
“Jangan kesana mas, Novi rasa yang ada disana itu bukan manusia”
“Hehehe Nov, ingat kita sekarang sedang ada di dalam sebuah permainan, ngapain kamu takut, tapi tadi yang ada di rumah kosong itu kayak beneran sih, tapi aku yakin itu bukan mayat beneran Nov, itu hanya buatan manusia yang digunakan untuk menakut nakuti kita”
“Nggak mas, kali ini mas Wildan salah…. Barusan Novi berpikir untuk kesekian kali, dan yang kita hadapi untuk saat ini bukan lagi permainan manusia, kita sedang ada di sebuah permainan yang mengerikan”
Novi hanya ketakutan, aku sudah jengkel sekali, aku gak mau lagi dipermainkan seperti ini, jelas kalau ini beneran harusnya disini ada manusianya, bukanya sebuah desa dengan perumahan yang kosong seperti ini.
Dan yang ada di depan kami itu.. Tiang-tiang yang mirip dengan tiang gantung, dengan manusia yang sedang digantung dibawahnya.
“Kamu tunggu disini saja Nov, aku akan kesana… disini itu harusnya ada manusianya, desa ini harusnya ada manusianya, bukan kosong seperti ini”
“Novi ikut mas, Novi gak mau ditinggal disini sendirian”
Sepi dan berkabut, sepi tetapi banyak mayat, harusnya kan mencurigakan, yang namanya ada mayat harusnya kan juga ada manusianya. Tetapi yang ada disini semua nampak sepi dan yang ada hanya mayat saja.
Aku sudah semakin dekat dengan lapangan, disini ternyata ada empat tiang gantungan, dan tiap gantungan ada satu manusia yang tergantung terbalik, bau busuk bau bangkai sangat tajam disini.
Aku yakin yang ada di depanku itu hanya boneka yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai mayat yang digantung, aku yakin tidak ada mayat sama sekali seharusnya disini.
Semakin dekat aku dengan tiang gantungan yang mengerikan itu, semakin aku bisa melihat wujud mayat yang digantung.
Dibawah mayat itu banyak darah yang mengering, perut mayat yang digantung itu terbuka lebar, isi perut sudah tidak ada, ribuan belatung bertebaran di dalam perut yang terbuka dan di tanah yang ada darah keringnya.
Empat tiang gantungan, tiga mayat yang digantung itu sudah dalam keadaan setengah kering, hanya satu mayat yang paling ujung saja yang dari perutnya masih mengeluarkan darah, darah itu menetes di tanah dan membentuk semacam genangan yang berwarna merah kehitaman.
Tidak ada organ tubuh manusia di sekitar sini, yang ada hanya tubuh manusia yang perutnya terbuka lebar dan diganjal dengan kayu agar perut itu bisa terbuka.
“Nov.. kok kayak bandeng asap yang digantung terbalik yang banyak dijual di toko oleh-oleh Surabaya ya hihihi, digantung terbalik dan bagian perutnya dibuka lebar lebar hihihi”
“Mas janc*k sampean ini, Novi paling suka makan bandeng asap mas, meskipun harganya mahal, tapi kalau ke Surabaya Novi selalu beli!”
“Nov, ini kayaknya mau dikeringkan ya, mungkin selain mau di asap mungkin juga mau dibikin kayak ikan asin gitu ya hihihi”
“Jangan ngawur mas, yang kita lihat ini manusia beneran, bukan boneka yang seperti mas Wildan omongkan itu”
__ADS_1
Terus terang rasa takutku sudah hilang, aku sudah mati rasa, gak ada lagi rasa takut di dalam diriku, yang ada hanya rasa penasaran terhadap segala yang dipersembahkan disini.
Bingung?... tentu saja tidak lagi.
Tidak ada lagi perasaan bingung, karena semua yang ada disini sudah bisa aku pahami meskipun sebenarnya aku tidak tau atau belum tau apa yang terjadi hehehehe.
Cuma aneh aja kenapa ada manusia digantung terbalik dan dijemur dengan organ dalam perutnya dihilangkan.
“Yuk kita ke sana saja Nov, kita ke telaga saja, siapa tau disana kita bisa lihat sesuatu yang lebih asik dari pada yang ada disini”
Novi tidak menjawab omonganku, dia mungkin sedang kesal dengan aku, karena tadi aku membandingkan tubuh manusia yang digantung terbalik itu dengan bandeng asap kesukaan Novi.
Aku gandeng Novi agar kami tidak terpisah lagi, kami berjalan pelan ke arah telaga, desa ini kosong, tidak ada siapapun disini, hanya ada kabut tipis yang terus menerus menyelimuti daerah ini.
Kami sudah di depan jalan setapak yang menuju ke arah telaga… di sekitar sini lebih dingin daripada di tengah desa atau di lapangan tadi.
“Siap masuk ke dalam sana Nov?”
“Ayo mas…. Novi sekarang sudah gak takut lagi, urat syaraf ketakutan Novi sudah putus mas hehehe”
Begitu memasuki jalan setapak aku merasakan aura aneh yang menyelimuti daerah ini.
“Mas, suasananya ngeri ya”
“Iya Nov, kayaknya aku agak takut disini, mana kabutnya lebih tebal disini daripada di luar sana”
Kami berjalan masuk lebih dalam lagi mendekati telaga…
Dari sini aku belum bisa melihat telaga itu, tetapi aku bisa mencium bau air telaga, hawa disini pun lebih berair daripada di luar sana. Tetapi ada suatu yang bikin aku bergidik.
“Nov, kamu dengar gak ada suara seperti orang yang sedang, memotong sesuatu” bisikku kepada Novi
“Coba perhatikan Nov, kayak ada suara bacokan, suara kayak kamu sedang memotong tulang atau sesuatu yang keras di talenan kayu”
“Iya mas.. Ada suara crak..crak..crak gitu”
__ADS_1
“Mas, jangan ke sana dulu, kita perhatikan dulu dimana asal suara itu mas”
“Ayo kita ke sebelah sana dulu Nov, dekat dengan semak belukar yang dekat dengan air telaga
Posisiku dan Novi sekarang masih beberapa meter dari air telaga, mungkin sekitar lima hingga tujuh meteran. Kami masih di jalan setapak yang menuju ke telaga.
Dari sini aku belum bisa melihat telaga itu, karena telaga itu tertutup oleh kabut yang lebih tebal dari pada yang ada di tengah desa.
Tapi dari posisi kami berdua, aku bisa mendengar seperti suara bacokan, eh pisau besar yang diayunkan dengan keras dan mengenai sesuatu yang keras.
Aku dan Novi masuk ke semak belukar yang ada di sebelah kami untuk menuju ke telaga dari sisi lain, karena kalau dari jalan setapak tentu saja akan terlihat oleh orang yang ada disana.
“Nov, disana..dibalik kabut itu, kayaknya aku lihat sesuatu” tunjukku pada sesuatu yang sedang bergerak gerak di antara kabut di pinggir telaga”
“Yang mana mas?” jawab Novi sambil berbisik
“Itu yang ada disana itu” tunjuku lagi ke arah pinggir telaga
Kadang kalau kabut agak menipis, aku bisa melihat air telaga yang begitu tenang tanpa ada ombak sama sekali.
Air telaga yang sangat tenang dan kalau dari sini berwarna gelap itu seakan akan menunjukkan kepadaku bahwa betapa dalam dan mematikan telaga itu.
“Ah iya mas, Novi bisa melihat samar-samar ada seseorang yang sedang duduk di pinggir telaga sambil memotong sesuatu”
“Nah itu… lalu menurutmu siapa dia, dan apa yang dilakukan menjelang siang gini di pinggir telaga yang penuh dengan kabut?”
“Mungkin sedang mancing mas”
“Nah itu alasan masuk akal, mungkin sedang mancing dan memotong motong ikan yang dia dapat disana… gitu ya Nov”
“Gimana kalau kita dekati orang itu mas, kita kan masih agak jauh dari orang itu”
“Hehehe dipikir kita ini goblok Nov, dipikir pemilik permainan ini kita ketakutan sampai terkencing kencing dan pingsan di tempat ketika melihat mayat-mayat yang digantung hihihi”
“Semua ini hanya ilusi yang sifatnya menipu agar kita ketakutan Nov”
__ADS_1
“Ayo kita ke sana dan kita kageti orang itu, setelah itu kita pukul bersama-sama agar jangan lagi menakuti kita hihihi”