TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 117. BAHAYA BERIKUTNYA


__ADS_3

Setelah memutari jalan setapak di sekeliling telaga, ternyata tidak ada apapun disini, kami kemudian kembali ke tengah desa, dan harus melewati lapangan yang tadi merupakan lubang yang penuh mayat dan cairan yang menjijikan.


Malam masih panjang, tanpa penerangan sama sekali, yang ada hanya cahaya bulan saja, kami di jalan setapak yang menuju ke arah desa.


Telaga desa yang mengerikan sudah kami tinggalkan.


“Kalau nanti tidak ada apa-apa lagi bagaimana pak Kus?”


“Tidak mungkin tidak ada apa-apa lagi, dimensi disini akan terus berulang dengan sosok mayat mayat baru seperti teman kalian dan teman saya tadi itu mas Wildan”


“Kalau misalnya pak, tidak ada manusia yang mati atau tidak ada arwah yang tersesat disini lagi, kita kan tidak akan menemui macam tadi itu kan pak”


“Iya, tidak akan ada sosok seperti tadi itu, dan kita akan terjebak disana hingga ada mayat atau sosok kayak tadi yang kita penggal kepalanya itu”


“Dimensi itu berarti tidak akan berputar apabila tidak ada mayat disana?”


“Saya kurang tau mas, yang jelas ketika tidak ada sosok yang harus saya penggal, saya akan terjebak disana, hingga ada sosok yang bisa saya penggal kepalanya”


“Dan harusnya mas Wildan, kalau di masa ini sosok yang ada sudah kita penggal semua, maka kita akan masuk ke dimensi selanjutnya, yah ini kayak semacam permainan mas, setelah kita bunuh musuhnyaaaaa, kemudian kita pindah ke level berikutnya hehehe”


Aku paham, kita memang seperti di sebuah game yang mengharuskan kita membunuh sesuatu, tapi setahuku semakin tinggi level, maka akan semakin sulit sasaran kita, apakah ini juga berlaku kepada kami?


“Lihat itu pak Kus, jalan di depan kita sudah berubah, menjadi lebih baik dan lebih halus, sepertinya kita maju dari dimensi yang tadi kita lalui”


Kami masih di sisi jalan ujung jalan setapak yang tadi menuju ke telaga, di depanku memang sudah jalan desa yang berbeda dengan jalan desa yang kita lalui tadi..,lebih halus dari pada sebelumnya.


“Kita ini maju ke masa depan dari masa kita tadi pak?” tanya Novi


“Bisa Iya.. bisa juga tidak mbak Novi, saya takut kalau disini nantinya tidak ada yang bisa kita habisi, karena tadi kita sudah habisi tiga sosok mengerikan”

__ADS_1


“Jadi kalau begitu kita tinggal disini hingga ada yang bisa kita penggal kepalanya pak?” kata Ivon


“Ya seperti itu mbak Ivon, saya harap untuk berikutnya kalian harus berani, kalian harus belajar memenggal kepala yang akan kita temui disini”


“Ayo kita jalan lagi anak-anak” ajak pak Kus


Apa yang aku lihat ini memang berbeda dengan ketika kami datang ke telaga. Saat ini keadaan disini jauh lebih baik, dan tertata, aku penasaran dengan keadaan kumbangan mayat yang sebelumnya banyak hal yang mengerikan disana.


Di sebelah kiriku rumah-rumah sudah menggunakan papan kayu yang lebih baik dan menggunakan cat yang lebih baik pada sebelumnya.


“Ini jauh berbeda dengan ketika kita tadi datang pak” ujar Novi


“Apa mungkin  nanti yang kita temukan tidak seseram sebelumnya pak?” sambung Ivon


“Hehehe nanti kita lihat apa yang akan kita temukan, karena apa yang kalian lihat ini memang berbeda dengan yang sebelumnya, dan tentu saja apa yang kita hadapi juga berbeda dengan sebelumnya nak”


Tetapi dari sini aku bisa lihat disana malah ada sebuah pohon yang lumayan tinggi di pinggirnya, dan disana sudah merupakan tanah datar, itu adalah lapangan!


“Pak, keadaan sudah berubah jauh kedepan pak… itu bukan lagi kubangan mayat” kata Ivon dengan gembira


“Belum tentu mbak Ivon, belum tentu kita ini ada di masa depan, bahkan bisa saja kita ini di dimensi sebelum yang tadi kita masuki itu” kata pak Kus sambil memandangi pohon yang ada di sebelah lapangan


“Waduh, ini lebih mengerikan daripada sebelumnya anak-anak”


“Eh gini saja pokoknya jangan berpatokan pada apa yang yang kalian lihat, nanti akan saya jelaskan di tanah lapang tempat kita sembunyi ketika kita bikin api unggun itu”


“Kenapa kok waduh pak, ada yang aneh disini?” aku penasaran dengan perkatakan pak Kus yang bilang waduh itu


“nanti saja mas Wildan, saya merasa kita ada di tempat yang mengerikan. Dan  eh nanti saja kita lihat dulu di sekeliling desa ini dulu saja” jawab pak Kus

__ADS_1


Anehnya desa ini sangat sepi dan gelap, tidak ada cahaya lampu atau api sama sekali, bisa dibilang ini masih sebuah desa kosong yang sama dengan ketika kami datang dengan keadaan yang mengerikan.


“Desa ini masih desa yang kosong pak?”


“Iya desa mati dengan penduduk yang mati, mereka semua sudah mati seperti sebelumnya”


“Sik sebentar pak… bapak tadi bilang sebuah desa yang mati dengan penduduk yang mati juga. Tapi mana penduduk yang mati itu pak.” tanya Novi


“Nanti kalian lihat saja, perkiraan saya, kita ada di dimensi sebelumnya dari yang tadi kita ada”


“Berarti kita ada di masa lalu sebelum yang tadi pak?”


“Nanti kita bisa buktikan anak-anak, kita ada dimana dan bagaimana keadaan desa ini”


“Eh kita datangi rumah yang dekat dengan jembatan saja, rumah yang waktu itu kita sembunyi dari banyak orang yang mengerikan disini”


“Ayo kita ke sana saja, dan sekali lagi tetap waspada dan jangan berjalan terpisah!”


Kami berjalan menuju ke rumah yang paling dekat dengan jembatan… sepanjang jalan rasanya merinding liat rumah yang bercat indah dengan rumput dan tanaman yang dipangkas rapi, tapi keadaanya gelap gulita!


Dan samar-samar aku mencium bau bangkai, kadang bau itu datang, dan kemudian bau itu hilang begitu saja.


Aku juga merasa seperti sedang diintip setiap melewati rumah yang kosong dan gelap, suasananya berbeda dengan sebelumnya, aku merasa ketakutan dibanding dengan sebelumnya!


Setelah berjalan beberapa belas menit dengan suasana yang menegangkan, akhirnya kami sampai di depan rumah yang kami maksud.


Rumah yang indah dengan rumput terpangkas rapi dan ada beberapa tanaman hias dengan bunga yang berwarna warni.


Tapi rumah ini gelap dan mencekam!.

__ADS_1


__ADS_2