TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 120. MEREKA?


__ADS_3

“Kita istirahat disini dulu, saya juga belum tau apa yang akan terjadi dengan kita setelah ini anak-anak, karena setahu saya setelah ada penarik gerobak itu keadaan bisa random, bisa apa saja yang akan terjadi”


Tadi sempat aku lihat ada kabut pekat mengikuti Broni yang sedang membawa mayat mengerikan yang berhasil kami bunuh…apa yang akan terjadi dengan adanya kabut itu huufff!


Ruangan ini memang mengerikan dengan sebuah mayat yang sudah terkelupas kulitnya, tapi lama-kelamaan kami terbiasa juga, karena kata pak Kus, hanya tempat ini saja yang aman untuk kita hingga pagi hari nanti.


Aku heran kenapa pak Kus tidak mengajak kami ke tempat lapang yang ada di hutan itu, kenapa musti di rumah yang ada mayat mengerikannya.


“Pak. apa tidak ada tempat yang lebih baik dari pada ini pak?” tanya Ivon


“Tidak ada mbak Ivon, kalau kita ke tanah yang lapang itu, nanti kita akan mulai dari awal lagi, jadi ikuti saja alurnya, saya sudah sedikit hapal dengan alur yang akan terjadi disini kok mbak”


Jawaban pak Kus mematahkan apa yang tadi menjadi pikiranku, ternyata kami harus mengikuti alur yang ada di sini hingga selesai.


Entah kenapa atau mungkin karena capek, aku perlahan menjadi ngantuk… ngantuk sekali, ngantuk yang tidak bisa ditahan sama sekali.


*****


“Bangun… ayo bangun!” aku dengar suara orang yang membangunkan aku


Kubuka perlahan mataku, uugh terang sekali disini, dan di depanku ada sepasang suami istri yang berdiri sambil tersenyum, sementara ketiga temanku sudah bangun dengan posisi duduk yang tegang.


Yang laki pakai kemeja lengan panjang dan sangat rapi, aku sejenak gemetar dengan yang ada di depanku ini, tapi setelah melihat ketiga temanku, rasa takutku mulai berkurang.

__ADS_1


“Apa yang kalian berempat lakukan di rumah kami?” tanya laki-laki tua


“Eh kami tersesat pak” jawab pak Kus tiba-tiba


“Ah begitu, ya sudahlah, kami senang kalau kedatangan tamu, nama saya Sokran dan ini istri saya. Kebetulan istri saya sedang membuat kopi, kita ngopi dulu sambil cerita bagaimana kalian bisa datang ke sini”


Novi memegang tanganku dengan erat, pasti dia ketakutan, karena kami pernah ada disini sebelumnya, dan diajak minum kopi juga, dan setelah itu diajak jalan-jalan di sekitar desa.


Pak Kus dengan santainya mengajak kami untuk minum kopi, artinya disini adalah tempat normal, bukan tempat yang mengerikan, pasti kami ada di masa sebelum ada zombie perempuan yang merupakan istri pak Sokran itu.


Kami duduk lesehan di tikar rumah, pak Kus bercerita bagaimana kami sampai tersesat disini, dan tentu saja cerita pak Kus ini hanya bohong, aku tau pak Kus pasti sudah pernah dalam keadaan seperti ini.


“Kebetulan kami belum sarapan, yuk kita sarapan di warung yang terkenal disini, kalian biar tau masakan khas disini sebelum kalian pergi dari sini” kata pak Sokran.


“Ayo anak-anak, pak Sokran mau traktir kita masakah yang khas disini” kata pak Kus dengan senyum yang dipaksakan


Pintu rumah dibuka, ternyata di depan rumah adalah sebuah perkampungan yang cukup hidup, ada orang yang berjalan ke sungai dan sebaliknya. Pokoknya keadaan ini sama dengan yang aku alami ketika bersama Novi.


Di tengah perjalanan pak Kus bertegur sapa dengan tetangganya yang entah siapa namanya, pokoknya aku dan Novi pernah juga bertemu dengan orang itu ketika di masa ini.


Setelah bertegur sapa pak Sokran berjalan lagi sambil menggandeng tangan istrinya, sedangkan kami ada di belakang mereka.


“Disini sulit anak-anak, hindari orang yang bertatap mata satu detikpundengan kalian secara sengaja, siapapun itu, karena dia akan memburu dan membunuh kalian setelah ini”

__ADS_1


“Tetap menunduk dan jangan melihat ke wajah orang disini”


“Sementara ini ikuti saja apa kata Sokran, karena Sokran saat ini sebagai pelindung kita”


“Pak saya pernah diajak di masa ini dan makan di warung yang rame itu, apakah kita akan makan juga pak?”


“Makan mas Wildan, itu daging sapi murni, dan aman untuk kita makan. Intinya jangan sampai kita bertatap mata dengan orang yang ada disini siapapun itu, meskipun kalian mengenal mereka”


Sama dengan keadaanku waktu bersama Novi, kami melewati lapangan yang penuh dengan sayur mayur dan daging, kemudian di sebelah kiri ada warung yang sangat rame. Tapi ada yang mengganggu penglihatanku!


Di seberang lapangan ini ada sekelompok orang yang sedang berdiri, dan di antara sekelompok orang itu ada yang aku kenal.


Disana ada Tifano, Broni, dan Bondet. Mereka sedang melihat ke arah kami. Tapi sesuai dengan arahan pak Kus, jangan melihat ke arah orang yang sedang melihat kami.


Tapi tidak dengan Novi, dan Ivon, mereka justru melihat dan menatap tiga teman kami atau apalah yang ada di seberang lapangan.


“IVON…NOVI.. INGAT KATA PAK KUS!” sambil aku tarik tangan mereka berdua


Pak Kus kaget ketika aku teriak dan menarik kedua temanku, tapi sudah terlambat, NOvi dan Ivon sudan melihat beberapa detik belas dengan orang yang ada di seberang lapangan.


“Kami tidak sengaja pak Kus, karena yang disana itu adalah teman kami” kata Novi


“Bukan mbak, itu bukan teman kalian, dan setelah ini kita harus lebih waspada, karena mereka akan memburu kita di masa apapun!”

__ADS_1


__ADS_2