
Novi menceritakan apa yang terjadi dengan kami, ketika ada kejadian yang hampir saja membuat Novi atau aku celaka.
“Tadi kan aku sudah bilang Nov, Wil. Kalian tunggu aja disini, aku mau cari toilet untuk ngising!”
“Coba kalian tadi turuti omonganku, gak akan terjadi hal seperti ini kan rek”
“Ya tadi kita khawatir sama kamu Lank, lama sekali kamu pergi dari kami, aku kan takut ada apa-apa sama kamu, seperti waktu kita ada di pasar itu”
“Sudah mas WIl, mas Gilank. Pokoknya mulai sekarang kita lakukan bersama sama, kita saling jaga dan saling awas dengan yang ada di sekeliling kita”
*****
“Wil. sudah jam berapa ini?”
“Jam lima lebih, eh sudah hampir jam enam Lank, kenapa?”
“Itu disana sudah ada pemulung yang datang, dia mulai korek-korek sampah. Apa aku tanya ke dia bus disini datangnya jam berapa?” tunjuk Gilank pada orang yang membawa karung besar yang biasanya berisi berbagai botol plastik
“Gak usah Lank…. Kita tunggu disini saja. Paling sebentar lagi pegawai yang biasanya jaga di pos ini akan datang”
Ternyata apa yang aku perkiraan benar,
tidak lama kemudian sekitar jam enam ada seseorang datang ke arah kami, orang yang berpakaian Dinas itu sedang memarkirkan motornya tidak jauh dari pos yang sedang kami tempati.
“Selamat pagi pak” sapa Novi ketika orang itu datang ke pos
“Iya selamat pagi, kalian mau ke mana kok jam segini sudah ada di pos terminal?”
“Kami mau ke kota S pak, kami sedang menunggu bus yang menuju ke kota S”
“Kalau bus jurusan ke sana tidak disini menunggunya mas, disini cuma dilewati bus kecil dan angkot saja. Nanti sekitar jam enam ada mikrobus yang mengarah ke terminal besar, kalian bisa naik sampai disana”
“Terminal besar itu jauh dari sini pak?”
“Ya lumayan jauh mas, disini kan cuma dibilang kota kok terlalu kecil. Dibilang desa kok ya terlalu besar, jadi bus antar kota antar propinsi tidak lewat sini”
“Kalian bisa tunggu disana saja, di bangku yang itu” tunjuk bapak berpakaian dinas ini
“Nanti ada microbus yang akan berhenti di depan sana, kalian bisa naik microbus itu menuju ke terminal bus”
“Ya sudah pak, terimakasih banyak atas bantuannya”
__ADS_1
Kami berjalan menuju ke kursi yang ditunjuk oleh petugas berseragam itu, kuperhatikan di belakang kursi itu ada sebuah warung makanan yang belum buka.
Yah semoga buka sebelum ada angkot yang membawa kami ke terminal bus.
*****
Sudah sepuluh menit kami menunggu kendaraan umum yang akan membawa kami ke terminal bus. Tetapi hingga kini belum ada satu pun yang datang ke sini.
Tapi untungnya warung yang ada di belakang kami buka dulu, sehingga kami bisa sarapan sebelum perjalanan jauh.
“Mas, kita sarapan dulu aja” kata Novi berdiri dan kemudian memesan makanan dan kopi
Penjual makanan itu seorang ibu-ibu yang sudah cukup tua, tetapi dia cekatan juga, dia hanya menjual makanan ringan dan mie instan saja, tapi itu sudah cukup bagi kami untuk mengganjal perut kami.
“Kalian ini mau kemana, kok jam segini sudah ada disini?” tanya penjual makanan itu
“Kami nunggu kendaraan yang akan menuju ke terminal bus bu” jawab Novi
“Wah masih lama mbak, mungkin satu jam lagi”
“Lho kata bapak yang jaga di pos itu, katanya jam enam datangnya bu?”
“Jadwalnya memang jam enam mbak, tapi kalau jam enam ada disini tentu saja tidak ada penumpangnya mbak”
“Kami dari pasar bu” aku jawab saja apa yang ditanyakan penjual itu
“Kami bersama pak Tejo” aku jawab saja seenaknya, siapa tau ibu-ibu ini juga kenal dengan pak Tejo
“Oh kalian sama pak Tejo, naik truk tadi malam ya?
Nah kan ternyata orang ini tau siapa pak Tejo, jadi kami tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada dia
“Kalian saudaranya?” tanyanya lagi dengan wajah penuh tanda tanya
“Bukan bu, kami tadi ikut truk dia, kami jalan-jalan saja dari jawa timur sampai disini, sekarang kami akan balik pulang bu”
“Oh begitu, kasihan pak Tejo itu, saya adalah tetangga dia ketika dia masih berumah tangga dengan istrinya yang mati itu”
Nah ibu ini mulai sifat keponya, semoga Novi nggak tanya-tanya lebih lanjut lagi kepada perempuan penjual makanan ini.
“Istri Tejo mati bunuh diri, sepertinya istri Tejo sedang dirasuki setan, sehingga dia melakukan bunuh diri ketika ada di dapur”
__ADS_1
“Memangnya gimana ceritanya kok sampai istri pak Tejo bunuh diri bu, kan saat itu ada si Tedy” tanya Novi yang jiwa keponya mulai meronta ronta
“Saya tidak tau mbak, tapi dengar-dengar Tejo disuruh bosnya pemilik vila yang ada di sana itu, namanya kalau nggak salah Sareko”
“Raseko bu” koreksi Novi dengan cepat
“Ya benar Raseko, bagaimana kamu tau dengan orang sombong itu mbak?”
“Heheheh pokoknya tau lah bu, memangnya pak Tejo disuruh apa sama pak Raseko?”
“Info yang saya tau Tejo disuruh bosnya untuk masuk ke hutan mayat, untuk mencari pesugihan dan jimat yang kuat bagi pak bosnya yang ingin maju menjadi kepala daerah”
“Terus gimana bu pak Tejonya?”
Dia tidak berhasil mbak, pulang-pulang Tejo jadi gila, nah tidak lama setelah itu istrinya mati bunuh diri, bosnya pun ditangkap polisi karena kasus di kota besar”
“Ketika istrinya bunuh diri, Tejo yang gila itu lari entah kemana, tetapi sekitar satu bulan atau dua bulan kemudian dia balik lagi, dan pada waktu itu dia sudah sembuh dari gilanya”
“Lha anaknya yang namanya Tedy gimana bu?”
“Tedy yang urus neneknya. Waktu itu kan dia masih kecil”
“Setelah dia sadar, kemudian dia pergi entah kemana, hingga Tedy besar, dan sekarang Tedy selalu ikut kemana bapaknya pergi, katanya untuk menjaga bapaknya dari bahaya….”
“Sebentar bu… bukanya Raseko baru beberapa bulan ini kalah dan rumahnya kemudian disita negara…”
“Gini mas… setelah menjalani hukuman. Raseko kembali lagi ke sini, dan selama Raseko ada di penjara, Tejo mendapat perintah dari keluarganya untuk mengurus dan memelihara rumah itu”
“Beberapa bulan lalu Raseko kalah pilkada… dia jadi gila, dan rumahnya disita negara mas”
“Dan dengar-dengar dari tetangga… sampai sekarang Tejo itu masih gila, makanya Tedi anaknya selalu ada di manapun Tejo berada mas”
“Katanya, kalau Tejo sedang kumat, dia bisa teriak-teriak dan minta mayat untuk dimakan, dia juga teriak teriak minta dikubur hidup hidup”
Informasi yang mengerikan dan sedikit berbeda dengan yang diceritakan pak Tejo. tapi namanya juga hidup di desa, yang ada adalah desas desus dan rasan rasan yang belum tentu benar kebenaranya.
Tidak lama setelah penjual itu selesai dengan ceritanya, satu microbus masuk ke terminal, saat ini terminal sudah agak rame, banyak juga orang yang datang untuk menunggu microbus atau angkot.
Preman-preman terminal juga mulai berdatangan, mereka biasanya yang bertugas mengatur lalu lintas di terminal ini.
Ada yang aneh ketika kami menunggu kendaraan umum yang akan kami tumpangi, aku dari tadi melihat Gilank seperti tidak fokus, dia dari tadi diam saja, tetapi Gilank selalu melihat kesana kemari.
__ADS_1
Aku anggap mungkin dia sedang waspada dengan keadaan dia dan kami, tapi kebiasaan Gilank ini tidak seperti yang biasa dilakukan dia.