
Ya… aku percaya apa yang dikatakan Ivon tentang Gilank, tapi ketika itu kan terjadi tiga bulan lalu ketika dia bersama Ivon, sedangkan ketika bersama aku dan Novi baru dua tiga hari kemarin.
Bondet, apa dia memang sudah mati? Dia kan waktu itu kembali ke tempat Kimpet, sedangkan Gilank ikut bersama kami?
Semakin membingungkan…..
“Rumah sakitnya itu mbak mas, kita langsung ke UGD saja ya” kata pak Kus
Penanganan UGD rumah sakit ini lumayan juga, cepat tanggap. Ivon yang keadaanya sudah sangat lemas itu kemudian langsung di infus.
Tubuh dia yang sangat kotor itupun dibersihkan perlahan-lahan.
Dokter UGD awalnya heran kenapa kami bawa gelandangan kesini, tapi setelah Novi menjelaskan secara singkat bahwa gelandangan ini adalah saudaranya yang hilang beberapa bulan lalu, akhirnya mereka percaya.
“Dok, apa perlu rawat inap untuk saudara saya ini?” tanya Novi
“Harus ibu, keadaan dia parah, tubuhnya dehidrasi dan tidak ada asupan gisi yang masuk, untungnya ibu Novi cepat tanggap membawa ke rumah sakit” kata dokter UGD
“Perlu berapa hari dok untuk rawat inapnya?”
“Yah hingga dia sehat, besok pagi akan ada dokter yang menangani, ibu Novi bisa konsultasi ke dokter yang menangani saja, karena untuk saat ini tugas kami hanya sebatas pengecekan dan pemberian pengobatan yang bersifat darurat dulu”
Aku yakin Ivon butuh waktu tidak sehari atau dua hari hingga dia benar-benar sehat, sedangkan kasus kami ini tidak bisa menunggu sedemikian lama.
“Nov, gimana ini?”
“Gini saja mas Wil, kita tunggu hingga Ivon masuk ke kamar rawat inap dulu, kemudian dia kita tinggal”
“Nggak mungkin Nov, pak Kus kan besok harus kerja, sedangkan posisi kita ini kan masih luar kota”
“Atau gini aja mas Wil, mas Wil kembali ke hote, barang-barang kita yang ada di hotel mas Wil bereskan, kemudian mas WIl ke sini lagi pakai kendaraan umum saja”
“Mobil sewa ini harus kita kembalikan dulu, sekalian antar pak Kus pulang mas”
“Di tas ransel Novi bagian yang bawah ada uang Novi mas, kasih pak Kus dan sekalian bayar untuk sewa mobil. Uang yang lainya untuk bayar biaya rumah sakit Ivon mas”
“Heh Nov, uangmu memangnya ada berapa disana?”
“Hehehe tenang saja mas, lebih dari cukup kok. Kalau tidak cukup, kita bisa tarik tunai besok pagi di bank daerah sini”
“Novi kan simpan uang di rumah kosong itu mas hehehe, karena Novi yakin suatu saat pasti uang itu akan dibutuhkan”
__ADS_1
“Ya sudah Nov, aku balik sama pak Kus dulu, eh tapi Nov, ada sedikit uang buat sangu untuk di perjalanan Nov”
Pak Kus menunggu kami di mobil, katanya sekalian dia mau istirahat tidur karena seharian ini dia belum sempat istirahat sama sekali.
Ketika aku sampai di parkiran rumah sakit, pintu mobil dalam keadaan terbuka sedikit, dan pak Kus sedang tidur di kursi depan.
“Pak Kus, bangun pak….”
“Pak Kus…..”
“Ah iya mas, maaf saya ketiduran” kata pak Kus yang kaget
“Bagaimana kabar teman kalian mas?”
Kujelaskan kepada pak Kusno apa yang terjadi dan apa yang akan kami lakukan.
“Begini mas, saya tidak mau melepas kalian sebenarnya”
“Saya merasa banyak nyawa yang tergantung di pundak kalian yang harus kalian selamatkan. Eh saya akan terus terang mas, sebetulnya saya sudah tidak punya keluarga lagi, istri saya dan anak saya sudah meninggal akibat dari hal ini juga”
“Saya pergi dari desa dan menjauh dari keluarga saya yang lainya juga karena saya belum benar-benar selesai dengan urusan ini. Terus terang masih ada satu teman saya yang tertinggal disana”
“Dan saya tidak punya nyali untuk mencari teman saya itu, akibat dari masih ada teman saya yang tertinggal disana, kutukan untuk saya masih berlangsung sampai detik ini”
“Jadi disana masih ada teman pak Kusno yang tertinggal, tapi kan kejadianya sudah bertahun tahun lalu pak”
“Iya sudah lama mas, tapi ingat, disana itu adalah alam dimana waktu tidak berlaku disana, dan tadi waktu kalian ada di dalam rumah sakit, saya sempat merenung, dan saya yakin saya bisa temukan teman saya untuk mengakhiri kutukan ini”
“Ok baiklah pak Kus, sekarang rencana pak Kus bagaimana?”
“Malam ini balik ke tempat tinggal saya, saya akan ambil pakaian dan lainya, kemudian kita kembali ke sini lagi”
“Bukankah mobil ini harus dikembalikan ke persewaan pak”
“Tidak perlu mas, ini mobil saya kok, sebenarnya saya ini bukan orang yang kekurangan, saya kerja taksi untuk agar saya ada kegiatan saja”
“Saya ikut bersama kalian mas, dan akan saya akhiri kutukan ini dengan menemukan teman saya yang hilang disana”
Perjalanan pulang ke hotel dan ke rumah pak Kusno berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan sama sekali hingga akhirnya kami sampai di kota S.
“Pak Kus, maaf… apakah pak Kus masih memiliki ilmu yang bisa melihat hal ghaib atau melawannya?”
__ADS_1
“Hehehe tentu saja mas, saya ke lembah itu kan karena untuk mencari ilmu kanuragan yang kata teman saya disana sangat banyak pusaka dan sejenisnya yang tersembunyi”
“Nah pak, waktu di rumah Ivon tadi, apakah bapak lihat ada sesuatu disana?”
“Hahaha banyak sekali mas, sampai penuh sesak mas, kayak pasar gitu mas”
“Bahkan tadi banyak juga yang menempel di tubuh teman mas itu, tapi tadi sudah saya buang satu persatu mas”
“Kalau begitu nanti sesampai di hotel, bisa antar saya sampai di lantai atas ya pak, sekarang kan masih jam 3 pagi, jadi suasana di hotel itu pasti sangat sepi”
Mobil diparkir di halaman hotel, dan benar juga seperti sebelumnya, hotel ini sangat sepi dan gelap, karena sebagian lampunya dimatikan.
“Wuih kurang ajar juga… ada yang sedang menunggu kita pintu masuk mas. Tapi anggap saja kita tidak tau mas” bisik pak Kus
Aku tetap jalan tanpa memperhatikan lagi apa yang dikatakan pak Kus… sesampai di pintu lift, seperti sebelumnya lift itu dalam keadaan mati, tetapi masih bisa nyala dengan menekan tombol untuk memanggil lift.
Hingga pintu lift terbuka untuk kami,
“Tidak usah takut mas, di dalam itu banyak yang melotot kepada kita, ayo kita masuk saja, nanti mereka akan saya ajak bicara”
Sampai di lantai lima, pinti lift terbuka, tiba-tiba pak Kus diam, dia tidak mau keluar dari ruangan lift.
“Jangan keluar dulu mas, disini ada energi yang sama dengan yang ada di lembah mayit, dan kayaknya sudah beberapa hari ini ada disini”
Aku tidak menjawab apa yang dikatakan pak Kus. Kupencet tombol agar pintu lift ini tidak tertutup, agar pak Kusno bisa mendeteksi apa saja yang ada disini.
“Sudah mas, ayo cepat ambil apa yang diperlukan mas… ugh hotel ini banyak sekali mahluk ghaibnya mas”
Kami sudah ada di mobil lagi untuk sekarang menuju ke rumah pak Kusno, aku penasaran dengan kata pak Kusno apabila di lantai lima itu ada ghaib yang sama dengan yang ada di lembah mayit.
“Tadi yang ada disana itu apa pak?”
“Tadi tepat di depan pintu lift itu ada sosok gondrong berjanggut dan berkumis, tubuhnya penuh tato, dan baunya busuk sekali seperti bau sampah”
“Astaga!”
“Itu teman kami yang namanya Gilank pak”
“Itu bukan teman kalian mas, dia itu arwah jahat yang berasal dari sana mas”
“Ciri-ciri yang tadi bapak sebutkan itu adalah ciri dari teman saya yang namanya Gilank pak”
__ADS_1
“Bukan mas, dia jahat. Dan tujuan dia ada disini adalah mencelakai kalian berdua mas”