-buru menutup pintu depan, karena suhu udara di luar semakin dingin, dan kami tidak ingin udara dingin yang dari luar itu masuk ke dalam sini.
Sejauh sore ini tidak ada yang aneh sama sekali, rumah yang kami tempati ini agak kotor, ya maklum karena sudah lama tidak dibersihkan.
Tikar yang ada di pojokan ruangan sudah kami gelar di ruang tamu, lumayan untuk melapisi lantai yang sangat dingin pastinya.
“Rek, gak ada yang punya keinginan untuk mandi atau nguyuh ( kencing ) ta?” tanya Broni
“Iya mas.. Ayo kita kamar mandi mas, sekalian lihat keadaan disana” jawab Novi
“Wil…. perasaanku kok gak enak ya” kata Bondet yang baru saja selesai ngobrol dengan Ivon
“Ojok kebawa perasaan Ndet hehehe gak baik, mendingan kita ke belakang saja dulu, lihat keadaan kamar mandi, siapa tau ada yang butuh nguyuh atau ngising ( kencing atau be’ol)”
Rumah ini mempunyai dua pintu, pintu depan dan belakang, yang pintu belakang dari tadi dalam keadaan tertutup, pak Sudikan belum membuka pintu belakang itu untuk kami.
Saat ini Broni sedang berusaha membuka pintu belakang, slot pintu itu sulit untuk dibuka, mungkin karena sudah lama pintu itu tidak dibuka sama sekali.
“C*k Bantu aku… uugh dorong pintu ini.. Slot penguncinya sudah bisa aku buka, tapi kayaknya engsel pintu ini sudah karatan, sehingga sulit untuk didorong”
“Mungkin ada sesuatu yang menghalangi atau mengganjal di luar sana Bron, jangan dipaksa dorong Bron, nanti pintu ini jebol…. Lebih baik kita ke memutar ke belakang saja, kita tarik dari belakang”
“Ayo wil tak antar ke belakang” kata Tifano
Aku menuju ke belakang bersama Tifano dengan memutar dari depan menuju ke belakang. Pekarangan rumah ini lebar dan posisi rumah ini ada di tengah-tengah pekarangan.
Suhu udara di luar memang jauh lebih dingin daripada ketika kami datang tadi siang, meskipun saat ini masih sore tetapi sinar matahari terhalang kabut, sehingga keadaan disini agak gelap.
“Wil… sangar c*k.. Adem e gak aturan c*k ( dingin sekali c*k)”
“Sstt jangan misuh disini Tif heheheh.. Ayo kita ke belakang sana”
Sama seperti di mimpiku, kabut tipis menyelimuti area sini, sehingga untuk sore hari ini jarak pandangku mungkin hanya sekitar lima hingga tujuh meter saja.
Kami berjalan dari depan rumah menuju ke samping rumah…
Pekarangan disini tidak banyak ditumbuhi tanaman liar, yang ada hanya tanah dan beberapa tanaman bunga kenanga, dan beberapa tanaman yang aku nggak tau namanya, dan ada satu pohon mangga yang besar.
Setelah berjalan mengitari lahan samping, sekarang kami ada di samping belakang rumah…. Pekarangan di belakang ini agak mengerikan… karena kabut dan sejauh memandang yang ada hanya kabut dan pepohonan saja.
“Eh Tif, kayaknya yang ada di belakang itu hutan ya…?”
“Iya Wil, berarti belakang rumah ini hutan.. Lha terus dimana sumur dan kamar mandinya hehehe?”
__ADS_1
“Ya di sana Tif, kita gak jelas lihatnya, karena terhalang kabut…. Ehm tapi kayaknya yang ada disana itu Tif, itu yang tepat di belakang ruman ini” tunjukku ke arah tepat di belakang rumah
Yang bisa aku lihat saat ini adalah ujung bayangan pohon-pohon besar yang berjajar beberapa belas meter di belakang rumah.. Dan aku yakin itu adalah hutan.
Sedangkan kamar mandi rumah ini benar kata pak Sudikan, agak jauh di belakang ada sebuah bangunan berbentuk kotak, tapi aku masih kurang jelas lihatnya, karena terhalang kabut yang tadinya hanya tipis tetapi sekarang semakin tebal.
“Ke kamar mandinya nanti saja Tif, kita bantu tarik pintu ini dulu saja… agar kalau ke kamar mandi kita gak kesulitan”
“Iya wis Wil.. padahal dari tadi aku wis kebelet nguyuh c*k”
“Huush.. Ojok misuk c*k Tif.. Ingat kata pak Dikan su!”
“Asu opo ae Wil, kamu dewe ya misuh c*k!”
Kami yang masih ada di samping belakang rumah kemudian berjalan menuju ke tepat belakang rumah. Dan ternyata keadaan pintu rumah bagian belakang ini seperti yang aku kira sebelumnya.
“Tif… kok aneh ya.. Kenapa pintu bagian belakang ini di palang kayu kayak gitu Wil”
“Iyo Wil, ya pantas aja gak bisa dibuka dari luar, meskipun dorong sampek metu boolmu ya gak akan bisa terbuka pintu itu Tif”
“Kok pak Dikan gak bilang kalau bagian belakang pintu ini dipalang kayu ya?”
“Mbuh Tif….”
“BROOON.. PINTUNYA DIPALANG PAKEK KAYU.. GAK AKAN BISA DIBUKA C*K!” teriak Tifano
Aneh, kenapa pintu bagian luar ini dipalang kayu dan dipaku segala ya.. Dan kenapa pak Dikan gak bilang kalau pintu ini gak bisa dibuka…
Ah taek lah, aku malas berpikir jauh.. Lebih baik balik aja ke dalam rumah.
“Ayo Tif kita balik ke dalam saja”
“Sik Willl.. Anter aku ke kamar mandi dulu, aku wis gak kuat ini WIl”
“Ayo wis.. Sekalian aku juga mau pipis Tif”
Kami berjalan menuju ke bangunan kecil yang pasti itu adalah kamar mandi, letak bangunan kecil itu memang agak jauh dari rumah, heran juga kenapa bangunan kamar mandi itu letaknya agak jauh dari rumah, kenapa gak dibikin tepat di belakang rumah saja sih.
Kabut sore hari masih mengambang, suhu udara masih dingin, tetapi untungnya cahaya matahari masih bisa menyinari area ini, sehingga aku gak begitu khawatir.
Bangunan segi empat yang dindingnya terbuat dari semen, berbeda dengan rumah yang kami tinggali karena dindingnya terbuat dari kayu.
Dinding kamar mandi ini terbuat dari semen yang cat putihnya sudah tidak nampak lagi, karena terkelupas dan sudah ditumbuhi lumut.
__ADS_1
Sebagian dindingnya juga sudah retak dan jebol, mungkin karena kualitas campuran semen dan pasir yang tidak seimbang, tapi itu gak penting, yang penting adalah ini adalah kamar mandi yang bisa kami gunakan untuk ngising dan nguyuh!.
Atap kamar mandi ini hanya dari seng yang sudah berkarat dan sebagian sudah berlubang karena usia.
Pintu kamar mandi itu dalam keadaan tertutup… pintu kamar mandi yang terbuat dari kayu yang sebagian kayunya sudah rusak jebol.
“Heheheh ini kamar mandine Tif, lha itu ada sumur tepat di sebelahnya..,ayo buka pintunya Tif”
“Anc*k Wil.. syerem c*k.. Kamu ae sing buka pintunya Wil”
“Sing perlu ke sini sopo Tif heheheh… “
“Ya kamu kan juga perlu ke sini Wil.. ayo bukaen pintunya ta lah”
“Asu raimu Tif… gini ae gak berani c*k”
Dengan ucapan bismillah aku buka pintu ruangan kamar mandi ini..
Uuhgh agak berat dan mengeluarkan suara krieeettt…yah mungkin karena engsel pintu kamar mandi itu sudah lama tidak bibuka.
“Uuugh bau busuk…” gumam Tifano sambil menutup hidungnya
“Ini bau pengab Tif….karena sudah lama gak dibuka Tif, bukan bau busuk.. Ayo sana kamu kencing dulu, nanti gantian”
“Sik Tif.. itu bak mandinya kayaknya kosong.. Jadi kita harus isi pake air sumur dulu harusnya”
“Ah gak usah Wil… syerem c*k kalau harus liat lubang sumur yang gelap dan dalam c*k”
“Yo terserah kamu Tif.. aku sih belum terlalu kebeler kencing, jadi aku gak usah kencing juga gak papa”
*****
“Kalian sudah kencing disana?” tanya Broni
“Iya Bron… “
“Trs gak kamu siram Tif?”
“Ya Gak Bron.. airnya kan gak ada” jawab Tifano
“Goblok c*k… nek ada apa-apa gimana\, nek misal kuntilamu putus gimana C*k!” kata Broni
“Kamu juga Wil?” tanya Broni
__ADS_1
“Aku nggak lah Bron.. kan gak ada airnya, mending nanti malam kencing di rumah pak Dikan aja waktu kita makan malam di sana”
“Ini Novi, Ivon, dan Bondet ke rumah pak Dikan,mereka numpang kencing disana, karena mereka sudah kebelet dan kalian belum datang juga dari belakang, mereka pikir kalian pasti lagi antri kamar mandi di belakang sana”