
“GUATHEL C*K BRON…. GAK USAH NAKUT NAKUTI C*K MATAMU!” teriak Tifano pada bayangan manusia dibalik kabut
“Tif, jangan gitu Tif… aku ragu nek itu adalah Broni…” bisik Bondet
“Lha tadi kan dia teriak-teriak Ndet… wis gitu ngilang sisan c*k” balas Tifano
“Mas Tif… bayangan itu semakin memudar… apa dia hilang juga atau gimana mas Tif?” tanya Novi
“ Ivon rasa yang tadi itu bukan mas Broni, dan bayangan itu sekarang mulai hilang tertelan kabut, atau sudah pergi meninggalkan kita” gumam Ivon
“Jangan Von, jangan sampai kita kehilangan teman kita lagi.. Kita sudah kehilangan Gilank” kata Tifano mulai ketakutan
“Ivon rasa itu tadi bukan mas Broni mas Tif.. entah siapa yang tadi itu, karena bentuk tubuhnya lebih tinggi daripada mas Broni” lanjut Ivon
“Gini saja, kita sama-sama masuk ke rumah tempat Broni masuk… aku rasa dia masih ada disana, dan kita harus bersama-sama, jangan sampai kita ada yang terpisah rek”
Aku bingung… kabut di desa ini, desa yang bersuhu udara dingin ini seolah olah menculik teman kami satu persatu. Pertama tadi pagi si Gilank, sekarang Broni.
Tapi anehnya ketika Broni hilang tidak ada kabut tebal seperti tadi pagi ketika Gilank hilang. Hanya ada kabut biasa saja.
Nggak.. Nggak mungkin yang tadi itu Broni… itu bisa siapa saja yang berusaha menakut nakuti kami… kesimpulanku Broni masih ada di dalam rumah ini
“Ayo kita masuki rumah itu rek”
Sebenarnya jarak antara rumah pak Sapudi dengan tetangga depannya tidak terlalu jauh, hanya beberapa belas meter saja, tetapi kabut yang mengelilingi tempat ini membuat keadaan semakin menegangkan, ditambah lagi Broni yang tidak muncul juga hingga saat ini.
Tapi kami yang sudah ada di pekarangan rumah jelas tidak mungkin mau ngapa ngapain lagi selain mencari teman kami Broni yang masuk ke dalam sana sebelumnya.
“Mas Wil.. biar Ivon aja yang masuk ke dalam”
“Iya Von… kita masuk bareng-bareng aja lah” kata Tifano
“Jangan mas Tif, kalian di depan pintu rumah saja, takutnya ada ular atau hewan berbahaya di dalam, Ivon sudah biasa berpetualang di daerah-daerah yang seperti ini mas”
“Ah yang bener Von?”
“Bener mas Wil”
“Iya mas...Itu si Novi ajak Ivon ikut bersama kalian karena teman Ivon yang namanya Novi itu yakin bakal ada suatu masalah apabila kalian semua ini berkumpul hehehe, dan ternyata benar juga kita dapat masalah disini” kata Ivon
“Ivon… mau aku temani?” kata Bondet
“Mas Bondet mau, kalau gak keberatan ya ayo mas… jangan sampai mas Bondet lari ketika ada ular lho ya” jawab Ivon
__ADS_1
“Ya sudah terserah kamu saja Von… semoga gak ada apa-apa disana”
Ivon memang pemberani, dia berjalan di pekarangan rumah, kemudian masuk ke dalam rumah yang pintunya dalam keadaan terbuka.
Aku dan yang lainya menunggu Ivon yang sudah ada di dalam rumah…
Tidak ada lima menit kemudian Ivon keluar dari rumah itu, dia memegang senter miliknya yang tadi dipegang Broni.
“Teman kalian meninggalkan senter ini, dan menghilang, tapi harap kalian tau, dia tidak hilang, dia ada di sekitar sini untuk menakut nakuti kalian, karena jejak kaki yang ada di dalam itu mengarah ke pintu yang tembus ke belakang”
“Jadi nanti apabila teman kalian muncul dan menakut nakuti kalian, biarkan saja, anggap saja biasa” kata Ivon dengan berbisik
“Jadi yang tadi teriak itu benar si Broni ya Von, dan bayangan yang ada di balik kabut itu juga Broni?”
“Sementara ini hanya mas Broni yang ada di pikiran Ivon mas…”
“Oh iya, rumah ini juga kosong, tidak ada penghuninya atau tidak dihuni sama sekali.. Jadi yah lebih baik kita cari jalan keluar dari sini saja mas”
“Percuma juga kita ada disini, pandangan kita terbatas, dan kita tidak bisa maksimal mencari teman kalian, jadi menurut Ivon, lebih baik kita pergi dari sini dan mencari bantuan untuk mencari mas Gilang saja” kata Ivon
Kami akhirnya setuju dengan usulan Ivon… dan tentang Broni, aku masih ragu dengan pendapat Ivon yang mengatakan Broni ada di sekitar sini, dan siap untuk menakut nakuti kami.
Aku yakin Broni hilang… tapi aku sendiri belum berani untuk mencari sendiri.
Kini kami berjalan menuju ke arah jembatan, jembatan yang mengarah ke hutan tempat mobil kami berada.
Tapi anehnya kabut itu hanya ada di sekitar sungai dan hutan saja, kabut itu tidak bergerak ke arah sini.
“Kita tunggu saja hingga kabutnya pergi rek”
“Iya mas Wil.. kita duduk saja di sini dulu…. Sambil nunggu kejutan dari mas Broni dan kabut ini hilang”
*****
Sudah sekitar satu jam kami ada di sisi desa, tapi kabut yang ada di sekitar sungai dan hutan yang ada di depan kami itu enggan untuk pergi… kabut itu tetap ada disana.
Jadi kabut itu tetap ada disana dan seolah olah menyuruh kami untuk tetap ada di desa ini dan tidak memperbolehkan kami untuk pergi dari desa ini.
“Eh rek…kalian merasa ndak kalau kita tidak diperbolehkan pergi dari sini melalui jembatan ini?”
“Iya Wil.. kabut itu tidak mau pergi dari depan kita rek” jawab TIfano
“KIta terobos saja Wil…. aku wis gak tahan ada disini, selain mengerikan suhu udaranya gak karuan dinginya” kata Bondet
__ADS_1
“Jangan Ndet… jangan tembus kabut itu, kabut itu bukan tandingan kita, lebih baik cari jalan lainya saja”
“Iya mas Wil… Ivon setuju dengan usulan mas Wildan, hanya saja ini sudah sore mas, sangat bahaya kalau kita mengitari hutan pada jam segini, bisa-bisa kita ada di hutan pada malam hari, dan kita tidak tau arah manapun kan” kata Ivon
“Malam ini kita cari rumah yang bisa kita tinggali, sambil nunggu Broni muncul, besok pagi kita pergi dari sini”
Aku nggak tau keputusan untuk tinggal disini ini tepat atau tidak, tapi hanya ini satu-satunya cara dari pada menembus kabut tebal yang tadi ada di sungai dan hutan depan kami.
Hari sudah sore ketika kami berjalan kembali ke desa yang lagi-lagi masih tertutup kabut tidak ada yang bisa kami lihat sejauh lebih dari lima belas meter.
Kini kami harus kembali lagi ke desa yang aku masih belum paham, karena semalam desa ini nampak berpenghuni dengan nyala obor di tiap pagar rumah.
Selain itu ada juga pak Min dan pak Sapudi yang memberikan kami tempat tinggal di sebelah rumahnya…. Tapi semua itu berubah ketika negara api menyerang.. Eh ketika kabut tebal dan bergulung gulung itu datang.
Jalan desa dan rumah penduduk yang berkabut mulai terlihat di depan kami….Desa yang sepertinya sama sekali tidak berpenghuni ini menyambut kami kembali.
“Wil… sampai sekarang Broni kok belum juga muncul ya?” tanya Bondet
“Nanti juga muncul Ndet, meskipun aku juga ragu dia akan muncul apa nggak”
Kami belum menentukan di mana kami akan tinggal, yang pasti aku nggak mau ke rumah kosong milik pak Sapudi, karena ditanah pekarangan itu merupakan kuburan yang entah sudah ada berapa mayat yang dikuburkan disana.
Ketika kami sudah ada di tengah-tengah desa dan belum menentukan rumah mana yang akan kami tinggali, tiba-tiba hujan rintik rintik mulai turun…
Tentu saja hujan di sebuah tempat asing dengan suhu udara yang sangat dingin ini semakin membuat kami tersiksa. Dan harus secepatnya menentukan rumah yang akan kami tinggali.
“Kita ke rumah yang ada disamping kita ini saja” kata Ivon tiba-tiba
Rumah yang ada di sebelah kiri kami yang ditunjuk Ivon, karena rumah ini yang terdekat dengan posisi kami. Sebelumnya memang ada rumah juga. Tapi jaraknya sekitar lima belas meter lebih dari posisi kami.
Tidak ada yang membantah ajakan Ivon, kami semua mengikuti Ivon, karena memang hujan ini tidak memungkinkan kami untuk mencari tempat berteduh lainnya.
Hujan rintik-rintik, kabut yang tetap mengambang di sekitar sini, dan hari yang mulai gelap… dengan dua teman kami yang entah ada dimana…. Kayaknya sudah lengkap apa apa yang akan kami rasakan.
Rumah yang kami datangi sama bentuknya dengan rumah pak Sapudi, pekarangan yang luas dan rumah kayu tanpa jendela kaca dan tanpa ada ventilasi udara di samping.
Rumah yang juga pasti nya dalam keadaan kosong.
Aku, Tifano, dan Novi sebenarnya sudah pernah mengalami kejadian yang mengerikan juga di petualangan sebelumnya, tetapi tidak dalam keadaam suhu dingin dan tiada hari tanpa kabut.
“Tunggu… Ivon periksa rumah ini dulu, siapa tau rumah ini berbahaya” kata Ivon
“Von, coba kamu periksa halaman rumah ini, jangan sampai tanah halaman rumah ini sama dengan tanah halaman yang ada di rumah pak Sapudi dan rumah kosong miliknya”
__ADS_1
Ivon tidak menjawab apa yang aku omongkan, dia langsung membuka pagar bambu yang memisahkan pekarangan dengan jalan di depannya.
Ivon tidak langsung jalan memasuki halaman rumah, tetapi dia melihat sekeliling termasuk tanah yang ada di halaman rumah ini.