
“Pilih makan atau kelaparan?” tanya Bondet
“Pilih makan, tapi jangan yang ada kain putih terlilitnya” jawab Novi
“Nggak ada Nov, kayaknya sepengetahuanku dan mas Wildan, mulai dari mas Broni yang sempat terperosok, selalu Ivon lihat ada secarik kain putih…. Dan waktu kita ada di pinggir sungai, di dinding tanah juga ada tersembul kain putih juga” kata Ivon
“Trs gimana ini rek.. Kita makan atau tidak singkongnya?”
“Bersihkan dulu aja Wil, trs taruh sini dan sebagian kita bakar, terserah ada yang mau makan atau tidak” jawab Bondet
“Ya sudah, berarti gak ada yang mau makan ya, atau kita cari bahan makanan lain disini?”
“Kita jalan saja mas Wildan, tapi tunggu dulu, Ivon sedang rebus air untuk persediaan kita minum, eh atau kita sekarang aja pergi dari sini?” tanya Ivon
“Sekarang ae Wil.. aku makin ngeri ada di sini” jawab Tifano
“Tif… dulu kita kan lebih ngeri dari pada ini”
“Iya Wil… tapi kan gak ada yang kayak gini, ini kan kita gak tau apa dan siapa yang akan melakukan sesuatu kepada kita Wil” jawab Tifano
“Gimana yang lainya, kita pergi dari sini sekarang atau gimana?”
“Kita pergi sekarang cari jalan keluar dari sini saja mas Wil…. Novi udah gak betah dengan dinginnya udara di sini… lagipula suasana di sini mencekam sekali”
Akhirnya kami putuskan untuk pergi dari sini sekarang, tungku api kami matikan, air rebusan yang berasal dari air hujan itu ditinggal begitu saja, begitu pula dengan singkong yang tadi kita ambil. Ditinggal begitu saja di depan rumah.
“Kita coba ke jembatan dulu saja rek, siapa tau kabut itu sudah menipis dan kita bisa menyeberang jembatan itu” kata Bondet
“Ya ayo kita ke sana”
Gerimis yang dari semalam hingga sekarang masih saja turun, kadang agak deras kadang hanya gerimis lembut, kabut….duuuh kabut masih saja menggantung, padahal matahari sudah terlihat naik ke atas… sudah jam sembilan lewat seperempat ini.
Dari rumah yang kami tinggali ke arah jembatan tidaklah jauh, karena rumah yang kami tinggali ini letaknya belum terlalu masuk ke dalam desa, lebih tepatnya masih di pinggiran desa.
Oh iya.. Aku baru ingat tentang semalam, ketika aku mendengar suara langkah kaki orang yang menuju ke tengah desa beserta bayangan api obor yang mereka bawa, tapi untuk saat ini aku tidak mau membahasnya, Ivon pun kayaknya gak mau bahas tentang ini juga.
“Rek…. lihat itu sungainya!” tunjuk Tifano
“Sungainya meluap… dan kabut masih saja tebal di seberang jembatan” gumam Ivon
__ADS_1
Sungai yang tidak seberapa besar itu meluap, hingga di atas jembatan…kemungkinan besar di daerah atas hujan deras dan akhirnya air sungai itu meluap… jembatan yang dari kayu itu bergoyang goyang diterjang arus sungai yang lumayan deras.
“Gimana rek…kita gak bisa menyeberang sungai.. Lagi pula kabut yang ada di seberang sungai itu masih tebal, kita gak bisa kemana mana” kata Bondet.
“Berarti hanya ada dua opsi, tinggal di desa itu hingga waktu yang kita tidak tau, atau cari jalan keluar dari sini melewati entah hutan yang ada di ujung desa sana”
“Iya Wil.. terpaksa seperti itu… ayo kita coba telusuri desa kosong ini, dan akan tembus ke hutan yang mana” jawab Tifano
Air sungai meluap tinggi, kami kembali lagi ke arah desa dengan lemas… gerimis dan hujan rintik-rintik masih saja mengawal kami, ditambah dengan kabut yang masih menggantung di sekitar kami. Kabut yang kadang tebal dan kadang tipis…
Kudekati Ivon yang wajahnya nampak tegang, aku sebenarnya ingin bicara mengenai orang yang berjalan dari arah sungai menuju ke tengah desa, tapi begitu melihat wajah Ivon, lebih baik ku urungkan saja apa yang mau aku bicarakan.
Rumah yang tadi kami tinggali sudah ada di depan mata…. Akhirnya kami melewati rumah itu dengan perlahan lahan. Batang tanaman singkong dan umbi singkong masih ada diluar.
Kami berjalan terus hingga menemui rumah yang merupakan tetangga dari rumah yang kami tinggali tadi… rumah ini tertutup rapat juga, sama saja dengan yang lainya, tertutup rapat pintu dan jendela kayunya.
“Rek.. apa rumah itu juga kosong?” tanya Tifano
“Paling ya sama aja TIf, sama kosongnya dengan yang kita tempati” jawab Bondet
Kuperhatikan jalan yang becek karena air hujan yang dari semalam turun meskipun hanya rintik rintik saja… tidak ada bekas jejak langkah kaki sama sekali di tanah yang becek ini.
Jadi jelas yang semalam bejalan beramai ramai itu bukan mahluk biasa, bisa saja mereka itu sebangsa mahluk halus yang ada di sini.
“Kita lurus aja ya rek.. Disana pasti ada jalan yang menuju hutan”
“Iya Wil.. tapi kabut di depan sana ketoke lebih tebal dari yang ada disini ya Wil”
“Dan suhu udara disini semakin dingin ya rek” sahut Bondet
“Iya Ndet… semakin kesini semakin dingin suhu udaranya”
Ketika kami akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba di depan di area yang berkabut itu aku melihat bayangan.. Eh bayangan banyak orang yang sedang saling berkomunikasi.
Aku tertegun dan terdiam, ternyata tidak hanya aku yang diam dan tertegun ketika melihat kabut yang lebih tebal di depan sana…. Yang lainya juga melihat hal yang sama dengan yang aku lihat di depan sana.
“Rek disana banyak orang, akhirnya kita bisa minta tolong rek” kata Bondet dengan tersenyum”
“Ayo kita ke sana rek” ajak Tifano
__ADS_1
Dengan setengah berlari kami menuju ke kabut tebal yang menyelimuti gerombolan orang yang ada di dalam kabut itu. Memang posisinya agak jauh dari kami berada, tetapi entah kenapa kami tetap percaya dengan apa yang kami lihat.
Kabut yang mengambang dan agak tebal dari pada yang tadi sudah kami masuki..
“Kosong?” gumam Bondet
“Dari tadi Ivon udah curiga, yang kita lihat itu bukan manusia yang sebenarnya” kata Ivon
“Gimana Wil?” tanya Bondet
“Yah kita ini kan sudah ada di ujung desa yang sebelah sini… menurutku kita tetap harus jalan terus hingga menemukan hutan yang akan membawa kita ke jalan pulang”
Kami jalan terus menerjang kabut yang agak tebal di sisi desa ini hingga kami sampai di lapangan rumput yang tidak terlalu lebar…
Ternyata akhir dari desa ini adalah pinggir jurang, untungnya si Ivon curiga dengan tidak adanya bayangan pohon seperti hutan pada umumnya.
“Ini pinggir jurang mas.. Lihat di depan sana meskipun tertutup kabut, tapi sama sekali tidak nampak Bayangan pohon besar kan” kata Ivon.
“Iya Von…. itu pasti jurang” kata Novi
Aku melihat ke sekeliling ,kutengadahkan kepalaku ke berbagai arah, ternyata desa ini ada di suatu lembah… sepanjang aku melihat sekeliling yang ada hanya tebing dengan pohon dan semak belukar saja yang ada.
Kalau kita mau keluar dari desa ini, berarti kita harus mendaki punggung tebing…
Sekarang aku benar-benar merasa takut, karena….
“Kita tidak bisa keluar dari sini, kita terjebak disini” gumam Ivon
“Di depan kita adalah jurang yang curam, setelah jurang yang curam kemudian adalah tebing yang tinggi dengan semak belukar dan pohon, apa yang harus kita lakukan ini mas?” tanya Ivon
“Harus bisa, kita harus bisa keluar dari sini, desa ini mengerikan, kita lebih baik ada di hutan sana dan jalan kaki menuju ke pemukiman daripada di desa yang tanahnya penuh dengan mayat” kata Tifano
“Ya mas…kita sudah coba untuk melewati jembatan, tetapi selalu ada halangan, kayaknya kita tidak diperbolehkan untuk pergi dari desa ini lewat jembatan itu” tambah Ivon
“Gak bisa Von.. kamu kan gak tau keadaan jurang yang ada di depan kita, nanti setelah jurang kita harus naik ke tebing itu”
“Harus bisa mas Wildan.. Ivon pokoknya harus pergi dari sini… Ivon akan ikuti arah mata angin ketika kita datang sebelumnya. Kita datang dari arah Timur, jadi kita ke arah timur untuk mencapai daerah pemukiman”
“Von, jangan nekat, kita harus sama sama, tapi Novi gak mau ikut melintasi hutan dan jurang” kata Novi
__ADS_1
“Gak bisa Nov, kita akan mati disini, kita disini sebagai tumbal, dan perlahan lahan akan mati apabila kita tidak bergerak”