
“Ikuti apa yang saya lakukan, ingat kalian bukan berada di masa yang normal. Di masa ini adalah masa yang paling aman, dan kita bisa makan enak sebelum berlanjut ke perburuan mereka, karena mereka sudah melihat kalian”
“Tetap menunduk dan jangan melihat mata orang, kita makan disini dulu, dan ingat agar selalu dengan dengan Sokran dan istrinya”
Warung yang sangat ramai, warung yang sama dengan ketika aku dan Novi diajak Sokran kesini, dan pasti nanti kita akan makan di pinggir telaga.
“Kalian tunggu di luar saja ya, istri saya akan memesan makanan untuk kalian, nanti kita makan di pinggir telaga, agar kalian tau keindahan desa ini” kata pak Sokran sambil memberikan uang kepada istrinya
“Makanan disini memang enak pak Kus, saya dan Novi sudah pernah makan masakan warung ini, dagingnya besar-besar”
“Iya benar mas WIldan, tetapi bukan daging itu yang jadi primadona disini, eh nanti kamu akan tau apa yang istri Sokran itu beli, mudah-mudahan masih kebagian hehehe”
“Mas Wil, nanti kita pasti akan ke danau itu ya mas?”
“Iyalah Nov, seperti dulu waktu kita kesini”
Istri pak Sokran akhirnya keluar dari dalam warung yang ramai dengan pengunjung, wajahnya berkeringat karena harus berjubel dengan pembeli lain di warung itu.
“Nah itu istri saya sudah selesai…. Ayo kita ke telaga, disana adalah tempat rekreasi yang paling baik di daerah sini, pagi jam segini pasti sudah banyak orang yang ada disana”
Kami jalan mengikuti pak Sokran dan istrinya tapi kali ini kami jalan sambil menunduk, karena di tempat ini semakin ramai dengan orang yang berjalan, kami selalu berpapasan dengan tiap orang yang ada disini.
*****
__ADS_1
“Silahkan, untung istri saya tadi dapat makanan yang paling diminati dini, silahkan dinikmati sambil kita merasakan alam di pinggir telaga” kata pak Sokran yang tidak pernah lupa untuk tersenyum
Aku rasa ya sama saja dengan yang dulu, masakan daging kuah kuning dengan potongan daging yang besar.. Tapi ketika aku buka, ini sangat berbeda.
“Maaf pak, ini apa ya?”
Di bungkusan yang aku buka ada benda lonjong besar dan bentuknya mirip sekali dengan punyaku. Tapi bagian telor atau testisnya sudah tidak ada, hanya menyisakan kulitnya saja.
“Itu torpedo atau phenis bisa sapi bisa juga kambing, tergantung dapatnya apa mas…… ayo dicoba, itu makanan kegemaran penduduk disini, sulit dapat begituan kalau agak siangan dikit” jawab pak Sokran
Aku bukan orang goblok, aku juga pernah makan torpedo kambing, tapi bentuknya nggak kayak kuntila seperti ini, kalau yang ada di bungkusan ini mirip sekali dengan kuntila, hanya saja telurnya udah nggak ada.
Kutoleh pak kus, Novi, Ivon. Hanya pak Kus dan Ivon saja yang makan dengan lahap selain kedua suami istri Sokran, sedangkan aku dan Novi masi memandang potongan kuntila tanpa testis yang teronggok besar di bungkusan.
“Eh saya tidak doyan makan torpedo”
“Apa karena bentuknya ya mas Wildan” sahut pak Sokran
“Kebetulan istri saya bawa pisau, sini biar istri saya potong-potong agar bentuknya tidak seperti itu” kata pak Sokran kemudian mengambil bungkusan yang sedang aku pegang dan diserahkan ke istrinya.
Dari dalam tas tangan, istri pak Sokran mengeluarkan sebuah pisau yang lumayan besar dan panjang, aku sampai kaget melihat pisau berkilat yang mungkin panjangnya sekitar 25 cm itu.
Pisau itu sangat tajam, tanpa membutuhkan tenaga, istri pak Sokran bisa memotong motong kuntila itu menjadi beberapa bagian kecil.
__ADS_1
“Punya mbak Novi juga bawa sini, biar istri saya potong menjadi bagian yang kecil” kata pak Sokran lagi
Perempuan tua seperti itu, murah senyum dan sepertinya sifatnya baik sangat aneh kalau tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau yang besar dan panjang.
Potongan daging dari kuntila aneh ini sudah ada di tanganku, memang bentuknya sudah menyerupai sosis yang dipotong kecil-kecil, tapi tetap saja aku membayangkan yang aku makan ini adalah kuntila!
“Tujuan kalian mau kemana sebenarnya?” tanya pak Sokran sambil menggigit dan menarik daging kuntila yang keras
“Tujuan kami sebenarnya hanya mencari sayur mayur yang katanya terkenal dari daerah sini” jawab pak Kus tiba-tiba
“Ah memang benar, kentang yang berasal dari daerah ini memang ukuranya jumbo, dan rasanya manis” jawab Bu Sokran sambil mengelap pisau bekas memotong kuntila itu dengan menggunakan ujung pakaiannya.
“Nanti kalian akan saya antar ke kebun kentang” kata pak Sokran
“Eh tidak usah pak Sokran, kami sendiri yang akan cari kebun itu, bapak dan ibu bisa kembali ke rumah saja”
“Bu pinjam pisaunya, uugh ujung torpedo ini masih alot, mungkin warung tadi kurang lama ngerebusnya” kata pak Sokran
Sekali lagi melihat cara pak Sokran memotong makanan yang mirip kuntila yang aku punya ini rasanya merinding, kenapa aku punya perasaan kalau makanan yang sedang kita makan ini bukan berasal dari hewan, tapi berasal dari manusia.
“Kalau kalian bisa cari kebun itu sendiri ya tidak apa-apa” kata pak Sokran sambil menunjuk kami dengan menggunakan pisaunya, aku jadi merinding lihatnya
“Tapi hati-hatilah dengan petani yang ada disana, mereka tidak suka apabila ada orang asing datang tanpa permisi atau tanpa ada orang yang mengantar ke sana” dia masih mengacung acungkan pisau besarnya
__ADS_1