
“Ivon kamu dimana Von…ini aku dan Novi” aku berusaha meyakinkan Ivon bahwa aku memang ada dan bersama Novi
“M..mas Wildan s…saya di…di atas mas…” jawab suara lemah
“Sudah diam saja kamu di atas Von, aku dan Novi saja yang naik ke atas”
Aku naik ke atas, ugh ruang atas ini lebih parah lagi baunya, campuran antara sampah makanan yang busuk, bau pesing dan bau tai yang luar biasa…
Belum juga aku sampai di anak tangga paling atas, aku sudah mual-mual.
Aku nggak bisa bayangkan bagaimana rupa dan penampilan Ivon dengan keadaan yang mengerikan ini.
“Mas, kenapa brenti?”
“Bau sekali Nov, aku nggak tahan baunya”
“Ini pakai sapu tangan Novi aja mas, Novi masih bisa tahan sama bau mengerikan ini kok mas”
Kupakai saputangan milik Novi yang wangi, tapi keadaan di lantai atas ini gelap, tidak ada cahaya sama sekali, dan aku nggak mau kalau tiba-tiba aku terpeleset spotaker alias sepotong tai kering yang ada di lantai atas.
“Eh pak Kus, punya korek nggak buat nerangin bagian atas ini?”
“Maaf saya nggak ada mas” jawab pak Kus
“Eh Novi kan selalu bawa senter kecil mas, jugaan ponsel kita kan ada lampu blitznya yang bisa digunakan sebagai senter mas”
“Hehehe iya lupa Nov, nganu eh senter kecilmu aja bawa sini”
Akhirnya terang juga di sini, dan yang aku lihat saat ini mengerikan, banyak sampah kertas, tas kresek , dimana-mana ada tai yang sudah kering, di pojokan juga ada bekas air kencing…
__ADS_1
Ruangan atas ini benar-benar mengerikan, seperti tempat pembuangan sampah.
“Ivon.. mas Wildan dan Novi jemput kamu, kita harus pergi dari sini” kata Novi
Aku temukan perempuan yang keadaanya sudah tidak karuan, sangat kurus, seperti hanya tulang yang dibungkus kulit saja.
Banyak sekali kotoran di tubuhnya, pakaian yang sobek dan kotor… dia duduk lemas bersandar pada tembok.
Novi mendekati Ivon yang terlihat lemas dan mengerikan..Novi sama sekali tidak jijik memegang tangan dan mengusap kepala Ivon yang rambutnya sudah nampak panjang dan awut awutan.
“Ayo kita pergi dari sini Ivon, kamu harus kuat, kita harus berjuang untuk merubah nasib kita Von” kata Novi sambil jongkok di depan Ivon
“A..aku nggak kuat Nov… biarkan aku mati disini agar sisa keluargaku bisa hidup”
“Nggak Kamu gak boleh mati disini Ivon, Novi sama mas WIldan aja mau berjuang agar tidak ada yang mati…” kata Novi
“Dengerin nih ya Von… ini ada pak Kusno, dia orang yang pernah selamat seperti kita, dan dia juga mengalami kehilangan keluarganya juga”
“Tapi aku udah nggak kuat jalan Nov, tubuh aku rasanya lemas sekali”
“Ayo kita angkat ramai ramai saja mas dan mbak…dan ada baiknya kita bawa ke rumah sakit dulu, karena saya takut kesehatan mbak ini dalam keadaan yang buruk” kata pak Kusno
“Jangan pak…. Kita bawa ke hotel saja dulu saja, kemudian kamu mandi bersih baru setelah itu kita kerumah sakit untuk preksa kesehatannya”
“Udah Nov, pokoknya kita bawa turun dulu saja, nanti belikan air mineral, kayaknya Ivon ini dehidrasi, kalau keadaan parah terpaksa kita bawa ke rumah sakit”
“Ya udah mas Wil Novi setuju….”
Dengan menahan bau badan Ivon yang luar biasa busuk, kami bopong Ivon turun dari lantai atas, untungnya tidak sulit menurunkan Ivon, karena berat badan dia yang ringan.
__ADS_1
Untungnya tadi ketika di jalan Novi sempat membeli air mineral dan roti untuk camilan kami selama perjalanan menuju ke vila milik keluarga Ivon.
Di dalam mobil Ivon di tidurkan membujur di kursi tengah, kepala Ivon dipangkukan ke paha Novi.
Di dalam mobil Novi memberikan air minum sedikit demi sedikit kepada Ivon, kemudian memberikan Roti sedikit agar perut ivon terisi lagi.
Untungnya Ivon masih bisa menerima asupan air minum dan sedikit roti, karena ada orang yang sudah dehidrasi parah hingga perutnya menolak cairan dan makanan.
Mobil yang disupiri pak Kus melaju tenang menuju ke kota tempat kami tinggal.. Untuk sementara ini kita fokus menyehatkan Ivon dulu.
Apabila dalam perjalanan ternyata kondisi Ivon semakin drop maka kita harus langsung ke rumah sakit terdekat.
Selama perjalanan aku sempat berpikir, ada pak Tejo dengan kasusnya yang mengakibatkan istrinya meninggal, ada pak Kus yang mengakibatkan beberapa keluarganya meninggal juga, Ivon juga sama, keluarganya juga meninggal.
Sedangkan aku dan Novi kenapa beda, kenapa justru aku dan Nov yang akan celaka.
Kenapa aku dan Novi berbeda sendiri, apa ada faktor lain yang menyebabkan aku dan Novi beda…
“Mas Wil… tubuh Ivon kok makin dingin ya mas… eh kita bawa ke rumah sakit terdekat saja mas”
“Iya mbak, lebih baik bawa ke rumah sakit terdekat saja, eh kalau nggak salah dekat sini di sebelah kiri jalan ada rumah sakit yang lumayan besar” kata pak Kusno
“Ya udah pak Kus, agak cepat pak, Novi takut ada apa-apa dengan Ivon pak”
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit yang aku pikirkan adalah pasti Ivon harus menjalani rawat inap, dan kemungkinan besar dia tidak bisa ikut mencari teman lainnya.
“Nov, a…ada yang harus a..aku bicarakan dengan ka….kamu” kata Ivon dengan suara lemah
“J…jangan per…percaya dengan mas G..Gilank…. Dia s..sudah membunuh m…mas Bondet”
__ADS_1
“Sudah diam saja Von, nanti saja kita bicara lagi, sekarang kamu bertahan dulu… ayo kuatkan dirimu, kita lagi menuju ke rumah sakit”
Aku langsung diam ketika Ivon bilang bahwa Gilank ada adalah pembunuh, tapi kenapa sampai Ivon berkata seperti itu, apakah dia juga bersama Gilank ketika keluar dari hutan itu?