
“Sekarang gini rek, saat ini kita nggak tu ada di masa apa, yang pasti apabila ada kabut tebal, lebih baik kita berpegangan tangan, agar kita tidak terpencar lagi”
Kulihat Bondet, dia dari tadi melihat ke arah Novi terus, aku tau Bondet itu penggila waria, apalagi waria bertubuh yahud kayak Novi, lebih baik aku dekati Novi saja dari pada dimakan Bondet hihihi
“Ndet janc*k matamu iku lho…. Ngapain liat Novi terus!” hardik Gilank
“Nggak Lank, aku lho gak liat mbak Novi… aku lagi perhatikan rumah yang ada di sebelah kita itu c*k”
Kuperhatikan Novi, ternyata dia senyum-senyum sendiri. Pasti dia mengira sebentar lagi dapat mangsa cowok gatel hihihi.
Tapi biarlah…. Novi tetaplah Novi yang berkuntila sebesar dan sepanjang sirup marjan, malah kadang bisa sebesar botol beer.
“Sekarang kita ke mana Wil?” tanya Gilank
“Kamu udah lihat keadaan sungai yang disana itu Lank?”
“Kemarin sudah, sungainya meluap, kita gak mungkin menyeberang, cari mati kalau kita nekat menyeberang ke sana Wil” jawab Gilank
“Terus rencanamu tadi apa Lank?”
“Tadi gak ada rencana apa-apa, cuma ngikuti permainan dan iseng cari rumah yang ada penduduknya, tapi rumah yang normal c*k, bukan rumah penduduk yang kanibal taek asu!”
“Nek misale kita pergi cari jalan keluar dari sini melalui hutan gimana Lank? Atau kita tunggu hingga ketemu teman kita yang lainya dulu, karena Tifano, Broni dan Ivon mereka bersama sama juga”
“Hehehe aku terserah awakmu Wil… aku udah pasrah kok, mau diapan di masa apapun dan ketemu yang aneh-aneh rasanya wis pasrah dan wis kebal hihihihi” jawab Gilank
“Ya wislah, sekarang sudah siang. Kita harus cari sesuatu untuk dimakan c*k. Hawa disini gak karuan dinginnya, aku butuh yang hangat-hangat” kata Bondet
Aku paham yang dikatakan Bondet, dia tadi berkata begitu sambil melirik ke arah Novi, dan entah kenapa Novi melihat kalau Bondet berkata sambil melirik ke arah Novi.
Aku biarkan dulu si Bondet berusaha. Nanti suatu saat dia akan kena batunya, dia akan tau siapa itu Novi yang mempunyai senjata yang luar biasa mengerikan.
“Wil, aku pernah ke sana, ke arah hutan yang ada disana, disana ada kebun kentang dan singkong”
“Tapi kamu tau gak Lank di bawah tanah kebun itu ada apa?”
“Jangan berpikir itu Wil… pokoknya yang kita tau adalah wujud dari kentang dan singkong, kalau kamu selalu berpikir apa yang dikubur di bawah tanah ya kamu ga akan selamat disini”
__ADS_1
“Sik mas Lank…. Waktu itu mas Gilank apakah ada di masa ini?.... Waktu ambil kentang dan singkong apakah mas Gilank ada di masa ini?”
“Itulah Nov… tapi ayolah kita ke sana saja, siapa tau disana masih berupa kebun yang ditanami singkong dan kentang” jawab Gilank
Akhirnya kami putuskan mengikuti Gilank, aku dan Novi tidak tau dimana letak kebun itu.
Kami jalan melewati lapangan yang di tengahnya ada batu yang ditumpuk tumpuk… tapi pada masa ini tidak ada apapun yang ada di lapangan ini, tidak ada mayat yang berjajar, dan tidak ada mayat yang digantung terbalik, lapangan ini bersih tidak ada apapun.
Ternyata kita tidak ke arah telaga, tetapi ke Gilank berjalan terus memutari setengah lapangan dan akhirnya menuju ke arah hutan.
Kami melewati hutan, ternyata di balik pepohonan hutan ada sebuah kebun, tetapi saat ini kebun itu kosong, tidak ada yang ditanam disana, yang ada hanya satu orang yang sedang mencangkul dan menanam sesuatu berulang kali.
“itu … ada orang disana, ayo kita ke sana” kata Gilank
“Lank… itu kan Kimpet, petani yang sempat bantu kita ketika kita minta kentang dan singkong…. Ayo kita kesana Lank” kata Bondet
“Heh sik c*k…. Itu Kimpet yang suka makan mayat!... aku juga pernah ketemu dia waktu sedang mencacah-cacah organ dalam manusia di pinggir telaga sana!”
“Aku dan Novi pernah ketemu dia, kita sempat bicara dengan dia juga ketika di pinggir telaga, dia sedang memotong dan membersihkan organ dalam tubuh manusia atas pesanan orang di pasar”
“Ah sing bener kamu Wil… aku dua kali ketemu dia, dia itu petani, dan hidupnya berjualan hasil perkebunan c*k”
Kami berempat jalan menuju ke arah orang yang sedang mencangkul…. Dan benar ternyata dia adalah Kimpet
“Selamat siang pak Kimpet….” kata Gilank dan Bondet bersamaan
“Ah mas Gilank dari mana saja mas Gilank, sudah satu bulan kita gak ketemu…”
“Kalian dari mana saja mas Gilank dan mas Bondet, satu bulan nggak ketemu sekarang malah bawa teman” kata Kimpet dengan santai
“Eh pak kimpet… bapak tinggal dimana?” aku mencoba untuk bicara dengan dia
“Saya tinggal di sana, di hutan sana, saya tidak tinggal di desa berhantu itu hehehe”
“Maksudnya gimana pak” tanya Gilank yang tiba-tiba heran
“Lho saya kan sudah bilang mas Gilank satu bulan lalu ketika saya akan panen kentang dan singkong, desa di balik kebun saya itu berhantu, apa kalian disana selama satu bulan ini?” tanya Kimpet dengan wajah heran
__ADS_1
“Saya kan sudah kasih tau mas Gilank, kalau mau keluar dari wilayah ini ikuti jalan setapak yang saya buat itu, nanti tembus ke jembatan kecil, dari jembatan itu kalau ke pasar”
“Iya pak Kimpet, kami jalan ke desa itu karena penasaran” jawab Gilank
“Hehehe terus apa yang terjadi dengan kalian ketika kalian masuk ke desa itu, kalian pasti kerasan ya hingga sebulan lamanya kalian pergi dari sini… saya pikir kalian sudah pulang ke tempat asal kalian” kata Kimpet sambil tetap mencangkul
“Tapi syukur kalian bisa kembali ke sini lagi mas Gilank” tambah Kimpet
Gilank diam sambil melihat aku dan Bondet…aku tau Gilank pasti kaget karena Kimpet bilang sudah satu bulan tidak ketemu Gilank.
Tapi anehnya Kimpet tidak tau siapa aku, kayaknya dia tidak ingat atau tidak pernah merasa pernah ketemu aku. Dia hanya memperhatikan aku dan Novi sekilas saja.
Aku nggak mau tau kami ada dimana atau dimasa apa, aku nggak mau tau apakah Kimpet ini yang waktu itu membersihkan jeroan manusia atau yang sedang menggantung manusia… yang aku lihat ini yang aku percaya, dia si Kimpet adalah seorang petani singkong dan kentang
“Lank aku nggak paham apa yang terjadi dengan kita, eh sebenarnya kita ini ada di masa yang tepat atau gimana Lank?”
“Aku yo gak paham WIl. tapi yang pasti pak Kimpet ini orang yang membantu kita ketika kita tersesat di hutan, gara-gara Bondet nekat cari jalan keluar dari sini”
“Sekarang teman kita yang lain ada dimana Wil… apa mereka juga tersesat di keanehan desa ini?”
“Aku gak tau Lank, yang pasti kita sekarang ini bukan di masa ketika kita datang ke sini… kita tidak tau ada dimana…”
“Eh coba kamu tanyakan ke Kimpet, ada yang namanya pak DIkan atau nggak” bisikku
Posisi kami dengan Kimpet agak jauh, karena kami ada di pinggir kebun, sedangkan Kimpet sedang menggarap tanah di tengah kebun.
Gilank mendatangi kimpet, tetapi tidak sampai masuk ke area perkebunan.
“Pak Temp…. Eh pak Kimpet, apa sampean kenal dengan yang namanya pak DIkan?”
Kimpet tidak menjawab, tetapi dia langsung menghentikan kegiatanya, dan berjalan ke pinggir kebun. Wajah dia berbeda dengan ketika sebelumnya kami ajak dia untuk bicara.
Dia jalan tergopoh gopoh ke pinggir kebun dan mendatangi kami berempat.
“Kalian tadi bilang Dikan, siapa yang sudah bertemu dengan Dikan…?”
“Dikan… sapudi… pak Min…atau ada lagi Sokran… atau nama nama yang lain… itu harus kalian hindari disini”
__ADS_1
“Ayo kita duduk di sana, saya akan ceritakan apa yang terjadi dengan orang yang pernah bertemu dengan mereka itu”