
Keadaan mereka sama dengan ketika kami kesini dan menyapa mereka, yah tapi bisa saja kegiatan penduduk disini kalau pagi dan sore hanya seperti ini…
Aku dan Novi sudah ada di ujung jembatan… dekat dengan barongan bambu, bambu disini ukuranya besar dan dengan suara yang cukup mengerikan apabila terkena angin.
Udara dingin dan berkabut di bagian hutan depan kami memaksa kami untuk segera meninggalkan tempat ini.
“Mas… Novi kok takut ya disini mas.. Balik yuk mas”
“Jangan balik dulu Nov… siapa tau Gilank sebentar lagi datang”
“Nggak cuma kamu aja yang takut Nov, aku juga takut, apalagi liat sungai berkabut di bawa itu, hingga airnya gak kelihatan sama sekali”
“Kalau kita pergi dari sini gimana mas?”
“Pergi kemana?... keluar dari lembah asri ini maksudmu Nov?”
“Iya mas… keluar dari desa ini… Novi rasa ada yang nggak beres disini mas, tetapi sampai sekarang Novi belum tau apa yang nggak beres itu” ujar Novi dengan suara bergetar mungkin kedinginan
“Hutan itu….dan sungai yang dibawah ini mas, rasanya kok mengerikan, kayak ada sesuatu disana yang menakutkan mas”
“Gini aja lah Nov, kita kembali ke rumah pak Dikan saja gimana, masalah Gilank biar saja dia mau ke sini atau tidak ya biarin aja….
Akhirnya aku putuskan untuk balik ke rumah pak Dikan… heran juga dengan tempat ini., bisa sangat berkabut dan mengerikan., padahal ini masih pagi belum siang hari.
Dan yang aku merasa aneh, aku belum bertemu seorangpun yang berjalan di sini… apa penduduk disini tidak melakukan kegiatan di luar ruangan? Atau mereka hanya ada di dalam rumah dalam keadaan dingin seperti ini?
aku dan Novi berjalan balik ke arah rumah pak Dikan… kami melewati rumah pertama, dan ada perempuan setengah baya di pekarangan sambil tersenyum melihat kami…seolah dia mengucapkan selamat datang untuk yang kedua kalianya.
Kami berjalan agak cepat… dan di rumah kedua masih sama seperti tadi, ada anak kecil dan perempuan tua yang bisa jadi adalah ibunya, mereka juga tersenyum mengerikan ke arah aku dan Novi.
__ADS_1
Sudah hanya dua rumah itu saja yang kelihatan ada penghuninya…sisa rumah yang lainya tidak menunjukan ada penghuninya, hanya pintu dan jendela yang terbuka… tapi bisa saja di dalam itu ada penghuninya.
Rumah rumah penduduk disini sebenarnya gak mengerikan, hanya saja karena diselimuti kabut, mengakibatkan pikiran ku berpikir yang aneh-aneh.
*****
“Untung kita belum jalan Wil…. Jadi Gilank belum nampak?” tanya Broni
“Belum Bron, di dekat jembatan itu dingin dan menyeramkan, jadi aku dan Novi putuskan untuk balik ke sini saja”
“Iya mas Bron, lagian mas Gilank kan udah besar, ngapain juta kita nunggu disana kedinginan…masih mending disini, dinginnya gak separan di pinggir jembatan mas” kata Novi
“Jadi kalian berdua ikut keliling desa ya” kata pak Dikan
“Iya pak, kalau teman kami datang biarkan dia masuk ke sini sendiri saja pak”
Kami mulai start dari rumah pak Dikan…
“Desa ini kecil anak-anak, dan seharusnya tidak ada yang bisa kalian kerjakan disini, tetapi kalau kalian memaksa, maka akan saya antar kalian berkeliling desa.
“Seperti kalian ketahui ujung dari jalan ini adalah rumah saya dan rumah yang kalian tempati itu, ujung dari sini adalah hutan dan tebing” tunjuk pak Dikan ke arah belakang rumah yang penuh pohon dan kabut mengerikan.
“Sekarang kita ke pertigaan jalan yang ada disana itu”
Kami berjalan ke arah pertigaan desa, kemudian kami berbelok ke kanan, karena kalau terus maka akan menuju ke jembatan tempat aku dan Novi tadi menunggu Gilank.
Setelah tiba di pertigaan, kami mengarah ke kanan, jalan yang di kanan ini lebih lebar dari pada jalan sebelumnya. Rumah penduduk disini sama saja dengan yang lainya dengan pekarangan yang lebar dan sebuah pohon yang besar.
“Pak, penduduk disini kenapa kok gak ada yang keluar rumah pak?” tanya Broni
__ADS_1
“Dingin mas.. Alasan dingin ini yang menyebabkan mereka enggan untuk keluar dari rumah.. Tetapi nanti pada hari-hari tertentu mereka akan keluar dan ke arah pasar untuk membeli kebutuhan pokok mereka” jawab pak Dikan
“Pekerjaan kami disini adalah berkebun, kebun penduduk sini bukan di sekitar sini, kebun kami ada di balik lereng perbukitan sana”
“Kami menanam kentang, kentang dari sini termasuk yang paling diminati dipasar, karena selain ukuran yang besar, juga rasanya lebih gurih dan sedikit manis dibanding kentang dari tempat lain” jelas pak Dikan
Kami berjalan terus hingga rumah penduduk semakin jarang.. Dan akhirnya kami ada di sebuah tanah lapang yang hanya ditumbuhi satu dua pohon saja.
Tanah lapang ini lebih mirip dengan lapangan badminton… dan di tengahnya ada batu-batu yang bertumpuk.. Batu kali yang dipotong seukuran genggaman tangan dan ditumpuk menggunung setinggi sekitar dua meter.
Bagian tengah tempat itu sangat berkabut sehingga aura mistis sangat jelas terlihat.
“Kalian jangan coba-coba mendekati batu itu.. Tumpukan batu itu sangat dihormati penduduk sini… ayo kita jalan lagi ke depan, disana ada semacam mata air..”
“Dibilang danau ya tidak karena terlalu kecil, dibilang kolam yang nggak, karena terlalu dalam… kami menyebutnya Sendang Ningrum”
“Ayo akan saya tunjukan sendang itu… “
Kami berjalan memutari tempat yang tadi aku sebut mirip dengan lapangan badminton… kemudian diantara semak belukar ada jalan setapak…
Jalan setapak ini sangat sempit dan hanya bisa dilewati oleh satu orang saja..
Tidak jauh kemudian kami ada di sebuah danau kecil, danau itu dikelilingi pohon hutan… danau yang bagian tengahnya berkabut dan air yang sangat tenang.
Kulihat di sekitar danau ada beberapa sesaji yang sudah membusuk.. Ada juga tungku kecil yang biasanya digunakan untuk membakar kemenyan.
“Kalian jangan sekali kali masuk ke Sendang Ningrum ini, kecuali bersama saya” kata pak Dikan dengan suara pelan dan penuh penekanan.
Tidak ada yang menjawab, kami dalam pikiran masing masing dan bingung harus berkata apa… ketika aku masih berpikir tentang sedang ini dan tempat yang tadi, tiba-tiba secara samar aku mencium bau wangi bunga.
__ADS_1