
“Aku ikut kamu… aku temenin kamu Von..” Kata Bondet
“Nov… kalau kamu mau ikut sama aku dan mas Bondet.. Ayo pergi sekarang, mumpung hari masih pagi menjelang siang hari” kata Ivon
Novi melihat ke arahku.. Aku tau dia pasti bingung, di lain pihak dia adalah sahabat dari Ivon, dilain pihak kami pernah beberapa kali selamat di keadaan yang lebih buruk dari ini.
“Sudah sudah….Gini aja semua terserah kalian saja, mau tinggal disini atau mau pergi dari sini, tetapi ada baiknya kalian kalau pergi lewat jembatan saja, tembus kabut itu daripada lewat jalur yang kalian tidak tau keadaanya”
“Kalau aku pribadi aku tetap tinggal disini menunggu keadaan benar-benar aman, dan menunggu temanku Broni dan Gilank meskipun mungkin mereka sudah berupa mayat”
“Tif, Nov… kita pernah di keadaan yang lebih mengerikan dari ini, kita pernah di keadaan Gilank dan aku yang sudah dalam keadaan mati, tetapi teman-teman kita tidak ada yang meninggalkan aku kan…”
“Sekarang semua tergantung kalian…aku akan tinggal disini menunggu keadaan aman, dan menunggu teman kita datang, meskipun bisa saja yang datang hanya arwahnya saja”
Ivon dan Bondet… mereka belum pernah di keadaan yang pernah kita lalui… dan sekarang mereka akan nekat untuk pulang atau mencari bantuan di desa terdekat dengan melewati jurang dan tebing.
Aku.. aku lebih baik menunggu kedatangan kedua temanku, biarpun mereka itu beban keluarga, tapi mereka berdua adalah dua temanku.
“Sekarang putuskan apa yang akan kalian lakukan… aku akan balik ke rumah kosong dan nunggu temanku datang, aku akan bertahan disana dengan berbagai cara”
“Nov, TIf, Ndet, Von… semua tergantung sama kalian mau ke mana, dan pikirkan masak-masak…”
Ku berbalik dan melangkah pulang….. Aku tau apa yang aku putuskan untuk tinggal disini itu adalah tidak tepat, tapi untuk berjalan melewati hutan, jurang, lembah, dan bukit itu juga malah bukan keputusan yang baik….
“Wil tunggu aku.. Aku ikut kamu” Kata Tifano yang kemudian menyusulku
Novi masih bersama Bondet dan Ivon, dia kayaknya gak bisa lepas dari Ivon… hingga aku dan Tifano sudah mulai masuk ke desa tidak ada suara Novi yang menyusulku.
Kuanggap dia ikut bersama Ivon dan Bondet
“Wil.. apa keputusan kita ini tepat?”
__ADS_1
“Tif.. dalam keadaan begini tidak ada keputusan yang tepat, yang ada adalah keputusan yang terbaik… “
“Kamu dan anak-anak Sutopo lainya pernah ada di situasi yang lebih mengerikan dari ini, dan akhirnya kita semua selamat kan”
“Alasan lain……aku gak mau ninggalin Gilank dan Broni, meskipun bisa saja mereka itu sudah mati atau gimana, paling tidak kita tunggu arwah mereka atau apa gitu Tif hehehe”
“Dan coba kamu lihat tadi… jurang yang berkabut dan kita tidak tau seberapa dalam jurang itu… setelah jurang kemudian harus mendaki bukit seperti yang tadi kamu lihat… apa kita mampu kayak gitu Tif?”
“Menurutku kita harus menerjang kabut…. Kabut yang ada di seberang itu.. Itu yang lebih baik dari pada harus menyeberangi jurang, lembah dan bukit”
“Aku nggak tau jalan pikiran Ivon dan Bondet Tif… mbuh, jalan pikiran mereka itu kok malah ingin mendekatkan diri kepada Tuhan”
“Iya Wil… eh kalaau gitu kita cari bahan makanan dulu saja Wil.. cari umbi umbian yang letaknya agak jauh dari pemukiman desa yang tanahnya gak mengerikan”
“Ya disana itu Tif.. disana sekilas tadi aku lihat pohon singkong yang berjejer jejer.. Mungkin tanah disana tidak semengerikan yang ada di sekitar rumah itu”
Sampai sejauh aku dan Tifano berjalan, Novi dan yang lainya tidak menyusul kami, aku tau mereka sudah terburu nafsu untuk menyusuri hutan yang tidak mereka kuasai.
Suasana pagi menjelang siang ini tetap berkabut, hanya saja sudah tidak gerimis seperti tadi ketika kami ada disini… di sebelah kanan kami ada kebun singkong, entah siapa yang menanam singkong disini, yang pasti tanaman singkong itu berjajar dengan rapi.
“Setuju Wil”
Keadaan tetap berkabut dan dingin…
Setelah mencabut satu tanaman singkong, kemudian kami bawa ke rumah kosong yang kami tempati sebelumnya… aku tau rumah itu mengerikan, tetapi aku rasa rumah kosong disini sama saja mengerikan.
Sesampai di rumah kosong, singkong yang pagi tadi kami cabut dan tidak kami makan karena ada sepotong kain putih itu masih ada di depan rumah, ya jelas masih ada, siapa lagi yang mau ambil singkong itu, bukanya disini itu adalah desa yang kosong.
Kami buka pintu rumah, ternyata masih seperti ketika kami tinggal tadi pagi, hanya saja api sudah mati, dan menyisakan arang dan abu dari sisa pembakaran sebelumnya.
“Taruh saja singkong yang barusan kita ambil ini di depan tungku TIf. aku akan tambahkan kayu bakar…. agar tanah yang menyelimuti singkong ini mengering dan mudah untuk dibersihkan”
__ADS_1
“Lho kita kembali ke sini lagi Wil?”
“Ya iyalah Tif… aku yakin sungai itu masih meluap…”
Kami berdua berjalan menuju ke arah sungai.. Dan benar sungai itu masih meluap dan jembatan bambu itu sudah hanyut terbawa arus sungai yang deras.
“Wil.. sudah tidak ada jembatan lagi” keluh Tifano
“Nggak papa Tif, nanti akan kita cari cara menyeberang sungai itu dengan mudah”
“Sekarang kita harus isi perut dulu Tif… agar kita bisa lebih kuat… apalagi keadaan dingin seperti ini Tif”
Kami balik ke rumah kosong, gerimis mulai muncul lagi, kabut dan udara dingin masih saja menyertai wilayah ini….
Udara dingin menusuk kulitku.. Memang seharusnya kita tidak keluar dari rumah, karena keadaan rumah kosong itu adalah tempat yang baik untuk udara dingin ini.
Singkong yang tadi kami dekatkan dengan tungku perapian ternyata sudah matang, api dari tungku itu mematangkan keadaan singkong, tanah yang menyelimuti singkong itu sudah bisa dibersihkan, sehingga kami bisa langsung tanpa membersihkan tanahnya dulu.
Menjelang sore hari..kami tetap ada di dalam rumah dengan tungku api yang tetap menyala.
“Kira-kira Novi dan yang lainnya gimana ya Wil, aku penasaran dengan mereka”
“Mbuh Tif, biarkan saja… itu kan keputusan mereka untuk pergi dari sini, dan menyelamatkan diri mereka masing-masing”
Malam hari mulai datang, malam hari adalah keadaan yang tidak aku sukai disini…. Karena bakal ada aja yang akan terjadi disini.
Kami duduk di sebelah tungku api yang tidak pernah aku padamkan apinya… di sebelah tungku api masih ada singkong yang belum kami makan, ada juga periuk yang berisi air, air hujan yang direbus untuk air minum kami.
“Wil… anc*k.. Aku kebelet ngising c*k”
“Iya Tif… aku juga.. Eh gimana kita tunggu sampai pagi atau gimana Tif?”
__ADS_1
“Gak bisa WIl.. aku wis gak kuat, eh ada tas kresek sisa gak di tas ranselmu Wil?”
“Ndak ada Tif… eh gini ae lho.. Ngising di depan rumah, di tanah.. Eh bikin lubang di tanah nanti nek wis penuh sama taimu, lubang itu kamu tutup pakek tanah”