
Kuceritakan kepada Novi tentang pak Bowo yang membawa truk pak Tejo. dan tentang ternyata pak Tejo sudah lama meninggal.
Wajah Novi tentu saja tegang, karena yang kami temui di dekat kuburan balung itu ternyata hanya bisa jadi adalah hantu dari pak Tejo dan anaknya.
“Mas Wil, kenapa kok aneh gini ya mas?” tanya Novi
“Udahlah Nov, kia anggap semua ini memang sesuatu yang harus kita temui dan kita jalankan, sepertinya sudah ada yang mengatur Nov, jadi ya jalani aja”
“Iya mas”
Aku bisa merasakan jawaban Novi itu agak gimana gitu, ada keraguan juga dengan apa yang kami lakukan.
Novi dan Ivon ada di dalam mobil, sedangkan aku dan pak Kus tiduran di teras kantor SPBU bersama dengan beberapa driver truk yang menunggu pagi tiba.
Pak Bowo yang tadi membawa truk milik pak Tejo yang sudah mati sekarang masuk ke dalam kabin truk, dia tidur disana sambil menunggu pagi tiba juga.
Aku belum paham apa yang sedang aku dan Novi alami, semua rasanya seperti sebuah pola yang memang sengaja diadakan untuk aku dan Novi.
Bahkan tentang Ivonpun aku masih ragu juga, apakah dia Ivon yang sebenarnya atau tidak. Aku semakin tidak percaya dengan orang yang ada di sekekelilingku.
Kulihat pak Kus sudah tidur, sedangkan aku…aku sama sekali tidak ngantuk.
Duduk dalam gelap dan suara dengkuran beberapa orang yang juga sedang tidur rasanya aneh, seperti sedang ada di alam antah berantah yang mengerikan.
Aku hanya bisa melamun, dan semakin lama akhirnya aku ngantuk dan tertidur…..
*****
“Ayo bangun mas Wildan, sudah pagi… kita lanjutkan perjalanan” kata suara pak Kusno
__ADS_1
“Aaahhmm iya pak, sebentar saya mau buang air dulu pak”
“Eh pak, truk-truk yang ada disini kok pada nggak ada, kemana semua mereka pak?”
“Hehehe mereka dari tadu sudah start mas, jalan sesudah subuh. Ayo sana buang air dulu, saya akan bangunkan mbak Novi dan mbak Ivon” kata pak Kus
Lahan yang ada di area spbu ini sudah kosong, hanya menyisakan dua truk saja. Rajin juga mereka berangkat sesudah subuh.
Setelah Novi dan Ivon, juga pak Kus berurusan dengan toilet, akhirnya kami lanjutkan lagi berangkat menuju ke tujuan kami yang utama.
“Kita mungkin hanya setengah jam dari sini sudah ada di sana mas, jadi persiapkan diri kalian untuk masuk ke dalam lembah mayit” kata pak Kus sambil menyetir mobil
“Apa yang harus kami persiapkan pak?” tanya Novi
“Nggak ada, cuma mental saja mbak hehehe
Mobil melaju dengan kencang ke arah desa tempat kami memulai acara bakti sosial dengan teman-teman kami sebelumnya. Tidak ada yang aneh selama perjalanan.
Apakah ini sudah diatur, ya mungkin saja sudah diatur oleh entah siapa.
“Nanti setelah kita melewati kuburan balung, kita akan jalan kaki ya, dan ingat disana kabutnya sangat pekat, kita harus berjalan berdampingan”
Tidak ada yang merespon perkataan pak Kus, karena memang kami sudah pernah mengamai sebelumnya.
Perjalanan sudah masuk ke arah desa, pasar yang baru dibangung ada di sebelah kanan kami. Mobil terus melaju ke arah kuburan balung, kuburan dimana disana kami sempat bertemu dengan orang aneh.
“Di depan sudah kuburan balung, kuburan yang luas dan kuno, kuburan tempat dikuburnya mayat tanpa nama dari jaman peperangan”
“Makanya dinamakan kuburan balung, karena konon banyak tulang belulang dari korban peperangan dikubur disana”
__ADS_1
“Nanti setelah kuburan itu, ada pertigaan, disana nanti kita hentikan mobil dan mulai berjalan kaki menuju ke arah sungai”
“Eh kita nggak naik ojek saja pak?”
“Hahahah jangan, lebih baik jalan kaki saja dan rasakan apa yang ada di sekitar kita nanti” jawab pak Kus
Tadi di pasar ada beberapa ojek yang mangkal, tetapi pak Kus tidak menghentikan mobilnya, mobil ini terus menuju ke arah kuburan balung tanpa berhenti sama sekali.
Sekarang di sebelah kiriku sudah nampak kuburan kuno yang memang mengerikan, karena sebagian besar tidak terawat!
Luas juga kuburan itu, waktu kami ada disini memang tidak sempat melihat kuburan itu, tetapi sekarang aku bisa lihat bahwa kuburan itu besar sekali.
Mobil sudah melewati kuburan, sekarang keadaan disini mulai berkabut tipis, sama dengan ketika kami ada disini… tidak lama kemudian mobil berbelok ke kanan, tapi tidak berhenti seperti yang pak Kus katakan tadi.
“Kok nggak berhenti pak?”
“Nanti saja mas, agar kita jalan kakinya tidak terlalu jauh”
Mobil terus melaju di jalan makadam yang sama ketika kami lewat sini dengan menggunakan ojek. Area ini sudah terpapar kabut tipis yang pernah kami alami sebelumnya.
Mobil terus melaju dan kemudian berbelok ke kiri, ke jalan kecil yang lebih parah dari pada jalan yang dilalui sebelumnya.
“Kok belok ke sini pak?”
“Ini jalan pintas mas, karena jalan yang tadi itu terlalu jauh dan kalau kita jalan kaki akan buang buang waktu”
“Tapi kan di ujung jalan itu nanti ada jembatan yang mengarah ke lembah itu pak?”
“Iya memang disana nanti ada jembatan, tapi disini kita juga bisa menyeberang, karena ada bagian sungai yang menyempit dan dangkal”
__ADS_1
Apa benar yang dikatakan pak Kus ini… aku kok semakin ragu dan curiga dengan orang ini.
Tapi dia kan pernah ada disini dua kali, mungkin saja jalan yang ini dia temukan ketika sedang menyelamatkan temannya.