TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT

TERJEBAK DI LEMBAH MAYIT
BAB 64. GILANK DAN BONDET


__ADS_3

Kabut mengerikan itu datang lagi, tidak ada yang bisa kami lakukan selain hanya menunggu saja,  tidak ada yang bisa kami lakukan selain hanya pasrah saja.


Beda dengan kami, si Kimpet santai saja dengan datangnya kabut, dia tidak merasa ketakutan sama sekali, dia masih memotong motong jeroan manusia dan  kemudian membersihkannya.


Malah kayaknya bagi dia kabut mengerikan itu sama sekali tidak berbahaya.


Kabut itu semakin dekat, aku memegang erat tangan Novi, Novi semakin erat menggenggam telapak tanganku.


Akhirnya dalam hitungan detik kabut itu melewati kami berdua, aku nggak tau apa yang terjadi dan kami akan pindah ke mana lagi.


Aku semakin ragu apabila ini adalah permainan dari orang-orang yang mempermainkan kami, aku rasa saat ini kami benar-benar dalam bahaya, karena posisi kami berdua yang ada di pinggir telaga.


Kabut itu melewati kami dengan cepat, berbeda dengan biasanya yang melewati kami perlahan-lahan, meskipun cepat, tetapi karena kabut ini sangat tebal dan luas sehingga cukup lama juga kami terpapar kabut.


Mungkin sekitar tiga menit, kabut yang dingin dan agak bau aneh ini hilang perlahan lahan, aku deg deg an juga menunggu apa yang akan terjadi dengan kami.


“Mas, kita masih ada di pinggir telaga, dan orang yang ada di depan kita nggak ada”


“Iya Nov, untung kita selamat, tadi aku sempat takut, karena posisi kita kan ada di pinggir telaga, aku takut kalau terjadi apa-apa sama kita”


“Ayo kita pergi dari sini mas, langsung ke sungai saja, kita usahakan pergi dari tempat ini secepatnya mas”


Aku setuju dengan yang dikatakan Novi, kami berjalan keluar dari jalan setapak… jalan setapak ini berbeda dengan ketika kami memergoki si Kimpet, untuk saat ini jalan setapak ini lebih halus dan lebih lebar dari pada sebelumnya.


Ketika kami sudah keluar dari jalan setapak dan kami akan melewati lapangan yang sebelumnya penuh dengan mayat yang digantung,


Tetapi dari kejauhan aku melihat ada dua orang yang sedang berjalan pelan, mereka kayaknya sedang kebingungan.


“Nov, disana ada orang, mungkin mereka itu sama kayak kita Nov, karena mereka berjalan di pinggir kayak orang yang kebingungan”

__ADS_1


“Nov kita sembunyi dulu aja, itu di dekat warung yang kosong itu aja dulu… itu warung yang jualan makanan yang larisnya gak ngotak, larisnya ngawur, jualan daging masak kuning yang enak”


“Itu daging manusia mas”


“Ah embuh Nov, aku gak tau daging apa itu, pokoknya rasanya sangat enak”


Aku dan Novi sembunyi di warung yang sekarang keadaanya kosong, karena kami saat ini di jaman yang berbeda dengan ketika warung itu sedang buka.


Dari warung ini kami bisa melihat dua orang yang di kejauhan, dua orang yang kayaknya sedang kelaparan dan sedang bingung. Karena mereka dari tadi melihat ke sampah dan mengorek ngorek sampah yang ada di tiap rumah.


Sebenarnya aneh juga, disini di desa ini kan tidak ada orang sama sekali, kalau desa ini kosong kan sudah jelas tidak akan ada sampah yang dibuang di tempat sampahnya.


Lalu apa yang sedang mereka lakukan dengan mengorek korek tiap tempat sampah yang ada di tiap rumah yang mereka singgahi?


“Mas…. itu bukannya mas Gilank, coba lihat yang satunya itu yang sedang mengorek ngorek tong sampah… Novi hapal dengan perawakan mas Gilank”


“Ah masak itu Gilang Nov?”


“Biarkan mereka mendekat dulu Nov, baru aku bisa tau mereka itu teman kita atau bukan?”


Dua orang yang sedang mengais ngais sampah itu semakin dekat, aku nggak tau apa yang sedang mereka cari, karena jelas tidak mungkin ada sampah di tempat yang kosong ini.


Jarak tempat kami sembungi dengan dua orang itu mungkin ada sekitar dua puluh meter lebih, apalagi disini kan ada kabut tipis yang terus menerus menggantung, sehingga mengakibatkan jarak pandang mataku yang sangat terbatas.


Tapi semakin kesini aku kok semakin yakin yang datang itu benar dua orang teman kami yang hilang ketika kami dari tempat pak Dikan.


“Eh kayaknya benar Nov, kalau dilihat dari cara jalan yang agak pincang, karena memang dia sengaja memincangkan dirinya agar dikasihani tetangganya ketika dia sedang ngemis, itu adalah Gilank Nov”


“Lho pincangnya mas Gilank itu purak-purak kah mas Wildan?” tanya Novi keheranan

__ADS_1


“Iya Nov, awalnya dia purak-purak agar kalau ngemis banyak yang kasihan dengan dia, tetapi lama-lama pincang itu menjadi kebiasaan, hanya saja kadang dia lupa kalau harus jalan pincang ketika dia tugas ngemis”


“Gimana mas, apa kita panggil mereka?”


“Jangan dulu Nov, kita tidak tau apakah mereka itu masih normal atau tidak, takutnya mereka sudah berubah sifatnya menjadi mengerikan”


“Iya juga Nov, benar kamu sih… selama kita ada disini kan kita juga mengalami kejadian yang aneh-aneh, di masa yang berbeda beda, tapi kita sama sekali tidak bertemu dengan teman kita, dan baru kali ini kita bertemu dengan teman kita Nov”


“Maka dari itu mas, coba kita perhatikan dulu saja mereka berdua, karena kok aneh sekali, kenapa mereka kok mengais ngais sampah yang ada di tiap rumah itu.”


“Seandainya mas…. Seandainya sampai di tiap rumah itu adalah bekas masakan orang sini, yang tentu saja bekas masakan itu adalah daging manusia, berarti mereka berdua kan suka sama daging manusia mas”


Benar kata Novi, kita harus tau perubahan apa saja yang  ada di dalam diri Gilank dan Bondet, jangan sampai mereka sudah berubah menjadi aneh dan membahayakan kami berdua.


 Meskipun dia teman kami, tapi kami tentu saja harus waspada.


Dua orang yang sedang berjalan mendekati kami dengan terus menerus mengais ngais sampah itu ternyata benar adalah Gilang dan Bondet.


Mereka berdua semakin dekat dengan aku dan Novi, kini aku bisa melihat wajah mereka berdua yang sedang mencari sesuatu di tiap tempat sampah yang ada di desa mati ini…


Semakin dekat mereka dengan warung tempat kami sembunyi, dan akhirnya aku bisa mendengarkan apa yang mereka berdua sedang bicarakan.


“Ndet… itu sampah terakhir yang kita lihat, semuanya kosong. Berarti tidak ada orang di tiap rumah ini…”


“Padahal di masa sebelumnya banyak sekali tulang-tulang yang mereka buang, pokoknya jangan sampai kita ketemu yang sampah yang  ada tulang belulangnya lank”


“Nek sampek ada sampah yang ada tulangnya, nyawa kita terancam koyok kemarin c*k, dikejar kejar orang sini untuk dijadikan soto daging, dasar anjeng kok!” kata Gilank


“Tapi kita harus cari orang yang normal disini, karena kita butuh bantuan untuk bisa keluar dari sini Lank” kata Bondet

__ADS_1


“Tapi kan gak mungkin Ndet”


“Sebelumnya kan kita sudah dapat orang yang mau antar kita keluar dari sini Lank, orang itu menyanggupi mau antar kita pergi dari sini kan, hanya saja waktu kita tidur di rumahnya tiba-tiba ada kabut datang, dan orang itu hilang”


__ADS_2