TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 22. PAKAIAN BASAH


__ADS_3

Tangan kiriku sudah siap untuk membuka pintu rumah… tapi aku masih ragu, bukan ragu kenapa, tapi aku belum siap apabila melihat sesuatu yang tidak semestinya.


Tapi aku harus tau apa yang ada di luar sana….


Slot pintu yang berukuran besar dan terbuat dari kayu itu aku angkat perlahan lahan tanpa menimbulkan suara sama sekali.


Kutoleh teman-temanku yang berjajar kayak ikan pindang… bagus! Mereka masih micek dengan nyenyak.


Kutarik daun pintu ke dalam… udara dingin yang berasal dari luar masuk ke dalam dengan perlahan lahan.


“Brrr… udara di luar berarti sangat dingin…”


Perlahan lahan pintu rumah terbuka… kuintip dari  celah pintu yang terbuka…. di luar sangat gelap, gerimis dan berkabut…. Kabut tetap menggantung, kabut yang tetap sama dengan yang dari kemarin malam kami disini hingga malam ini.


Kubuka lebih lebar.. Udara dingin dan sedikit kabut mulai masuk ke dalam rumah… semakin kubuka.. Semakin lebar daun pintu itu terbuka.


….ZAAAAP!....


“AAAARRRGGHHHH….JANC****k!!!” kubanting daun pintu hingga menutup dengan keras. Kemudian aku lari ke arah teman-temanku yang masih tidur.


“Woiii Will. ada apa rek!” tanya Tifano..


Semua temanku yang tidur terbangun. Mereka semua masih setengah sadar, dan terpaksa bangun karena mendengar suara pintu yang aku banting tadi.


“C*k aneh-aneh ae koen iku Wil” kata Bondet yang dalam posisi duduk dan mata yang masih rembes.


“Ada apa mas Wil.. mas Wildan melihat sesuatu di luar sana?” tanya Novi


“I…Iya Nov…”


“Sudah..sudah mas Wildan, ingat kita ini ada di mana, dan di tempat apa, jadi jangan melakukan sesuatu yang seharusnya biasa kita lakukan di rumah kita. Anggaplah disini sesuatu yang biasa kita lakukan itu menimbulkan resiko” kata Ivon


“Lebih baik kita tidak melakukan apa-apa di sini, kita tidur saja hingga pagi, dan jangan jauh-jauh dari kita..”


“Kalau ada yang mau kencing lebih baik ditahan, atau kalau tidak kuat masukan ke botol air mineral yang masing-masing kalian bawa” kata Ivon


“Eh maaf Von kalau kita dan Novi sih bisa masukan air seni kita ke dalam botol.. Eh kalau kamu gimana Von?”


“Hehehe tenang mas Bondet, Ivon tetep bisa buang air kecil di dalam botol juga kok  hihihih”

__ADS_1


“Eh maaf Von, apakah kamu itu sama kayak Novi?”


“Ih apaan sih mas Bondet ini, nanya-nanya yang gak penting deh” sahut Novi


“Hehehe kita kan sama sama manusia mas, dan Ivon bisa menyesuaikan keadaan seperti ini, dan untuk buang air kecil dari kemarin kan udah Ivon lakukan, semua aman dan nyaman hihihi” jawab Ivon


Aku hanya mendengarkan pembicaraan gak penting Bondet dengan Ivon.. Bondet kayaknya mulai curiga dengan gender Ivon… aku gak mau mikir siapa Ivon dan gendernya apa.. Itu semua gak penting.


Apa yang tadi kulihat itu yang lebih penting.


Bayangan wajah putih menyeringai yang datang tiba-tiba dan tepat depan wajahku.. Dia datang seperti kilat, sangat cepat menampakkan diri, dan kemudian hilang lagi… tidak ada satu detik!


“Mas Wil, jangan melamun, ayo tidur dan ingat besok kita harus cari jalan keluar dari sini” kata Ivon yang entah kenapa malam ini sangat manis cara tersenyumnya kepadaku


“Eh mas Wil.. sini dekat Novi mas… Novi kan udah bertahun-tahun tidak meluk mas Wildan” kata Novi sambil merangkulku


“C*k Nov… selama kamu masih berkumis berjenggot dan berpotongan ala prajurit pembela negara, gak ada rangkul atau peluk dulu Nov”


Sisa malam aku sama sekali tidak tidur, aku masih ingat wajah mengerikan dan menyeringai yang tadi muncul bagaikan kilat, meskipun hanya sekilas dan sangat cepat, tetapi aku masih ingat wajah mengerikan itu.


Wajah putih dengan rambut acak-acakan, mata melotot, mulut terbuka dan menyeringai. Bukan wajah pak Sapudi atau pak Min…


Perlahan lahan aku akhirnya bisa tidur jugas setelah berusaha untuk membuang ingatanku tentang wajah yang kulihat di luar tadi.


*****


“AYO  BANGUN.. BANGUN..  SUDAH PAGI!” suara Ivon membahana di ruangan rumah yang tidak bisa dikatakan besar ini.


“Ayo mas Wildan, sudah pagi, kita harus cari cara untuk keluar dari sini secepatnya” lanjut Ivon


Keadaan ruangan ini lebih hangat dari pada semalam, ketika kulihat tungku perapian, ternyata nyala api lebih besar dari pada semalam, mungkin si Ivon yang menambah kayu bakar di tungku itu.


Novi sedang berdiri di ambang pintu, kayaknya dia akan membuka pintu tapi ragu. Bondet dan Tifano duduk bersila dengan keadaan yang masih ngantuk.


“Ayo beresin pakaian bekasnya. Kita kembalikan ke kamar itu lagi, pagi ini kalau bisa kita cari pohon singkong, kita makan singkong bakar saja dulu” kata Ivon yang ternyata lebih cekatan dibanding aku dan lainnya.


Keadaan di luar memang sudah tidak gelap. Terlihat dari atap rumah yang sebagian sisinya sengaja berlubang untuk keluarnya asap tungku masak, dan juga sebagai penerangan di rumah ini.


Baju-baju bekas ini kami lipat sebisa mungkin dan akan kami kembalikan ke kamar rumah yang berkelambu itu.

__ADS_1


“Nov, tolong bukakan kelambu itu, tanganku kan bawa pakaian” kata Tifano


“Halah bilang aja takut mas Tif  hehehe, takut sama yang ada di dalam kamar itu kan” jawab Novi


“Hehehe iyo Nov. ayo anter aku masuk dan taruh pakaian ini…”


Novi berjalan mendahului Tifano yang membawa sebagian pakaian yang kami pakai untuk alas tidur, Bondet juga sedang membawa pakaian yang sama dengan Tifano.


“Von.. pinjam sentermu Von.. kamar ini gelap sekali” kata Novi yang sudah membuka kelambu kamar


“Hufff kamar ini kok bau ya Nov.. beda dengan kemarin malam… sekarang kamar ini bau amis ya hehehe” kata Tifano


Ivon datang menghampiri Novi dan tifano, kemudian menyorotkan senternya di sekeliling kamar belakang…


Aku ikuti Ivon yang menuju ke kamar, karena aku penasaran dengan suara-suara semalam yang berasal dari kamar ini.


“Ya tuhan… itu ada pakaian basah Nov, apa kamar ini bocor ya atapnya..” kata Ivon sambil menyorotkan cahaya senter ke dalam kamar


“Eh bukan basah karena atap bocor itu Von, buktinya yang lainya kering, hanya pakaian itu saja yang basah…” jawab Novi


Ivon menyinari sebuah pakaian lengan panjang kotak kotak yang keadaanya basah kuyup…. Kulihat pakaian yang lainya, tidak ada yang basah, semua kering dan tidak ada yang terlihat basah.


Kulihat dengan cermat pakaian berjenis flanel kotak kotak yang keadaanya basah dan ada sedikit noda kotoran tanahnya.


Janc*k.. Aku kayaknya kenal dengan motif pakaian flanel ini…..


“Eh Von.. coba terangi pojokan yang disana itu”


“Yang mana mas Wil?” tanya Ivon


“Yang ada  rambut menumpuk itu Von.. coba terangi disana Von”


Cahaya senter police Ivon yang terang itu menyinari tumpukan rambut yang entah rambut siapa dan dari mana.


Astaga… di tumpukan rambut paling atas ada potongan rambut yang masih basah juga…


“Itu Von… ada rambut yang masih basah.. Tapi yang lainya kering lho Von”


“Mas Wil, i..itu rambut b..baru mas…. Novi tau bener mana rambut yang sudah lama dan mana yang baru digunting dari kepala orang mas” kata Novi dengan ketakutan

__ADS_1


__ADS_2