
“Mas… cepat mandi, kita pergi makan malam sama Yance mas”
“Iyaaa, tapi apa kamu yakin kita baik-baik saja disini?”
“Yakin mas, ayo cepat mandi sana!”
Aku nggak yakin dengan keadaan kami setelah ini, tidak tau kenapa perasaanku mengatakan nanti kita akan mengalami sesuatu.
Shower dengan dua pengaturan air, ada air panas dan ada air dingin, sebenarnya aku kepingin mandi air panas, tapi aku urungkan, aku nggak mau tiba-tiba yang keluar adalah air yang sangat panas sekali.
Jadi aku mandi air dingin saja untuk lebih amannya.
Kuperhatikan kamar mandi hotel ini, kamar mandi yang tidak terlalu besar, dan tidak ada alat-alat yang membahayakan aku.
Aku bisa dengar suara televisi kamar yang masih nyala, artinya Novi masih ada di dalam kamar, dan memang seharusnya dia ada di dalam kamar.
“Mas Wildaaaan, cepat mandinya, Yance udah nunggu dibawah mas” teriak Novi
“Iya Nov, bentar lagi selesai kok”
Aku nggak mau ambil resiko dengan keadaan kamar mandi yang harusnya tidak ada apa-apa, dan ternyata sampai aku selesai mandi, memang tidak ada yang terjadi disini, ini hanya pikiran burukku saja.
Keluar dari kamar mandi, Novi sudah cantik, sebagai Waria dia memang cantik, bahkan keluwesan dan parasnya melebihi wanita, sayangnya dia hanya satu…. Punya kuntila yang ukurannya gak umum!
“Ayo mas, Yance udah nunggu dari tadi dibawah lho mas”
“Iya Nov, aku kan tinggal ganti baju aja, setelah ini kita pergi. Tapi Nov, baju yang mana yang sekiranya cocok buat aku?”
“Dah pakek kaos jaring aja mas, kan mas Wildan jalan sama Novi, gak akan ada yang tau kalau mas Wildan ini bukan humu kan mas hehehe”
Ya sudah aku turuti apa yang diminta Novi, setelah semua siap, kami berdua membuka pintu kamar….
“Lho Nov, kok sekarang lorong ini gelap, cuma lampu yang plafon depan kamar kita aja yang nyala”
“Tadi waktu mas Wildan keluar apa ya gelap gini mas?”
“Ya nggak lah Nov, tadi ada empat lampu yang nyala, disana itu dan seberang sana!” tunjukku ke beberapa lampu lorong yang nyala tadi
“Bentar mas, Novi mau wa Yance dulu mas”
Novi masuk ke dalam kamar, sementara aku masih ada di depan pintu kamar yang masih terbuka.
Heran, kenapa lampunya tiba-tiba mati dan menyisakan lampu yang ada di depan kamar ini saja.
Aku masih berdiri di depan pintu sambil memperhatikan lorong atau selasar hotel yang gelap, tapi tiba-tiba aku mendengar bunyi bel lift, bel yang biasanya bunyi apabila lift sudah mencapai lantai yang dimaksud.
Tiing……
Jancuk…Pintu lift itu terbuka!
Cahaya sinar yang berasal dari lift yang terbuka menerangi lorong di sekitar sana…. Dan tebak, tidak ada yang keluar dari lift itu.
__ADS_1
Pintu lift tertutup dan lift itu berjalan ke arah turun!
Tidak menunggu lama, aku masuk ke dalam kamar..kulihat Novi masih sibuk dengan tabletnya untuk menghubungi Yance temannya.
“Kenapa mas?” Novi mendongakkan kepalanya
“Eh ndak papa Nov, gimana kamu sudah hubungi yance?”
“Sudah mas, tapi disini tiba-tiba nggak ada sinyal. Wa Novi pending mas…. Coba lihat ini” Novi menyerahkan tabletnya kepadaku
“Eh kok aneh Nov, tadi apa juga nggak ada sinyalnya?”
“Tadi kan ada mas, eh apa tablet ini rusak ya mas, tadi kita kan belinya bekas mas”
“Nggak Nov, kita nggak salah apa-apa, ada yang tidak beres disini” aku duduk di sebelah Novi yang duduk di pinggir tempat tidur
“Apa mas?”
“Tadi waktu kamu masuk ke dalam, pintu lift itu terbuka, dan tidak ada yang keluar dari lift, cuma terbuka kemudian tertutup lagi….. Apa yang kamu pikirkan dengan keadaan ini Nov?”
“Udah jangan buruk dulu pikiran mas Wildan..ayo kita turun mas, dan gak usah pakai lift” Novi mengambil tas kecil dari tas ranselnya…
Kubuka pintu kamar, dan ternyata lampu lorong yang tadi mati itu sekarang sudah nyala, nyala seperti ketika aku keluar dan melihat apa yang ada di lorong hotel ini.
“Sekarang lampunya udah nyala Nov, eh tadi mungkin ada masalah dengan kelistrikannya, nanti kamu bilang sama Yance aja Nov”
“Ya…ayo kita pergi mas, dari tadi kita masih disini aja mas”
Letak tangga hotel ini ada di ujung, dekat dengan kaca paling ujung hotel, sebenarnya ini tangga darurat, dan memang letaknya ada di ujung lorong hotel.
“Untung lampu lorong ini nyala mas…”
Aku tidak menjawab omongan Novi, karena aku merasa ada yang sedang melihat ke arahku dan Novi, tapi aku nggak berani menoleh ke belakang sama sekali.
“Biar aku buka pintu tangga darurat ini Nov” kutarik pintu yang menuju ke tangga darurat
Pintu tangga darurat ini menggunakan bahan dasar besi, dan cukup berat untuk membukanya, berat karena kayak ada pegas yang gunanya mengatur agar pintu itu dalam keadaan tertutup.
Pintu darurat ini berat, makanya aku bukakan pintu dari plat besi ini untuk Novi.
Sebenarnya konyol juga, kami lewat tangga darurat yang secara logika pasti tidak ada yang pernah melewati tangga itu. Tetapi ini lebih baik dari pada menggunakan lift yang aneh.
Setelah pintu yang menuju ke tangga darurat kubuka….
“Gelap mas….” kata Novi yang hanya terdiam di ujung tangga
“Gimana menurutmu Nov, kita gunakan lift aja kah?”
“Kalau ada apa-apa dengan liftnya gimana mas?”
“Nah itu yang sedang aku pertimbangkan Nov, kita menuruni tangga yang gelap ini atau kita gunakan lift yang aneh”
__ADS_1
“Nov sentermu yang kemarin mana?”
“Ada mas, bentar Novi ambil di tas….” Novi memberikan senter yang biasa dia bawa kepadaku
Senter kecil yang sangat membantu ketika kami ada di lembah mayit, senter yang kata Novi harus dibawa atas suruhan Ivon.
“Gimana Nov, yakin kita lewat tangga darurat ini?”
“Kalau menurut mas Wildan Gimana mas?”
“Aku sih nggak mau ambil resiko atas lift yang ngeri itu Nov, tangga darurat ini terbaik diantara yang buruk. Jadi menurut aku ya kita lewat sini saja”
Aku turun duluan, karena aku membawa senter, sedangkan Novi tepat di belakangku sambil menggandeng tanganku… anak tangga demi anak tangga kami lewati.
Dan memang keadaan disini gelap gulita, tidak ada cahaya sama sekali.
Kami menuruni tangga hinga tiba di tempat yang agak lebar, di depanku adalah pintu darurat untuk lantai empat.
“Mas… di depan itu sudah pintu darurat untuk lantai empat mas… gimana kita istirahat di lantai empat dulu atau terus mas”
“Kita ke lantai empat dulu aja Nov, siapa tau ada orang yang mau turun pakai lift, jadi kita bisa ikut turun bersama sama Nov”
“Ya dah mas, ayo masuk ke lantai empat mas”
“Pegang dulu senter ini Nov, kamu senter aku Nov”
Pintu besi yang ada di lantai empat ini rasanya lebih berat dari pada yang ada di lantai lima, apakah karena jarang dibuka atau karena pegasnya sudah karatan..
Perlahan tapi pasti akhirnya pintu darurat itu bisa terbuka….
Tapi….
“Mas, kok gelap gulita gini mas…”
“Tapi itu disana di tengah sana kayaknya ada cahaya Nov… “
“Mas, coba masuk ke selasar lantai empat… siapa tau cahaya itu dari kamar yang terbuka mas”
“Kamu yang masuk duluan Nov, aku pegan pintu ini dulu..”
Novi masuk ke dalam selasar lantai empat…sementara aku masih memegang pintu darurat yang berbahan besi, yang menggunakan pegas di engselnya
“M..mas itu cahaya dari lift… pintu lift itu dalam keadaan terbuka m..mas” kata Novi setelah melewati pintu darurat menuju ke selasar hotel
Aku penasaran dengan apa yang dikatakan Novi, jadi setelah Novi melewati pintu darurat dan masuk ke dalam selasar, aku pun perlahan lahan melepas pintu darurat yang berpegas itu.
Dengan gerakan pelan pintu itu menutup, karena dia menggunakan pegas…. Aku harus tetap perhatikan hingga pintu darurat itu menutup dengan sempurna.
Novi hanya ada di selasar depan pintu, dia tidak berani berjalan mendekati pintu lift.
Pintu ini sudah aman, sudah menutup, aku membelakangi pintu darurat dan akan menuju ke sebelah Novi.
__ADS_1
BRAAAK!...... BUUG!
“ARRGGHHHH NOOOOV!”